archives

Archive for

Sebuah Catatan : 27-28 Januari 2010

Rabu.
27 Januari 2010.
Pukul enam sore lewat sedikit.

Sedan hijau Bro melaju perlahan menuju kamar VIP yang memiliki pelataran parkir di depannya sehingga kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus melewati lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ponselku berdering pendek. Ada sebuah SMS yang masuk. Dari sahabatku.

Dia menyampaikan kabar baik kalau Papi sudah bisa buang air besar. Pas aku tanya, “Seberapa banyak?”

Dia langsung bilang, “Meneketehe. Tanya ndiri gih, nanti kalau udah nyampe.”

Dan tidak lama kemudian, sedan hijau Bro sudah terparkir rapi di pelataran parkir, persis di depan beranda kamar tempat Papi menginap sejak hari Minggu malam. Aku melihat wajah-wajah orang yang kukenal; Om, Bulik-Bulik, Sepupu-Sepupu, sahabat-sahabat, seorang kakak perempuan, dan seorang Ayah yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa banyak bicara. Continue reading

Evolusi Kebahagiaan

Seorang rekan kerja, tadi pagi, bercerita tentang masa-masa kanaknya. Yang memicu cerita ini adalah sebuah telepon kemarin sore dari kawan akrabnya saat masih bersekolah dengan seragam putih merah. Cerita mengalir, yang tentunya banyak menceritakan soal masa-masa kanak-kanak mereka. Pulang dan pergi ke sekolah bareng, kemana-mana bareng, cekakak-cekikik bareng.Β All the little stuffs they did back in 1970-s. Betapa menyenangkan! Continue reading

7 point 4

Sore pukul enam, aku membuka sebuah pintu kamar sebuah rumah sakit.

Aku melihat Papi terbaring di atas ranjang. Sepasang matanya terpejam, tangannya dilipat di atas dada, tubuhnya berbungkus selimut sampai ke pinggang, lalu terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Papi terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.

Mbak Piet, kakak sulungku, bilang, “Tadi Papi sempat bangun sebentar, aku ajak omong sedikit, terus tidur lagi…”

Sepertinya, obat yang diberikan Dokter untuk menghilangkan rasa mual di perut Papi mengandung obat penenang, sehingga usai mengkonsumsinya, Papi langsung mudah mengantuk dan tidur dengan tenang.

Papi memang mual-mual terus belakangan ini. Nafsu makannya turun drastis — bahkan tidak makan sama sekali, selain dua butir anggur! Minuman apapun tidak bisa melewati kerongkongannya karena langsung mual. Walhasil, kondisi Papi semakin drop.

Tidak seperti orang-orang yang bobot tubuhnya cenderung turun serta terlihat kurus bila berhari-hari tidak makan, Papi malah terlihat lebih gemuk. Rupanya karena tidak bisa membuang urine dengan lancar hampir seminggu lamanya, membuat tubuhnya membengkak. Belum lagi Papi tidak bisa pup dengan lancar. Duh, aku jadi semakin merasa ngilu setiap harus berkali-kali ke kamar mandi seharian ini hanya karena minumku yang terlalu banyak.

Papiku berjuang sekuat tenaga untuk bisa pipis, sementara di kantor, aku beser sampai bosen! Betapa ironis. Continue reading

The Least You Could Do

Pernah, nggak, kamu berada di sebuah perempatan jalan, duduk di atas sepeda motor, kursi mobil pribadi, atau kursi penumpang sebuah angkutan umum, lalu melihat seorang bocah kecil, tidak sampai lima tahun usianya, sedang berjalan hilir mudik dari satu mobil ke mobil lainnya, dengan membawa setidaknya lima eksemplar koran, menawari siapapun yang ingin membeli?

Dan pernah, nggak, ketika kamu melihat jenis pemandangan seperti itu, cuaca sedang sangat buruk? Panas yang terlalu terik dan angin dingin yang bertiup terlalu kencang, sehingga tubuh kecil bocah lelaki (atau perempuan) yang berbalut pakaian seadanya itu nampak ringkih menahan sakit? Telapak kakinya yang kurus mencoba menapak dengan gemetar karena tak beralaskan apapun? Tidak pula sandal jepit murahan yang paling tidak membuat telapak kakinya tak bersentuhan langsung dengan jalanan yang beraspal.

Dan apa yang kamu ada di dalam pikiranmu ketika melihat itu semua? Continue reading

The Hatred

Ketika berita perceraian pasangan artis Kris Dayanti (atau akrab dipanggil KD) dan Anang Hermansyah ramai di-blow up di media-media cetak dan elektronik, bertubi-tubi komentar pedas melayang ke wajah KD yang saat itu dikabarkan selingkuh dengan seorang pengusaha kaya.

Komentar pedas, miring, dan tidak sedap didengarkan itu seolah menjatuhkan citra KD yang selama ini jauh dari gosip — ya, kecuali gosip dia selingkuh dengan gitaris beberapa tahun yang lalu itu. Reputasi KD sebagai seorang Diva tercoreng-moreng oleh mereka-mereka yang bergunjing KD begini, KD begitu.

Banyak penggemar yang kecewa.

Salah satunya adalah aku. Continue reading

A Blood Test

Beberapa bulan yang lalu, kakak perempuanku diketahui mengidap diabetes, yang entah didapatnya dari pola makan yang salah atau memang keturunan dari Papi yang mengidap diabetes di usianya yang ke-30.

Dia hampir jatuh pingsan karena tingginya kandungan gula di dalam darahnya. Maklum saja, gulanya saat itu hampir mencapai 300-an, sehingga tubuhnya lemas dan terjatuh di depan ruang training kantornya.

Dari Papi yang sudah terbiasa mengendalikan kandungan gula, kakakku akhirnya mulai tahu bagaimana cara Β mengatur pola makannya. Berapa porsi makanan utama yang boleh dilahapnya, berapa kali cemilan untuk mencegah gula-nya drop, apa yang harus serta tidak boleh dimakan, dan yang terpenting adalah: rajin-rajin memeriksa kandungan gula darah. Continue reading

What Makes a Great Daughter

What makes a great daughter?

Pertanyaan itu seperti menghantui alam pikiranku sejak setahun belakangan ini dan semakin mengganggu pikiranku sejak kemarin, sejak seorang Ayah yang kucintai terpaksa menginap di ruang ICU sebuah rumah sakit internasional yang dipilih karena letaknya paling dekat.

Ya.

What makes a great daughter?

Pertanyaan itu membuat pikiranku tidak tenang. Continue reading

Why Wait?

Aku terbiasa menunggu. Menunda. Menggampangkan segala sesuatu. Seringkali jika ada sesuatu, aku selalu bilang, “Kan bisa nanti? Nanti saja, deh!” Dan sering pula, sekalipun keinginan itu sudah mendominasi isi ruang di kepala, aku malah mengabaikannya dengan melakukan hal yang sama; menanti, menunda, menggampangkannya, dan akhirnya malah tidak melakukannya sama sekali.

Lalu, apa yang terjadi ketika aku tidak melakukannya sama sekali? Ketika aku mengabaikannya? Ketika aku menundanya? Continue reading

Sebuah ‘Pesan’

Bukan tanpa sengaja aku mendengar lagu Raindrops Keep Falling on My Head, yang dinyanyikan oleh B.J Thomas ini. Pagi tadi, teman kantorku mendadak bertanya soal siapa penyanyi lagu yang sering kami dengar tapi tidak pernah tahu siapa yang menyanyikannya.

Bermodal laptop dan sambungan internet, aku pun menjelajah dunia maya. Googling sebentar dengan mengetikkan judul lagunya, dan tanpa kendala aku menemukannya. Liriknya, nama penyanyinya, sekaligus klip videonya. How internet could be that helpful!

Sambil menyampaikan kabar ke temanku tadi, aku mengamati liriknya, ikut bernyanyi bersama B.J Thomas yang klipnya aku putar sekalian (ya, setelah streaming yang lumayan lama.. maklum, lemot!), sampai akhirnya aku teringat sesuatu. Bukan hanya tentang lagu itu, tapi juga betapa sebuah lagu akan memberikan makna yang berbeda jika didengarkan pada saat-saat yang berlainan. Mungkin lagu itu sekadar lagu biasa, yang hanya indah didengar, tapi tak berefek apapun juga. Tapi sebuah lagu, bisa jadi, menggugah sesuatu dari dalam hati, lalu memberikan semangat dan efeknya luar biasa untuk memunculkan senyum. Continue reading

Sebuah Novel dan Penulisnya

Seorang penulis terduduk dengan gelisah sambil menimang sebuah koran. Dia melesakkan tubuhnya di atas sofa, lalu berkali-kali menyesap cairan kopi yang sedari tadi sudah disesapnya dengan perasaan berdebar. Keringat itu bermunculan, dibarengi dengan rasa kesal yang luar biasa. Oh, bukan kesal atau marah yang berhubungan dengan emosi. Tapi lebih karena dia tak bisa melakukan apapun. Continue reading

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono