you're reading...
Thoughts to Share

Tertatih atau Tertinggal?

Kehidupan yang Sibuk

Seorang lelaki, memakai setelan jas yang rapi, duduk di belakang sebuah meja, menghadap sebuah laptop yang menyala. Grafik dan angka menyambut sepasang mata yang memandangnya, bunyi aduan ujung jari dan kenop-kenop kecil keyboard berbunyi nyaring membentuk irama yang konstan. Sesekali, ia meluruskan punggungnya yang kencang karena seharian tak beristirahat. Kekakuan tubuhnya ditunjukkan dari bunyi gemeretak engsel-engsel tubuhnya.

Dia memang lelah sekali. Dari pagi menyentuh sampai langit berubah gelap, lelaki itu seperti tupai yang meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya. Dari gedung yang satu ke gedung yang lain, dari berjumpa dengan pebisnis yang satu lalu ke pebisnis yang lain, dari janji makan siang dengan Istri sampai pejabat. Semua dilakoninya seperti clockwise. Berjalan, seolah menyatu dengan nafasnya. Dia lelah, tapi dia tak bisa berhenti.

Malam itu, banyak pekerjaan masih menantinya, padahal jarum jam sudah bergerak menuju angka sembilan. Laptop yang masih menyala terang, tumpukan berkas-berkas di sisi kirinya yang bersebelahan dengan secangkir espresso yang sudah beberapa kali refill, serta ponsel yang berdering-dering terus, menunjukkan kesibukan lelaki itu yang tak juga berhenti.

Berkali-kali dia menghembuskan nafas, meminta agar jumlah jam bertambah sekian jam lagi supaya dia masih punya banyak waktu untuk berkencan dengan dirinya sendiri; menraktirnya bermain basket di club house kompleks rumahnya, memanjakan sisi kanak-kanaknya dengan bermain playstation sendirian tanpa gangguan, traveling dalam arti sesungguhnya – menikmati kota dengan kamera yang siap terbidik tanpa musti memikirkan jadwal meeting yang selalu menanti keesokan harinya.

Tapi inilah dia. Inilah panggung sandiwara yang dipilihnya dan lakon yang dimainkannya. Dia memilih untuk menjadi lelaki yang sangat sibuk. Lelaki yang mengorbankan kebersamaannya dengan orang-orang yang dicintainya, justru untuk membahagiakan mereka…

*

Dan seorang perempuan tergesa-gesa masuk ke dalam lift. Tabung itu membawanya turun ke parkiran basement, tempat sebuah Honda Jazz warna hitam menantinya dengan mesin yang dingin. Baru tadi pagi perempuan itu turun dari pesawat terbang yang membawanya dari Medan untuk menjumpai pengusaha Medan yang sedang dianalis kreditnya oleh Bank tempatnya bekerja. Mobil kantor menyambutnya lalu membawanya ke kantor untuk meeting pagi sampai jam makan siang menjelang. Pukul setengah dua belas, dia meluncur ke sebuah restoran di pusat kota, diantar oleh rekan kerja, untuk memenuhi janji makan siang dengan client. Pukul tiga sore, dia kembali ke kantor dan mulai merapikan laporannya untuk meeting sore yang baru selesai pukul sepuluh ini. Kerjanya memang menggila di awal tahun, dengan target yang membuatnya hampir sesak tak bisa bernafas

Sampai di parkiran, masuk ke dalam mobilnya, dia segera memutar kunci kontak dan mulai menggelindingkan rodanya ke apartemennya yang hanya berpenghuni seorang Asisten rumah tangga yang selalu terkantuk-kantuk saat membuka pintu untuknya. Sebuah musik beraliran jazz, membelai-belai telinganya, meresap masuk ke pori-pori pikirannya. Sesaat, irama musik itu seperti memijit-mijit tubuh lelahnya dan membuatnya ingin memejamkan mata saja. Tapi, perjalanan musti tetap ditempuh. Ia tak boleh memejamkan matanya kecuali ia mengubah arah tujuannya menjadi rumah sakit terdekat.

Tepat di lampu merah, Blackberrynya bergetar. Sahabatnya menyapa.

“Anak gue udah lahir dua minggu yang lalu. Elo mau nunggu ultahnya yang ke-17 baru elo dateng ke rumah gue?”

Hatinya terasa getir.

Ah, andai saja seseorang telah menemukan time machine yang membuatnya bisa kembali ke suatu masa ketika ia memilih untuk menerima pekerjaan sebagai banker yang menyita waktunya seperti sekarang ini, dia akan meminjamnya, sehingga ia memiliki banyak waktu untuk dirinya, menjalani kehidupannya dengan orang-orang yang disayanginya.

Gajinya memang berdigit-digit banyak, tapi apakah itu sebanding dengan apa yang sudah dia tanggalkan, dia lupakan?

Tapi, sekali lagi.

Bukankah ini adalah pilihannya dan semua ini telah terbentang begitu nyata di dalam benaknya ketika ia memutuskan untuk berkarir di dunia ini?

**

Roda dunia bergerak terus, menggelinding tanpa henti. Kesibukan demi kesibukan adalah resiko yang musti dijalani ketika pilihan itu tergenggam erat oleh jemari. Hidup menggelinding, cepat. Bergerak seperti pelari sprint yang tak pernah tahu di mana letak finish linenya. Berlari kencang, terus dan terus, tanpa henti. Siap menggilas, siap melindas.

Di situlah seorang manusia harus memilih.

Sebuah kehidupan yang berlari kencang; bagaimana kita mengimbanginya? Ikut berlari kencang dan beresiko terseok-seok dengan kaki terluka? Atau tidak ikut berlari tapi tertinggal di belakang?

Di situlah seorang manusia harus memilih.

Berlari-lari bersama tingkahan roda yang tak pernah berhenti lalu beresiko kehabisan nafas jika tak cukup oksigen, atau ngaso saja dan biarkan roda itu meninggalkanya?

Manusia memilih.

Dan ketika pilihan itu terambil, di situlah kemudian hidupnya akan berubah secara otomatis.

Lelaki itu memilih untuk terus berlari.

Dan perempuan itu, sekalipun ingin berhenti, tapi kaki-kakinya tak bisa berhenti.

Mereka telah memilih untuk mengimbangi laju kehidupan yang sudah semakin sibuk dan beresiko membuat tungkai-tungkai mereka lelah.

Kalau kamu, bagaimana?

***

Kamar, Senin, 15 Februari 2010, 11.01 Malam

Terimakasih, Mas, untuk ide tulisannya

Gambar diunduh dari sini

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

16 thoughts on “Tertatih atau Tertinggal?

  1. menurutku jalani hidup sesuai kemampuan aja, karena sesuatu yang di paksakan efeknya ga baik…….. kalo ga mampu berlari jalan aja tapi konsisten grak……..

    Posted by richo | February 15, 2010, 11:38 pm
  2. Wah.. senang bisa berbagi ide.. Makasih kembali La 🙂

    Sebuah fenomena kehidupan sibuk manusia kota. Sindrom metropolitan yang cenderung menular dan selalu ada sisi lain yang dikorbankan dibalik tingkat kesibukan yang super tinggi seperti itu. Setidaknya kesempatan menikmati kebebasan bagi jiwanya sendiri disamping sentuhan kemanusiaan bagi manusia2 disekitarnya..

    Posted by Nug | February 16, 2010, 12:23 am
  3. 24 jam emang gak pernah cukup. tapi rasanya sayang kalo sampe waktu berlalu dan kita gak pernah menikmatinya dengan menghabiskan bersama ama orang2 yang kita cintai. jangan sampe nyesal aja di belakang.. ya gak… 🙂

    yang penting hidup harus balance. kerja boleh, tapi jangan lupa untuk dinikmati juga! 😀

    Posted by arman | February 16, 2010, 1:46 am
  4. senangnya bisa menulis gini

    Posted by rizal | February 16, 2010, 2:16 am
  5. oh crap… busyholic ternyata memang menyebalkan! *tertohok baca tulisan ini*

    Posted by Billy Koesoemadinata | February 16, 2010, 8:14 am
  6. ya….kalo ditanya anugrah apa yang paling berharga, jawabnya ‘waktu’, karna dengan waktu kiita bisa menghargai anugrah2 lainnya….

    Hmm……untunglah masih punya banyak waktu untuk bersosialisasi, berolahraga, dan memanjakan diri. Kecuali saat2 tertentu saja yang hampir2 memaksa untuk tidur kantor….

    Posted by yustha tt | February 16, 2010, 8:43 am
  7. hiduplah yang seimbang saja, jangan timpang.
    karena kebahagiaan itu tdk hanya diukur dg gaji yg banyak dgitnya.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 16, 2010, 9:09 am
  8. Kunjungan senyum dan sapaan dipagi hari, salam sejahtera untuk sehabat tersayang…

    Posted by dykapede | February 16, 2010, 9:53 am
  9. ahhhh..aku santai sajalah 😉

    Posted by Yessi | February 16, 2010, 10:34 am
  10. bicara waktu.. tidak pernah cukup..selalu saja kurang…
    tanpa terasa, ternyata begitu byk hal yang terlewat begitu saja…

    pernah ada temen yg sangat sibuk dngan lebay nya dia bilang.. *tau-tau anakku dah gede…*
    sebagai ekspresi aja, dia jarang ama anaknya..

    Posted by anna fardiana | February 16, 2010, 11:27 am
  11. hidup untuk dinikmati,kita yg mengontrol pekerjaan,bukan pekerjaan yg mengontrol kita. ada waktu yg harus dibagi,makanya perlu dibuat jadwal,apabila tidak sesuai jadwal bisa direschedule. makanya om stephen covey kan menyuruh kita buat membuat jadwal,agar semua terplan dengan jelas,dan bisa juga mengatur skala prioritas kita. tidak selalu pekerjaan itu yg paling penting,terkadang keluarga juga perlu kita prioritaskan.

    malah saya ingat sebuah pesan ,sepenting apapun,family comes first. jangan sampai keluarga terbengkalai karena pekerjaan. seperti saya ingat di film CLICKS ,pesan moralnya jelas banget di film itu la, saya sampai terharu di ending film itu,hehehe *rada2 metal alias mellow total:D

    Posted by didot | February 16, 2010, 12:38 pm
    • gue juga nonton film itu tauuuu 🙂 setuju banget, at the end filmnya sedih…betapa sebenarnya kesibukan untuk mencari uang dan materi tidak bisa menggantikan kasih sayang dan hangat keluarga.

      Tapi ya…sekali lagi ya Dot…berhubungan gue manusia biasa…ya gue pengen sibuk dan banyak duit aja dulu!!! entar kalo gue udah tau rasanya gimana, baru gue pengen balik ke posisi semula lagih 😀 😀 😀

      Mungkin gak kalo begituh? kekekekeke

      Posted by yessymuchtar | February 16, 2010, 3:10 pm
      • jiaaaahh kamu mau banyak duit tapi tau2 sadar keluarga kamu udah berantakan?? hehehehe
        jangan ya amit2 *getok2 meja

        family comes first at all cost!!

        Posted by didot | February 16, 2010, 3:42 pm
  12. Karena banyak orang yang secara tak sadar mau diatur sama waktu dan bukannya memilih untuk mengatur waktu. Meeting pagi sampai siang, apa ndak bisa lebih cepat? meeting dari makan siang sampai jam tiga, apa ndak kelamaan? meeting sore sampai jam sepuluh, lama bener?

    Dulu waktu saya masih kerja sama orang juga begitu. Meeting makan siang misalnya. Begitu dateng berhaha-hihi sekitar setengah jam sampai sejam. Pesen makan, kepotong makan. Ngobrol soal kondisi sosial diluarlah, gadget terbaru lah. Setelah diperhatikan meeting sesungguhnya hanya setengah jam.

    Banyak orang mengeluh ndak punya waktu karena kesibukannya. Padahal dia gak sadar satu-satunya kesibukannya hanyalah membuang-buang waktu.

    Posted by bukan detikcom | February 16, 2010, 1:59 pm
  13. di tengah arus globalisasi dan kapitalisasi sering memang manusia menjadi budak-budak mesin industri, jabatan dan karir…tapi kita dibekali akal untuk memutuskan kehidupan seperti apa yang akan kita pilih, yg jelas kita diberi modal potensi dan waktu yang sama, bedanya bagaimana kita bisa menjadikan modal itu seimbang antara dunia dan akhirat

    Posted by Oyen | February 16, 2010, 3:39 pm
  14. Hmm.. kalo ngga salah sih dapat dari blognya Paulo Coelho dhe, Laa..

    Dibilang : follow your own rhythm 😀

    Soal orang lain melihatnya sebagai tertatih atau tertinggal? Ngga masalah.. asal elo berjalan dalam ritme elo sendiri, karena tiap orang punya “waktu” mereka masing2 untuk bertumbuh, ibarat bunga.. waktu “mekar”-nya itu ngga sama antara satu dengan yang lain 😉

    And yang paling penting mungkin adalah.. enjoyy ajaa, huehehehe.. aahh, ama jangan lupa tetap memperhatikan sekitarr ^o^

    Posted by Indah | February 18, 2010, 6:58 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: