archives

Fiktif

This tag is associated with 23 posts

Jangan Ketuk Pintuku

Lelaki itu datang ketika aku tidak percaya cinta, lalu kubiarkan ia mengacak-acak seluruh isi ruangan di hati sambil berdoa semoga dia tidak memecahkan beberapa koleksi patung-patung kristal yang telah kutata sedemikian rupa.

Lelaki itu datang ketika aku tidak percaya cinta, lalu kubiarkan dia meminjam hatiku untuk dibawanya pergi, yang katanya, ia akan menjaganya baik-baik.

Ya, aku kembali berdoa, semoga dia menjaganya dengan baik, seperti aku yang selalu berhati-hati menjaga hatiku sendiri. Continue reading

Advertisements

Menulis Fiksi

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan menjadi seseorang yang suka menulis?

Hm, kalau menurutku, yang paling menyenangkan menjadi seorang yang suka menulis sepertiku adalah karena aku bebas membentangkan imajinasiku seluas-luasnya, bercerita tentang apapun tanpa batas yang pasti, dan menjadi siapapun yang aku mau.

Aku bisa menjadi seorang perempuan atau lelaki. Anak-anak kecil, perempuan pekerja, atau lelaki jompo. Pebisnis sampai pengangguran. Perempuan biasa sampai manusia yang memiliki indera keenam. Tinggal di sebuah desa atau di negeri moderen bikinanku sendiri. Continue reading

Lelaki itu, Suamiku

I just did my nails. Lihat,” kata seorang perempuan sembari menyodorkan sepuluh jemarinya di depanku. Memamerkan kuku-kukunya yang kini nampak sudah tercat rapi, berwarna coklat muda yang berkilau.

Aku manggut-manggut, tak banyak komentar. Kupilih untuk menyendoki lasagna yang tinggal beberapa sendok lagi sudah berpindah seluruhnya ke dalam perutku.

“Aku juga beli new underwear. The sexy ones.” Dengan semangat dia mengeluarkan beberapa koleksi lingerie-nya yang memang seksi. Rada gila juga dia mengeluarkan barang-barang itu di coffee shop seramai ini. Terbukti, beberapa pasang mata lelaki melirik ke arah kami berdua, menikmati selembar lingerie yang super seksi.

“Iye, iye, seksi. Tapi, cepet, udahan. Masukin tas lagi, gih!” Aku melolot dan dia pun tertawa sambil memasukkan lingerienya ke dalam tas berbahan kertas keluaran merek mahal.

“Ih, kamu jangan nyamain lingerie sama narkoba, ya. Sampai musti cepet-cepet dimasukin ke dalam tas segala supaya nggak ketangkep polisi aja…” Continue reading

Tertatih atau Tertinggal?

Kehidupan yang Sibuk

Seorang lelaki, memakai setelan jas yang rapi, duduk di belakang sebuah meja, menghadap sebuah laptop yang menyala. Grafik dan angka menyambut sepasang mata yang memandangnya, bunyi aduan ujung jari dan kenop-kenop kecil keyboard berbunyi nyaring membentuk irama yang konstan. Sesekali, ia meluruskan punggungnya yang kencang karena seharian tak beristirahat. Kekakuan tubuhnya ditunjukkan dari bunyi gemeretak engsel-engsel tubuhnya.

Dia memang lelah sekali. Dari pagi menyentuh sampai langit berubah gelap, lelaki itu seperti tupai yang meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya. Dari gedung yang satu ke gedung yang lain, dari berjumpa dengan pebisnis yang satu lalu ke pebisnis yang lain, dari janji makan siang dengan Istri sampai pejabat. Semua dilakoninya seperti clockwise. Berjalan, seolah menyatu dengan nafasnya. Dia lelah, tapi dia tak bisa berhenti. Continue reading

She’s Beautiful

She’s a beautiful girl.

Dengan kaca mata berlensa setebal pantat botol, rambut berponi yang biasa dikuncir ekor kuda, dengan dua gigi kelinci, juga dengan dua buah tahi lalat yang tumbuh di dekat bibir bawah serta samping mata kirinya.

She’s a beautiful girl.

Dengan pakaian yang sederhana; kemeja dan celana kain bermotif tabrakan, dengan tas selempang yang lusuh, dengan sepatu olahraga yang itu-itu saja, juga dengan tambahan suspender yang membuatnya nampak seperti perempuan yang lugu. Continue reading

Tentang Dua Dunia

Lelaki itu biasa berpetualang; memandang langit dari daratan yang berbeda. Menjelajah satu negeri ke negeri lainnya, menjejakkan langkah dengan berbalut baju tebal sampai celana pendek dan kaos buntung berwarna cerah. Bersepatu tertutup sampai sandal jepit.

Dia berkelana, dari negeri dua musim sampai ke negeri empat musim. Dia merasakan salju di Belgia, cerahnya langit vanila di Venezia, hujan di Hong Kong, atau musim gugur di negara lainnya. Berkelana adalah nama tengahnya, sekalipun seperti pemberian nama sepasang orang tuanya, kalau saja ia bisa memilih, ia ingin memilih ‘nama’nya sendiri.

Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun  dia berkelana. Katanya, “Demi sekian ribu dollar Amerika, I work my ass off…” Sekalipun sebetulnya dia lelah.

Dia adalah seorang penyendiri. Seringkali berkelana sendiri. Tidur di dalam apartemen yang disewanya bulanan, sendiri. Menikmati sarapan, makan siang, sampai makan malam, sendiri. Mengunyah es krim dan coklat praline favoritnya, sendiri. Bercengkerama di depan laptop yang terkoneksi dengan internetnya, sendiri.

Suatu kali, dia bertemu dengan seorang perempuan ketika asyik berseluncur di dunia maya. Dia mengenal perempuan yang terlihat ramai dan enerjik serta memiliki dunia yang penuh warna-warni pelangi itu lalu mulai merasa dekat. Bahkan jatuh cinta. Ada sesuatu yang dimiliki perempuan itu yang tidak pernah ia miliki; kehangatan keluarga dan kegembiraan saat bercengkerama dengan sahabat-sahabat.

“Saya iri dengan duniamu,” katanya.

“Kenapa?” perempuan itu bertanya.

“Karena kamu hidup di dunia yang ingin aku tinggali… Dunia yang hangat dengan keluarga, dunia yang berwarna-warni, dunia yang penuh dengan tawa… Duniamu…”

** Continue reading

Moving On?

moving_onPeople ask me to move on,” katanya. “And what do they really know about moving on, eh?”

Dia menghela nafas.

Perempuan di depannya melakukan hal yang serupa.

“Menguliti kepala, membuka bongkah kepala, mencari selipan kenangan di dalam jutaan sel-sel otak, lalu membuangnya di tong sampah… gitu?” Dia tersenyum sinis. “Memangnya mudah?”

Sebelah tangannya mencari kotak rokok di dalam tas kecilnya. Marlboro merah favoritnya itu entah terselip kemana. Dan yang menyebalkan, lighternya pun kini bersembunyi di balik belantara isi tasnya! Sebal. Continue reading

Collecting the Pieces…

puzzle

Hidupku seperti puzzle yang tak akan pernah lengkap,” katanya sambil menyesap single shot espressonya. Dalam sekali hisapan, kopi itu tandas, dan akibatnya, dia memanggil seorang pelayan sambil berseru, “Satu lagi. Make it double.”

Ketika pelayan itu pergi, dia melanjutkan ceritanya. “Kamu tahu, kan, gimana complicatednya hidupku?”

Continue reading

Surat Cinta Adikku

Untuk kesekiankalinya aku melihat adikku terburu-buru meletakkan pensilnya dan melipat selembar kertas yang baru saja kotor oleh tulisan tangannya, ketika aku masuk ke dalam kamarnya. Wajah cantiknya mendadak berubah, seolah menyimpan misteri, seolah tak ingin aku mengetahuinya.

Biasanya aku pura-pura tak tahu, karena adikku yang masih kanak-kanak dan belum lagi genap sembilan tahun itu pasti akan malu kalau aku banyak bertanya-tanya tentang isi tulisannya. Ya, karena untuk anak seusianya, menulis rangkaian kalimat di atas selembar kertas surat berwarna pink kalem dan berbau harum itu bukanlah kegiatan yang lazim. Aku sendiri baru mengenal cinta-cintaan dan surat menyurat itu ketika sudah menginjak umur belasan; jadi kupikir, adikku itu memang malu kalau aku menangkap basah kegiatannya. Continue reading

Hantu di Dalam Ruangan

Ruangan itu berhantu.

Aku mendengarnya dari mulut sahabatku saat kami bercengkerama di sebuah coffee shop sambil menyesap kopi dan mengunyah kentang goreng ala Perancis. Malam itu, Surabaya sedang basah. Hujan tumpah dari langit seolah seluruh isi sungai Brantas dituangkan perlahan-lahan; banyak, tiada berhenti. Coffee shop itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang menyenangkan daripada harus terburu-buru pulang ke rumah saat banjir belum lagi surut dan macet di mana-mana. Continue reading

Catatan Harian

May 2018
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

Advertisements