archives

Hidup

This tag is associated with 56 posts

Love Investment

Masih ingat apa yang dibilang orang-orang (bisa keluarga, teman, sahabat) ketika kita sedang jatuh cinta dengan seseorang?

“Jangan kasih seratus persen, deh… Sisain buat kamu sendiri supaya nggak terlalu sakit kalau ternyata musti udahan…”

“Beri lima puluh persen saja, sisanya buat kamu…”

“Gimana kalau kamu beri dia dua puluh persen? Perlahan-lahan tambahkan beberapa persen, tapi jangan sampai seratus!”

So, are you familiar with these sayings? Tentang berhati-hati saat ‘menginvestasikan’ hati kamu pada seseorang? Sekadar jaga-jaga saja agar kamu tidak perlu kalah dan mendadak bangkrut karena kehilangan semuanya? Don’t put every thing in the table for you might end up losing every thing? Continue reading

Girls’Talks

Hey, Everyone…

Mungkin aku terlihat nggak aktif menulis, tapi sejatinya, kini aku sedang rajin menulis di blog Girls’ Talks yang baru launching beberapa menit yang lalu.

Yah. Daripada kena sindrom Writers’ Block -guayane pol deh.. Hehehe- mendingan aku nulis di tempat lain dengan gaya penulisan dan tema-tema yang paling nyaman, kan? 🙂

Di blog ini, aku sengaja membuat tagline: “Share with girls, about the other girls have talked about their lives.”

Jadi jelas, blog ini memang khusus didedikasikan untuk perempuan-perempuan. Tapi buat para lelaki, blog ini juga tidak akan jahat pada kalian. This is the simple way to know about some of us. Tinggal buka internet, baca, dan pahami. Ongkosnya murah, lho.. 🙂

So everyone,
Visit my other blog ya.. Ditunggu.. 🙂

Dia, Sahabatku.

Dia sahabatku.

Kukenal dia ketika usia kami sudah beranjak dewasa atau mungkin remaja tanggung. Ada yang menarik pada dirinya. Sosoknya seperti memiliki sulur-sulur tak kentara yang menarikku untuk terus mendekat. Mungkin senyumnya, mungkin caranya tertawa, mungkin tingkah polahnya yang mengundang tawa banyak orang, mungkin juga karena dia selalu ramah menyapa siapa saja.

Banyak sekali alasan untuk jatuh hati pada perempuan berambut tak panjang ini. Hatinya yang sensitif dan mudah tersentuh untuk hal-hal sepele, pribadinya yang tangguh dan tahu bagaimana caranya menenangkan perasaanku untuk terus menapak hari ketika paruhan hatiku sedang terluka. Juga caranya berkata-kata, caranya menyentuh hati, caranya mengambil seluruh perhatian siapapun yang ada di dalam ruangan.

Dia seperti cahaya ketika hari gelap.
Bahkan ketika hatinya sedang redup, tapi ia tak mau terlihat rapuh dan gelap, karena baginya, dunia lebih membutuhkan cahaya daripada rengekan hatinya. Dunia sudah terlalu sedih, ia tak perlu membagi aura kesedihan di setiap sudut ruangan.

Pernah kubilang padanya, “Jangan berpura-pura kalau hatimu sedih, Sahabat.”

Lalu ia memandang wajahku. Pelan, sambil tersenyum, ia menjawab, “Kalau aku sedih, itu artinya aku membuatmu sedih, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. “Tentu, karena aku sahabatmu…”

“Dan aku tidak mau membuatmu bersedih…”

Senyumannya meneduhkanku. Genggaman tangannya menguatkanku. Sampai-sampai aku heran, bukankah sekarang bukan aku yang bersedih, tapi kenapa justru aku yang merasa dikuatkan oleh senyum dan ketegarannya?

“You’re such a great actress…” komentarku pada akhirnya.

“Bukankah aku memang mirip Drew Barrymore?”

Lelucon itu membuatku mengakui, kalau tidak ada yang sanggup mengalahkan kepandaiannya dalam menyembunyikan sakit hatinya.

Ia perempuan yang sangat hebat.
Dia adalah sahabatku.

**

Ya,
Dia adalah sahabatku.

Seorang pecinta sejati.

Seorang yang kuat memegang satu cinta sampai ia dipaksa untuk mengendurkan genggamannya. Kesetiaannya, rasa percayanya pada cinta, membuatku iri setiap ia bercerita tentang Kekasihnya.

“Kau bertanya kenapa aku setia?” tanyanya.

“Iya.”

“Karena aku percaya pada Karma; kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Ketidaksetiaan akan dibalas dengan ketidaksetiaan pula.”

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak setia?”

“Mudah.”

“Bagaimana?”

“Aku percaya Karma. Kalau ia tidak setia, artinya dia akan menuai ketidaksetiaan itu pada suatu masa kelak.”

“Itu yang membuatmu begitu sederhana menyikapi jarak dan waktu?”

“Itu caraku agar aku tidak mudah terluka…”

**

Tapi, kemudian ia terluka.

Sahabatku, seorang aktris hebat itu, akhirnya terluka.

Aku datang padanya ketika kedua biji matanya sembab dan ia begitu ragu mengangkat wajahnya untuk membalas pandanganku.

“Don’t look at me, now. I’m terrible…” katanya sambil berusaha terus menunduk.

“Kamu berhak menangis, Sahabat.”

“Tidak, tidak,” katanya. “Aku tidak boleh menangis.”

“Hey, you’re an actress. Not a robot.”

Dia tersenyum. “Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berkubang dalam rasa sedih. Ayahku mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh…”

“But sometimes, crying is good…”

“No… no way…”

Dia terus mengaduk teh manis panasnya. Kalau pada akhirnya teh itu berasa sedikit asin, aku tahu, darimana rasa itu berasal.

Dari air matanya yang terus berjatuhan dalam setiap adukan…

**

Dia sahabatku.

Ingin kupeluk dia malam ini, ingin kuelus lembut rambutnya malam ini, ingin kusentuh punggung tangannya dan mengalirkan kekuatan di setiap ruas-ruas jarinya.

Tapi dia menolakku.

Tapi dia berkata, “Sudahlah. If I could handle then, I can handle now.”

Dia sahabatku.

Sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh cinta, lalu patah hati, lalu jatuh lagi, dan terluka lagi. Entah berapa lelaki yang sudah kuancam agar tidak menyakitinya dan mundur saja kalau mereka memang berniat untuk melukainya. Sungguh, melihatnya terluka adalah satu hal yang tak ingin kulakukan.

Dia sahabatku.

Separuh jiwaku.

Nafasku.

Aku tak bisa bernafas jika sekali lagi aku melihat luka di wajahnya, di kedua biji matanya, di debar jantungnya. Aku tak rela!

“Kamu tahu, kamu perempuan yang hebat.”

“Makasih…”

“You’re such a great friend, good listener, wonderful comedian, faithful girlfriend… Suatu saat kelak, hanya lelaki yang paling beruntunglah yang bakal menjadi Ayah untuk Gabriel dan Talisha…”

“Kamu masih ingat nama anak-anak impianku itu, ya?”

“I remember your dreams, termasuk mimpi-mimpimu dengan lelaki itu…”

“Mimpi yang musti usai…”

“Then start dreaming something new…”

**

Di suatu malam, ketika hening membuat jengkerik terdengar begitu berisik di lapangan rumput sebelah rumah, sebuah dering telepon membangunkanku.

“Kenapa? Malam sekali?”

“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak berani tidur.”

“Lho? Kenapa?”

“Kamu pernah bilang kalau aku mustinya start dreaming something new, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

“I don’t wanna dream something new… Nope. Not yet…”

Lalu akhirnya ia terisak.
Sama seperti aku, di ujung telepon satunya.

**

Dia adalah sahabatku.

Perempuan manis, berambut pendek, dengan senyum serupa cahaya itu memang sahabatku. Matanya berbinar-binar, wajahnya tetap cerah ceria seperti mentari pagi hari, sekalipun semalaman aku hanya mendengar suara tangisnya di ujung telepon.

“Kamu baik-baik aja?”

Dia tersenyum sambil terus mengaduk teh manis panasnya.

“You sounded so terrible, last night.”

Dia masih tetap tersenyum.

“Don’t hide something, Darling…”

Tak berhenti ia tersenyum sambil terus menyiapkan minuman hangatnya untuk kami habiskan berdua di teras depan.

“Hei… kamu…”

Tiba-tiba dia menoleh.

“Kamu ingin gula berapa sendok? Satu, kan?”

Aku terheran-heran menatap wajahnya.

“You look….”

“… gorgeous. Thank you,” potongnya sambil memasukkan sesendok gula pasir ke dalam cangkirku. “Yuk, bantu aku bawa pisang gorengnya keluar. Kita ngobrol di teras aja, yuk… Eh, by the way, besok jadi nggak, sih, kita janjian ke Bengawan Solo? Aku rindu minum kopi.. Been a very long time…”

Dan dia memang tetaplah sahabatku.

Segala luka hati tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.

Aku tahu dia tengah berjuang menutupi wajahnya sendiri dengan topeng dan aku membiarkannya melakukannya…

“If a mask can make it everything easier to deal with, then put a mask on, Dear Best Friend,” bisikku dalam hati sambil membantunya membawa sepiring pisang goreng itu ke teras.

Dari kursi teras, aku sempat menengoknya sebentar.
Dia mengaduk teh manis panasnya, dengan beruraian air mata…
Argh!

***
Kamar, Minggu, 4 Juli 2010, 00.08

Menakhlukkan Ombak

Aku terdiam di tepi pantai.

Ombak menjilati ujung-ujung kakiku yang sedikit terbenam di atas pasir putih lembut; menggelitik setiap sel-sel syaraf dan mengaliri perasaan tak nyaman setiap pandanganku terlepas jauh ke depan. Menatap ombak, menatap buih-buihnya yang pecah di pantai, menatap gulungannya seolah menciptakan sensasi yang membuatku hampir tak sanggup menghela nafas.

“Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Seseorang di sampingku bertanya. Lelaki, badannya tegap, perutnya rata, kulitnya gelap, dan rambutnya terkuncir berantakan. Dia memakai celana bermuda dengan warna yang sudah memudar, bertelanjang dada.

“Kamu kayak dukun. Kayak paranormal aja…” sahutku.

“Tidak butuh menjadi Paranormal untuk tahu kalau kamu sedang banyak pikiran,” katanya. “Tapi aku tak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan…”

Aku menghela nafas. “I’m just afraid…”

“Afraid of what?”

“Of the waves…”

“Pada ombak-ombak itu?” tanyanya. “Kenapa, memangnya?”

“Aku takut tenggelam. Aku takut ombak itu bakal menggulungku, menelanku hidup-hidup lalu aku mati kehabisan nafas…”

Lelaki itu menyentuh punggungku. “Kamu tahu, this surf board will pull you up in the surface, akan mengangkatmu ke atas air, sedahsyat apapun ombak menggulungmu. Trust me, I know.”

Kupandangi Lelaki itu. Wajahnya yang teduh dan bersahabat meskipun tulang rahangnya menunjukkan kekuatannya, ketegasannya. Dua biji matanya mengisyaratkan ketulusan dan mengajak hatiku untuk percaya.

“And by the way, no one expects you to be expert on day one,” katanya pelan. “Butuh latihan, butuh jam terbang yang cukup untuk setiap peselancar agar bisa menakhlukkan ombak…”

Hari itu hari pertama.

Dan ombak di depanku, mengejekku.

**

Lelaki itu benar, butuh jam terbang dan latihan keras untuk bisa menakhlukkan ombak.

Hari-hari pertama aku sudah kelelahan sendiri saat menggapai-gapai air untuk sampai ke tengah, mencapai ombak.

Hari-hari berikutnya, aku terbanting-banting ke dalam ombak yang menenggelamkan aku. Ombak yang datang rupanya sangat tinggi, sehingga bukannya meluncur di atasnya, tapi aku tenggelam dalam pusarannya. Aku kehilangan nafas.

Hari-hari setelahnya, aku makin kapok karena ombak tak lagi bisa dikendalikan. Aku hampir tenggelam dan sempat aku memejamkan mata saat berada di dalam air dan memohon maaf dalam hati kepada orang-orang yang aku sayangi karena mungkin aku tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Aku pikir, aku bakal mati tenggelam!

“Kalau kamu niat bisa berselancar, resiko-resiko seperti itu pasti ada,” kata Lelaki itu ketika kuceritakan padanya tentang ketakutan-ketakutanku.

“Tenggelam tertelan ombak? Mati kehilangan nafas?”

“Kalau kamu tahu caranya, kamu tidak akan tenggelam…”

“How?”

Kemudian dia menceritakan caranya, lalu aku manggut-manggut setelahnya.

**

Sudah hari entah keberapa saat akhirnya aku berani berselancar. Memang, selalu ada jeda sebentar sebelum aku mulai menyentuh air. Jeda untuk berdoa agar selalu bisa selamat, jeda untuk memantra-mantrai diriku sendiri bahwa ombak tidak akan menenggelamkanku, karena aku adalah peselancar yang tangguh.

Perlahan, kuangkat papan selancarku.

Perlahan, aku berlari-lari kecil untuk sampai ke tengah dan mulai mengayuh.

Kayuhan demi kayuhan yang mengantarku sampai ke tengah, mencari ombak.

Kayuhan demi kayuhan, sampai kutemukan ombak yang tepat.

Dan tepat saat itulah, aku berdiri, mencoba bertanding dengan ombak, mencoba menakhlukkan ombak yang tingginya berkali-kali lebih tinggi daripada tinggi tubuhku.

Bismillah…

Aku mengangkat tubuhku, mulai mencari-cari keseimbangan agar tidak terjatuh, bergerak ke kiri kanan, condong depan belakang agar tetap seimbang, dan dalam beberapa detik, aku berhasil! Ya, ombak itu berhasil kutakhlukkan!

Berdirilah aku dengan tangguhnya, di atas gulungan ombak yang biasanya menggulungku dengan mudahnya, menantang matahari yang menyiram sinarnya ke tubuhku yang kulitnya menggelap. Aku merasa sangat keren.

Tapi sedetik setelah aku merasa sangat hebat, tiba-tiba keseimbanganku hilang. Mungkin karena terlalu fokus pada rasa kebanggaan, akhirnya aku tak berhasil menjaga keseimbangan tubuh. Walhasil, ombak berhasil menenggelamkanku lagi. Kali ini menyeretnya lebih dalam lagi, membuatku kali ini tak hanya merasa sesak nafas, tapi benar-benar terasa seperti akan mati.

Saat itulah aku teringat pada kata-kata si Lelaki, di pinggir pantai, beberapa waktu yang lalu.

“Kalau kamu tergulung ombak, jangan kuatir. Kepanikan justru akan membuatmu semakin sesak nafas dan menghirup banyak air. Jadi, tenangkanlah pikiranmu dulu. Hilangkan ketakutanmu, dan mulai raih tali papan seluncurmu. Tariklah kuat-kuat, cengkeram erat, dan percayalah, kamu akan tertarik otomatis ke atas permukaan air…”

Dan kulakukan itu.

Kutenangkan pikiranku. Kutarik talinya. Kubiarkan tubuhku tertarik ke atas. Tentunya sambil berdoa agar nafasku tak habis di perjalanan menuju ke sana.

Lambat tapi pasti, tubuhku memang tertarik ke atas. Aku kembali berenang di atas permukaan air, beberapa saat kemudian, dengan nafas yang mungkin tersengal, tapi oksigen itu berhasil kuhirup dengan bebas.

I’m still alive!
Yay!

**

“Bagaimana pelajaran surfingnya? Suka?” tanya Lelaki itu, saat kami menikmati sunset berdua.

Aku hanya terdiam sambil memandangi lautan lepas di depan kami. Gulungan ombak yang tinggi lalu pecah di bibir pantai. Terlihat ganas, tapi melembut di tepian.

I know I can’t control the ocean.
I know, the waves can pull me down, or take me high.
But I won’t be scared, because I always know that I have my string to hold on to and take me up to the surface.

Just think everything clearly then I know how to handle my every up and down…

Dan kuelus papan seluncurku itu sambil tersenyum.

***
Kamar, Sabtu, 3 Juli 2010, 2.44 Sore
Terinspirasi dari artikel tentang Seluncur di sebuah tabloid

The Morning After

Do you know the kind of feeling; ketika kamu sedang mendapatkan masalah, urat lehermu tegang, kepalamu pusing, dan kamu tak tahu apa yang musti kamu lakukan lalu akhirnya kamu memilih untuk sleep on it dan menganggap bahwa you’ll have all the answers at the morning after?

Do you know the kind of feeling; ketika kamu bertengkar dengan Kekasihmu, kakak kandungmu, rekan kerjamu, atau orang-orang yang dekat denganmu, kamu menganggap bahwa kamu akan berbaikan dengan mereka setelah malam ini berlalu? That you’ll have the opportunity to make everything up at the morning after?

The Morning After.

Aku selalu menganggap bahwa Pagi Hari akan menyelesaikan setiap masalah. Setelah tertidur, gelisah dalam mimpi, meluangkan waktu panjang untuk berpikir semalam suntuk, dan berdoa sebelum tidur, “Tuhan, semoga permasalahan ini menemui titik terang esok pagi”, Pagi Hari akan menyelesaikan semua masalah.

Titik terang; seperti matahari yang muncul di ujung timur dan memudarkan langit yang gelap.
Titik terang; cahaya yang menyerobot di balik awan-awan yang tadinya gelap, iluminasi yang tertangkap bak lukisan indah oleh mata telanjang.
Titik terang; sebuah pertanda bahwa selalu ada jawaban untuk gelisahku semalaman.

Kuanggap, di pagi hari, semuanya akan jauh lebih baik dari tadi malam.
Dan di pagi hari, semua permasalahan semalam akan menemukan jalan keluarnya.

Itu dia kenapa kubilang, “I want to sleep on it,” ketika sedang bermasalah. “And hope for everything will be better in the morning after,” ketika suasana hatiku sedang kacau.

Sampai kemudian aku berpikir, “What if there’s no morning after? What if what I have is today, and today is all I have?”

Bagaimana kalau matahari tidak akan terbit dan yang kumiliki hanyalah hari ini? Untuk setiap jumput masalah, untuk setiap percikan kemarahan dengan Saudara tercinta.

Bagaimana kalau matahari tidak mau terbit dan yang tersisa hanyalah hari ini? Untuk setiap genggam gelisah, untuk setiap coretan luka pada hati Sahabat.

Masihkah aku harus menunggu keajaiban Pagi Hari?
Masihkah aku harus sleep on it first and wait for miracle in the morning after?

Atau,
Sudah waktunya aku berhenti untuk berharap pada The Morning After dan mulai menyelesaikannya sekarang juga, whenever I have the chance to do it?

Dan aku berpikir, pagi ini. Right about this moment.

Untuk apa berputus asa mencari jalan keluar kalau energiku masih penuh? Jika kantuk belum meraja dan tubuh belum lelah? Masalah memang tidak selesai dengan segera kalau waktu yang tepat itu belum datang, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan cara memikirannya sampai semalam suntuk; tapi, jika bisa dipikirkan hari ini, kenapa musti menjejali esok hari dengan permasalahan yang kemarin? Setiap hari, bisa jadi timbul masalah yang baru lagi. Bayangkan kalau masalah yang kemarin masih kita pikirkan hari ini. I’m gonna be exhausted!

Lantas; why do I have to wait to say, “Please, forgive me.”?
Kenapa tak dibiarkan kata-kata maaf itu meluncur keluar tepat ketika rasa sesal datang menghampiri? Mengapa harus menunggu esok dan menghukum hatiku semalaman sampai tak bisa tidur untuk sesuatu yang bisa kulakukan sore tadi, misalnya? Dan terbayang betapa jahatnya aku membuatnya marah sampai semalaman dan orang itu terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman saat memandangku di esok paginya, kan?

Aku selalu berkata, “I’ll sleep on it first. I always have the answers at the morning after, dengan isi kepala lebih jernih lagi.”

Tapi kini aku ingin mulai untuk berkata, “I’ll try to do my best today. But if today isn’t enough, I hope that I still have my chance tomorrow…”

Ya.
Kesempatan untuk menikmati pagi hariku.
Hari baruku.
Dan, mmm…
Permasalahan baruku.

Sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan sebuah suara kecil yang terus menuturiku untuk terus melakukan yang terbaik yang aku bisa hari ini…

**

Kantor, 27 Mei 2010, 10.50 Pagi

Wajah di Dalam Cermin

Terkadang, aku tak mengenali pantulan wajahku sendiri saat duduk di muka cermin. Yang kukenali hanyalah garis-garis tipis di sekitar dahi, kerut-merut yang mulai kentara di sekitar mata juga bibir, serta pipi yang senantiasa merah karena sapuan blush on.

Wajah itu memang wajahku, tapi ketika mataku mulai nyalang memandang, kedua bola matanya seolah berteriak. Seolah ingin berbicara tapi mulutnya membisu. Ada sesuatu yang ingin perempuan itu katakan, tanyakan, tapi aku memilih untuk beranjak dari muka cermin dan menghiraukan saja keinginannya.

Ah, aku tahu apa yang ingin dia ungkapkan. Bukannya aku tak tahu, tapi aku tahu! Justru karena itu aku memilih beranjak dari muka cermin, melupakan sebentuk wajahku sendiri di sana, menghapus ingatanku bahwa perempuan itu ada di sana untuk bertanya. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang jengah kujawab dan tak pernah hilang sekalipun mataku terlelap.

Kamu tahu kenapa, kan?

Kamu tahu kenapa aku tak pernah ingin menjawabnya, kan?

Kamu tahu kenapa orang menghindar dari pertanyaan orang lain, kan?

Ya.
Karena aku tak tahu apa yang musti kujawab, dan menyadari bahwa ketidakbisaanku menunjukkan betapa bodohnya aku..

Dan aku takut bahwa aku memang sebodoh itu!

***

Pernahkah kamu duduk di muka cermin dan sosok itu balik bertanya padamu?

Saat menyisir rambut, mengoles krim malam, menyikat gigi, membersihkan make-up, mencukur jenggot, lalu memerhatikan baik-baik wajah yang terperangkap di dalam cermin lalu sosok itu memandangmu dengan mata yang menusuk?

Menanyakan:
“Inikah wajah yang ingin kamu lihat?”
“Apa yang sudah kamu lakukan untukku?”
“Sudah cukup baikkah kamu?”
“Apa kamu sudah melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan untukku?”

Jenis-jenis pertanyaan yang melontar keluar dari bibir sosok di cermin, yang kemudian seolah menghantuimu selamanya?

Apa yang kamu lakukan:
Menjawabnya;
Atau lari dan seolah tak pernah melihat mulut itu bergerak mengeluarkan pertanyaan?

Di suatu pagi, untuk yang kesekiankalinya aku bercermin dan memandang sosok itu. Sosok seorang perempuan yang rambutnya pendek acak-acakan, jerawat yang berebut ingin bersembunyi dalam sapuan bedak, lipstick warna nude yang perlahan melapisi permukaan bibir yang gelap, sosok yang seperti biasa kemudian matanya seakan mengeluarkan tanya.

Tak seperti biasanya, dengan tenang aku memutuskan untuk tetap duduk. Balas memandangnya lembut, tapi ia tak pernah tahu kalau aku sedang mengurai keteganganku sembari menatap kedua biji matanya.

Aku lelah berlari.
Karena pada akhirnya, aku memang tak boleh berlari.
Jadi pagi itu, kuputuskan untuk duduk dan menjawab pertanyaannya.

“Inikah wajah yang ingin kamu lihat?”

Ya. Sekalipun ingin aku memiliki hidung bangir, dengan lubang kecil. Sekalipun aku ingin memanjangkan rambut yang tak tebal ini. Sekalipun aku ingin pipiku tirus, tak menggembung seperti ini… Tapi, ya. Ini wajah yang ingin kulihat.

“Apa yang sudah kamu lakukan untukku?”

I’m sorry if maybe I took you to an unpleasant journey. Maaf kalau bukan hidup seperti ini yang layak kamu tinggali. Aku sudah mencoba menjadi gadis yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Aku sudah menjadi gadis dengan karir, tapi maaf kalau bukan seperti perempuan-perempuan lain dengan karir yang cemerlang. Maaf, if I ruined you!

“Sudah cukup baikkah kamu?”

Tidakkah kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan? I said, I’m sorry! Aku tak pernah merasa cukup untukmu, dan aku malu karenanya, God dammit!

“Apa kamu sudah melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan untukku?”

I don’t know..
I don’t know.
Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu.
Seberapa besar dayaku, kemampuanku, kehebatanku.. Aku tak pernah tahu apakah aku sudah cukup melakukan yang terbaik untukmu. Apakah tetesan keringat, buliran air mata, sakit hati, serta gelisahku setiap hari mengartikan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Yang kulakukan selama ini adalah supaya kamu tetap bisa memandangku setiap hari, meski yang kamu lakukan hanyalah mempertanyakan kesungguhanku.

Dan wajah itu terdiam. Memandangku dalam tenang. Dua biji matanya menyuburkan gelisahku, lantas kemudian, senyummu pun mengembang.

“Mungkin kamu menganggapku sosok yang bawel dan menakutkan, bertanya-tanya seolah kamu tak mampu atau seolah kamu adalah perempuan yang gagal.
Padahal kalau kamu meluangkan waktumu tak lebih dari dua jenak setiap memandangku, kamu akan tahu bahwa aku akan tersenyum padamu.
Tak ada manusia yang gagal, Sayangku.
Yang ada adalah manusia yang belum berhasil.
Dan tak perlu malu dengan apa yang telah kamu lakukan, karena yang terpenting adalah langkah selanjutnya setelah apa yang sudah kamu lakukan.”

Aku terdiam.

“Dan lagi pula, you have done quite well! Stop sweating the small things and start looking at the big picture?”

Aku masih terdiam.

“Sekarang pandang aku. Sekarang juga.”

Aku memandangnya.

“Nah. Sudahkah kamu mengenaliku?”

Beberapa detik, kupandangi wajahnya yang tersenyum. Wajah seorang perempuan berambut pendek, berjerawat kecil-kecil di dahi, pipi tembem yang bersapu blush on, serta hidungnya yang pesek.

Kupandangi wajahnya, terus dan terus sampai kemudian kukenali dia.

Wajah tersenyum yang akhirnya kukenali.
Wajah yang sangat kukenali..

Wajahku sendiri.

***
Kantor, Senin, 17 Mei 2010

Jangan Kasihani Aku…

Aku duduk di sebuah warung, di suatu pagi, menanti mobil sedan sang Kakak Lelaki yang sedang dicat bagian belakangnya di sebuah bengkel pinggir jalan. Hari  itu, matahari sudah bersinar terang sekalipun jarum jam tanganku masih menunjuk di antara angka delapan dan sembilan, sehingga dengan terpaksa, aku menyeret langkahku untuk membeli minuman dingin — favoritku adalah Coca Cola dengan es batu. Maklum, panas sekali hari itu.

Warung itu masih sepi. Tak ada satupun orang yang menyesaki warung itu kecuali aku dan seorang pemiliknya; lelaki tua, usia delapan puluhan, dengan tubuh ringkih, dan rambut yang pigmennya luntur.

Kusapa dia dan segera kupesan Coca Cola dan es batu itu. Dengan cekatan, meski lambat, Bapak Tua itu segera meladeni permintaanku. Membuka botol minuman berkarbonat itu, memecah es batu, meletakkannya di dalam gelas bertelinga, dan menyodorkannya padaku. Dengan senang hati, kuterima sodoran gelas darinya, kutuangkan isi botol itu, dan kuminum perlahan, menikmati aliran air dingin manis itu ke dalam tenggorokan.

Benar-benar Surga di teriknya hari begini! Continue reading

Dunia Sedang Tak Bersahabat

Dunia sedang tak bersahabat.

Membuat aku ingin menyendiri dulu dan mencoba untuk mengerti mengapa dunia memilih untuk bermusuhan denganku.

Membuat aku ingin menyendiri dulu dan mencoba untuk memahami bahwa bukan dia yang bermusuhan denganku, tapi inginku yang berseberangan dengan inginnya.

Dunia sedang tak bersahabat, jadi kupilih untuk mengurai kekesalanku daripada harus mengurainya di depan banyak orang yang bertanya ada apa, apa yang terjadi, mengapa, haruskah bereaksi seperti sekarang ini.

Aku dan duniaku sedang bermusuhan.

Kuharap hanya sementara saja, sampai kutemukan seluruh energi untuk memulai persahabatan itu lagi.

Aku hiatus sebentar, Kawan.

Aku berhenti blogwalking sementara, Kawan.

Ada sesuatu yang perlu kuurusi, ada sesuatu yang musti kupikirkan.

Dan kuharap, sebentar saja…

***

Kantor, Senin, 5 April 2010, 11.04 Pagi

Bukan Puteri Duyung

Kiki, keponakan tersayang dengan kostum Puteri Duyung-nya

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Memiliki sepasang kaki yang siap melangkah, kemana saja, sekuat tenaga yang aku punya. Di atas stiletto, di atas sandal jepit, di atas bakiak, atau flat shoes, aku bebas melangkah, berjalan ke mal-mal, berjalan ke pasar, berjalan ke warung soto dekat rumah, berjalan ke depot pangsit mie ayam — heran, makanan semua yang dituju! hehe. Aku bisa melangkah kemanapun, selagi nafas masih mudah dihela dan energi masih menyala-nyala. Continue reading

My Name is Lala

Aku pernah merasa iri dengan orang-orang yang bisa menuliskan kembali kisah hidupnya yang super dahsyat, kemudian tulisan-tulisannya itu terangkum dalam sebuah buku yang best seller.

Kisah Andrea Hirata, misalnya. Kurang best seller apa, coba?

Lalu untuk yang di luar negeri, kisah yang terangkum dalam buku Eat, Pray, Love, yang kemudian juga dijadikan film dengan judul yang sama, diperankan oleh seorang aktris hebat, Julia Roberts?

Dua contoh di atas adalah sekian banyak contoh kesuksesan yang diraih oleh seseorang yang memiliki kisah-kisah hebat dalam hidupnya, lalu berusaha dituliskan kembali dengan apik sampai akhirnya berhasil menyedot banyak perhatian karena perjalanan hidup mereka yang luar biasa menginsipirasi banyak orang. Continue reading

Catatan Harian

July 2021
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono