archives

Thoughts to Share

This tag is associated with 81 posts

Test Pack; menjadi awal, atau akhir?

Test Pack; awalmu atau akhirmu?

Sebuah test pack. Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang dicelupkan di sebuah wadah kecil berisi urine seorang perempuan, ditunggui beberapa saat, dan muncul pertanda di sana.

Garis satu: you’re not pregnant.

Garis dua: you’re going to be a Mom.

Ya. Sebatang kecil, alat penguji kehamilan, yang bisa dibeli di apotek dalam berbagai macam merk dan harga, tapi fungsinya tetap saja sama; mengetahui apakah seorang janin tengah bergeliat dalam rahim seorang perempuan, atau tidak.

Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang hasilnya bisa membuatmu berdebar cemas menanti jawabannya.

Negatif. Positif.

Hasil manakah yang akan membuatmu lega?

Ya.

Test pack; menjadi awal dari segalanya? Atau mengakhiri segala yang sudah ada? Continue reading

The Morning After

Do you know the kind of feeling; ketika kamu sedang mendapatkan masalah, urat lehermu tegang, kepalamu pusing, dan kamu tak tahu apa yang musti kamu lakukan lalu akhirnya kamu memilih untuk sleep on it dan menganggap bahwa you’ll have all the answers at the morning after?

Do you know the kind of feeling; ketika kamu bertengkar dengan Kekasihmu, kakak kandungmu, rekan kerjamu, atau orang-orang yang dekat denganmu, kamu menganggap bahwa kamu akan berbaikan dengan mereka setelah malam ini berlalu? That you’ll have the opportunity to make everything up at the morning after?

The Morning After.

Aku selalu menganggap bahwa Pagi Hari akan menyelesaikan setiap masalah. Setelah tertidur, gelisah dalam mimpi, meluangkan waktu panjang untuk berpikir semalam suntuk, dan berdoa sebelum tidur, “Tuhan, semoga permasalahan ini menemui titik terang esok pagi”, Pagi Hari akan menyelesaikan semua masalah.

Titik terang; seperti matahari yang muncul di ujung timur dan memudarkan langit yang gelap.
Titik terang; cahaya yang menyerobot di balik awan-awan yang tadinya gelap, iluminasi yang tertangkap bak lukisan indah oleh mata telanjang.
Titik terang; sebuah pertanda bahwa selalu ada jawaban untuk gelisahku semalaman.

Kuanggap, di pagi hari, semuanya akan jauh lebih baik dari tadi malam.
Dan di pagi hari, semua permasalahan semalam akan menemukan jalan keluarnya.

Itu dia kenapa kubilang, “I want to sleep on it,” ketika sedang bermasalah. “And hope for everything will be better in the morning after,” ketika suasana hatiku sedang kacau.

Sampai kemudian aku berpikir, “What if there’s no morning after? What if what I have is today, and today is all I have?”

Bagaimana kalau matahari tidak akan terbit dan yang kumiliki hanyalah hari ini? Untuk setiap jumput masalah, untuk setiap percikan kemarahan dengan Saudara tercinta.

Bagaimana kalau matahari tidak mau terbit dan yang tersisa hanyalah hari ini? Untuk setiap genggam gelisah, untuk setiap coretan luka pada hati Sahabat.

Masihkah aku harus menunggu keajaiban Pagi Hari?
Masihkah aku harus sleep on it first and wait for miracle in the morning after?

Atau,
Sudah waktunya aku berhenti untuk berharap pada The Morning After dan mulai menyelesaikannya sekarang juga, whenever I have the chance to do it?

Dan aku berpikir, pagi ini. Right about this moment.

Untuk apa berputus asa mencari jalan keluar kalau energiku masih penuh? Jika kantuk belum meraja dan tubuh belum lelah? Masalah memang tidak selesai dengan segera kalau waktu yang tepat itu belum datang, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan cara memikirannya sampai semalam suntuk; tapi, jika bisa dipikirkan hari ini, kenapa musti menjejali esok hari dengan permasalahan yang kemarin? Setiap hari, bisa jadi timbul masalah yang baru lagi. Bayangkan kalau masalah yang kemarin masih kita pikirkan hari ini. I’m gonna be exhausted!

Lantas; why do I have to wait to say, “Please, forgive me.”?
Kenapa tak dibiarkan kata-kata maaf itu meluncur keluar tepat ketika rasa sesal datang menghampiri? Mengapa harus menunggu esok dan menghukum hatiku semalaman sampai tak bisa tidur untuk sesuatu yang bisa kulakukan sore tadi, misalnya? Dan terbayang betapa jahatnya aku membuatnya marah sampai semalaman dan orang itu terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman saat memandangku di esok paginya, kan?

Aku selalu berkata, “I’ll sleep on it first. I always have the answers at the morning after, dengan isi kepala lebih jernih lagi.”

Tapi kini aku ingin mulai untuk berkata, “I’ll try to do my best today. But if today isn’t enough, I hope that I still have my chance tomorrow…”

Ya.
Kesempatan untuk menikmati pagi hariku.
Hari baruku.
Dan, mmm…
Permasalahan baruku.

Sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan sebuah suara kecil yang terus menuturiku untuk terus melakukan yang terbaik yang aku bisa hari ini…

**

Kantor, 27 Mei 2010, 10.50 Pagi

Nothing, Everything

Oprah & Nate

Ada yang seru di acara Oprah Show, siang tadi. Aku memang paling suka kalau Oprah sudah mengupas soal make over, entah itu penampilan fisik atau perubahan interior sebuah rumah. Seru aja melihat metamorfosa keren itu; dari seseorang yang biasa saja menjadi bak seorang artis di red carpet perhelatan Oscar, sampai ke rumah bobrok menjadi sebuah rumah impian. The significant beautiful changes that make me go WOW! Continue reading

Bukan Puteri Duyung

Kiki, keponakan tersayang dengan kostum Puteri Duyung-nya

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Memiliki sepasang kaki yang siap melangkah, kemana saja, sekuat tenaga yang aku punya. Di atas stiletto, di atas sandal jepit, di atas bakiak, atau flat shoes, aku bebas melangkah, berjalan ke mal-mal, berjalan ke pasar, berjalan ke warung soto dekat rumah, berjalan ke depot pangsit mie ayam — heran, makanan semua yang dituju! hehe. Aku bisa melangkah kemanapun, selagi nafas masih mudah dihela dan energi masih menyala-nyala. Continue reading

Not Every Silence is Gold

Nasib kerja di perusahaan pelayaran yang kantornya dekat pelabuhan adalah musti rela jadi pemandangan gratis buat para supir truk yang asyik mangkal di posko mereka, di sebuah gardu kayu, dekat truk-truk kontainer yang parkir. Gardu tempat mangkal itu berada di mulut gang — jalan masuk menuju kompleks ruko– dengan akses jalan yang lumayan ajrut-ajrutan, sehingga Bro, kakak lelaki yang setiap hari mengantarjemput, selalu menurunkan aku di mulut gang, yang jaraknya sekitar 100 meter dari kantor. Maksudnya adalah supaya shock breaker mobilnya nggak berantakan dan tentunya, dia memang lebih sayang mobilnya ketimbang adik perempuannya yang cantik jelita ini. Tsah! 😀 Continue reading

The Perfect Decision

Every decision is a life changer.

Kuanggap demikian karena menurutku setiap keputusan yang diambil akan melahirkan sebuah kejadian yang akan memengaruhi kehidupanku selanjutnya. Sekecil apapun keputusan yang lahir, tidak menutup kemungkinan kalau kejadian yang besar akan menanti dan mengubah segalanya.

And every decision is a perfect one.

Kuanggap sempurna, karena menurutku, tidak ada keputusan yang salah atau keputusan yang benar. Definisi benar atau salah akan tergantung dari pasang mata mana yang memandang, isi kepala mana yang menganggap. Benar menurutku, tidak berarti benar untukmu. Salah untukmu, mungkin kuanggap sebagai pelajaran berharga buatku.

Jadi, kukatakan sekali lagi, bahwa semua keputusan adalah sempurna. Untuk hidupku, untuk penguatan tapakan kakiku di masa-masa selanjutnya, untuk pembelajaran, untuk pengalaman agar aku lebih berhati-hati.

Every decision is a perfect decision, dan sepertinya, ada sepasang manusia yang akan menganggukkan kepala kalau aku bercerita tentang keputusan terhebat mereka dalam sejarah kehidupan mereka, sampai tiga puluh tahun terakhir ini. Continue reading

Kecoa yang Pintar!

Kecoa yang Pintar!Ada seekor kecoa bermain-main di kamar mandiku. Setelah kodok kecil yang meloncat-loncat kemarin dulu, kini giliran kecoa yang membuat aku sedikit panik di dalam kamar mandi. Aku memang geli melihat wujud kecoa cuman sayangnya, aku juga nggak tega untuk menggencetnya dengan sandal jepit yang biasa kupakai di kamar mandi. Yang ada, aku malah ‘menari-nari’ di atas lantai kamar mandi karena menghindar tubrukan kecoa yang nubrak-nubruk, srudak-sruduk kayak banteng kalap.

Berhubung geli tapi nggak tega menggencet kecoa, akhirnya aku memilih untuk menyiramnya dengan air dalam gayung. Maksudnya, sih, supaya kecoa itu segera menjauh dari kedua telapak kakiku yang bisa sewaktu-waktu menggencetnya. Berkali-kali kusiram kecoa itu dengan air, sampai akhirnya, kecoa itupun tak lagi membuatku ‘menari-nari’ lagi. Mengapa? Karena tubuhnya sudah dalam posisi terbalik, dengan kaki-kaki yang bergerak-gerak di atas. Tentu saja dia tak bisa bebas merangkak kemana-mana seperti sebelumnya.

Aku pun mulai mandi dengan tenang, sambil sesekali mataku melirik ke kecoa yang kaki-kakinya tak berhenti bergerak itu. Ya, sekalipun aku tahu kalau kecoa itu sudah tak berdaya lagi, tapi tetap saja aku takut kalau sewaktu-waktu kecoa itu bisa dengan suksesnya membalikkan tubuhnya lalu mulai bergerilya lagi. Serem!

Tapi alih-alih merasa takut, aku malah menikmati ‘perjuangan’ kecoa itu. Bukannya aku suka melihat penderitaannya, lho, hanya saja dari kecoa yang tubuhnya terbalik itu aku mendapat permenungan yang luarbiasa.

Permenungan macam apa? Continue reading

Saling Melengkapi

OppositeAjang kontes America’s Got Talent sudah mencapai babak penyisihan untuk sampai ke perempat final — 40 peserta terbaik. Dari ribuan peserta, hanya tersisih beberapa ratus peserta. Dan dari ratusan itu, hanya 40 peserta saja yang bisa lolos sampai ke Hollywood.

Bisa terbayang betapa banyak air mata yang tumpah saat itu, kan? Berapa banyak jantung yang berdebar kencang sampai mungkin tak perlu stetoskop untuk mendengarnya secara jelas. Berapa banyak orang yang berkeringat dingin, berharap-harap cemas: apakah aku lolos? Apakah aku akan pulang ke kampung halamanku? Apakah setelah ini aku menelepon orang-orang tersayangku dan mengabari mereka bahwa aku belum akan pulang karena masih harus mengikuti proses selanjutnya? Atau mereka harus bersiap-siap menemaniku dugem akibat stress dengan hasil keputusan juri? Continue reading

Who Are You?

Learning fromThe Movies Vol. 6

Aku sedang menonton film The Nanny Diaries. Sudah entah untuk yang keberapakalinya aku menonton, tapi kali ini ketika film itu usai, aku seolah mengantungi pesan yang sama sekali berbeda dibandingkan ketika pertama kali menontonnya lewat DVD playerku, beberapa tahun yang lalu.

Seperti yang pernah kubahas di tulisanku, Sebuah ‘Pesan’, bagaimana pesan-pesan yang terserak di seluruh jagat raya ini akan berkonspirasi untuk sampai kepadamu dengan cara-cara yang aneh — lewat lagu, lewat tulisan di billboard pinggir jalan, lewat orang-orang yang bersliweran di hadapan muka. Dan ya, di saat yang berbeda, billboard yang sama mungkin tidak akan memberikan pesan yang sama. Itu karena menurutku — yang kuadopsi dari pendapat kawan baikku, Indah — “The right message will come along to our lives at the perfect time, somehow, someday.”

Ya.

Ada sesuatu dari film ini yang membuatku kemudian berhenti sejenak sesaat setelah film itu usai kutonton. Menghela nafas berkali-kali kemudian mengaktifkan laptop untuk mulai menulis.

Beberapa bagian di film drama yang sederhana ini ternyata mampu membuat otakku bekerja lebih keras — bak menonton film-film sekelas Oscar yang penuh dengan kata-kata njelimet, ide-ide yang luar biasa extraordinary. Sederhana saja, tapi membuat pikiranku penuh dengan pertanyaan.

Dan ini adalah sebagian kecil dari film tersebut yang membuat aku menghela nafas berkali-kali hanya karena aku merasa tersindir, kepepet, sampai ke pojokan! 😀 Continue reading

It Isn’t Everything…

Uang, uang, uang!Lelaki itu adalah seorang Boss besar. Perusahaannya berjumlah lebih dari jumlah jemari tangannya dan mengalirkan uang yang tak pernah berhenti mengisi pundi-pundinya. Hidupnya bergelimangan uang. Rumahnya mewah. Mobilnya berganti-ganti seperti mengganti celana dalam saja. Kalkulator mungkin menyerah saat menghitung bunga bank untuk depositonya. Dia adalah lelaki yang sangat kaya. Bahkan sebuah gunung pun dibelinya karena ia ingin mengeksploitasi hasil bumi yang terkandung di dalamnya! Continue reading

Catatan Harian

July 2022
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono