you're reading...
novelet bersambung : Lelaki Dua Puluh

-1- Lelaki Dua Puluh

Novel ini saya bikin, 2 tahun yang lalu. Dikebut dalam waktu kurang lebih 6 jam (pukul 11 malem sampai 5 pagi)… huaaaa…. patah tulang deh pokoknya… Dan pastinya, besoknya saya tepar par par di kasur :mrgreen: Untung besoknya hari Minggu, jadinya yaaa mau tidur kayak kebo juga yukk maarrreee.. Itu adalah salah satu alasan kenapa saya betah melajang… *hahaha, padahal aslinya belum ada lelaki khilaf yang mau njadiin saya sebagai istrinya.. :mrgreen: *

Cerita ini terinspirasi dari The Brondongers yang dulu pernah saya ceritakan. Tanpa ada kesamaan nama, situasi, apalagi jalan cerita… Dan kalau bahasanya sama sekali lain dengan novel-novel saya yang lain.. FYI aja, karena lagi pingin bikin yang begini… *eh, terserah gua dong.. novel2 gua… wekekekek.. malah ngamuk….*

Ya sudah.. happy reading, Guys!

 

Sepotong brownie masih tergeletak di atas piring. Saila meliriknya dengan pandangan yang pingin-enggak-pingin. Tapi kemudian, dia membayangkan betapa kalori yang ada di dalam kue enak itu akan jadi “penyengsara” untuk program diet ketatnya. Percuma, dong, dia membayar mahal (dan menghabiskan hampir sepertiga gajinya!) tapi kalau pada kenyataannya dia masih bandel seperti ini?
Mengingat pengorbanannya itu, Saila mengurungkan niatnya untuk mengunyah brownie dan mulai berkonsentrasi mengerjakan monthly review yang sebentar lagi akan deadline.

Tillliiillliiitttt…Tiiilllliiillliiittt…

Telepon di mejanya berbunyi. Saila mengangkatnya dengan mata masih tertuju di layar monitor. “Sai… nggak pulang?” Suara Monita, senior marketing cantik dan cerewet yang sudah tiga belas tahun ini menjadi ‘teman tebengan’nya.

“Ya ampun, Mon! Sorry, tadi aku lupa bilang kalau mau lembur! Kamu pulang duluan, gih. Nanti biar aku naik taksi aja!”

Kenapa nggak minta jemput si Brondong itu, sih, Sai?”

Mendengar kata ‘Brondong’ segera menciptakan segaris senyum di wajah Saila. Entah kenapa, hanya dengan mengingat lelaki itu, hatinya seperti bergetar dan membuatnya ingin tersenyum atau lebih ekstrim, tertawa-tawa sendiri!

“Besok ada UAS, katanya. Dia, sih, maksa, Mon, tapi aku yang nggak enak.” Saila memang menolaknya. Dan tahu benar, kalau lelaki yang satu itu akan mengorbankan segalanya untuk dia. “And by the way, namanya Ibnu.”

Monita tertawa. “Males ah… Lebih enak panggil dia ‘Brondong’! Kayaknya itu lebih pantes, deh, Sai!”

“Ya, sudah. Terserah, deh. Mau disebut Brondong kek, apa dadar jagung, jagung manis… atau apalah, whatever. Yang penting… dia tetap jadi the most beautiful boy in my eyes!”

Suara kekehan Monita masih terdengar di seberang. “Boy, katamu? Jadi kamu sadar, dong, kalau dia bukan ‘man’?”

“Sudah, dong, Mon, jangan mancing-mancing perdebatan lagi, ah. Aku lagi nggak mood buat debat kusir, nih,” tukas Saila setelah menahan nafasnya. Kalimat-kalimat yang ‘menjerumuskan’ itu seperti amukan badai buat hatinya. Sakit, pedih, tapi ia tak bisa berlari menghindari, kecuali tersedot dalam pusaran puting beliungnya.

Iya, deh, iya. Tapi kamu jangan terlalu sensitif begitu, dong, Sai. Ini baru aku yang komentar, lho. Coba kalau orang lain? Siap-nggak-siap, tuh!” Monita berkomentar seperti biasa. Dia memang sayang sekali pada Saila, tapi terkadang, perempuan yang sering ‘menderita lahir batin’ karena lelaki itu, lebih memilih menutup mata dan hanya membuka hatinya lebar-lebar. Padahal, ada beberapa yang tetap harus ‘terlihat’ tidak hanya dengan mata batin, tapi mata jasmaniah. “Ya, sudah, aku pulang duluan, ya? Kamu jangan lembur terlalu malam, lho, Sai. Ingat, minggu kemarin kamu baru ‘lolos’ dari dokter Hadi! Lagian, itu diet kok malah bikin sakit, sih…” Monita mengakhirinya dengan berkata, “Dah, Sai…”

“Dah…”

Usai menutup telepon dari Monita, Saila malah menyandarkan tubuhnya di kursi dan mendorong laci keyboardnya ke dalam. Pikirannya berlarian, berloncatan, mencari-cari jawaban yang pasti untuk pertanyaan ‘mudah’ tadi.

….. ini baru aku yang komentar,lho. Coba kalau orang lain…..

Karena, satu hal yang pasti, tidak akan ada yang bisa semengerti Monita…

 

bersambung…

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

6 thoughts on “-1- Lelaki Dua Puluh

  1. Absen dulu ah..
    kali aja ntar ada commentator reward disi, kayak di BossNH :mrgreen:
    Ternyata jago nulis novel tow..
    huebat. huebat

    Posted by trijokobs | June 20, 2008, 3:23 pm
  2. Waaah..mbak nulis novel ya..
    *pengen*
    bagi-bagi donk tipsnya 🙂

    Posted by shei | June 20, 2008, 4:11 pm
  3. kalo pegel abis nulis, aku pijitin yah, he..he.. (tengadah ah liat Shei)

    Posted by ubadbmarko | June 20, 2008, 5:30 pm
  4. Mas Jeki … !!!
    Namaku kok dibawa-bawa ???
    Pasti mingta LapTop lagi deh …
    HUahaha …

    Pis Mas …

    Posted by nh18 | June 20, 2008, 9:00 pm
  5. Bahasamu asyik, La…
    Mengalir lancar…
    Pasti pembaca novelmu menyukainya…

    Btw, Mas Tri sama Bos Nh udah absen duluan nih.
    Kepingin dapet award ya?

    Posted by heryazwan | June 21, 2008, 1:12 pm
  6. OmJok:
    Kalau di Om NH, rewardnya berupa posting. Kalau saya?? Hm, mungkin hadiahnya setrika sampai mesin cuci. Hebat gaa??? 😀
    Tapi ada syaratnya…
    Setiap komentar yang masuk, bayar dulu ceban. Ntar pengundiannya, dua tahun lagi.. hehehehe…
    upppsss.. lupa bilang terimakasihhhh… Makasih, Om Jok…

    Shei:
    Iya, Shei.. Saya suka nulis Novel. Shei juga yaa? Tips?? Ah, nggak pake tips-tips-an segala, Shei. Cuman modal bawel dan tahan melek aja.. hehehe…

    Udabmarko:
    Pijitiin??? Nggak deh makasih… Ntar Cintakuw marah…. *huaaa.. saya lagi inlop nih!*

    OmKu:
    Daripada TV apa laptopnya yang dibawa kan, Om???
    –membela OmJok yang sudah jadi Pertamax.. hehehehe–
    Pis ah, Om NH… :mrgreen:

    BangHer:
    *nulis komentar buat BangHer mikirnya lama banget. Masih keGR-an .. hehe*
    Dipuji sama orang penerbit gittuuuhhhhhh… UUUHH… saya jadi gimmaaaannaaaa gitu.. 😀
    Makasih, makasih banget…
    Soal OmJok dan OmNH… hahaha…. mereka mungkin lagi ngerebutin hadiah setrika itu Bang…. ^_^

    Posted by jeunglala | June 21, 2008, 9:42 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: