you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (7) : let yourself healed

Pukul empat pagi, lewat beberapa menit.
Gue masih duduk di depan teras rumah kontrakan, menghisap rokok, dan membiarkan imajinasi gue berkeliaran kemana-mana seperti asap rokok yang hilang terbawa angin.
Saat merokok, asap rokok gue malah membentuk bayang-bayang Robbie. Sedang tersenyum. Sedang tertawa. Sedang memandang gue. Seperti yang dulu-dulu, saat cinta dan perhatian dari Robbie adalah makanan sehari-hari gue…

Shit. Shit.

Gue nggak tahu kenapa gue bisa se-mellow ini. Padahal gue tadi sudah all out, gue sudah berusaha untuk melupakan dia dengan bersenang-senang dan mengajak beberapa clubber untuk menemani gue di panggung, tapi…
Tetap saja.

He’s just everywhere…
Even in the smallest particle of air that I breathe…

Gue mematikan rokok dan mulai membakar batang berikutnya. Gue tahu, merokok nggak akan mengubah apa-apa. Kalau memang Robbie nggak menelepon atau mengirimi gue sms, itu artinya bahkan dengan merokok sebanyak apapun nggak akan membuat tiba-tiba ada sms atau missed call dari Robbie, kan?

I should’ve known it…

Waktu Robbie bilang dia ingin kita break, itu artinya putus beneran, bukan temporary break up di mana suatu saat nanti gue sama dia akan pacaran lagi dengan kondisi yang sama-sama fresh. Sama-sama mengerti dan memahami. Sama-sama meyakini kalau berpisah dari satu sama lain adalah hal paling bodoh yang bisa kita lakukan.

Well, people do have dreams, right?

Seperti gue yang berharap sekarang ada bintang jatuh dan memohon supaya Robbie menyadari ‘kesalahan’nya…

“Nggak istirahat, Sas?”
Tiba-tiba gue mendengar suara Daanish. Gue melihat dia berjalan mendekat lalu duduk di samping gue. Setelah mengambil sebatang rokok dan membakarnya dengan lighter, dia malah ikut duduk di sebelah gue, sambil menghisap rokoknya perlahan.
“Lo juga masih melek, tuh. Kenapa?”
“Mm, karena gue lihat lo masih belum tidur, gue jadi males tidur sendirian di kamar, Sas… Nggak enak aja kalau gue enak-enak tidur sementara lo bengong sendirian di luar…”
“Hu-uh. Bilang aja kalau lo takut, Nish… Nggak usah pakai alasan ‘nggak enak lihat gue masih belum tidur’ segala… Haha…”
“Hehehe.. iya, iya. Sebenernya gue takut ada yang halus-halus nih…” Dia tersenyum. “Maklum… rumah ini, kan jarang ditempatin sama yang punya. Bisa banget dong, kalau Mbak Kuntinya lagi mood isengin gue di kamar?”
“Terus lo dicekek, gitu?”
“Boro-boro dicekek, Sas. Begitu ada ‘penampakan’ dari dia aja gue udah merinding… Hiiihh…”
“Haha, dasar penakut…”
“Hehe… Makanya, lo tidur, dong, Sas… Biar gue ada temennya… Please… Lagian, lo ngapain, sih, di sini? Ngitungin bintang-bintang?”
Gue tersenyum.
“Ngitungin bintang? I’m sane enough for not doing that, Nish.”
“Terus, lo ngapain, dong? Sendirian, ngerokok, pagi buta lagi… Mm, atau jangan-jangan, lo lagi nyari wangsit, ya, Sas?”
Daanish tertawa. Matanya menyipit dan membuat gue makin ingin ikut tertawa juga.
“Gue emang males tidur, Nish. Abis gue belum ngantuk, sih… Masih…”
“Banyak pikiran, ya?”
“Nggg…”
“Sas, sorry kalau gue sok dewasa atau gimana, tapi boleh, kan, gue ngasih saran?”
“I am wide open for any advises, Nish. Even from you…” kata gue sambil tersenyum.
Daanish memegang bahu gue.
“Sas, pretty girls don’t cry,” kata Daanish pendek.
“Maksud lo, Nish?”
“Ya, pretty girls don’t cry, perempuan-perempuan cantik nggak seharusnya menangis…”

I know English, but I don’t get your point, Silly!

“Maksud gue…” Untung Daanish sudah melanjutkan kata-katanya sebelum gue mulai sebel. “…untuk perempuan secantik kita-kita ini, buat apa menangisi laki-laki seperti Robbie atau… mantan gue yang reseh itu, si Ade? ‘Percum Tak Bergun’, Sas, alias Percuma Tak Berguna.”
“Ya. Ya. I know it, Nish. Emang nggak penting banget gue nangisin Robbie sementara gue pernah lihat dia sama sekali nggak peduli sama perasaan gue,” kata gue sambil mematikan rokok dengan menekan ujungnya di tanah.
“Terus, apa yang lo lakuin sekarang? Sedih-sedih begini, mikirin dia, padahal lo tahu banget kalau dia sudah nggak peduli lagi sama perasaan lo…” Daanish menghisap rokoknya. “Sorry kalau gue sudah ngomong kelewat pedes, Sas…”
Gue menggeleng. “Nope, that’s okay. Dan… wajar banget kalau lo ngerasa gue ‘aneh’ karena masih mikirin dia…”
Gue diam sebentar. Memandangi langit Surabaya yang penuh bintang dan membiarkan khayalan gue mengembara dan menyentuh seseorang lelaki yang kini bahkan harum nafasnya sudah tercium meskipun kami berdua terpisah beratus-ratus kilometer jauhnya.

Where are you now…
Are you missing me tonight?
Or there someone else hold you tight?

“Lo kangen dia, ya, Sas?” tanya Daanish hati-hati sambil pura-pura nggak melihat ke arah gue.
Gue menghela napas.

<Kangen, Nish? Gue nggak kangen dia…. gue KANGEN BANGET sama dia…>

“Gue rasa, itu pertanyaan yang retoris kan, Nish?”
“Pertanyaan yang nggak perlu dijawab, maksud lo?” tanya Daanish lagi.
Gue mengangguk.
Daanish menghembuskan asap rokoknya. “Iya, ya, Sas. Bertahan sampai tiga tahun, dengan orang yang itu itu aja, sudah rekor banget buat gue…”

Three years?
No wonder it really hurts…

“Wajar banget, sih, kalau sampai sekarang lo masih mikirin dia… Belum persis satu bulan, kan, Sas?”
“Itu kenapa gue bilang ini pertanyaan retoris, Nish…” tukas gue sambil tersenyum, sedikit perih. “Lo tahu persis gimana perasaan gue buat Robbie sekarang…”

Langit masih jadi pemandangan yang lebih menenangkan daripada membayangkan sedang apa Robbie sekarang. Jadi gue memilih untuk menyelonjorkan kaki, memandang bintang, dan merasakan angin pagi Surabaya yang dingin, menyentuh kulit gue.
Daanish, ikut menyelonjorkan kakinya. Dia memilih untuk berhenti merokok.

“Sas… apa sih yang bikin dia lebih istimewa dari mantan-mantan lo yang lain? Cuman penasaran aja, sih…”

“Gue sendiri nggak tahu apa yang bikin gue jatuh cinta sama Robbie, Nish. Semuanya gue lakukan tanpa gue sadari. Namanya juga jatuh cinta, fell in love, jadi gue melakukannya di luar keinginan gue. I just fell. That’s it.
Kalau gue lebih lama bertahan sama dia daripada mantan-mantan gue yang lain, mungkin karena sama dia gue lebih punya visi. Call me stupid, idiot, or maybe, a Drama Queen like you, Daanish… Hey, no offense,” kata gue setelah melihat Daanish mulai cemberut lalu melanjutkan cerita lagi, “…tapi setelah lama hidup sendirian di Jakarta, kerja from café to café sampai menganggap malam itu siang dan siang itu malam… gue merasa, well, maybe, it’s time for me to settle down.
Dan saat itulah, mungkin Robbie adalah the right man, at the right time. Di saat gue lagi ingin settle down, ada cowok yang begitu baik dan pengertian sama gue.”

Satu hal lagi, cuman dia satu-satunya cowok yang pernah bilang, “You stole the beauty of roses…” saat dia menyatakan perasaannya, di stasiun kereta yang akan membawanya pergi ke Jakarta, hampir tiga tahun yang lalu…

“Talk is cheap, ya, Sas? Gue inget banget waktu gue ada di posisi lo. Lo inget, kan, Sas, pas gue nangis mulu pas diputusin sama Ade?”
“Gimana gue bisa lupa, Nish?”

<Waktu itu lo ngacak-ngacak kamar gue sampai gue nggak ngenalin kamar gue lagi…>

“Tapi lo lihat gue sekarang, kan, Sas? Yang namanya Ade sudah jadi bagian dari sejarah masa lalu gue. Gue bisa moved on, gue baik-baik aja. It really hurts, at first. Tapi lama-lama, lo pasti akan healing sendiri, kok. Percaya, deh.”
 

to be continued

behind the door (8) : theory of healing

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: