archives

Archive for

….hari ini

Dia pernah bilang cinta. Berteriak di hiruk pikuknya Malioboro, bahwa dia mencintai saya, dan saya adalah perempuan terakhir yang diciptakan Tuhan untuknya. Saya bergetar. Sedikit malu, tapi melihat binar matanya saat itu, saya malah terharu. Dia seakan-akan begitu bangganya ada di samping saya. Seolah tak ingin melepaskan saya pergi, sedetik pun, darinya. Saya adalah Wanitanya. Dia adalah lelaki saya.

Itu… hampir tiga tahun yang lalu.

Lalu dia teriakkan cinta lagi. Persis di telinga saya, beberapa bulan kemudian, ketika hati saya mulai merasa bahwa dialah yang akan menjadi Imam, pemimpin keluarga saya, kelak. Persis di telinga saya. Dan saya tergetar. Air mata saya meleleh. Dia bicara soal cinta…. tapi bukan pada saya.

Itu… hampir dua setengah tahun yang lalu.

Lalu dia menghujat cinta, beberapa bulan setelahnya, dengan emosi tinggi dan rasa amarah yang luar biasa dahsyatnya. Lalu dia mengutuk bahwa cinta itu bullshit… cuman kotoran sapi buduk… Cuman satu kata gombal. Dia tak percaya cinta, berhenti mempercayainya. Bahkan ketika saya merengkuhnya, mengajaknya untuk bangkit kembali… Ini karena saya sungguh menyayanginya… Ini juga karena saya sungguh tolol; nggak ingat apa sama perihnya luka yang belum lagi kering?? Nekat amat!!! Saya tak perduli… saya masih mencintainya… tapi dia berkata… dia tak percaya…

Itu… satu setengah tahun yang lalu.

Lalu dia merindukan cinta. Merindukan kehadirannya. Merindukan kenangan-kenangan indah yang pernah ada, mengajak saya untuk duduk di sebelahnya lalu mengenang masa lalu kami berdua yang tak pernah lepas dari ingatan. Memang tak semuanya indah, tapi saya merasakan cinta itu lagi… Meski telah berjanji untuk menebalkan kulit hati supaya tak mudah tersentuh lagi, tapi saya akui, cinta itu masih menggoda. Cinta itu … ternyata masih ada…

Anehnya.. ketika dia berkata jujur bahwa saya-lah pelabuhan terakhirnya… dan dia telah berlutut di bawah kaki saya… Hati saya diam, kaku, tak bergetar seperti biasa. Saya tak bisa menjawabnya… Saya kehilangan semua kata-kata… saya hanya menyuruhnya menunggu… karena saya tak tahu…

Itu…. setahun yang lalu.

Lalu dia marah. Lalu dia kecewa. Lalu dia pergi dalam hidup saya…. ketika akhirnya saya menemukan seorang yang lain, yang mengajari saya tentang cinta dalam definisi yang saya inginkan: merasa nyaman, merasa hangat, merasa diinginkan….

Dia memaki… dia menghujat… tapi dia merelakan saya… sambil berkata, dia tidak akan mendoakan kebahagiaan buat saya… Dan dia pergi, tak akan pernah mengganggu lagi.

Itu… enam bulan yang lalu.

Saya merindunya. Saya menginginkannya. Hadir lagi, mengisi lagi. Ada celah kosong yang memanggil-manggil namanya kembali. Ini aneh. Ini tidak wajar. Saya telah memiliki kekasih; meskipun dia sedang ingin sendiri dalam diamnya yang entah sampai kapan. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya harus merindunya, merasakan getaran hebat yang tak terdefinisi dan mengganggu kesetiaan saya. Apa ini? Kenapa?

Saya ingin dia ada..

Di sini… menyentuh saya lagi..

Tapi… dia diam saja.

Dia telah putuskan untuk pergi saja.

Dan itu…… hari ini.

 

kapan lagi bisa joget-joget norak dan dapet hadiah?

Saya sedang sibuk latihan modern dance nih. Okay. Memang ini sulit dipercaya dan saya maklum kalau kalian akan dengan spontannya membayangkan badut Ancol sedang jogat joget nggak jelas di kepala kalian. Well… kalian memang tidak salah. Ini memang rrruuuaarrrr biasa. Saya gitu, lho. Yang badannya gendut *tapi cantik.. teteuuupp.. narsisss…* dan nggak jelas di mana letak pingganggnya, nekat berlatih modern dance! Dan hey.. bukannya yang lebih nekat orang yang menyuruh saya latihan?? Rela gitu ngeliat saya joget-joget?

Eniwei…

Biarpun ini amat sangat mustahil, tapi memang inilah yang akan menjadi kesibukan saya sebulan penuh sampai hari Sabtu, 5 Juli 2008. Ada apakah gerangan??? Continue reading

ketika saya harus pergi…

Kamu membuka jendela kamarmu, setelah mengikat tirainya di samping kiri dan kanan kusen jendela. Matahari pagi memang belum mengintip, tapi dari sejuknya udara yang menerobos masuk ke dalam kamar, saya tahu, ini sudah saatnya. Sudah pagi.

Hhh.. Saya hanya bisa memandangi sosok tubuhmu yang berjalan mendekat ke ranjang; mendekati saya yang masih terkurung selimut; yang hangat, karena gua dan kamu. Setelah sosok kamu mendekat, akhirnya bisa jelas saya pandangi wajah cantikmu. Hh, you’re always this beautiful. Entah rahasia apa yang diturunkan oleh Ibunda dulu karena anak perempuan satu-satunya ini telah menjelma menjadi sosok wanita yang anggun dan sangat cantik.

“Ngeliatin apa kamu?” Suaramu manja. Saya mencubit hidung kamu, gemas sekali rasanya.

“Ngeliat kamu, lah… Kamu yang cantik..”

“Saya baru bangun begini kamu bilang cantik?” Kamu mulai merajuk. Kamu tahu, saya selalu menganggapmu cantik. Sejak pertama bertemu sampai detik ini, kamu tahu, saya adalah pengagum sejati seorang kamu. Dan kamu menikmatinya. Dan kamu membiarkan saya melakukannya.

You’re always beautiful… Nggak usah nanya lagi deh,” kata saya lalu mulai bangun dari ranjang, setelah mencium bibirmu dengan hangat.

Kamu memperhatikan saya yang tengah mengambil celana panjang yang kemarin saya lempar entah di mana. Saya butuh penerangan yang cukup, tapi kamu selalu menolaknya. Kamu lebih menikmati suasana yang damai; kamu bilang, dengan nuansa yang gelap, kita bahkan bisa mendengarkan detak jantung kita yang saling bersahutan. Hmm.. terserah kamu saja, deh.

“Kamu harus pulang?” Kamu bertanya. Wajahmu nampak tidak senang. Ohh… Sayang… jangan sedih begitu yaa? Kamu tahu, saya juga beraaat sekali meninggalkan kamu, tapi…

“Nggak bisa ya, kamu tinggal lebih lama?” Kamu memohon.

Baby…. please…. kamu tahu kan…” Saya cium hidungmu. Sekilas.

“Kenapa saya nggak bisa memiliki kamu sepenuhnya, Sayang?” Kamu memandang saya dengan kedua bola mata kamu yang cantik. Bola mata yang diteduhi dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Bola mata berwarna hijau kecoklatan yang indah; yang membuat siapapun merasa jatuh cinta seketika itu juga setiap memandangnya.

Baby….”

Kamu mulai merengut. “Ya, ya. Saya tahu…. You don’t belong here…” katamu dengan mulut cemberut; membuat saya ingin mencium bibirmu terus menerus tanpa kenal waktu…  “Ya sudah, pergi sana. Pack your bags, then leave me… like always...” Kamu terlihat sangat sedih.

Baby,” kata saya sambil duduk di sebelahmu, “Kamu tahu, saya nggak bisa melakukan apa-apa, kan? This is fate… I don’t belong here.. Saya musti pergi dulu, okay?” Saya cium kening kamu, turun ke hidung, lalu mencium lembut bibirmu sekali lagi. Saat saya mencium hidungmu, saya merasakan ada butir air mata yang menetes dari mata indah milik kamu itu. You’re crying… Oh Geez! I hate it when you cry! Saya seperti kehilangan segala daya untuk meninggalkan kamu!

“Sudah, sudah, pergi aja. I’m okay… I really am…” Kamu tahu saya paling nggak tahan melihat air mata. Lalu kamu sunggingkan senyum palsu kamu; senyum yang tampak terpaksa, tapi tetaplah sangat manis di mata saya.

Kedua tangan saya memegang pipi-pipi kamu yang halus mulus. Saya pandangi kamu lamat-lamat sambil sesekali menghapus air mata kamu yang masih turun perlahan. “You okay?” tanya saya.

Kamu mengangguk. “Iya… Saya tahu kamu bukan milik saya. Saya paham kamu musti pergi. Tapi nggak apa-apa… I’m okay… Hmmm… as long as… you...”

“Kenapa? As long as I what?”

As long as… you… come back again… every night… dan saya bisa tidur memeluk kamu…”

Oooh BabyContinue reading

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono