you're reading...
Thoughts to Share

sebuah renungan untuk adikku (June’2003)

Ini adalah hasil penemuan harta karun masa lalu, thanks to Bro… This one was made some times in June 2003, dedicated and real inspired by my ‘lil sistah, Ninik, yang kini sedang tersenyum dan bahagia bersama seorang kekasih yang ternyata sahabatnya sendiri… She was all sad and worried, her heart was broken.. but look, she’s definitely damn okay today. Tulisan ini, selain emang lagi terlalu excited karena menemukan harta karun, tapi sekaligus ingin membuat saya mengerti… bahwa… “life isn’t automatically over just because I just lost someone special* yuk, maree… saya pamit dulu.. silahkan baca….

 

Sebuah Renungan untuk Adikku
(june2003)

Seorang teman yang kuanggap sebagai adik, datang mengadu. Dengan mata yang basah oleh air mata, dengan suara yang bergetar tak teratur karena menahan isak tangis, dengan tubuh bergetar… Dia berkata padaku, “Mbak, aku patah hati.”

Aku terdiam. Urusan patah hati bukanlah hal yang baru buat aku, karena aku sendiripun pernah merasakannya, dan tentu saja, warna warni dinamisnya kehidupan juga telah menyuguhkan kenyataan itu di depan hidungku. Ada sahabatku, ada teman kakakku, ada kakakku sendiri… Pokoknya, patah hati adalah urusan biasa yang bisa jadi sangat luar biasa.

Aku tahu ini urusan yang sangat luar biasa bila dihadapi sendiri, secara subyektif, sehingga kuajak adikku itu duduk.
“Apa yang terjadi?”
Adikku menangis lagi. “Dia menduakan aku, mbak. Dia mencintai orang lain.”

Aku menghela napas. Kasian sekali. Cinta memang universal, cinta memang suatu bentuk kebebasan dalam berekspresi. Cinta memang tak bisa ditebak harus jatuh di hati siapa, ia memang tak bisa dikendalikan. Tapi cinta tak bisa menyakiti, yang bisa menyakiti adalah pelakunya.

“Kamu yakin?”
Dia menatapku, “Aku ngga hanya melihatnya secara intuisi, mbak… tapi aku juga melihatnya lewat mata jasmaniku… Tak perlu banyak kata untuk menjelaskan runutan kejadian itu, mbak… Karena dengan mata telanjang, aku melihat dia dan kekasihnya saling membagi cinta.”
Cinta justru membuat kita menjadi ‘melek’. Membuka mata hati, membuka mata jasmani. Ia membuat kita bisa membaca hal-hal yang tak terbaca. Cinta membuat kita merasakan apa yang tak tersentuh. Tak perlu dengan melihatnya sendiri, karena bila kekasih mulai berpaling, mata batin kita yang pertama kali bisa merabanya… dan itu karena cinta yang menjelma dalam ruang-ruang hati kita.

“Kamu sudah tanya sama pacarmu itu?”
Adikku menganggukkan kepalanya, berat.
“Lalu, dia bilang apa?”
“Katanya itu bukan salahnya, tapi aku.”
“Maksudnya?”
“Katanya aku terlalu mengekang dia, dan dia merasa terbelenggu dengan perhatian-perhatianku.”
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Cinta memang tak pernah ditebak. Seperti halnya pengaruh obat-obatan, cinta juga memberikan pengaruh yang berbeda untuk setiap orang. Ada yang berubah menjadi lebih baik, ada yang berubah menjadi jauh lebih buruk, bahkan ada yang tak berubah sama sekali. Cinta bisa membuat kita jadi egois, tapi bisa juga menjadi sangat mau berbagi. Perhatian-perhatian, adalah salah satu perwujudan cinta kasih yang terkadang bisa saja keliru. Ketika cinta itu mulai hilang, perhatian-perhatian itu bisa jadi suatu belenggu yang menyakitkan.

“Sejak kapan dia merasa terbelenggu?”
“Sejak dia merasa perhatianku terlalu berlebihan.”
“Kamu merasakannya?”
Adikku menggeleng. “Aku merasa itu sudah dalam proporsi yang sesuai.”
Tak ada istilah proporsi yang sesuai untuk cinta, karena cinta adalah suatu hal yang tak bisa diukur. Dia bukan benda-benda yang memiliki keterbatasan. Dia bisa lebih dalam dari lautan tapi bisa jadi ia tak sedalam kolam ikan. Itu soal perasaan semata, itu soal naluri. Masalahnya, setiap manusia memiliki naluri masing-masing, sehingga kedalaman sebuah cinta adalah hal yang sangat privasi sekali. Tak ada yang tau kedalaman sebuah cinta dalam hati manusia, bahkan dirinya sendiri. Akibatnya, saat cinta mulai mendangkal, kita merasakan bentuk-bentuk perwujudan kasih sayang itu menjadi rantai-rantai besi yang membelenggu kebebasan.

“Dia pernah mengeluh sebelumnya? Maksud aku, sebelum kamu mengetahui dia membagi cintanya?”
“Iya, dia pernah, tapi saat itu aku menganggap itu bisa kuperbaiki dan dia masih berminat untuk melakukannya. Sayangnya, ia kini menyerah di tengah jalan.”
“Berarti itu bukan salahmu, Dek.”
“Hmmm.. maksudnya dia yang salah?”
Aku menggeleng. “Sebetulnya ngga ada yang salah, baik itu kamu atau pacarmu itu.”
“Jadi…?”
“Cinta dia untukmu sepertinya sudah tak lagi utuh, karena itu akhirnya dia mulai berpaling.”
Cinta yang terbagi dianalogikan sebagai nahkoda yang harus mengemudi dua kapal yang lajunya berlawanan. Dua kapal dengan layar berbeda serta arah tujuan yang berbeda. Nahkoda tak bisa mengemudikan kedua kapalnya bersamaan. Kalau toh harus bergantian, salah satu kapalnya pasti akan tersesat dan kemungkinan besar akan tenggelam diamuk badai. Jadi ia harus memilih kapal mana yang ingin ia arahkan. Tak bisa keduanya. Dan kedua kapal itu pun tak mungkin mau menunggu, apalagi dengan resiko tenggelam.
“Jadi dia lebih mencintai pacar barunya? Maksud mbak gitu?”
“Untuk saat ini, ya. Tapi soal perasaannya yang terdalam, mbak ngga tau. Mungkin perasaannya sekarang buat kamu sedang dingin, sedangkan perasaannya pada kekasih barunya itu masih baru keluar dari panggangan, masih hangat.”

Cinta yang masih baru seperti kue yang baru saja keluar dari oven, hangat. Air liur juga pasti akan menetes dan ingin segera mencicipi walau sedikit karena aroma renyah dan gurih kue yang terbawa udara. Namun begitu kue itu sudah lama matang, tentu saja daya tariknya pun berkurang, sehingga mencicipinya pun sudah enggan. Akibatnya kue yang dingin itupun tergeletak begitu saja di meja.
Sama halnya seperti cinta, begitu sudah terlalu lama, maka yang ada hanya perasaan beku dan dingin. Karena itulah sebelum terlambat basi, perlu dihangatkan kembali. Tapi kalo memang sudah sangat terlambat, memang tak ada jalan lain kecuali membuangnya.

“Mbak, apa yang musti aku lakukan sekarang? Terus terang, aku masih mencintainya…”
“Tak perlu jujurpun aku sudah tau kok, Dek. Kamu kan sudah pacaran sama dia hampir genap 7 tahun. Cuman orang tak berperasaan yang semudah itu melupakannya.”
Cinta itu seperti darah yang mengalir. Semakin lama ia mengalir, maka ia menguasai hampir seluruh tubuh kita. Ia menjadi bagian tubuh kita. Jadi ketika kita kehilangan cinta itu, sebagian tubuh kita pasti akan merasa lumpuh.

“Jadi dia ngga punya perasaan dong kalo akhirnya dia melupakan cinta kami begitu saja?”
“Barangkali, iya. Tapi aku ngga mau menyebutnya seperti itu. Urusan cinta itu bukan hanya urusan aku atau kamu, tapi urusan masing-masing orang. Belum tentu dia melupakan cintanya buat kamu, belum tentu juga sampai kini ia masih terbayang-bayang oleh kamu. Yang jelas saat ini, dia sudah melupakan kamu sebagai pacarnya, tapi belum tentu melupakan cintanya buat kamu.”

Adikku tertunduk. Ah, aku sadar bahwa mungkin aku kelewatan. Tapi aku berusaha bicara apa adanya. Aku ngga ingin terlalu membesarkan hatinya karena aku sadar akibat yang mungkin timbul justru akan menjadi bumerang yang akan menyakitinya di kemudian hari. Aku bicara tentang hari ini, bukan harapan-harapan masa depan. Aku ngga mau bicara masa depan, karena masa depan bukan milik manusia, tapi milik si Pemegang Kuasa. Bisa jadi aku tak punya masa depan karena hari ini aku mati.

Sebetulnya aku tak ingin menyakitinya, kalau ia merasa sakit, tentu saja aku ngga pernah sengaja melakukannya. Terkadang aneh juga manusia. Mereka bertanya, tapi mereka sendiri punya jawabannya. Ketika jawaban yang diberikan tak lagi sesuai dengan apa yang sudah siap ia dengarkan, ia langsung sedih dan tak lagi mendengar. Hmmm.. sama seperti aku. Aku kan manusia juga.. 🙂

“Sekarang kamu ngga usah repot-repot meraih cintanya lagi, Dek. Anggap saja ini adalah garis finish dan kau yang menang. Dia lebih tertarik untuk berhenti di tengah jalan dan menikmati pemandangan daripada sama-sama memenangkan pertandingan ini bersama kamu. Jadi artinya kamu yang lebih unggul dari dia, Dek. Kamu ngga pernah menyerah, dia yang menyerah. Berarti kamu hebat, dek. Bisikkan ke hati kecilmu kalau kamu hebat, lebih hebat darinya.”

Terkadang butuh suatu pengakuan dalam hati kalau kita lebih hebat dari pasangan, terlebih ketika kita merasa terluka dan dilukai. Okay. Mungkin ini dibilang self defense mechanism, but, hey.. Kenapa tidak? Dengan perasaan lebih ‘unggul’ tadi, kita bisa lebih membuka diri, membuka mata dan telinga, sehingga indera pun bisa bekerja sebagaimana fungsinya.
“Yaaa… I am the winner, he’s the quiter. Only losers do that.”
Aku tersenyum. Tak apa-apa untuk sesaat menyenangkan hati dan menganggap kekasih tak lebih baik. Kalau memang itu salah satu cara untuk bisa memulai hidup lagi, bukannya itu tak menyakiti siapa-siapa?
“Makasih ya mbak..” Adikku itu memelukku lagi menggenggam kedua tanganku. “Aku tahu aku belum sepenuhnya melupakan dia dan melupakan sakit hati ini, tapi paling ngga, saat ini aku tahu cinta yang berakhir bukan akhir dari segala-galanya.”

Aku mengelus rambutnya dan akhirnya dia pun berlalu dari depanku. Dia yang berlalu sangat  berbeda dengan dia yang datang sesaat tadi. Ia mulai nampak berubah dan aku sungguh sangat tersanjung ketika ia berterimakasih padaku, tadi.

Dari kejauhan masih terlihat langkah optimisnya. Dari sini pun masih kudengar derai tawanya bersama kawan-kawan sekelasnya. Aku tersenyum sembari membatin, “Kelebihan manusia adalah memberi nasehat, tapi kelemahannya adalah tak pernah bisa melakukan semua yang ia nasehatkan pada manusia yang lain. Seperti aku, yang dulu merasa duniaku sudah berakhir tanpa kekasihku dan berusaha menghalalkan apapun caranya supaya hidupku juga ikut berakhir karena dunia tanpa kekasihku seperti laut yang kering. Meskipun aku berbusa-busa menasehati adikku bahwa hidup tetap berjalan tanpa adanya kekasih, tapi nyatanya aku tak bisa hidup tanpa kekasihku. Yaa.. paling tidak aku kini hanya bisa berharap, semoga kekasihku bukan termasuk kelompok quiter.”

(terinspirasi dari Ninik, makasih banget yaa…)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “sebuah renungan untuk adikku (June’2003)

  1. auch,,,

    renungan buat adik..

    renungan tentang cinta oh rupanya 😀

    Posted by natazya | June 21, 2008, 11:06 am
  2. Iya, Nata… tentang cinta… dan percaya nggak sih… ini TRUE STORY… 😀

    Posted by jeunglala | June 21, 2008, 9:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: