you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (12) : here comes the truth

Malam itu, gue sulit memejamkan mata.
Selain karena beberapa gelas kopi yang selalu berhasil membuat mata gue melek, juga karena pikiran gue yang mengembara kemana-mana.
Ya.
Kemana-mana. Melintasi ratusan kilometer dari sini, lalu sampai ke satu orang gila yang membuat gue jadi orang aneh belakangan ini.
The shit that I adore so much.
Damn.

… And by the way, Robbie bukan pacar lo lagi, Sas… so stop calling him as your boyfriend …

Dia bukan pacar lo lagi, Sas! Ngerti nggak sih, lo!
Kalau memang dia masih merasa jadi pacar lo, seharusnya dia nggak membiarkan lo sendiri, menebak-nebak perasaannya, selama hampir satu bulan, kan?
He left you, Sas!
Period!

Kata hati kecil gue seperti sudah lupa kalau seharusnya dia mendukung apa mau gue…

Gue menarik selimut, mencoba untuk tidur, tapi pikiran gue masih ngelayap pergi, jauh dari sini, dan mencoba membayangkan seseorang yang mengusik-usik perasaan gue.

What he’s doing, now?
Watching the stars? Feeling guilty for leaving me that day? Wish for miracle to happen not just once but twice so he can have another chance to stay with me?
Exactly… like what I’m doing, right now.

Gue memang berbaring di ranjang, tapi mata gue menerobos ke luar jendela yang memperlihatkan langit dan bintang dalam bingkai kayu.
Rasanya masih belum semudah itu untuk meyakinkan diri sendiri kalau sebetulnya Robbie sudah meninggalkan gue, demi orang lain, dan melemparkan semua kesalahannya ke gue.
Gue masih nggak bisa meyakini kalau break yang dimaksud Robbie bukan bersifat sementara, tapi adalah selamanya.

It’s hard for me.
Or anyone else who feels so much in love but have to let go the person he/she loves the most.

Ya.
Gue akui, meski berat, kalau gue masih menaruh sedikit… mmm… okay, okay, banyak harapan dia akan kembali lagi.
Meski awalnya akan terasa akward, tapi gue bersedia untuk memulai semuanya dari awal, kali ini gue akan berjanji untuk mengurangi semua kesibukan gue dan memberikan lebih banyak waktu gue buat dia.
Mungkin memang benar alasan Robbie, gue terlalu sibuk sampai jarang melewatkan waktu sama dia. Sampai-sampai… he needed distraction… named Jovanka.

Hhh.
Maybe it’s time for me to apologize.
I have this strong feeling if he’s waiting for my appology.
Maybe…
I need to do what I should’ve done before.
Say sorry.
And please, don’t leave me…

Perlahan-lahan, setengah mengendap-endap karena gue nggak ingin membangunkan Daanish yang terlihat begitu lelap, gue mengambil hp dari balik bantal lalu berjalan ke luar.

<Daanish will kill me if she knows what I’m doing…>

Gue membuka pintu dan berjalan ke teras. Sebelum mulai mendial nomor hp Robbie, gue sempat melihat empat angka di bagian bawah kiri hp gue. Penunjuk waktu. Sudah jam dua malam, hampir setengah tiga.

<Robbie pasti akan kaget begitu tahu gue yang telepon…>

Gue merasa pipi gue bersemu merah. Tiba-tiba aja gue merasa pipi gue memanas… tapi hangat. Persis saat pertama kali gue merasakan ciuman Robbie di depan pintu kamar kost gue…

Setelah sekian detik berimajinasi soal masa lalu, gue mulai mendial nomor hpnya.
Lagu If You Leave Me Now-nya Chicago mulai terdengar di kuping gue setelah gue selesai menekan nomornya. Ternyata dia mengganti nada sambungnya yang biasa dengan lagu itu! Dan gue tahu persis, kata-kata lagu itu sama banget dengan perasaan dia ke gue sekarang…

A love like ours is love that’s hard to find
How could we let it slip away
We’ve come too far to leave it all behind
How could we end it all this way
When tomorrow comes we’ ll both regret
Things we said today

Oh Robbie… I miss you so much…

Lagu itu berulang terus. Ya. Mungkin dia masih tidur.
Dia bukannya sengaja nggak mengangkat telepon gue, tapi ini bukan waktu yang wajar untuk menelepon seseorang, kan? Unless… that person has the same reason as I do.
Okay, Sas. Ini yang terakhir.
Lo bisa telepon dia nanti siang.
Gue mendial nomornya sekali lagi lalu mendengar suara Peter Cetera mendayu-dayu di ujung satunya.
Masih belum diangkat.
Maybe I should hang up the…

“Halo?”
Yes. I was expecting ‘someone’ will answer the phone, but that someone MUST BE Robbie, not someone else, especially…
A WOMAN!

“Halloooo?”
“Mmm… Rob… Roobbbiiee ada?”
“Robbie-nya lagi tidur, tuh. Kayaknya, ini masih kepagian, deh.”
“Sori…”
“Ntar siangan deh, coba telepon lagi. Mm, ini siapa, sih?”

Dueeeenggg!!!!
Ini siapa?
Pertanyaan apa, itu?
Bukannya dia bisa lihat di…
Ooh NO! Kalau perempuan ini masih bertanya gue siapa, berarti… nama gue sudah nggak ada di hp Robbie???!!!

“Ngg… Sss… Santy.” Then I decided to lie…
“Santy? Mm… ntar gue sampein, deh, kalo gitu…”
“Eh…eh… tunggu, tunggu!” Gue harus tahu siapa perempuan ini!
“Kenapa, sih?”
“…. ng…. gue boleh tahu, elo siapa?”
“Gue Jovanka, pacar dia… Udah, ya?”
<klik>

When she hung up the phone,
I hung my self in a reality.
What he’ doing? Killing me????

Setelah menutup telepon itu, gue seperti kehilangan napas. Sepertinya udara jadi barang langka yang ogah-ogahan masuk ke rongga hidung gue. Dada gue sesak. Napas gue jadi satu-satu dan membuat gue jatuh terduduk di lantai, dengan hp yang meluncur cepat ke bawah.
Seperti air mata gue.
Yang mengalir tanpa tertahan.

Ya. Ya.
Gue tahu, hal yang paling bodoh adalah menangisi orang yang nggak pantas ditangisi, yang telah begitu melukai perasaan kita, tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Tapi terkadang… menangis… adalah satu-satunya hal yang paling bisa dilakukan saat kita nggak tahu harus berbuat apa…

 

to be continued Behind the Door (13) : Mellow Yellow

tunggu hari Senin aja yaah.. sabar ajah… saya tahu ini memang berat untuk menunggu.. tapi selalu ada hikmah kok untuk setiap luka dan lara… Halah, iki ngomong opo tho…:mrgreen: have a nice weekend, Pals! Mmuachhh!

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “behind the door (12) : here comes the truth

  1. hiks hiks…. kenapa gak sekalian dijadiin novel aja ya? kirim ke penerbit gituh…

    hehe.. ga berani..😦

    Posted by ichanx | May 31, 2008, 9:07 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: