you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (9) : the distraction

Hari kedelapan.
Dan masih belum ada telepon, bahkan sms, dari Robbie. Berkali-kali mengintip hp, yang ada cuman layar bertuliskan provider, beserta tanggal, dan penunjuk waktu.
Gue berharap, paling nggak, ada sms atau missed call dari Robbie supaya gue bisa menelepon balik untuk nanya, “Tadi nelpon, ya, Rob?”
Karena satu kalimat itu, pasti akan membawa ke percakapan yang lainnya…

How I miss this guy…

Meskipun tingkahnya sering menyebalkan dan nggak masuk di akal, dia tetap seorang lelaki yang manis buat gue. Dia memang nggak seganteng Farid, atau setajir Andhika, atau sepintar Rommy. Bagi gue, dia adalah ordinary guy with extraordinary qualities.
Dia tahu gimana cara bikin gue tertawa, dia tahu gimana cara bikin gue nggak terlalu larut dalam masalah gue… Bahkan dia tahu setiap jalan tikus di Jakarta yang bisa menghindarkan gue dari kemacetan…

He’s an angel.
And still, I can hardly believe that he’s cheating behind my back…

Setiap gue mencoba membayangkan Robbie, that damn woman, Jo, ikut terbayang di sana. Gue memang nggak sempat melihat jelas gimana tampang dia, tapi gue tahu, dia jauh lebih cantik dari gue.
Need no mirror to say that.
Gue bukan cewek berkulit putih mulus seperti dia, atau berambut pirang tebal yang keriting di bagian ujung-ujungnya, atau hidung bangir yang sangat tipikal dengan orang-orang bule.

I’m only an ordinary girl, with ordinary needs, and one of them is… being loved by someone, unconditionally.

“So, that’s it. Dia ngomong apa, lo telen gitu aja. Gitu?” komentar Daanish, saat gue cerita soal the break up moment gue.
Saat itu, gue cuman bisa mengangguk sambil menangis di bahunya.
“Lo nggak nanya apa-apa?”
Gue menggeleng.
“Nggak nanya, sampai kapan?”
Gue tetap menggeleng.
“Ya, ampun, Sas! Lo sadar nggak, sih, sebetulnya lo butuh banyak penjelasan dari dia. Nggak bisa gitu, dong, Sas. Masa lo biarin dia mainin hati lo seenaknya gini, sih?”
Gue, dengan terisak, hanya berkata pelan, “Mungkin dia lagi emosi, Nish… Gue yakin besok dia akan minta maaf… seperti biasa…”

Dan, ternyata, ‘besok’ itu nggak pernah terjadi…

Setelah pertengkaran itu, nggak pernah sekalipun Robbie mencoba menghubungi gue, not a single message in my cellphone… no, nothing.
Mantan gue itu seperti lupa kalau kita berdua pernah tiga tahun berbagi rasa, berbagi kangen, berbagi marah, berbagi apa saja.

<We even almost ‘did’ it once in his house… But thanks God, we didn’t!>

Apa arti 3 tahun itu buat dia, ya?
Apa sama seperti gue, 3 tahun yang sangat menyenangkan, nggak terlupakan, dan tergantikan?
Atau dia malah punya persepsi lain yaitu three years of nothing?

Hati gue masih sakit, sampai hari ini. Masih nggak rela melihat Robbie diam aja sementara gue menangis darah dan berdoa siang malam supaya dia bisa jadi pacar gue lagi.

Well, mungkin Daanish benar juga.
I need a distraction.
Pengalih perhatian, supaya gue nggak terlalu memikirkan Robbie. Karena menurut Daanish, semakin gue memikirkan dia, cowok tengil itu nggak akan pernah bisa lari dalam pikiran gue. It will make him stay longer… and longer… And by the time I realize that it was all wasting my time and energy, he’s married to someone else while I’m STILL alone.

“Makanya, buka, deh, mata lo lebar-lebar. Scan baik-baik, siapa tahu lo bisa nemu cowok kayak gue…”

Sekedar info aja, delapan hari ngamen di Surabaya, Daanish sudah sering ngelayap sama Dean, cowok tajir yang Sabtu lalu buka botol seharga 3 juta.
Well, well, untuk urusan laki-laki, Daanish memang jagonya. Siapa yang nggak suka sama Daanish? Cantik, menarik, kecil mungil, tapi seksi berat… dan… so refreshing. Nggak salah juga kalau Dean tertarik sama dia dan mulai jadi ‘boy escort’ Daanish selama di Surabaya.

I like her, but I don’t think I’m interested to become her…

“Nggak, deh, Nish. Gue nggak mau maksain diri. Mendingan yang natural aja…”
“Ah, maksain diri gimana, sih, Sas? Ini bukan maksa namanya, Sas, tapi membuka diri. Tahu bedanya, kan?”
“Kalau memang sudah waktunya gue bisa melupakan Robbie, pasti gue akan lupa, Nish, jadi…”
“…until then… lo akan menghabiskan waktu lo dengan… apa? Murung? Sedih? Sengsara?” Daanish tersenyum kecut. “Lo sendiri nggak yakin, kan, kalau dia sekarang lagi sendiri atau lagi berduaan sama Jo? Ya, kan, Sas?”

Ya, Daanish.
Gue nggak tahu sekarang Robbie ada di mana atau malah dia sekarang masih hidup atau nggak. Gue nggak tahu dia lagi mikirin siapa atau malah nggak mikirin apa-apa.
Yang gue tahu cuman gue punya satu keyakinan kalau Robbie masih, somehow, memikirkan gue, mencari-cari gue, tapi terlalu gengsi untuk menunjukkan semua ini ke gue.
Sebut ini mimpi di siang bolong atau lo sebut gue seperti pungguk merindukan bulan. Tapi apa salah kalau gue masih berharap Robbie adalah lelaki terakhir buat gue dan semua ini hanya kesalahan kecil yang bisa diperbaiki? Apa salah kalau gue punya harapan untuk bisa kembali sama dia dan menarik kembali semua kata-kata break-up dari mulutnya?

Yang terpenting…
Can I wait until time proves me that I’m wrong?

Karena gue diam, Daanish mulai melancarkan aksi mak comblangnya.
“Hari Minggu, lo ikut gue sama Dean, ya?”
“Kemana?”
“Udah, pokoknya ikut aja.”
“Terus, gue bakal jadi obat nyamuk lo, gitu?”
“Obat nyamuk? Hei, gue nggak sejahat itu, lah, Sas.”
“Terus apa, dong, istilah buat orang yang mau-maunya ikut temennya pacaran? Orang sinting? Apa kebo congek?”
“Wah, wah… lagi sensitif, nih. Mau dapet, ya, Neng?”Daanish tersenyum. “Gue nggak akan biarin lo sendiri, lah, Sas… Gue malah mo ngenalin lo sama temennya Dean. Eh… kali-kali aja ada yang minat sama lo…”
“Anjrit, lo! Emang dikata gue barang apa, sampai ditawar-tawarin segala? Hu-uh… edan!”
“Haha… jangan sewot, dong, Sas… Siapa tahu lo bisa lebih cepet ngelupain Robbie, kan? Supaya gue juga nggak empet lihat lo jadi cewek yang nggak ada semangatnya sama sekali seperti sekarang ini, Sas…”
Gue terdiam.

Is it so obvious that I’m hurt?
Is it written in my face that I’m still in love with someone, but that someone really doesn’t give a shit about me?

“Sasya… udah, deh. Percaya sama gue. Di artikel majalah-majalah perempuan manapun, yang namanya ‘usaha menghilangkan sakit hati’ itu ada beberapa hal, dan salah satunya… have fun, go mad.”
“Tapi, Nish… gue lagi nggak minat buat…”
“Ayo, dong, Sas,” potong Daanish. “Seru lho… Kita bakal double date, jalan-jalan ke luar kota… Lo belum pernah naik sampai ke Tretes, kan? Refreshing lah, Sas… Sekali-sekali lo perlu memanjakan diri juga, lho. Masa selama di Surabaya yang lo tahu cuman rumah kontrakan-café-TP doang. Nggak seru, tau…”
“Nish, gue…”
“Sas, please… Lo ikut, ya? Biar ntar di mobil nggak cuman gue sama Dean aja… Yaaaa… meskipun gue akhirnya nggak bisa ‘ngapa-ngapain’ sih…” katanya sambil terkekeh sendiri.
Hm.
Gue lihat Daanish begitu bersemangat dengan idenya. Jujur, gue nggak terbiasa dengan blind date. Mungkin pemikiran gue terlalu naif, karena menurut gue, blind date cuman buat orang-orang yang desperate.

<Tapi… apa itu artinya di mata Daanish sekarang gue terlihat begitu desperate, ya? Sampai-sampai dia harus turun tangan mencarikan pasangan buat gue…>

“Tapi, Nish, gue…”
“Ssshhh…ssshhh. Sudah, deh, lo terima jadi aja.”
“Gue rasa…”
“Gue rasa lo butuh distraction,” potong Daanish. “Sebelum lo berubah jadi monster jelek yang doyan ngerokok di pagi hari…”

to be continued

behind the door (10) first blind date

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “behind the door (9) : the distraction

  1. Kok pada nggak ada yang komentar ya? Saran saya nggak usah diikutilah blind date seperti itu. Kalau cuma mau senang-senang sih silakan. Tapi kalau mau mencari pasangan hidup jangka panjang biasanya kurang bagus dengan cara begitu.

    Posted by Rafki RS | May 30, 2008, 10:56 pm
  2. Pak Rafki,
    Mungkin ini cara yang paling cepat buat melupakan seseorang, Pak… Ga bagus juga yaahh…. Ada ide?

    Posted by jeunglala | May 31, 2008, 8:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: