you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (10) : first blind date

Tadinya gue pikir blind date itu pekerjaan sinting yang dilakukan orang-orang yang sudah putus asa lalu memohon-mohon orang lain untuk menjodohkan mereka, atau mencari-cari lelaki di cyber world yang nggak jelas wujudnya.

Ya, itu yang ada di dalam pikiran gue sebelum Dean menjemput gue sama Daanish di hari Minggu pagi, tepat jam tujuh.

Karena…
Ya.
There you go.
Gue melihat seorang cowok ikut keluar dari mobil bersama Dean, lalu menghampiri kami berdua. Gue hampir saja jatuh pingsan begitu bisa menyentuh tangan dia karena dia mirip seperti bayang-bayang imajinasi yang terlalu indah untuk terwujud!

Setelah berhaha-hihi sebentar, gue masuk ke mobil dan duduk di belakang, di samping Pak Kusir… ehh… di samping Daanish yang jemari-jemarinya begitu lihai menggoda Dean. Entah mengkilik kupingnya, menyentuh rambutnya, atau apa saja, deh, pokoknya sepanjang perjalanan, sepuluh jari Daanish adalah yang paling sibuk…
Tapi…
Ups.
Nggak juga, sih. Yang lebih sibuk mungkin jantung gue, kali, ya? Karena begitu dari awal gue tahu kalau ‘pasangan’ blind date gue ini cakep banget, gue jadi sering mengatur nafas baik-baik sebelum pingsan duluan!

<Dan untungnya, gue akhirnya berhasil juga melatih pernapasan gue dengan bekal ingatan pelajaran tai chi dari Bokap…>

“Pertama kali di Surabaya, ya?” Kalimat basa-basi pertama yang keluar dari mulut Darryl, my distraction.

Saat itu Daanish entah sudah menghilang ke semak-semak mana karena setelah setengah jam dia pamit mau ke kamar mandi, yang ada dia nggak balik-balik sampai sekarang. Dan yang makin bikin gue yakin kalau dia pasti ‘doing something’ itu karena Dean yang selalu mengikuti Daanish seperti bodyguard juga ikut menghilang.
Jadi gue ‘terpaksa’ menahan perasaan dan mulai berbasa-basi juga.

“Dulu sekali, pernah, waktu Bokap dinas di Surabaya. Tapi, waktu itu gue masih kecil…”

“Sekarang banyak berubah, ya?”

What kind of question is that?
That’s even not a question. It’s a statement!

“Iya…”
“Sekarang Surabaya jadi macet, Sas, sama kayak Jakarta. Mau kemana-mana musti berebut jalan.”
“Tapi Jakarta masih nomer satu kalau urusan macet, lho, Ryl. Coba lo tanya, deh, sama orang-orang gimana komentar pertama mereka begitu mereka membayangkan Jakarta? Gue yakin banget jawabannya pasti bukan Monas, bukan Dufan, bukan ondel-ondel atau apa… Tapi… macet.”
“Haha… kamu sepertinya bangga sekali, ya, Sas…”
Gue baru menyadari kalau ternyata gue membanggakan sesuatu yang seharusnya pretty embarassing. For a good citizen, seharusnya gue akan bilang, “Ya, mungkin Jakarta memang macet, but you see? Kota Jakarta tuh kota megapolitan, where you can find almost everyything. Nice clubs, nice shopping centers, gorgeous seaside… Yeah, maybe you can’t find mountains, but… you always can go to Puncak which only take you not more than two hours to get there!”

That’s what great citizen do…
Gosh.

“Kalau lo, Ryl, pasti lo sering ke Jakarta, kan?”
Akhirnya gue memilih untuk mengalihkan perhatian sebelum meratapi nasib karena gue terlalu banyak menghamburkan kata-kata yang nggak penting seperti tadi.
“Sering? Hmmm… sebulan sekali, paling sedikit. Kalau ada undangan meeting atau perlu ketemu klien penting.”
“Oh ya? Orang penting, dong…”
Darryl tersenyum sambil berkata, “Nggak juga. Gue cuman jadi orang paling repot kalau perusahaan Papa lagi ada masalah…”

OH GOD!
This really can’t be true.
Pertama, dia ganteng.
Kedua, dia kelihatan baik.
Dan ketiga… he’s totally RICH!
What a nice combination, right? :mrgreen:

“Mmm… kamu sendiri, Sas, sampai kapan di Surabaya?”
“Gue? Ngg… sebulanan gitu, deh, Ryl.”
“Terus, langsung ke Jakarta lagi?”
“Bisa ya… Bisa nggak.”
“Maksudnya?”
“Mungkin gue akan lanjut ke Denpasar, Ryl. Manajer bilang ada kemungkinan perpanjangan kontrak di sana…”
Darryl memandang gue dengan mata yang berkata how-on-earth-you-can-manage-all-these.
“Kamu kuliah, kan, Sas?”
“Iya… Udah tinggal beberapa mata kuliah lagi, sih, tapi sekarang gue ambil cuti satu semester,” tukas gue cepat setelah melihat reaksi Darryl. “Jarang ada kesempatan yang datang dua kali, kan, Ryl?”
“Ooh… itu makanya kamu tenang-tenang aja jalan-jalan seperti sekarang?”

It’s not just a travelling, Ryl, it’s how I live my life.

“…”
“Nggak ada yang melarang kamu pergi-pergi begini, Sas?”
“Maksud lo, keluarga? Bokap sama nyokap, sih, nggak protes…”
“Kalau pacar?” potong Darryl dengan matanya yang oh-so-innocent.

Do I still have one?

Gue diam, trying not to look at him. Apa ini pertanyaan standar untuk kencan pertama? Kenapa nggak tanya soal yang simple aja, misalnya: is it my true hair color or my boops are really this big…
Shit.
It wasn’t decent either.

“Sas? Sasya? Atau jangan-jangan kamu pacaran sama Er…”
Gue menggeleng.
“Nope,” tukas gue cepat. “Pacar gue nggak marah, kok, Ryl. Dia… ngerti gue… banget.”

Once again,
I keep asking myself this question:
Why on earth makes me still thinking that Robbie IS mine?
 

to be continued

behind the door (11) …and surely, a last one

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: