archives

Cinta

This category contains 15 posts

Perempuan Biasa

Apa istimewanya dari perempuan seperti aku? Cermin manapun, di belahan dunia manapun, tidak akan lantas serta-merta berbohong hanya demi menyenangkan hatiku saja.

Aku adalah perempuan kebanyakan yang tidak pernah merasa istimewa. Tidak cantik, atau menarik. Tidak pintar, atau merasa lebih unggul dari perempuan lainnya. Aku, perempuan biasa yang butuh untuk dicintai dengan cara luar biasa.

Olehmu.

Oleh lelaki sempurna sepertimu. Continue reading

Siapa Bilang Saya Baik-Baik Saja?

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja ketika harus meninggalkanmu, pulang kembali ke kotaku.

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja ketika harus membuatmu merasa bersedih karena takut saya tidak akan kembali pulang, ke kotamu.

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja melihat kamu, perempuan yang saya cintai, sedang meragukan kesetiaan saya hanya karena kamu ingin meladeni ledakan hormonal tiap bulanmu.

Siapa bilang saya baik-baik saja? Continue reading

Kekasih yang Jauh

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu kecup bibirnya setiap kali kamu mau?”

Aku diam saja.

“Apa artinya kekasih yang tak melihat warna lipstick terbarumu dan mengomentari flat shoes warna kesukaannya saat pertama kali kamu memakainya?”

Masih, aku diam.

“Apa artinya kemana-mana sendiri, dengan jari-jemarimu yang tak terangkum mesra oleh jari-jemari kekasih?”

Aku tak bisa bicara apapun juga.

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu peluk sewaktu-waktu kamu butuh, karena hanya pelukannya yang mampu menumbuhkan keberanianmu?”

Perlahan, hatiku mulai ngilu. Continue reading

bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” tanyamu di suatu malam, saat kamu bebas memeluk dan menciumku di atas sofa empuk, persis di depan televisi, di ruang tengah apartemenku.

Aku makin menyusupkan tubuhku di pelukanmu. Membuatnya semakin hangat dan seolah punya keinginan untuk meleburnya menjadi satu. Lalu menoleh, memandangmu, dan menjawab, “Kamu membeli tiket pulang. Aku mengambil cuti panjang. That’s how we get here.” Continue reading

Super Secret Boyfriend

Do you ever have a secret boyfriend?

Okay, sebaiknya saya bicara secara general saja. Do anyone of you have secret boyfriends/girlfriends? Kekasih yang sangat kamu cintai setengah mati tapi kamu nggak bisa mengungkapkannya ke seluruh penjuru dunia dengan alasan yang sangat spesifik? Bisa jadi karena:
…ow, he or she’s actually not my type. Far below my type… but I love her/him!
… um, dia beda status sosial. He/she’s not the kind of boyfriend/girlfriend that will steal my mother’s heart away..
… although I like her/him very much, tapi tetap saja… pekerjaannya yang cuman pegawai rendahan sepertinya nggak cocok dengan level director, pekerjaanku yang sekarang… *biasanya sih ini perempuan*
Dan mungkin… ini…
Dia itu pacar orang laen!
atau…
suami/istri orang laen!

Beberapa teman saya pernah memiliki pacar rahasianya. Dengan alasan yang sungguh spesifik.

Seorang teman berpacaran dengan seorang lelaki yang usianya jauuuuuhhh di bawa usianya. Beberapa kali saat saya ingin berkenalan dengan lelaki manis di usia awal dua puluh itu, dia bilang, “Gue malu, Jeung!” Ya. Karena he’s too young dan buat kawan saya, “Kayaknya gue belum bisa kenal-kenalin dia ke kalian deh…”

Lalu ada teman yang lain, yang berpacaran dengan perempuan yang tidak selevel dengan dirinya. Maksud saya, “Dia tuh cuman SPG biasa, La…” SO WHAT? “Lo kan tau karir gue kayak apa, La… kesannya gimanaaaa gitu kalau gue pacaran sama SPG…” Yeah, yeah. SO WHAT?

Dan seorang kawan lain yang berpacaran dengan suami orang. Hebatnya, ini sudah tahun yang kedua, kali. Pas saya nanya kenapa dia nggak meninggalkan kekasihnya yang notabene masih berstatus suami orang dan belum ada niatan untuk cerai dari istrinya, dia malah bilang, “You have no idea to be me, La. He’s gorgeous. And I love him so much!”

Banyak alasan yang kemudian membuat mereka memiliki pacar-pacar rahasia; yang mereka pacarin di saat-saat tertentu, yang mereka gandeng di momen-momen yang sangat spesial (baca=ketika tidak ada orang yang peduli dengan status), yang mereka temui..secretly.

It got me thinking, why do they even bother to have a relationship when they’re afraid that everyone will find out?
Kenapa juga harus susah-susah menjalin hubungan dengan seseorang, not just physically, but also emotionally, kalau kemudian hubungan itu harus disimpan rapat-rapat dan mungkin.. umm.. going nowhere?
Kenapa juga harus berpacaran kalau merasa malu?
Kenapa juga harus berpacaran kalau harus sembunyi-sembunyi?

Sampai akhirnya saya berhenti bertanya, because soon afterward, I realize and know the exact answer to those questions.

Why do they even bother to do that?
Because one thing for sure, a relationship is too personal.
Sangat, sangat personal.
Hanya melibatkan dua hati; lelaki dan perempuan. Lingkungan memang sangat berarti; keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, SEMUANYA adalah sangat berarti. Remember, kita adalah makhluk sosial yang at some point, we do NEED each other.
Tapi pada intinya, pada akhirnya, yang terpenting adalah dua hati itu sendiri. Environment maybe is important, tapi kalau dua hati itu sudah keukeuh sumerekeuh dan solid, saya rasa, hubungan itu bisa berjalan dengan baik.

Jadi, bodo amat apa yang dibilang oleh bisik-bisik tetangga. Yang penting, mereka bahagia…

Hah? Semudah itu? Sesederhana itu?

Ya. Sesederhana itu.
Memangnya sejak kapan cinta bisa dianalisa? Sejak kapan cinta bisa dilogika dengan baik dan benar? It’s a matter of what your heart says, jadi logika susah sekali untuk diajak kompromi, kan?

Jadi, kembali ke soal topik “SUPER SECRET BOYFRIEND/GIRLFRIEND”. Rasanya sah-sah saja kalau mereka mau get through all the troubles just to keep their relationship from being noticed by everyone else. Afterall, who am I to judge their choices? Saya cuman teman mereka yang tetap akan menajamkan telinga kelak kalau mereka ingin curhat, atau malah meminjamkan bahu saat mereka butuh shouldier to cry on…

Dan satu hal lagi… saya pun pernah punya Super Secret Boyfriend, yang tidak akan pernah saya bagi sama kamu, NOT EVER 🙂
Apapun alasan kenapa saya tidak ingin membaginya sama kamu semua,
tapi satu hal yang pasti…
I loved him so much. VERY MUCH.
Dan percayalah, until today, it was the best relationship I had so far in my life…

***

Depan televisi, Minggu, 23 Agustus 2009, 11.12 Malam



Di situ Ada Dion

Sudah lewat tengah malam. Mungkin pukul satu kurang beberapa menit. Persisnya sih nggak tahu. Yang jelas, sudah terasa terlalu lama Iyank membiarkan tubuhnya dimakan angin malam yang dingin.

Ah, mengapa semuanya terasa menyakitkan buat Iyank, terasa begitu melelahkan, sementara setiap hari Dion selalu menghabiskan waktunya di udara malam yang dingin cuma ditemani gitar dan rokok? Apa yang sebenarnya Dion cari di malam dingin dan panjangnya selama ini? Kebebasan? Kepuasan? Cuma itu? Ataukah ada keinginan-keinginan lain yang membuatnya bertahan dengan kebiasaan semacam itu?

Detik-detik berlalu kembali dan Iyank masih duduk di depan teras rumahnya yang terlindungi pohon yang rindang. Melindunginya dari hujan gerimis dan angin malam yang lembut dan dingin. Cuma sedikit. Karena dari duduknya, Iyank masih merasakan percikan air yang membasahi kulitnya.

Tapi semua itu tak membuat Iyank beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya yang hangat, meringkuk di dalam selimut, ditemani boneka-boneka kesayangannya… Yah, seperti malam-malam kemarin, saat Iyank masih belum sepenuhnya memahami Dion.

Memang, apa yang dilakukan malam ini adalah semata-mata untuk memahami Dion, memahami orang tercintanya yang selalu menghabiskan waktunya dengan rokok dan bergumul dengan udara malam. Dan Iyank tak tahu mengapa ia berusaha untuk memahami Dion. Padahal saat pacaran dengan Yoga, Iyank tak pernah mencoba untuk memahami hobi ngebutnya. Tapi entah kenapa, sejak bertemu dengan Dion, kemudian jatuh hati padanya, Iyank benar-benar ingin mencoba untuk memahami, untuk tahu, untuk ikut merasakan apa yang Dion rasakan.

Semenit kemudian, sebuah sms masuk. Dari Lini.

Belum tidur, Yank? Don’t spend too much time out side. Just go to bed and try to forget it. 
Iyank tersenyum. Kecil dan pahit. Dari semula Iyank bilang kalau ia mulai jatuh hati pada Dion, Lini tak pernah menyetujuinya. Lini tak pernah mengerti pada perasaan Iyank, pada kata hati sahabatnya itu. Bukannya Lini mencoba untuk mengerti, tapi ia tak pernah mau.

“Dia bukan seperti cowok-cowok yang pernah kau cintai, Yank…” kata Lini saat pertama kali Iyank berterus terang bahwa diam-diam dia menyimpan sebuah perasaan khusus dalam hatinya untuk Dion.

Dan Iyank tahu, memang inilah saatnya untuk mengakhiri mimpi-mimpinya untuk mencintai lelaki ganteng, pintar, dingin… Cowok-cowok di dalam hatinya yang telah mengecewakan Iyank terlalu pedih dan dalam. Iyank ingin mencoba mencintai lelaki yang hangat, perhatian… Ya, seperti seorang lelaki pada umumnya. Dan salahkah jika se-mua itu ada pada diri Dion? Apakah juga salah jika akhirnya Iyank memilih untuk menerima cinta Dion? Toh cinta tak bisa dipaksa harus jatuh di hati siapa?

Rupanya Lini tetap tak mau mengerti sekalipun Iyank berusaha meyakinkan Lini bahwa ia mencintai Dion dengan segala kekurangannya. Ia mencintai Dion karena Iyank tahu benar bahwa Dion memang tak seperti lelaki-lelaki yang kemarin. Dion berbeda. Dion sangat berbeda.

“Kamu cuma tahu Dion dari sisi luarnya aja, Yank…”
“Dan aku mencintai sisi itu, Lin…”
“Yang kamu lihat cuma dia itu baik, perhatian… Tapi bisakah kamu memahami bahwa dia selalu tak ada waktu untukmu, selalu keluar rumah tanpa alasan jelas, menghabiskan harinya dengan teman-teman bukannya denganmu, menghabiskan ber-puluh-puluh batang rokok…. Dan Yank, barangkali juga dia mencandu…”

Iyank tahu, itulah resikonya mencintai Dion. Dion yang jarang ada di rumah, Dion yang sulit dihubungi, Dion yang selalu menghabiskan harinya tanpa Iyank melainkan dengan teman-temannya yang lain… Ah, tapi memang itulah Dion yang sangat Iyank cintai!

Suara kucing yang bertengkar dari ujung jalan membuat lamunan panjang Iyank berhenti. Lagi-lagi Iyank tersadar kembali pada kesendiriannya. Bahkan tanpa terasa hujan sudah berhenti. Dan angin dingin itu berhembus makin pelan.

Tapi Iyank masih merasa dingin. Barangkali karena ia membiarkan tubuhnya cuma dibalut kaos berlengan sampai sikut dan celana pendek selutut. Sedikit demi sedikit Iyank merasakan pening dan mulai mengantuk.

Secangkir kopi pahit rupanya masih belum bisa membuat Iyank benar-benar terjaga. Belum berpengaruh untuk Iyank yang biasa tidur pukul sepuluh. Tapi itu tak meluruhkan niat Iyank untuk meminumnya sekali lagi. Membiarkan kerongkongannya dibasahi kopi pahit sekedar untuk membuatnya terjaga beberapa saat lagi.

Sedang apa ya Dion sekarang? Iyank mulai terusik dengan nama Dion. Ditaruhnya cangkir yang kosong itu di atas meja, sementara bayangan Dion masih menari-nari di atas langit. Iyank tak menemukan jawaban apapun. Tidak langit, atau bintang, atau bulan, atau apa saja yang bisa menjawab pertanyaannya. Semuanya membisu. Sedikit demi sedikit membuat hati Iyank terluka.

Sama terlukanya ketika Iyank tahu Dion memang benar-benar memakai narkoba. Lini yang menceritakan semua ini pada Iyank. Semua ini membuat Lini semakin serius memperingatkan Iyank untuk berhenti mencintai Dion dan menegaskan bahwa Dion bukan lelaki yang pantas dicintai oleh seorang Iyank.

Tapi Iyank tetap Iyank. Apapun kenyataannya, bagaimanapun sakitnya kenyataan itu, tak akan mudah menggoyahkan kata hatinya, nuraninya. Cintanya memang cuma untuk Dion, sekalipun Lini mengatakan bahwa Dion tak pantas untuk dicintai gadis setulus dan sebaik Iyank.

Segala cerita tentang Dion cuma megalir, tak pernah sepenuhnya menyumbat pikiran-pikiran Iyank, tak pernah menyurutkan niat Iyank untuk mencintai Dion sepenuh hati. Itukah sisi buruk yang Lini ceritakan? Ah, ternyata Iyank toh berhasil juga mencintai sisi diri Dion yang lain.

Tiba-tiba hujan turun lagi. Kali ini deras. Tapi Iyank bukannya masuk ke dalam atau minimal mendorong kursinya sedikit mendekati dinding, ia malah membiarkan dirinya basah. Mungkin inilah yang dirasakan Dion. Dingin, menggigil…

Iyank bertahan sekalipun bibirnya memucat. Warna bibirnya mulai membiru. Rambut pendeknya basah kuyup. Tapi Iyank tak mengubah posisinya. Ia tetap duduk dengan kaki dilipat oleh kedua tangannya, dengan kepala tegak ke muka… Iyank tetap bertahan, tetap tegar… sama tegarnya saat ia mendengar berita itu.

“Yank, Dion over dossis. Dia meninggal.”

Iyank tak bisa berkata apa-apa. Saat itu ia hanya terdiam. Dia tak sempat menangis karena Iyank memang tak ingin menangis. Ia hanya merasa bingung ketika Lini memeluknya erat-erat lalu menangis di bahunya. Iyank tak sempat menelaah kata-kata Lini. Cuma satu kata yang membuat Iyank sadar. Meninggal. Berarti Dion sudah nggak ada. Berarti Dion sudah nggak bisa lagi memeluknya, mengelus rambutnya, menggodanya, menciumnya…

Dan memang, Dion sudah pergi sejak pukul setengah sepuluh malam tadi. Dion sudah pergi meninggalkan Iyank yang betul-betul mencintainya. Tak sempat ada air mata karena Iyank merasa selama ini Dion tak sepenuhnya ada buat dia. Dion jarang meluangkan waktu bersamanya. Dion bukan cuma milik Iyank, tapi malam-malam panjang dan dingin inilah yang menjadi pemilik Dion seutuhnya.

Jika Iyank bertanya apa yang sedang dilakukan Dion sekarang, tak akan ada lagi yang bisa menjawabnya. Karena Dion sudah tak ada lagi di sini. Karena bintang, bulan, atau angin tak bisa lagi melihat dan merasakan Dion.

Hujan masih turun dengan derasnya. Dan tubuhnya yang basah sama sekali tak membuat Iyank bergeming. Ia tetap bertahan sekalipun badannya mulai terasa sakit.

Malam ini, Iyank ingin duduk dalam suasana malam. Menikmati malam yang dingin, hembusan angin, juga derasnya air hujan yang pernah dirasakan oleh Dion. Iyank ingin malam ini menghabiskan malamnya di luar, seperti yang biasa dilakukan oleh Dion. Karena Iyank tahu, di situ ada Dion…

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=UtadaHikaru&title=FirstLove.mp3&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1169_100029.mp3&song_info=215+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

**
Surabaya, February 26th 1999

Are You Tired, Hm?

Women come and go in his life. Membuat bising hidupnya. Telepon yang berbunyi seolah irama yang konstan, membuat pusing kepalanya. He’s just trying to be nice and I know that for sure; karena saya melihat sendiri betapa lelahnya kedua matanya yang memohon agar semua dering telepon dan SMS itu berhenti.

Sampai suatu kali dia berbisik, “C’mon…” dan berlalu menjauh hanya untuk menerima telepon demi telepon yang berdering setiap beberapa menit sekali! Ugh!

I’m in love with a guy like him. Infact, I am one of the regular caller babes in his cellphone.
Tapi melihatnya seperti itu, melihat kedua biji matanya yang tak lagi bening tapi  penuh dengan kelelahan, melihatnya harus bermanis-manis padahal sebelumnya ia mengeluh, saya tahu, dia bukan seorang lelaki yang bahagia.

Dia lelah!
Dia sangat lelah!

Setiap pahlawan butuh untuk istirahat juga. Setiap aktor butuh jeda juga. Setiap atlit sepak bola butuh waktu untuk turun minum.
Tapi dia tidak pernah berhenti.
Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu.

Berjalan seperti clock-wise.
Dan saya tahu, I think he had enough of it.

Kapan-kapan saya akan bertanya lagi kepadanya; setelah saya yakin bahwa dia tidak mengeluh lelah sesaat sebelum mengangkat telepon dari saya.
Saat saya yakin, baru saya akan bertanya: “Are you tired, hm?”

Dan saya tidak akan tawarkan apa-apa kecuali satu kalimat ini: “Istirahat, ya…”
Sambil berharap, mereka, perempuan-perempuan itu… mau mengerti.

What if Prince Charming Had Never Showed Up?

I’ll write something more about this,

tapi saya mo culik quote manis ini, sekarang…
What if Prince Charming had never showed up? 

Would Snow White have slept in that glass coffin forever?
Or would she have eventually woken up, spit out the apple, gotten a job, a health-care package, and a baby from her local neighbourhood sperm bank?
I couldn’t help but wonder:
inside every confident, driven single woman, is there a deliver, fragile princess just waiting to be saved?


Hmm… keren nggak sih????
Dalem nggak sih???
Ah, ntar saya cerita lebih dalem lagi ah… biar seru… eheheheh

let’s keep it simple!

re-post from my old writings


Kenapa kita jatuh cinta dengan seseorang dan kenapa orang lain mencintai kita, menganggap kita adalah pilihannya yang terbaik? Pernahkah terpikir bahwa ada kemungkinan dia atau kita jatuh cinta karena alasan-alasan sederhana yang dia atau kita lakukan? Alasan-alasan sederhana yang akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri saat mendengarnya.. atau membuatnya tersenyum saat kita mengatakannya?

Seperti yang diucapkan oleh Harry Burns pada Sally Albright, di dalam film fenomenal, When Harry Met Sally, berikut ini:

I love that you get cold when it’s 71 degrees out. I love that it takes you an hour and a half to order a sandwich. I love that you get a little crinkle above your nose when you’re looking at me like I’m nuts. I love that after I spend the day with you, I can still smell your perfume on my clothes. And I love that you are the last person I want to talk to before I go to sleep at night. And it’s not because I’m lonely, and it’s not because it’s New Year’s Eve. I came here tonight because when you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible.

Dan ketika kita memilih untuk menjalani sepanjang sisa hidup bersama seseorang, sebenarnya kita hanya membutuhkan sebuah janji yang sederhana, untuk hal-hal yang sederhana saja. Tak perlu janji-janji muluk, tapi janji sederhana seperti yang dibilang Adam Sandler di filmnya, The Wedding Singer, berikut:

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Adam%20sandler&title=Grow%20old%20with%20you&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1595_15002204.mp3&song_info=4+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

I wanna make you smile WHEN YOU GET SAD
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you.
I’ll get you medicine when your tummy aches
build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growin old with you.
I’ll miss you, kiss you, give you my coat when you are cold.
Need you, feed you, I’ll even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in OUR kitchen sink
Put you to bed when you’ve had too much to drink.
Oh I could be the man THAT GROWS OLD old with you.
I wanna grow old with you.

Sebenarnya cinta adalah hal yang sederhana. Karena penikmat-penikmatnyalah, cinta terasa complicated and terrifying.

So, let’s keep it simplebecause I think, it’s more beautiful that way… :D

Roy & Luna

“Kenapa, sih, kamu musti pergi?” Sahabatnya bertanya.
Dia hanya tersenyum. “Semuanya bukan ‘musti’ pergi, tapi ‘pasti’ pergi,” jawabnya lalu berjalan menuju lemari pendingin. Mengambil satu botol air minum dan meminum isinya, langsung dari bibir botol.
“Dan kamu tenang-tenang saja?” Si Sahabat seperti seorang perempuan yang sedang gelisah karena mens-nya tak kunjung datang. “Kok bisa, sih? Gimana bisa?”
“Karena gue tahu kalau gue bakal pergii.”
“Dan tahu kalau kamu bakal pisah sama aku, kamu nggak pernah sedih?”
Dia menggeleng.
“Not at all????” Sahabatnya menjerit.
“Nope….”
“Kamu memang bukan manusia, Roy!”

Sahabatnya berlari keluar dari kamarnya. Sambil menutupi wajahnya yang merah menahan amarah yang amat sangat.
Dia bergeming di atas karpet ruang tidurnya. Masih memegang rokok yang sudah separuh habis. Masih menghela nafas berulangkali. Masih mengatakan hal yang sama, seperti sebuah alat perekam yang memutar ulang rekamannya.

“Dan kamu bidadari, Luna… Dan kamu bidadari…”

***

Why is it so hard to say, “I love you”?
Why is it so hard to say, “I’m going to miss you”?
Why is it so hard to say, “I won’t be long, wait for me, please…”?
Why is it so hard to say, “I know it’s gonna be you, from the beginning”?

Kalau dari awal Roy tahu, bahwa hanya sosok Luna yang terbayang ketika hari ini ia memutuskan pergi, meninggalkan kepingan-kepingan kenangan yang pernah dirangkainya menjadi satu lukisan indah, namun tak pernah lengkap, dan kemudian mencari kepingan yang lain, entah di mana.

Kalau dari awal Roy tahu, bahwa hanya Luna yang bisa melengkapinya ketika dia merasa hampa dan kosong, meskipun keramaian telah mengurungnya rapat-rapat dan hingar bingar musik kencang seolah mengejek kesendiriannya. Luna selalu ada buatnya, hadir begitu ajaib dalam satu tekanan tombol di ponselnya, lalu sahabatnya itu mengurai kekusutan hatinya.

Dari awal Roy tahu ia tak bisa meninggalkan Luna.
Dan dari awal Roy pun tahu ia tak bisa tinggal untuk Luna.

Meskipun kemudian ia mengetahui…
Luna adalah perempuan yang membuatnya tidak seperti lelaki yang sempurna.

She made him…
powerless.
And he hates that.

***


“Jadi aku salah karena selalu datang malam-malam setiap saat dia merasa kesepian?”

“Nggak, Lun…”
“Jadi aku salah kalau aku memilih untuk menemani dia sampai panasnya turun, karena aku khawatir?”
“Nggak, Lun…”
“Lantas? Lantas?”
“Dia lelaki, Lun…”
“Aku tahu…”
“Tapi kamu tahu, kalau terkadang, lelaki tidak ingin nampak lemah di mata seseorang yang dia cintai?”
“Maksudmu?”
“Tidak semua lelaki bisa dengan mudah mengakui kelemahannya di depan orang yang dia kagumi… Dan Roy adalah salah satunya…”
“…”
“He left, because he loved you.”
“Berarti dia bodoh…”
“Bodoh?”
“Iya… Dia bodoh… “
“…”
“…karena nggak pernah tahu… kalau semua yang kulakukan itu… karena aku menyukai perasaan dibutuhkan olehnya…”

***

Dan cerita ini,
memang tak pernah bisa bergulir kemana-mana.
Seperti seorang Roy yang tahu sejak awal, lalu memutuskan untuk pergi saja, dari sisi seorang Bidadari, yang setahunya tak pernah kembali menjenguk kamarnya bahkan ketika ia pergi mencangklong ransel dan mencari kepingan yang terserak entah di mana atau apakah memang ada…

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=Tangga&title=TerbaikUntukmu&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1886_15000136.mp3&song_info=38+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Catatan Harian

July 2022
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono