archives

Archive for

those were the days (part 5 — Nostalgia SMA Kitaaaaa….)

Tahu lirik ini?

Kau bercanda lucunya… Yang lain pun tertawa…. Seolah saja semua cerita kita tak ada habisnya…

Masih nggak tahu? Okay, saya kasih lanjutannya.

Ada yang saling cinta… bermesra di sekolah… s’lalu berdua, berjalan, di sela-sela rumput sekolah kita… oh indahnya….

Astagaaahhh? Masih nggak tahu juga? Serius?? Okay. Okay. Ini bocoran yang terakhir. Kalau kalian masih nggak tahu juga, berarti memang sudah waktunya saya tahu diri soal umur 🙂

Nostalgia SMA kitaaa… indah lucu banyak cerita… masa-masa remaja ceria… masa paling indaaaahhhhh…

Nostalgia SMA kitaaaa… takkan hilang begitu saja…. walau kini kita berdua menjalin cintaa…aaahhh….

Nah, nah. Jangan ngaku-ngaku nggak tahu deh. Dan jangan juga bikin saya merasa super tua kalau sampai kalian nggak tahu lagunya. Iya, iya. Lagu itu. Nostalgia SMA yang dipopulerkan oleh Paramitha Rusady, si cantik dengan wajah melankolis itu lhooo… Continue reading

those were the days (part 4 — I Can Write)

Kakak saya, Bro, adalah penulis yang… yaah… bisa dibilang, cukup handal. Ini dibuktikan dengan prestasinya saat SMU, ketika dia menjuarai sebuah grandprix penulisan cerpen seJawaTimur. Dia sendiri tidak tahu menahu cerpen mana yang berhasil meraih Cerpen Terbaik saat itu, karena dia mengirimkan 2 cerita. Satu, cerpen yang super mellow. Dan satunya, cerpen super lucu, gaya cerita yang nyleneh dan asal-asalan. Mirip Hilman.

Bro memang suka menulis. Dia pernah menulis cerpen yang mengisahkan teman-teman dekatnya di SMU. Karakter-karakter itu tertuang dalam serial bersambung yang tentunya diimbuhi dengan drama yang luar biasa dan sering bikin saya menahan pipis saking lucunya. Bro memang paling jago membuat cerita lucu. Saya masih ingat ketika dia menulis serial Umar *ini nama temannya*, cerita tentang Umar dan teman-temannya yang bego, sok kegantengan, tapi patriotis 🙂 Ini sukses bikin saya memaksa dia untuk terus menulis, mencetak, dan saya baca-baca menjelang tidur. Continue reading

those were the days (part 3: Cinta Monyet)

Bicara soal cinta, kata sahabat saya, Ly, saya termasuk orang yang matang terlalu cepat. Ini boleh dibilang benar, karena saya memang sudah mengenal cinta sejak saya berhenti ngompol di celana 🙂

Takjub?

Well, sama. Saya juga. Asli, sumprit, saya sendiri juga heran kenapa saya ini sudah mulai naksir-naksiran dan had a crush dengan tetangga sebelah rumah, yang super ganteng *saya selalu menganggapnya mirip dengan Ricky Subagja — ini sulit dibuktikan lagi karena dia sudah pindah ketika kemampuan mengingat saya masih sangatlah lemah alias masih ingatan anak kecil 😦 Tapi Mbak Pit mengakui kalau si Gebetan saya ini memang mirip dengan Ricky Subagja… pas masih kecil, pastinya. Dan oh ya, namanya Martin (sssttt.. sekedar info, saya akan menggunakan banyak nama samaran di sini yaaa…) Continue reading

those were the days (part 2 — Lala, Si Pembangkang)

Contoh #1

Suatu hari, hampir dua puluh tahun yang lalu, saya pernah terlibat percakapan tidak penting *menurut Mami, tapi penting buat saya* dengan Mami, di atas mobil kijang warna hijau milik Papi yang sedang melintasi jalan menuju rumah.

“Mi… Kenapa sih, kok aku dikasih nama Aulia?”

“Lha? Terus? Maunya?”

“Mmm.. kenapa bukan Michele… Barbara… pokoknya kayak orang bule gitu.”

“Kamu kan orang Jawa, Nduk.”

“Kok aku dipanggil ‘Nduk’, sih? Bukannya Nduk itu Genduk-Genduk alias Pembantu??” Saya protes.

“Nduk itu, bukan pembantu… Tapi panggilan kesayangan seorang Ibu buat anaknya…” Mami tersenyum sambil menerangkannya pada anak bungsunya yang montog 😀 Continue reading

those were the days (part.1 — Awal)

Saya ingin bernostalgia, nih. Setelah bosan dengan cerita-cerita soal hari ini yang monoton dengan rasa sedih yang bikin saya suka menangis sendiri saat bercerita, saya memutuskan untuk mengenang kembali masa-masa dulu ketika masih kanak-kanak, masih menganggap dunia adalah taman bermain yang luas dan tidak berbahaya.

Hm, mungkin juga karena tadi pagi, saat saya sedang duduk manis *agak urakan sedikit, sebenarnya, tapi jaim sedikit, boleh kan? 🙂 * di samping pak kusir Bro yang sedang mengemudi mobilnya untuk mengantarkan saya ke kantor di ujung kota Surabaya, saya melihat beberapa anak kecil (seumuran SD kelas 3-4 gitu deh) sedang bergerombol di trotoar besar di sekeliling Tugu Pahlawan. Mereka sedang pelajaran Olah Raga, ini saya tebak dari ‘kostum’ yang mereka pakai saat itu. Kaus berwarna oranye kemerahan dan celana pendek di atas lutut. Continue reading

kita memang dari planet yang berbeda, ya…

Pagi ini saya blogwalking. Ada beberapa blog teman yang sengaja saya cantumkan di blogsurf; ini memudahkan saya untuk mengetahui posting-posting terbaru mereka tanpa harus menduga-duga mereka sudah meng-update blognya atau tidak.

Dan pagi ini, saya membaca salah satu posting Sang Khilaf, salah satu blog favorit karena bahasanya yang puitis, blog yang tidak asal posting tapi memberikan something to read, to learn, ketika kita selesai mengunyah ceritanya. Sederhana, cantik, dan valuable. Itulah yang membuat saya betah nongkrong di rumah teman saya ini, apalagi setelah saya baca postingnya yang terbaru.

Dari yang saya baca melalui berbagai posting-nya, saya tahu, teman saya ini termasuk laki-laki yang idealis. Ow, maaf, ini terlalu kasar. Mungkin ini yang lebih tepat: dia tahu apa yang dia mau. Tidak seperti saya yang sering kerepotan menganalisa keinginan diri sendiri. Belum tentu yang saya lakukan adalah benar-benar saya inginkan, demikian pula sebaliknya.

Ceritanya tentang tidak mau begitu saja menikah karena tak rela membiarkan hidup calon istrinya tidak lebih baik dari hidupnya yang sekarang, membuat saya tertegun. Agak lama. Lalu berpikir. Dia bilang begini *maaf ya, Mas, saya kutip*

“Jika engkau berada pada posisiku, relakah kau meminang anak gadis orang dan membiarkannya tertidur tanpa alas yang empuk dan selimut yang lembut seperti di rumah orang tuanya? Relakah kau menyuapinya hanya dengan sepiring nasi putih bertabur garam. Relakah kau membiarkannya berjalan jauh tanpa alas kaki yang utuh? Aku jelas tidak rela.”

Oh…

Jadi itu yang ada di dalam kepala seorang laki-laki? Suatu konsep bahwa menikah adalah memberi kebahagiaan buat wanita pujaannya dan berbuat yang terbaik untuk si belahan jiwa?

Dengan rumah yang hangat….

Dengan asap dapur yang selalu mengepul…

Lalu saya berpikir. Itukah yang sedang dia hadapi sekarang? Berjuang untuk membahagiakan saya? Tak ingin kenyamanan yang diberikan oleh Papi atau yang sudah saya ciptakan sendiri sampai detik ini, terenggut paksa kalau harus menikah dengan dia *yang entah kenapa itu sampai terlintas di dalam pikirannya*?

Kadang saya ingin menjerit, bahwa saya tak apa-apa. Tak perlu kemewahan, tak perlu ketersediaan segalanya, asalkan dia ada, bersama-sama saya mengarungi kehidupan ini. Saling berdiskusi, bertukar pikiran, dan menyelesaikan segala masalah sambil duduk berdua. Bukan lari, bukan sembunyi.

Tapi, yaa…

Ternyata kita… Saya… dan kamu, para laki-laki.. kita memang berasala dari planet yang berbeda. Apa yang saya anggap penting, belum tentu kalian anggap perlu. Apa yang kalian junjung tinggi-tinggi, belum tentu itu yang saya butuh. Perbedaan-perbedaan ini memang tak bisa terelakkan karena kamu dan saya, memang ditakdirkan untuk saling melengkapi 🙂

Hmmm…

Sekarang saya tahu, bahwa segala resah dan gundah ini mungkin sudah waktunya berakhir. Mungkin sudah waktunya saya belajar untuk menempatkan posisi saya di posisi orang lain. Mencoba untuk berpikir dengan kapasitas seorang dia, bukan melulu memanjakan keegoisan saya.

Mungkin saya tak butuh kenyamanan itu… tapi kalau dia ingin menghadiahi saya kenyamanan yang luar biasa sebagai tanda cintanya, masih perlukah saya menderita karenanya? Masih perlukah saya bertanya-tanya tentang seberapa besar dia mencintai saya? — beib, I’m sorry… I’m trying to learn, to understand you, to know how it feels in your position… Please wait… —

Thanks to Sang Khilaf yang sudah membagi cerita indah ini di blognya. Ini salah satu bukti bahwa membaca blognya sama dengan mempelajari sesuatu: saya bisa menulis dengan lancarnya begini dan memahami apa itu perbedaan. Masih nggak percaya? Meluncur ke sana aja deh… 🙂

mei and june (13)


teeettt…
teeettt…

Suara bel di depan pintu membuat Mei berhenti melamun. Sambil bertanya-tanya dalam hati, dia berjalan ke pintu depan dan mulai berbicara di intercom. Dia mengintip sebentar di lubang intip dan melihat ada satu sosok lelaki gagah yang berdiri tegap dalam balutan jas, hem biru langit, dan washed jean. Rambutnya yang coklat pirang, mata hijau gelap, dan kulit yang putih, Mei yakin, lelaki ganteng ini adalah James, lelaki yang namanya sering disebut-sebut oleh sahabatnya.

Tapi kenapa, ya, James datang ke sini, padahal kan seharusnya dia tahu kalau June berangkat ke kantor?

Mei menekan tombol bicara.

“Yaaaa??”

Hello… Mmmm… this is James. May I come in?” Continue reading

Oprah’s Wisdoms…

Ini saya baca di email-email berantai lewat milis, dan sengaja ingin saya bagi di sini, siapa tahu berguna… Khususnya buat kalian, para perempuan… dan buat kalian, para lelaki… You all have the rights to agree or disagree. Ditunggu komentarnya yaa… 🙂

 If a man wants you, nothing can keep him away. If he doesn’t want you, nothing can make him stay.

 Stop making excuses for a man and his behaviour. Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache. Continue reading

nasehat

Mudah ya, untuk menasehati orang lain sampai mulut berbusa-busa dan kita begitu kreatif merancang susunan kata-kata sampai membuat lawan bicara termehe-mehe saking terpesonanya atau saking tersudutnya?

Ini yang selalu saya rasakan ketika beberapa sahabat datang mengadu. Bertanya ini itu, bagaimana mencari jalan keluarnya, bagaimana kalau melakukan ini saja, itu saja… Dan segala pertanyaan lainnya yang ujung-ujungnya akan terdramatisir dengan nasehat-nasehat super beautiful dari mulut saya. Continue reading

kulit

Suatu sore menjelang Maghrib, saya mengantri untuk wudhu di sebuah mushola suatu Mal. Di antara kerumunan orang itu, ada seseorang yang menarik perhatian saya. Dia terlihat berbeda dan membuat saya melamun (bukan jorok), lalu mulai berpikir.

Dari penampilannya yang super stylish dan a bit nyentrik (rambut kriting kruwel-kruwel pendek berwarna merah pirang, baju sport otomotif dan celana jeans belel, gelang-gelang rantai, dan wajah yang garang mirip preman), saya langsung terpesona dan bilang dalam hati, “Ow, ternyata biar nyentrik-nyentrik begini dia masih ingat buat sholat yaaa….” Continue reading

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono