you're reading...
Cinta, Fiktif

bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” tanyamu di suatu malam, saat kamu bebas memeluk dan menciumku di atas sofa empuk, persis di depan televisi, di ruang tengah apartemenku.

Aku makin menyusupkan tubuhku di pelukanmu. Membuatnya semakin hangat dan seolah punya keinginan untuk meleburnya menjadi satu. Lalu menoleh, memandangmu, dan menjawab, “Kamu membeli tiket pulang. Aku mengambil cuti panjang. That’s how we get here.”

Lalu kamu tersenyum. Mencium keningku, juga hidungku. Aroma nikotin menyerbu masuk di kedua rongga hidung, aroma mulutmu yang sudah sepagian tadi bercampur di mulutku. Sejak kamu mengetuk pintu dan kita mulai menghabiskan waktu.

“Bukan itu maksudku,” katamu. “Aku tidak amnesia atau punya kekuatan super untuk mendadak bisa muncul di depan apartemenmu.”

“Lantas?”

How do we get here? Bagaimana kita bisa sampai di sini? Aku. Kamu. Masa lalu kita tidak pernah punya niatan untuk memberitahu kalau kita bakal sampai di sini.”

Kamu mengendurkan pelukan. Kini kita duduk saling berhadapan, meski tetap melekat di atas empuknya sofa yang sama. Jari-jemarimu memerangkap jari-jemariku. Wajahmu lurus di depanku. Matamu hangat memandangku.

“Bagaimana caranya?” tanyamu lagi. Meneruskan pertanyaanmu sebelumnya, yang kubiarkan begitu saja tanpa kujawab. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku hanya bisa menjawab ‘entah’ dan itu bukan jawaban yang ingin kamu dengar, tentu saja.

“Aku tak pernah berhenti bertanya. Tidak hanya padamu, tapi juga pada diriku sendiri,” lantas kamu mulai berbicara sendiri tanpa menunggu jawabanku. “Bagaimana aku bisa mendadak ingin pulang dan tak ingin pergi. Bagaimana aku bisa mendadak jatuh hati dan tak ingin kembali. Dulu, kita seolah tinggal di belahan dunia yang berbeda. Different zip codes, different lives. Sekarang? Aku tak punya ingin untuk pergi lagi. Ingin selamanya di sini.”

“…”

“Semua seperti skenario yang dirancang terlalu tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda. Tidak pernah ada gejala. Tidak pernah bahkan aku berimajinasi bisa jatuh hati lalu ingin memiliki. Ini sungguh aneh, tapi luar biasa!”

Aku menghela nafas. “Terkadang, ketidakpercayaanmu membuat ngilu,” kataku tiba-tiba.

Kamu segera menyentuh pipiku dengan ujung jarimu. Kedua bola matamu seolah bertanya, “Kenapa?”

“Itu artinya aku tidak pernah menarik perhatianmu,” jawabku. “Itu artinya kamu tidak pernah memandangku lebih dari yang bisa kamu lakukan saat itu.”

“Dan kamu kecewa?”

Aku menggeleng. “Sedikit, tidak banyak, dan mulai mengabaikan. Menurutku tidak penting, apalagi kalau sampai membuatku terus bertanya kenapa sekarang kamu melihatku lebih dari biasanya.”

Kamu menarik kepalaku, mencium bibirku. Melumatnya dengan nafsu, membuat kita seolah kehabisan nafas sampai tersengal-sengal.

“Maaf, Sayang, maaf,” katamu, memeluk tubuhku. “Aku akan berhenti bertanya-tanya bagaimana kita bisa sampai di sini; seorang lelaki yang tak pernah dekat denganmu belasan tahun lamanya, lantas kini berubah menjadi lelaki yang punya keinginan konyol untuk melekat di tubuhmu.”

“….”

“Aku akan berhenti bertanya mengapa aku merancang semua masa depan dengan perempuan yang baru saja kucintai habis-habisan dalam hitungan minggu.”

“….”

“Aku akan berhenti bertanya mengapa aku dan kamu harus berubah menjadi kita dalam waktu yang luar biasa tak mau menunggu.”

“….”

“Aku akan berhenti bertanya bagaimana kita berdua sampai di sini dan jatuh cinta.”

“….”

“Karena tidak pernah ada jawaban pasti untuk pertanyaan ‘kenapa Tuhan memilihmu sebagai perempuan terakhirku’. Meski kini aku mulai tahu.”

“Apa?”

“Karena aku yang memintaNya untuk memberikan restu itu.”

Lalu kamu diam. Aku pula. Kamu menghela nafas. Sama, aku pula.

Mendadak, kamu bangkit dari sofa, duduk di lantai, persis di kakiku. Memegang lutut dengan tangan kirimu, dengan sebelah tangan lainnya meraih jari-jemari kiriku.

I don’t care how I get here,” katamu. “All I care is how we will get there...”

Aku terdiam.

“Sayang, will you marry me?”

Ya. Aku tidak pernah tahu apa jawaban pasti untuk semua pertanyaan-pertanyaanmu yang lalu. Tapi untuk pertanyaan yang satu ini, aku akan menjawabnya sungguh-sungguh dengan jawaban yang benar-benar aku tahu.

Karena jawabnya hanya satu. Anggukan kepalaku sambil berkata, “Aku mau…”

**

Kantor, September 10, 2012

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “bagaimana kita bisa sampai di sini?

  1. Aiihh…

    Posted by fawaizzah | September 11, 2012, 9:52 am
  2. :’) speechless…

    Posted by Dieta | September 11, 2012, 1:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2012
M T W T F S S
« Aug   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: