archives

Archive for

plus one

Pernah dengar istilah Plus One? Ow… salah.. salah kalau kamu langsung membayangkan orang yang menyanyi dengan iringan musik rekaman itu.. Yang itu, kayaknya sih, namanya minus one.Β Iya, iya. Kalau ada penyanyi yang lagi tampil di atas panggung tanpa band pengiring itu… Yaaa.. mirip-mirip karaoke gitu dehhhh…. Udah tahu dong, pastinyaa…

Nah, yang pingin saya ceritain di sini adalah Plus One. Hey, apakah ituuuu???

Hhhmmm, saya sendiri baru tahu istilah Plus One gara-gara keranjingan nonton serial Sex and The City, a couple of years ago. Di situ saya baru ngeh, kalau yang disebut plus one adalah orang yang kita ajak untuk menemani kita hadir dalam suatu acara. Gampangnya begini. Kalau kamu pergi ke pesta resepsi seseorang dan kamu berangkat ke sana dengan sahabat atau pacar kamu, mereka itu disebut Plus One. Kan biasanya undangan memang untuk couple, jadi mungkin disebut plus one karena untuk menggenapkan kita yang datang seseorangan…

Eniwei…

Selama ini, Plus One saya adalah my very best friend, Ly *iya, cewek manis yang sekarang terdampar di Hongkong dan sebentar lagi akan pulang ke Indonesia ini.. uhuii.. kangen aku Bu sama dirimu!* Sebagai sesama jomblo *dan pacar yang entah kenapa begitu dibutuhkan, eh hubungan lagi berantakan.. haha.. benar-benar nggak jodoh* akhirnya kami sepakat untuk menjadikan masing-masing sebagai Plus One. Saya ada acara apa.. tinggal angkat telepon, janjian, ssssyuuuttt… meluncurlah Ly ke rumah saya. Dia ada acara apa-apa, gantian saya yang melunc.. uppsss… maaph. Saya nggak pernah meluncur ke sana deng, karena selain jadi Plus One, Ly juga tukang ojek pribadi saya.. :mrgreen:

Ly bertahan menjadi Plus One karena dia adalah satu-satunya teman yang selalu available setiap saat saya butuh. Ya karena faktor jomblo dan memang dia suka aja sama barang gratisan πŸ˜€ , makanya ayuk marree aja setiap saya mengajak dia pergi. Dan FYI, tidak hanya ke acara-acara kawinan, ultah, shipping award, dll dsb, tapi juga saya ajak liburan segala lho. Dia malah dengan suka rela menyebut dirinya sebagai KELEBIHAN BAGASI… Ah.. Kangen juga saya…

Yang jadi masalah adalah, sejak Ly kerja di Hongkong tanggal 15 Desember 2006 kemarin, saya langsung kelimpungan saat mencari Plus One. Ok. Saya memang punya pacar, tapi seperti yang saya bilang tadi, entah kenapa setiap ada acara resepsi, ultah, atau apalah yang mustinya datang as couple, ehh kira-kira sebulan sebelumnya, saya udah putus duluan sama dia.. aaarggghhh… gila banget… Makanya, ada beberapa kali saya malah mengerahkan satu kompi pasukan khusus untuk menemani saya pergi ke acara-acara begitu. Bisa tiga sampai empat orang *haha, kasian yang punya acara juga sih…* Cuman, kalau sedang ‘tau diri’ *dan ini jarang sekali terjadi.. :mrgreen: *, biasanya saya memilih nggak datang.

Hhaaahh…??? Nggak dateng La??? Sumpeh Luuu????

Yap. Emang terlihat nggak banget karena apa susahnya sih datang sendirian? Kan kita diundang, harusnya kita menghargai yang mengudang kita dong… So what kalau kita datang sendiri? Emang ada gitu peraturan ‘yang datang sendiri bakal dihukum minimal 6 (enam) bulan kurungan dan denda sekurang-kurang seratus juta rupiah’? Nggak ada kan??

Ok. Ok. Memang tidak ada peraturan seperti itu. Dan kalaupun ada, pastinya tidak mengurusi soal orang yang datang ke kawinan jumlahnya musti genap atau ganjil. Dan kalau tidak ada peraturannya, kenapa saya musti nggak datang hanya gara-gara nggak ada Plus One?

Hmmm…

FYI, saya emang bukan orang yang ‘berani untuk sendiri’. Bahkan, jalan-jalan ke mal saja, saya nggak bisa sendiri. Kecuali ke Mal tujuannya untuk ber-hotspot-ria dengan laptop dan browsing seenak udel, ya pasti saya berangkat sendiri. Kasihan amat teman saya kalau saya nekat mengajak mereka. Tapi kalau untuk urusan nonton, makan, belanja, apalagi nengkri di cafe sendirian.. uh, no.. mendingan saya stay at home dan nyetel DVD film Serendipity favorit saya ituhh.. *eh btw, pacar tercinta saya wajahnya mirip sama yang jadi Jonathan itu lhoo.. hehehe..ganteng yaa? Uhui, muji pacar sendiri, Rekk… πŸ˜€ * Jadi, saya memang lebih memilih untuk tidak kemana-mana kalau tidak ada plus one.

Sounds so naive?

Yap. Couldn’t tell you that it’s not true. Karena kenyataannya memang benar begini.

Sampai akhirnya saya sadar, ini nggak boleh terus-menerus saya lakukan. Undangan kan diberikan dengan maksud dan menghargai serta mengharapkan kehadiran kita. Jadi kalau kita nggak datang, artinya kita kurang bisa menghargai keinginan mereka. Apalagi kalau alasannya karena kita nggak punya plus one. Ohh.. oh… this is so damn stupid dan childish.. Makanya saya mulai memperbaiki sikap dan mencari plus one yang lain.

So far…. plus one saya adalah orang-orang ini….

1. Lin.. member gang gila yang belakangan rajin menemani saya, apalagi ke tempat yang berbau-bau makanan gratis… hahaha… kita berdua semakin gembul aja ya, Neng… πŸ˜€

2. Mbak Pit… ah, my lovely sister ini yang selalu betah nemenin saya jalan-jalan dan makan siang kalau saya lagi nggak ada temen… Dan pastinya, asal Lala yang mbayarin.. huakakakak.. emang kakak yang baik dirimu, Mbakk.. Mbakk…

3. Bro dan Sis Ira.. uuh.. ini nih… Sepasang suami istri kompak yang kemana-mana keliatan kompak tapi rajin arguing over simple things *hey, saya witness-nya! tiap hari pulang pergi rumah-kantor-rumah saya duduk di kursi belakang dan menyaksikan pertengkaran-pertengkaran ga penting itu.. hehe..* Makin ke sini, saya dan Plus One & One itu makin mirip sama Trio Kwek Kwek versi bangkotan.. Abisss.. kemana-mana bertiga dengan formasi dua cewek dan satu cowok… Coba kalau sebaliknya, mungkin saya bisa bilang kami ini Lingua dan saya adalah si manis Amara-nya.. hehehe.. *ngarep*

4. Bebek Bawel… yaa.. cewek bawel ini yang belakangan jadi pengganti Ly buat jadi supir ojek. Haha… Eits, claim tagihan bengkel yang kapan hari udah di-settle belum ya? πŸ˜€

5. Riris… ya my lovely friend itu yang sering saya jadiin plus one, khususnya ke tempat-tempat yang berbau-bau jedag-jedug *which btw, jaraaaaanggg sekali.. hehe* Di antara mereka semua, cuman Riris yang ‘sealiran’. Ah, miss ya Bu.. Besok kita kencan makan siang yaahhh…

Ok. Sepanjang yang saya ingat, cuman orang-orang itu yang bisa diandalkan. Mengingat lokasi pacar yang tidak memungkinkan untuk datang ke Surabaya cuman buat nemenin saya ke pesta khitanan anak temen kantor, jelas saya nggak berharap banyak dia bisa datang. Ya, namanya juga pacaran sama orang sibuk… Tiap hari ada aja agendanya. Minggu ini di mana, minggu depan bisa kemana lagi terbangnya. Menclok sana, menclok sini.. Uuuhh… aktif banget sih Say, kamu iniiihh.. Buntutnya nggak kepegang gituuhh.. *curhat colongan*

Yaa…

Untuk sementara waktu, memang mereka-mereka ini yang akan menjadi Plus One saya…. At least, sampai dua kondisi ini:

1) Si Ly balik dari Hongkong

dan…

2) Pacar saya bisa dekat dengan saya dan menikah secepatnya kalau bisa *ameeeennnnnnnn!*

Hmmm…

Mana yang duluan yaaa??? :mrgreen:

-7- Lelaki Dua Puluh

Saila duduk di kamar mandi, di atas penutup toilet, dan membakar ujung rokoknya lalu menghisap perlahan, dengan wajah Ibnu terbayang sempurna di depan matanya. Sudah setahun belakangan ini, sejak Ibnu mengatakan, β€œLucu, ya, Mbak? Di saat orang-orang berebut cari pengobatan alternatif atau malah pergi ke luar negeri mencari cara supaya tetap sehat, Mbak Saila malah mempercepat proses kematian…”

Betapa dewasanya seorang Ibnu. Betapa piciknya pikiran Saila ketika berlari dari kenyataan dengan menyesakkan asap ke paru-parunya. Ibnu adalah lelaki dewasa di dalam seorang anak kecil yang seakan tidak mengerti apa-apa, tapi sesungguhnya, dia mengerti hampir segalanya.

Mengerti bagaimana menyenangkan hati Saila, mengerti caranya untuk membuat Saila tertawa, tahu bagaimana Saila ingin selalu bersandar di hatinya, mengerti bahwa Saila telah menciptakan batasan-batasan penuh ranjau di sekitar hatinya, padahal perempuan itu sangat membutuhkannya. Continue reading

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono