you're reading...
Fiktif

Lelaki di Cafe Seberang

Kepada Lelaki yang tak pernah berhenti merokok, yang selalu kusut dengan rambut gondrong dan pakaian yang seperti tak tersentuh setrika, dan ponsel yang selalu ada di telinga…

Ini aku; perempuan yang selalu duduk di seberang tempat kamu berdiri, bercakap-cakap sendiri dengan seseorang di ujung ponsel yang membuatmu tak berhenti mengoceh.

Ini aku; perempuan yang selalu duduk memerhatikanmu hilir mudik begitu sibuknya, sibuk dengan batang-batang rokok yang kotor tercecer di dalam asbak rokok, di atas meja sebuah cafe yang setiap hari kamu kunjungi itu.

Ini aku; perempuan yang diam-diam memujamu dalam setiap hela nafasnya, yang hafal sekali dengan minuman favoritmu — secangkir kopi yang kau campur dengan beberapa tetes air susu dan sedikit gula, yang hampir tak bisa bernafas saat beberapa perempuan cantik datang menyapamu, mengecup pipimu, membelai nakal rambut yang terjatuh di atas dahimu, dan kamu tertawa bersama sambil mencubit ujung hidungnya.

Iya. Ini aku; perempuan yang setiap hari hanya memandangmu dengan secercah harapan bahwa kamu akan menoleh padaku, menatap kedua mataku, merasakan kehadiranku, dan menyunggingkan sedikit senyum untukku. Perempuan yang bermimpi kalau lelaki sepertimu, yang selalu kusut tapi berwajah rupawan. Yang sekalipun memiliki bibir berbau nikotin – kau merokok seperti lokomotif yang tak pernah pensiun, aku bisa membayangkan aroma mulutmu – tapi senyummu selalu secerah matahari.. Ya, lelaki sepertimu akan menangkap sosokku yang selalu berada di seberangmu, menanti tolehan kepalamu, dengan secangkir teh yang selalu mendingin karena tak pernah kusesap sedikitpun sejak pertama kali duduk di bangku yang dingin ini…

Aku tak pernah beranjak dari kursi ini, seolah melekat kuat di atas kayunya dari pagi menyapa sampai seorang pelayan memohonku pergi karena cafe mereka akan tutup di malam harinya. Aku tak pernah mau beranjak dari tempat ini, tempat yang paling memungkinkanku untuk melihatmu sibuk di cafe seberang jalan sana,  dengan rokok, dengan ponsel, dengan laptopmu. Sejak pertama kali melihatmu duduk di sana, di suatu pagi, lima puluh tiga hari yang lalu, kamu berhasil menghipnotisku dengan pesonamu yang tidak biasa. Kamu seolah bintang panggung yang berada di bawah siraman spotlight sedangkan aku adalah penonton tanpa tiket yang memujamu tanpa henti.

Aku memutuskan untuk tinggal, untuk mengamatimu, untuk menikmatimu dari kejauhan. Kamu yang sibuk, kamu yang tampan, kamu yang akhirnya kutahu, memiliki banyak sekali perempuan-perempuan cantik yang berebut untuk mencium pipimu, mengusap pundakmu, dan meremas jemarimu. Aku kehilangan dayaku untuk bernafas, tapi kamu seolah memenjaraku seperti sarang laba-laba yang cantik namun merekat setiap langkahku. Aku tak bisa berlari, aku hanya bisa tinggal di situ, sampai waktu membinasakanku.

Kawanku pernah berkata, “Sapalah dia… Mengapa kau habiskan waktumu hanya untuk menanti seorang lelaki yang tak pernah menoleh padamu? Yang tak pernah mengetahui kehadiranmu? Yang tak pernah menyadari bahwa kamu ada, di seberangnya, mengamati setiap gesture tubuhnya?”

Tapi selalu kukatakan, “Bukankah kalau memang ia ditakdirkan untuk melihatku, menoleh padaku, artinya, suatu saat nanti ia akan menoleh dan mengetahui kalau aku selalu ada di depan matanya? Mengaguminya?”

Cibiran kawanku itu, Lelakiku,  menyudahi percakapanku beberapa waktu yang lalu. Dia lalu berkata, “Kalau ia tidak menoleh, lantas apa yang kamu lakukan sekarang ini? Berapa cangkir teh yang kamu buang? Berapa senja yang kamu lewatkan percuma? Berapa dering telepon yang kamu abaikan? Hanya untuk seorang lelaki yang bahkan tidak pernah menyadari kehadiranmu!”

Lelakiku,

Aku tak peduli. Kubiarkan saja dia menilaiku begini, begitu. Kubiarkan saja dia menceramahiku tentang kebodohanku, sampai akhirnya dia bosan sendiri menuturiku lalu pergi mengambil mantelnya dan berlalu dariku. Sementara aku? Aku masih menantimu. Di kursi yang sama. Dengan cangkir teh yang tak pernah kosong. Dan belaian angin malam yang makin lama makin menggigit. Aku tak peduli. Aku hanya ingin mengagumi, meresapi setiap garis wajahmu, dan kujadikan bekal untuk mimpi-mimpi malamku.

Terus, dan terus begitu. Sampai tiba hari keempatpuluh delapan. Seorang perempuan datang kepadamu, membawa sekeranjang roti  dan minuman kopi dalam kaleng. Aku tak mendengar percakapan kalian, tapi selang beberapa saat kemudian, kalian pergi. Kamu, lelaki yang tak pernah beranjak dari cafe, yang selalu sibuk sendiri dengan ponsel, laptop, serta rokokmu itu, malah mengemas barang-barang bawaanmu, lalu menggamit perempuan cantik itu…

Kamu pergi.

Aku menantimu. Masih menunggumu, sampai malam mencekam tapi kamu tak pernah datang. Esok hari, aku datang seperti biasa, menunggumu, tapi anehnya, lagi-lagi kamu tak datang.

Hari berlalu, Lelakiku. Masih dengan kekuatan yang sama, aku menunggumu. Berharap keajaiban bahwa kamu akan datang lagi, duduk di seberangku, di balik laptopmu… tapi kamu tak pernah ada.

Hari kelima puluh…
Lima puluh satu..
Lima puluh dua…

Hari ini. Hari kelimapuluh tiga, dan kamu masih tak datang.

Segumpal gelisah menyesaki paru-paruku, membuatku tak sanggup bernafas. Apa yang terjadi padamu, Lelakiku? Kenapa kamu tak datang? Kenapa kamu tak mondar-mandir di depanku lagi? Kenapa kamu tak sibuk mengoceh di ponselmu lagi? Kenapa kamu menghilang dari pandanganku? Kemana perempuan itu membawamu pergi? Apakah setangkup roti tawar telah memberikan efek candu sehingga kamu tak ingin beranjak dari perempuan itu? Kalau iya, aku bisa membuatkan setangkup roti tawar berselai apapun yang kamu suka. Srikaya, mentega dengan taburan gula, stroberi, atau.. apapun! Apapun yang kamu suka, akan kusuguhkan untukmu… Karena aku… karena aku menginginkanmu. Lebih menginginkanmu daripada siapapun yang kini sedang kamu peluk atau cium, atau kamu hembus tengkuknya dengan udara panas yang keluar dari hidungmu…

Lelaki yang tak pernah berhenti merokok, yang selalu kusut dengan rambut gondrong dan pakaian yang seperti tak tersentuh setrika, dan ponselmu yang selalu ada di telinga…

Malam ini aku masih menunggumu. Di sini. Di cafe ini. Dengan secangkir teh yang sama, di kursi yang sama, dengan pengharapan yang tak pernah berubah.

Sekalipun banyak yang menghina apa yang sudah kulakukan ini, tapi aku memercayai hati kecilku, bahwa entah kapan, kamu akan kembali ke cafe itu, duduk persis di seberangku, dan mulai melakukan apa yang selalu kamu lakukan, seperti dulu. Berbicara di ponsel, mengisap rokok, dan mengetik sesuatu di atas laptopmu.

Ya, Lelakiku.

Aku yakin bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali lagi.

Dan aku janji. Kelak, jika kamu benar-benar kembali, aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah berani aku lakukan.

Aku akan mendatangimu.

Menyapa dirimu.

Mengukir senyum di wajahku untukmu.

Mengulurkan tanganku padamu.

Keajaiban bukan ketika kamu akhirnya menoleh padaku. Keajaiban adalah ketika aku memberanikan diri untuk mendekati tubuhmu dan mencium habis-habisan aroma tubuhmu lalu menyimpannya dalam paru-paruku, seperti seekor unta yang menyimpan air di punuknya, karena tak ingin mati lemas saat berpergian melewati padang yang tandus.

Dan, Lelakiku,

Jika saat itu seorang perempuan dengan sekeranjang roti serta beberapa kopi dalam kaleng itu duduk menemanimu di sana, aku tak peduli. Aku hanya ingin memandang kedua matanya dalam-dalam lalu tersenyum kepadanya.

Lelaki sepertimu pantas mendapatkan seorang perempuan seperti dia.

Dan seorang perempuan seperti aku, hanya pantas menikmatimu dari dalam hati.

Menikmati keindahan seorang lelaki, yang tak pernah berhenti merokok, yang selalu kusut dengan rambut gondrong dan pakaian yang seperti tak tersentuh setrika, dan ponsel yang selalu ada di telinga..

Lelaki yang membuatku betah menunggu.

Lelaki yang membuatku tak peduli pada waktu yang terus berlari.

Lelaki yang tak pernah berhenti merajai mimpiku.

Ya,

Aku akan selalu ada untukmu, menantimu menoleh kepadaku juga kehadiranmu yang entah kapan itu.

That’s how much I love you.
And one day, you know how much I do…

Penuh cinta,

Perempuanmu.

***

Surabaya, Kamar, Minggu, 14 Februari 2010, 9.04 Malam
Meramaikan kontes Surat Cinta-nya Julie dan Idana 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

38 thoughts on “Lelaki di Cafe Seberang

  1. Panjang banget suratnya La…
    Sampe segitunyakah cinta seorang perempuan itu?
    Can I predict, it will be a bleeding love? Eh? 😀

    Anw, pernah baca dimana gitu… Nanti kalau kita tua, bukan hal2 yg pernah kita lakukan yang kan disesali… Tapi hal2 yang TIDAK kita lakukanlah yang membuat kita menyesal 😀 (asal tetep pake logika aja pas melakukan sesuatu hehehe)

    Posted by Eka Situmorang-Sir | February 14, 2010, 10:47 pm
    • Hehe.. nggak biasa nulis pendek, Ka.. jadinya, bikin surat pun panjang sangat.. hihihi…
      Iya, cinta perempuan itu emang sampe segitunya… Dia memang meyakini apa yang dia inginkan, sekalipun buat orang lain aneh.. 🙂

      Setuju sama quote-mu yang terakhir, Ka.. Dan ya, setuju juga kalo musti pake logika.. 🙂

      Posted by jeunglala | February 15, 2010, 6:55 am
  2. ini kan udah jaman modern. jangan menunggu… langsung samperin aja! 😀

    Posted by arman | February 15, 2010, 1:08 am
  3. Keren suratnya La…
    Kadangkala, penyesalan datang Kesempatan yang ada dilewatkan begitu saja…
    Hari ini, hari ke limapuluh empat, tengoklah sekeliling…arah jam 3, ada seorang lelaki mengamati seorang perempuan yang setiap hari duduk mengamati seorang laki2 yang kini sudah pergi, berharap perempuan itu menoleh memberikannya senyuman… tengoklah dia dan berikan dia sinyal untuk mengejar kesempatannya… 😀 😛

    Posted by atmakusumah | February 15, 2010, 3:50 am
  4. amblas lah kesempatan gw untuk menang 😛

    nice and sweet letter
    ehh ini sad ending yahh

    mbuh wess 😀

    Posted by depz | February 15, 2010, 8:46 am
  5. lelaki itu pastinya akan bahagia..
    jika saja ia tahu..
    ada perempuan yang begitu setia mengamatinya..
    menungguinya….
    ah… seandainya lelaki itu aku.
    aku pasti akan menghampirimu
    dan kan kupastikan
    di setiap hari kan datang di cafe itu
    lalu menghampirimu kembali
    begitu seterusnya…

    Posted by elmoudy | February 15, 2010, 9:51 am
  6. wah…wah….wah……
    senangnya mengetahui ada seseorang yang selalu menunggunya…
    sayang, kmu tak juga tau wahai lelaki……

    hmm….surat yang panjang
    tapi yakin deh, dia akan senang membacanya berulang-ulang….. 😉

    Posted by yustha tt | February 15, 2010, 9:59 am
  7. Lho, jadi wanita ityu kamu to Mbak ?
    Lho tapi saya kan ndak merokok Mbak ?

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

    Posted by Mas Ben | February 15, 2010, 10:11 am
  8. wow ceritanya keren,,,

    padahal menunggu itu pekerjaan pling mmbosankan itulah mungkin yg dinamakan cinta hehhe bisa merubah segalanya

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasih 😀

    Posted by darahbiroe | February 15, 2010, 10:14 am
  9. wahhhh…it’s not a letter but a story bout love :((

    Posted by iadiahrespatiw | February 15, 2010, 10:30 am
  10. Aku ini perokok.. Aku juga gondrong dan bajuku selalu kusut tak pernah dilalap setelika.. Tapi, sepertinya itu bukan aku..laki2 yg selalu setia dgn ponsel, laptop, dan dikerumuni oleh banyak wanita.. Ach..mantab sekali nih suratnya, bikin gak terasa kalo baca udah habis… Moga sukses dgn ikutan lombanya.. 🙂

    Posted by Hary4n4 | February 15, 2010, 10:50 am
  11. Saya rasanya seperti nonton film-film Hollywood.
    Jadi penasaran sama mas-mas perokok itu. Curiga jangan-jangan dia disponsori produk rokok 🙂
    Salam…
    Nice words

    Posted by dian | February 15, 2010, 10:52 am
  12. Jadi inget film Jomblo… Satu yang bikin cintamu gak sempurna, dia gak tau kamu ada.

    Posted by AL | February 15, 2010, 11:23 am
  13. Hm, menyesal ya ‘perempuan’ itu ya…
    ketika lelaki itu berada di hadapannya.. perempuan itu sibuk sendiri… ketika lelaki itu pergi, baru terasa betapa rindu dan ‘butuh’nya dia akan kehadiran si lelaki..

    yaa… ikut nyesel.. 😉

    Posted by anna | February 15, 2010, 11:47 am
  14. wedew….kalo Oyen bakalan jujur tuh, kalo sehati sukur kalo kagak ya cari lage…kikikikik

    Posted by Oyen | February 15, 2010, 11:50 am
  15. jadi inget waktu gondrong..he he..ge er..
    sukses kontesnya jeung

    Posted by z4nx | February 15, 2010, 2:49 pm
  16. abis baca notenya mas Fahd ya mbak? ungkapkan saja

    Posted by hanifah nila | February 15, 2010, 2:53 pm
  17. Kalau saya, saya lebih memilih untuk menyapa lelaki itu, biar dia tahu kalau saya ada. Seperti kata dunia ini tentang para pria, mereka hanya melihat apa yang ada di depannya saja, tidak bisa melihat ke samping kanan or kiri, itu sebabnya kalau diminta mencarikan sebotol madu di dalam kulkas, lelaki akan bngong cukup lama di depan pintu.
    Tapi bisa saja si perempuan itu juga punya prinsip begitu, tak masalah.. mungkin nanti akan ada lelaki lain untuk dirinya… 🙂

    Posted by zee | February 15, 2010, 2:56 pm
  18. great, hmmm… secret admirer yach, dulu sekali aku pernah berada di posisi perempuan itu, heheheh tapi itu dulu mbak, dulu sekali.

    Posted by tary curhat lagi | February 15, 2010, 3:49 pm
  19. hmmm lelaki itupun suatu hari akan mengerti

    Posted by gerhanacoklat | February 15, 2010, 6:45 pm
  20. SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG BANNER/LINK GA YAH…???
    HTTP: / / DUTACIPTA.WORDPRESS.COM
    🙄

    Posted by denindodutacipta | February 15, 2010, 8:27 pm
  21. selamat malam…
    salam kenal dulu…

    Posted by fai_cong | February 15, 2010, 9:51 pm
  22. duh, bahagianya kalau saja si lelaki tau betapa si perempuan mencintainya sedemikian ya Jeung.
    tulisan Jeung Lala selalu mampu menghipnois dr awal hingga akhir cerita.
    Semoga sukses ya Jeung di acaranya Mbak Julie dan Idana.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 16, 2010, 9:06 am
  23. mencintaimu..
    dari jauh 😉

    Posted by Yessi | February 16, 2010, 10:32 am
  24. hmmmm……
    menunggu sesuatu yang tak pasti…

    Posted by Hasian Cinduth | February 24, 2010, 8:58 am
  25. Keyeeeeeen…
    smg bisa jumpa lg dengan sang lelaki yang di nanti…

    salam kenal
    🙂

    Posted by awan | March 3, 2010, 1:18 pm
  26. indaaaahh.. kereeeeeen bangeeettt.. tulisannya

    dari pemilihan kata dan susunan katanya aku sukaaaa, mengalir seperti air lalu membawaku larut didalamnyaaa.. mmmm… ^_^

    Posted by iLan | August 16, 2010, 11:14 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Surat Hati, Bingkisan Ultah, Gak Bisa Tidur, dan Origami « Teacher's Notebook - February 16, 2010

  2. Pingback: dan cinta memilihmu « gerhana coklat - February 20, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: