archives

Thoughts to Share

This category contains 203 posts

Test Pack; menjadi awal, atau akhir?

Test Pack; awalmu atau akhirmu?

Sebuah test pack. Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang dicelupkan di sebuah wadah kecil berisi urine seorang perempuan, ditunggui beberapa saat, dan muncul pertanda di sana.

Garis satu: you’re not pregnant.

Garis dua: you’re going to be a Mom.

Ya. Sebatang kecil, alat penguji kehamilan, yang bisa dibeli di apotek dalam berbagai macam merk dan harga, tapi fungsinya tetap saja sama; mengetahui apakah seorang janin tengah bergeliat dalam rahim seorang perempuan, atau tidak.

Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang hasilnya bisa membuatmu berdebar cemas menanti jawabannya.

Negatif. Positif.

Hasil manakah yang akan membuatmu lega?

Ya.

Test pack; menjadi awal dari segalanya? Atau mengakhiri segala yang sudah ada? Continue reading

Gone too Soon

 

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

5 Februari 2011.

Dini hari tadi.

Adjie Massaid, berpulang di usia yang masih muda. 43 tahun saja. Muda, masih energik, dengan tubuh yang fit. Terenggut maut, justru setelah melakukan olahraga favoritnya: futsal. Olahraga terakhir yang dilakukannya, dan membuat dadanya sesak lalu menjadi tiketnya ke pangkuan Tuhan. Continue reading

Menakhlukkan Ombak

Aku terdiam di tepi pantai.

Ombak menjilati ujung-ujung kakiku yang sedikit terbenam di atas pasir putih lembut; menggelitik setiap sel-sel syaraf dan mengaliri perasaan tak nyaman setiap pandanganku terlepas jauh ke depan. Menatap ombak, menatap buih-buihnya yang pecah di pantai, menatap gulungannya seolah menciptakan sensasi yang membuatku hampir tak sanggup menghela nafas.

“Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Seseorang di sampingku bertanya. Lelaki, badannya tegap, perutnya rata, kulitnya gelap, dan rambutnya terkuncir berantakan. Dia memakai celana bermuda dengan warna yang sudah memudar, bertelanjang dada.

“Kamu kayak dukun. Kayak paranormal aja…” sahutku.

“Tidak butuh menjadi Paranormal untuk tahu kalau kamu sedang banyak pikiran,” katanya. “Tapi aku tak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan…”

Aku menghela nafas. “I’m just afraid…”

“Afraid of what?”

“Of the waves…”

“Pada ombak-ombak itu?” tanyanya. “Kenapa, memangnya?”

“Aku takut tenggelam. Aku takut ombak itu bakal menggulungku, menelanku hidup-hidup lalu aku mati kehabisan nafas…”

Lelaki itu menyentuh punggungku. “Kamu tahu, this surf board will pull you up in the surface, akan mengangkatmu ke atas air, sedahsyat apapun ombak menggulungmu. Trust me, I know.”

Kupandangi Lelaki itu. Wajahnya yang teduh dan bersahabat meskipun tulang rahangnya menunjukkan kekuatannya, ketegasannya. Dua biji matanya mengisyaratkan ketulusan dan mengajak hatiku untuk percaya.

“And by the way, no one expects you to be expert on day one,” katanya pelan. “Butuh latihan, butuh jam terbang yang cukup untuk setiap peselancar agar bisa menakhlukkan ombak…”

Hari itu hari pertama.

Dan ombak di depanku, mengejekku.

**

Lelaki itu benar, butuh jam terbang dan latihan keras untuk bisa menakhlukkan ombak.

Hari-hari pertama aku sudah kelelahan sendiri saat menggapai-gapai air untuk sampai ke tengah, mencapai ombak.

Hari-hari berikutnya, aku terbanting-banting ke dalam ombak yang menenggelamkan aku. Ombak yang datang rupanya sangat tinggi, sehingga bukannya meluncur di atasnya, tapi aku tenggelam dalam pusarannya. Aku kehilangan nafas.

Hari-hari setelahnya, aku makin kapok karena ombak tak lagi bisa dikendalikan. Aku hampir tenggelam dan sempat aku memejamkan mata saat berada di dalam air dan memohon maaf dalam hati kepada orang-orang yang aku sayangi karena mungkin aku tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Aku pikir, aku bakal mati tenggelam!

“Kalau kamu niat bisa berselancar, resiko-resiko seperti itu pasti ada,” kata Lelaki itu ketika kuceritakan padanya tentang ketakutan-ketakutanku.

“Tenggelam tertelan ombak? Mati kehilangan nafas?”

“Kalau kamu tahu caranya, kamu tidak akan tenggelam…”

“How?”

Kemudian dia menceritakan caranya, lalu aku manggut-manggut setelahnya.

**

Sudah hari entah keberapa saat akhirnya aku berani berselancar. Memang, selalu ada jeda sebentar sebelum aku mulai menyentuh air. Jeda untuk berdoa agar selalu bisa selamat, jeda untuk memantra-mantrai diriku sendiri bahwa ombak tidak akan menenggelamkanku, karena aku adalah peselancar yang tangguh.

Perlahan, kuangkat papan selancarku.

Perlahan, aku berlari-lari kecil untuk sampai ke tengah dan mulai mengayuh.

Kayuhan demi kayuhan yang mengantarku sampai ke tengah, mencari ombak.

Kayuhan demi kayuhan, sampai kutemukan ombak yang tepat.

Dan tepat saat itulah, aku berdiri, mencoba bertanding dengan ombak, mencoba menakhlukkan ombak yang tingginya berkali-kali lebih tinggi daripada tinggi tubuhku.

Bismillah…

Aku mengangkat tubuhku, mulai mencari-cari keseimbangan agar tidak terjatuh, bergerak ke kiri kanan, condong depan belakang agar tetap seimbang, dan dalam beberapa detik, aku berhasil! Ya, ombak itu berhasil kutakhlukkan!

Berdirilah aku dengan tangguhnya, di atas gulungan ombak yang biasanya menggulungku dengan mudahnya, menantang matahari yang menyiram sinarnya ke tubuhku yang kulitnya menggelap. Aku merasa sangat keren.

Tapi sedetik setelah aku merasa sangat hebat, tiba-tiba keseimbanganku hilang. Mungkin karena terlalu fokus pada rasa kebanggaan, akhirnya aku tak berhasil menjaga keseimbangan tubuh. Walhasil, ombak berhasil menenggelamkanku lagi. Kali ini menyeretnya lebih dalam lagi, membuatku kali ini tak hanya merasa sesak nafas, tapi benar-benar terasa seperti akan mati.

Saat itulah aku teringat pada kata-kata si Lelaki, di pinggir pantai, beberapa waktu yang lalu.

“Kalau kamu tergulung ombak, jangan kuatir. Kepanikan justru akan membuatmu semakin sesak nafas dan menghirup banyak air. Jadi, tenangkanlah pikiranmu dulu. Hilangkan ketakutanmu, dan mulai raih tali papan seluncurmu. Tariklah kuat-kuat, cengkeram erat, dan percayalah, kamu akan tertarik otomatis ke atas permukaan air…”

Dan kulakukan itu.

Kutenangkan pikiranku. Kutarik talinya. Kubiarkan tubuhku tertarik ke atas. Tentunya sambil berdoa agar nafasku tak habis di perjalanan menuju ke sana.

Lambat tapi pasti, tubuhku memang tertarik ke atas. Aku kembali berenang di atas permukaan air, beberapa saat kemudian, dengan nafas yang mungkin tersengal, tapi oksigen itu berhasil kuhirup dengan bebas.

I’m still alive!
Yay!

**

“Bagaimana pelajaran surfingnya? Suka?” tanya Lelaki itu, saat kami menikmati sunset berdua.

Aku hanya terdiam sambil memandangi lautan lepas di depan kami. Gulungan ombak yang tinggi lalu pecah di bibir pantai. Terlihat ganas, tapi melembut di tepian.

I know I can’t control the ocean.
I know, the waves can pull me down, or take me high.
But I won’t be scared, because I always know that I have my string to hold on to and take me up to the surface.

Just think everything clearly then I know how to handle my every up and down…

Dan kuelus papan seluncurku itu sambil tersenyum.

***
Kamar, Sabtu, 3 Juli 2010, 2.44 Sore
Terinspirasi dari artikel tentang Seluncur di sebuah tabloid

The Morning After

Do you know the kind of feeling; ketika kamu sedang mendapatkan masalah, urat lehermu tegang, kepalamu pusing, dan kamu tak tahu apa yang musti kamu lakukan lalu akhirnya kamu memilih untuk sleep on it dan menganggap bahwa you’ll have all the answers at the morning after?

Do you know the kind of feeling; ketika kamu bertengkar dengan Kekasihmu, kakak kandungmu, rekan kerjamu, atau orang-orang yang dekat denganmu, kamu menganggap bahwa kamu akan berbaikan dengan mereka setelah malam ini berlalu? That you’ll have the opportunity to make everything up at the morning after?

The Morning After.

Aku selalu menganggap bahwa Pagi Hari akan menyelesaikan setiap masalah. Setelah tertidur, gelisah dalam mimpi, meluangkan waktu panjang untuk berpikir semalam suntuk, dan berdoa sebelum tidur, “Tuhan, semoga permasalahan ini menemui titik terang esok pagi”, Pagi Hari akan menyelesaikan semua masalah.

Titik terang; seperti matahari yang muncul di ujung timur dan memudarkan langit yang gelap.
Titik terang; cahaya yang menyerobot di balik awan-awan yang tadinya gelap, iluminasi yang tertangkap bak lukisan indah oleh mata telanjang.
Titik terang; sebuah pertanda bahwa selalu ada jawaban untuk gelisahku semalaman.

Kuanggap, di pagi hari, semuanya akan jauh lebih baik dari tadi malam.
Dan di pagi hari, semua permasalahan semalam akan menemukan jalan keluarnya.

Itu dia kenapa kubilang, “I want to sleep on it,” ketika sedang bermasalah. “And hope for everything will be better in the morning after,” ketika suasana hatiku sedang kacau.

Sampai kemudian aku berpikir, “What if there’s no morning after? What if what I have is today, and today is all I have?”

Bagaimana kalau matahari tidak akan terbit dan yang kumiliki hanyalah hari ini? Untuk setiap jumput masalah, untuk setiap percikan kemarahan dengan Saudara tercinta.

Bagaimana kalau matahari tidak mau terbit dan yang tersisa hanyalah hari ini? Untuk setiap genggam gelisah, untuk setiap coretan luka pada hati Sahabat.

Masihkah aku harus menunggu keajaiban Pagi Hari?
Masihkah aku harus sleep on it first and wait for miracle in the morning after?

Atau,
Sudah waktunya aku berhenti untuk berharap pada The Morning After dan mulai menyelesaikannya sekarang juga, whenever I have the chance to do it?

Dan aku berpikir, pagi ini. Right about this moment.

Untuk apa berputus asa mencari jalan keluar kalau energiku masih penuh? Jika kantuk belum meraja dan tubuh belum lelah? Masalah memang tidak selesai dengan segera kalau waktu yang tepat itu belum datang, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan cara memikirannya sampai semalam suntuk; tapi, jika bisa dipikirkan hari ini, kenapa musti menjejali esok hari dengan permasalahan yang kemarin? Setiap hari, bisa jadi timbul masalah yang baru lagi. Bayangkan kalau masalah yang kemarin masih kita pikirkan hari ini. I’m gonna be exhausted!

Lantas; why do I have to wait to say, “Please, forgive me.”?
Kenapa tak dibiarkan kata-kata maaf itu meluncur keluar tepat ketika rasa sesal datang menghampiri? Mengapa harus menunggu esok dan menghukum hatiku semalaman sampai tak bisa tidur untuk sesuatu yang bisa kulakukan sore tadi, misalnya? Dan terbayang betapa jahatnya aku membuatnya marah sampai semalaman dan orang itu terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman saat memandangku di esok paginya, kan?

Aku selalu berkata, “I’ll sleep on it first. I always have the answers at the morning after, dengan isi kepala lebih jernih lagi.”

Tapi kini aku ingin mulai untuk berkata, “I’ll try to do my best today. But if today isn’t enough, I hope that I still have my chance tomorrow…”

Ya.
Kesempatan untuk menikmati pagi hariku.
Hari baruku.
Dan, mmm…
Permasalahan baruku.

Sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan sebuah suara kecil yang terus menuturiku untuk terus melakukan yang terbaik yang aku bisa hari ini…

**

Kantor, 27 Mei 2010, 10.50 Pagi

Wajah di Dalam Cermin

Terkadang, aku tak mengenali pantulan wajahku sendiri saat duduk di muka cermin. Yang kukenali hanyalah garis-garis tipis di sekitar dahi, kerut-merut yang mulai kentara di sekitar mata juga bibir, serta pipi yang senantiasa merah karena sapuan blush on.

Wajah itu memang wajahku, tapi ketika mataku mulai nyalang memandang, kedua bola matanya seolah berteriak. Seolah ingin berbicara tapi mulutnya membisu. Ada sesuatu yang ingin perempuan itu katakan, tanyakan, tapi aku memilih untuk beranjak dari muka cermin dan menghiraukan saja keinginannya.

Ah, aku tahu apa yang ingin dia ungkapkan. Bukannya aku tak tahu, tapi aku tahu! Justru karena itu aku memilih beranjak dari muka cermin, melupakan sebentuk wajahku sendiri di sana, menghapus ingatanku bahwa perempuan itu ada di sana untuk bertanya. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang jengah kujawab dan tak pernah hilang sekalipun mataku terlelap.

Kamu tahu kenapa, kan?

Kamu tahu kenapa aku tak pernah ingin menjawabnya, kan?

Kamu tahu kenapa orang menghindar dari pertanyaan orang lain, kan?

Ya.
Karena aku tak tahu apa yang musti kujawab, dan menyadari bahwa ketidakbisaanku menunjukkan betapa bodohnya aku..

Dan aku takut bahwa aku memang sebodoh itu!

***

Pernahkah kamu duduk di muka cermin dan sosok itu balik bertanya padamu?

Saat menyisir rambut, mengoles krim malam, menyikat gigi, membersihkan make-up, mencukur jenggot, lalu memerhatikan baik-baik wajah yang terperangkap di dalam cermin lalu sosok itu memandangmu dengan mata yang menusuk?

Menanyakan:
“Inikah wajah yang ingin kamu lihat?”
“Apa yang sudah kamu lakukan untukku?”
“Sudah cukup baikkah kamu?”
“Apa kamu sudah melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan untukku?”

Jenis-jenis pertanyaan yang melontar keluar dari bibir sosok di cermin, yang kemudian seolah menghantuimu selamanya?

Apa yang kamu lakukan:
Menjawabnya;
Atau lari dan seolah tak pernah melihat mulut itu bergerak mengeluarkan pertanyaan?

Di suatu pagi, untuk yang kesekiankalinya aku bercermin dan memandang sosok itu. Sosok seorang perempuan yang rambutnya pendek acak-acakan, jerawat yang berebut ingin bersembunyi dalam sapuan bedak, lipstick warna nude yang perlahan melapisi permukaan bibir yang gelap, sosok yang seperti biasa kemudian matanya seakan mengeluarkan tanya.

Tak seperti biasanya, dengan tenang aku memutuskan untuk tetap duduk. Balas memandangnya lembut, tapi ia tak pernah tahu kalau aku sedang mengurai keteganganku sembari menatap kedua biji matanya.

Aku lelah berlari.
Karena pada akhirnya, aku memang tak boleh berlari.
Jadi pagi itu, kuputuskan untuk duduk dan menjawab pertanyaannya.

“Inikah wajah yang ingin kamu lihat?”

Ya. Sekalipun ingin aku memiliki hidung bangir, dengan lubang kecil. Sekalipun aku ingin memanjangkan rambut yang tak tebal ini. Sekalipun aku ingin pipiku tirus, tak menggembung seperti ini… Tapi, ya. Ini wajah yang ingin kulihat.

“Apa yang sudah kamu lakukan untukku?”

I’m sorry if maybe I took you to an unpleasant journey. Maaf kalau bukan hidup seperti ini yang layak kamu tinggali. Aku sudah mencoba menjadi gadis yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Aku sudah menjadi gadis dengan karir, tapi maaf kalau bukan seperti perempuan-perempuan lain dengan karir yang cemerlang. Maaf, if I ruined you!

“Sudah cukup baikkah kamu?”

Tidakkah kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan? I said, I’m sorry! Aku tak pernah merasa cukup untukmu, dan aku malu karenanya, God dammit!

“Apa kamu sudah melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan untukku?”

I don’t know..
I don’t know.
Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu.
Seberapa besar dayaku, kemampuanku, kehebatanku.. Aku tak pernah tahu apakah aku sudah cukup melakukan yang terbaik untukmu. Apakah tetesan keringat, buliran air mata, sakit hati, serta gelisahku setiap hari mengartikan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Yang kulakukan selama ini adalah supaya kamu tetap bisa memandangku setiap hari, meski yang kamu lakukan hanyalah mempertanyakan kesungguhanku.

Dan wajah itu terdiam. Memandangku dalam tenang. Dua biji matanya menyuburkan gelisahku, lantas kemudian, senyummu pun mengembang.

“Mungkin kamu menganggapku sosok yang bawel dan menakutkan, bertanya-tanya seolah kamu tak mampu atau seolah kamu adalah perempuan yang gagal.
Padahal kalau kamu meluangkan waktumu tak lebih dari dua jenak setiap memandangku, kamu akan tahu bahwa aku akan tersenyum padamu.
Tak ada manusia yang gagal, Sayangku.
Yang ada adalah manusia yang belum berhasil.
Dan tak perlu malu dengan apa yang telah kamu lakukan, karena yang terpenting adalah langkah selanjutnya setelah apa yang sudah kamu lakukan.”

Aku terdiam.

“Dan lagi pula, you have done quite well! Stop sweating the small things and start looking at the big picture?”

Aku masih terdiam.

“Sekarang pandang aku. Sekarang juga.”

Aku memandangnya.

“Nah. Sudahkah kamu mengenaliku?”

Beberapa detik, kupandangi wajahnya yang tersenyum. Wajah seorang perempuan berambut pendek, berjerawat kecil-kecil di dahi, pipi tembem yang bersapu blush on, serta hidungnya yang pesek.

Kupandangi wajahnya, terus dan terus sampai kemudian kukenali dia.

Wajah tersenyum yang akhirnya kukenali.
Wajah yang sangat kukenali..

Wajahku sendiri.

***
Kantor, Senin, 17 Mei 2010

Jangan Kasihani Aku…

Aku duduk di sebuah warung, di suatu pagi, menanti mobil sedan sang Kakak Lelaki yang sedang dicat bagian belakangnya di sebuah bengkel pinggir jalan. Hari  itu, matahari sudah bersinar terang sekalipun jarum jam tanganku masih menunjuk di antara angka delapan dan sembilan, sehingga dengan terpaksa, aku menyeret langkahku untuk membeli minuman dingin — favoritku adalah Coca Cola dengan es batu. Maklum, panas sekali hari itu.

Warung itu masih sepi. Tak ada satupun orang yang menyesaki warung itu kecuali aku dan seorang pemiliknya; lelaki tua, usia delapan puluhan, dengan tubuh ringkih, dan rambut yang pigmennya luntur.

Kusapa dia dan segera kupesan Coca Cola dan es batu itu. Dengan cekatan, meski lambat, Bapak Tua itu segera meladeni permintaanku. Membuka botol minuman berkarbonat itu, memecah es batu, meletakkannya di dalam gelas bertelinga, dan menyodorkannya padaku. Dengan senang hati, kuterima sodoran gelas darinya, kutuangkan isi botol itu, dan kuminum perlahan, menikmati aliran air dingin manis itu ke dalam tenggorokan.

Benar-benar Surga di teriknya hari begini! Continue reading

Nothing, Everything

Oprah & Nate

Ada yang seru di acara Oprah Show, siang tadi. Aku memang paling suka kalau Oprah sudah mengupas soal make over, entah itu penampilan fisik atau perubahan interior sebuah rumah. Seru aja melihat metamorfosa keren itu; dari seseorang yang biasa saja menjadi bak seorang artis di red carpet perhelatan Oscar, sampai ke rumah bobrok menjadi sebuah rumah impian. The significant beautiful changes that make me go WOW! Continue reading

Bukan Puteri Duyung

Kiki, keponakan tersayang dengan kostum Puteri Duyung-nya

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Memiliki sepasang kaki yang siap melangkah, kemana saja, sekuat tenaga yang aku punya. Di atas stiletto, di atas sandal jepit, di atas bakiak, atau flat shoes, aku bebas melangkah, berjalan ke mal-mal, berjalan ke pasar, berjalan ke warung soto dekat rumah, berjalan ke depot pangsit mie ayam — heran, makanan semua yang dituju! hehe. Aku bisa melangkah kemanapun, selagi nafas masih mudah dihela dan energi masih menyala-nyala. Continue reading

She’s Lonely…

Sekali lagi, ramai mengejeknya.

Geliatan penuh gelora dari lingkungan di sekitarnya, gejolak tawa yang membahana dan memekakkan telinga dari mulut-mulut yang ada di sekitarnya, juga dentuman musik yang tak pernah berhenti membisingkan telinganya, sekali lagi mengejeknya.

Dia memang ikut bergeliat penuh gelora, dia juga ikut tertawa, suara musik yang membahana itu memang keluar dari speaker ponselnya, tapi ramai masih mengejeknya. Lagi, dan lagi. Continue reading

My Name is Lala

Aku pernah merasa iri dengan orang-orang yang bisa menuliskan kembali kisah hidupnya yang super dahsyat, kemudian tulisan-tulisannya itu terangkum dalam sebuah buku yang best seller.

Kisah Andrea Hirata, misalnya. Kurang best seller apa, coba?

Lalu untuk yang di luar negeri, kisah yang terangkum dalam buku Eat, Pray, Love, yang kemudian juga dijadikan film dengan judul yang sama, diperankan oleh seorang aktris hebat, Julia Roberts?

Dua contoh di atas adalah sekian banyak contoh kesuksesan yang diraih oleh seseorang yang memiliki kisah-kisah hebat dalam hidupnya, lalu berusaha dituliskan kembali dengan apik sampai akhirnya berhasil menyedot banyak perhatian karena perjalanan hidup mereka yang luar biasa menginsipirasi banyak orang. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono