you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (20) : newsflash!

We’re leaving Surabaya, tomorrow.
Ada beragam reaksi.
Daanish, yang ternyata sedih banget karena harus meninggalkan Dean (which I doubt that the reason is love instead of money and privileges), Erick yang sudah beli oleh-oleh buat Karina yang katanya sudah mempersiapkan welcome party buat kekasih tercintanya itu. Lain Daanish dan Erick, lain juga sama Mas Ben dan Miko yang ‘orang lama’ di dunia musik. Mereka, sih, nggak terlalu heboh bela-beli oleh-oleh. Lain sama gue, Erick, and Daanish yang baru kali ini pergi dari Jakarta.

Gue?

Hari terakhir di Surabaya, gue nggak kemana-mana. Semua oleh-oleh sudah gue beli minggu kemarin. Semuanya bahan makanan khas Surabaya. Ada beberapa yang khusus gue beli buat Bu Ida, ibu pemilik kost. Juga ada kerupuk udang, melinjo manis, dan lain-lain buat Nabila, Ratna, Pingkan, teman-teman kost gue dan satu paket lagi buat bokap nyokap di Jogja. Laura? Dia kan baru datang minggu kemaren…

Tadinya gue mau beli oleh-oleh mp4 player buat Robbie (yang surprisingly ternyata lebih murah di sini daripada Glodok), tapi kenyataan kalau he’s no longer my somebody, akhirnya gue memutuskan untuk membelikan something for myself.
A pair of Nine West shoes.

<Ya. Ya. Gue tahu, di Jakarta banyak gerai Nine West dan nggak perlu jauh-jauh ke Surabaya untuk beli sepasang sepatu. Gue tahu banget soal itu, tapi ini soal the perfect timing aja. Nggak setiap saat gue sakit hati dan pas dapet duit banyak, kan?>
 
Sejak Mas Ben mengabari kabar gembira itu, gue hampir melupakan begitu saja soal Robbie yang sebentar lagi akan jadi suami orang.

Sepertinya, semua keadaan jadi berbalik 180 derajat dan gue jadi lupa kalau sebetulnya hati gue lagi sedih dan basah-sah-sah. Minggu kemarin, gue masih sakit hati banget pas Laura datang ke Surabaya dan mengabari soal Mama Anne dan lamaran Robbie.

Minggu kemarin gue masih menangis-nangis darah di pangkuan Daanish yang dengan kejamnya malah bilang, “Duh, duh, Sasyyyaaaa… Gua bosen, nih, tau nggak lo??!! Nangis mulu, darah-darahan gini, lagi! It’s not the end of the world, kalee… Masih banyak orang ganteng di muka bumi yang perlu lo temuin…” Kemudian dia mengingatkan lagi soal Darryl yang nggak sempat bikin cerita gara-gara gue sok yakin masih punya pacar yang namanya Robbie!

Intinya, gue mulai mengalihkan perhatian ke hal-hal lain. Seperti menghighlight rambut, meni-pedi, shopping, dan hal yang amat jarang gue lakukan karena Robbie selalu melarang gue, DANCING WITH CLUBBERS!

Ya.
Gue akhirnya mingle sama clubbers dan have fun sama mereka. Dari situ, gue baru tahu kalau ada Biyan yang ternyata selalu datang buat melihat gue, Reza yang ganteng dan pemalu tapi suka memalukan kalau sudah terpengaruh alkohol, dan Anda yang surprisingly, datang regular hampir tiap hari karena… ERICK!

<I always thought that he came here for Daanish or me! Ha..ha.. >

Bisa dibilang, ini adalah happy ending.
Gue anggap, Robbie adalah sejarah. Dan sudah waktunya gue menutup buku.
Well…
It was the plan
.
Karena beberapa jam sebelum take off, gue melihat ada SMS dari Nabila.

Lelaki bodoh nyariin. Kyknya desperado bgt. Hati2. Jgn kemakan rayuan. AWAS!
Sender:Nabila

Help!
Somebody, help!
I can’t breathe!

 

to be continued

behind the door (21) : back to the future

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: