archives

Cerpen

This tag is associated with 20 posts

Be my Duet Partner!

Haaii…

Akhirnya setelah seharian ribet ngurusin kerjaan, sekarang saya berhasil duduk manis di depan komputer, demi untuk meng-update blog saya, dan juga sekaligus mengakhiri kegalauan kalian.

Hahay! Emang ada apaan, sih, sampai galau segala? Continue reading

bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” tanyamu di suatu malam, saat kamu bebas memeluk dan menciumku di atas sofa empuk, persis di depan televisi, di ruang tengah apartemenku.

Aku makin menyusupkan tubuhku di pelukanmu. Membuatnya semakin hangat dan seolah punya keinginan untuk meleburnya menjadi satu. Lalu menoleh, memandangmu, dan menjawab, “Kamu membeli tiket pulang. Aku mengambil cuti panjang. That’s how we get here.” Continue reading

Andre Winata

Andre,

Siang ini aku sedang berada di cafe depan hotel La Pergola, Roma, dengan senja yang membingkai lansekap kota. Di tempat itulah dulu aku mulai menebak-nebak seperti apa wajahmu. Memang, sebentuk wajahmu telah terekam kuat di dalam benakku jauh sebelum aku terbang ke Roma. Menghabiskan berjam-jam di angkasa untuk sampai di sebuah kota paling cantik setelah London. Kita memang harus bertemu, Ndre. Kamu yang akan menjadi pemanduku, saat itu. Continue reading

Di Atas Ranjang Rumah Sakit

Sepasang manusia. Lelaki dan perempuan. Usia mereka tidak lagi muda. Yang seorang, duduk di tepi ranjang. Yang seorang lagi, terbaring di atas ranjang.

Ranjang rumah sakit. Yang dingin, dan membuat tubuh kurusnya berteriak ingin sembunyi dalam pelukan selimut tebal yang dibawakan oleh Istrinya, perempuan yang duduk di tepi ranjangnya itu, yang kemudian menggenggam jari-jemari Suaminya, mengusapnya lembut seperti berusaha mengalirkan kehangatan yang tak kasat mata. Continue reading

Rindu 7 Purnama

Pernahkah kau merindukan seseorang, sampai-sampai seluruh sel dalam tubuhmu menjerit sakit karena menginginkan ia ada?

Saking merindunya, sampai sekujur tubuhmu ngilu dan hanya kehadiran seseorang itu yang mampu menjadi penawarnya?

Rindu yang sampai menerbitkan air mata, rindu yang membuatmu berhalusinasi akan wajah dan suaranya di setiap pejaman matamu?

Sedang kurasakan rindu itu. Rindu yang membelenggu. Rindu yang tak habis digigit geligi waktu. Rindu, pada lelaki itu. Continue reading

Perpisahan

Ada suatu malam, ketika lengan merapat dan desah nafas mereka saling bersahutan, seorang Perempuan bertanya kepada Lelaki yang tengah merangkulnya erat, seolah melindungi tubuh Kekasihnya dari tiupan angin dingin dan menjaganya tetap hangat.

“Kamu takut berpisah denganku?” tanyanya dengan nada melankolis. Perempuan yang satu itu memang sangat sensitif, serta butiran kata-kata yang meluncur dari bibirnya selalu romantis.

“Kamu mau kemana?” si Lelaki balik bertanya sambil terus merangkul hangat.

“Misalnya saja, kita harus berpisah,” si Perempuan melanjutkan kalimatnya. “Kamu takut kita berpisah?”

“Sayang,” kata si Lelaki. “Memangnya kamu mau kemana?”

Perempuan itu menghela nafas. “Aku tidak bicara soal jarak dan waktu.”

“Lantas?”

“Aku bicara soal kamu. Aku bicara soal aku. Aku bicara soal kita selesai. Kamu, aku, selesai.”

“Putus?”

“Berpisah.”

“Aku tidak takut,” ujar Lelaki itu dengan tegas, sambil terus merangkul gadisnya dalam satu rangkulan hangat.

Perempuan menoleh, memandang wajah Kekasihnya. “Karena kita nggak mungkin berpisah?”

Si Lelaki menggeleng.

“Lantas?”

Si Lelaki memandangnya. “Karena aku tahu, ketika jarak masih bisa ditempuh dan waktu masih mau bergulir untuk kita berdua, Tuhan akan mencari cara untuk kita berdua agar bisa saling menemukan lagi, di suatu kepingan masa yang akan datang…”

“Yakin, Tuhan akan mencari cara untuk kita?”

“Tuhan tahu aku mencintaimu. Tuhan tahu, separuh jiwa ini sudah bukan lagi milikku, tapi milikmu. Tuhan tahu, cintaku buat kamu adalah kreasi terindahNya untukku, sehingga Dia akan mengajariku cara-cara untuk menemukanmu lagi, di belantara kehidupan yang entah kapan itu…”

“Jadi kalau kita berpisah, kamu bakal tenang dan tak sedih?”

Si Lelaki makin erat merangkul Perempuannya sambil menghadiahi kecupan sayang di ubun-ubun Kekasihnya. “Selagi bukan kematian yang memisahkan aku denganmu, Sayang, aku tidak akan sedih.”

“Kenapa?”

“Karena hanya kematianlah yang kuanggap sebagai perpisahan yang abadi. Ketika jeda dan jarak tak lagi mampu dijembatani dengan apapun, sudah tak mampu ditempuh dengan apapun, sekuat apapun kita menghabiskan energi untuk saling bertemu kembali…”

“…”

“Saat itu, aku berjanji akan sangat bersedih karena berpisah denganmu.”

Dan malam itu semakin melarut, sementara pelukan itu semakin merapat. Desah nafas mereka masih bersahutan. Dan untuk pertamakalinya, si Perempuan menikmati hembusan nafas yang keluar dari hidung Kekasihnya, suara nafas yang samar terdengar di telinganya, serta gerakan naik turun dadanya.

Karena itu artinya, mereka belum lagi berpisah…

**
Kamar, 30 Juni 2010, 11.34 Malam
Kepada ‘dia’
Terinspirasi dari kisah cinta Habibie-Ainun

Perpisahan

Ada suatu malam, ketika lengan merapat dan desah nafas mereka saling bersahutan, seorang Perempuan bertanya kepada Lelaki yang tengah merangkulnya erat, seolah melindungi tubuh Kekasihnya dari tiupan angin dingin dan menjaganya tetap hangat.

“Kamu takut berpisah denganku?” tanyanya dengan nada melankolis. Perempuan yang satu itu memang sangat sensitif, serta butiran kata-kata yang meluncur dari bibirnya selalu romantis.

“Kamu mau kemana?” si Lelaki balik bertanya sambil terus merangkul hangat.

“Misalnya saja, kita harus berpisah,” si Perempuan melanjutkan kalimatnya. “Kamu takut kita berpisah?”

“Sayang,” kata si Lelaki. “Memangnya kamu mau kemana?”

Perempuan itu menghela nafas. “Aku tidak bicara soal jarak dan waktu.”

“Lantas?”

“Aku bicara soal kamu. Aku bicara soal aku. Aku bicara soal kita selesai. Kamu, aku, selesai.”

“Putus?”

“Berpisah.”

“Aku tidak takut,” ujar Lelaki itu dengan tegas, sambil terus merangkul gadisnya dalam satu rangkulan hangat.

Perempuan menoleh, memandang wajah Kekasihnya. “Karena kita nggak mungkin berpisah?”

Si Lelaki menggeleng.

“Lantas?”

Si Lelaki memandangnya. “Karena aku tahu, ketika jarak masih bisa ditempuh dan waktu masih mau bergulir untuk kita berdua, Tuhan akan mencari cara untuk kita berdua agar bisa saling menemukan lagi, di suatu kepingan masa yang akan datang…”

“Yakin, Tuhan akan mencari cara untuk kita?”

“Tuhan tahu aku mencintaimu. Tuhan tahu, separuh jiwa ini sudah bukan lagi milikku, tapi milikmu. Tuhan tahu, cintaku buat kamu adalah kreasi terindahNya untukku, sehingga Dia akan mengajariku cara-cara untuk menemukanmu lagi, di belantara kehidupan yang entah kapan itu…”

“Jadi kalau kita berpisah, kamu bakal tenang dan tak sedih?”

Si Lelaki makin erat merangkul Perempuannya sambil menghadiahi kecupan sayang di ubun-ubun Kekasihnya. “Selagi bukan kematian yang memisahkan aku denganmu, Sayang, aku tidak akan sedih.”

“Kenapa?”

“Karena hanya kematianlah yang kuanggap sebagai perpisahan yang abadi. Ketika jeda dan jarak tak lagi mampu dijembatani dengan apapun, sudah tak mampu ditempuh dengan apapun, sekuat apapun kita menghabiskan energi untuk saling bertemu kembali…”

“…”

“Saat itu, aku berjanji akan sangat bersedih karena berpisah denganmu.”

Dan malam itu semakin melarut, sementara pelukan itu semakin merapat. Desah nafas mereka masih bersahutan. Dan untuk pertamakalinya, si Perempuan menikmati hembusan nafas yang keluar dari hidung Kekasihnya, suara nafas yang samar terdengar di telinganya, serta gerakan naik turun dadanya.

Karena itu artinya, mereka belum lagi berpisah…

**
Kamar, 30 Juni 2010, 11.34 Malam
Kepada ‘dia’
Terinspirasi dari kisah cinta Habibie-Ainun

Menulis Fiksi

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan menjadi seseorang yang suka menulis?

Hm, kalau menurutku, yang paling menyenangkan menjadi seorang yang suka menulis sepertiku adalah karena aku bebas membentangkan imajinasiku seluas-luasnya, bercerita tentang apapun tanpa batas yang pasti, dan menjadi siapapun yang aku mau.

Aku bisa menjadi seorang perempuan atau lelaki. Anak-anak kecil, perempuan pekerja, atau lelaki jompo. Pebisnis sampai pengangguran. Perempuan biasa sampai manusia yang memiliki indera keenam. Tinggal di sebuah desa atau di negeri moderen bikinanku sendiri. Continue reading

Hantu di Dalam Ruangan

Ruangan itu berhantu.

Aku mendengarnya dari mulut sahabatku saat kami bercengkerama di sebuah coffee shop sambil menyesap kopi dan mengunyah kentang goreng ala Perancis. Malam itu, Surabaya sedang basah. Hujan tumpah dari langit seolah seluruh isi sungai Brantas dituangkan perlahan-lahan; banyak, tiada berhenti. Coffee shop itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang menyenangkan daripada harus terburu-buru pulang ke rumah saat banjir belum lagi surut dan macet di mana-mana. Continue reading

Little Miss Ego

Cerita-Cerita Sebelumnya:
1.
Lelaki Bernama Dewa
2.
Care to Try?
3.
Sebuah Skenario
4.
Philophobia
5.
Single and Happy 

Majalah Beauty itu masih tergeletak di meja kantorku. Sampulnya sudah lecek, juga halaman-halaman di dalamnya. Sudah beberapa hari ini aku melakukan self torturing, yaitu mencari-cari halaman yang dimaksud. Halaman yang memuat foto-foto mesra Sasya dengan Dewa di berbagai pesta-pesta sosialita Ibukota.

Rasa sakit setiap melihat foto-foto itu seperti candu buatku, karena aku melihatnya lagi dan lagi. Aku seperti menabur garam di atas luka yang masih basah. Ya, kegiatan tolol yang entah kenapa tak bisa berhenti aku lakukan. Apa yang ingin kulihat coba? Foto itu tidak akan pernah berubah. Dewa tetap di situ. Dewa tetap ada di sisi Sasya. Dan satu hal yang pasti, senyum Dewa tidak akan pernah berubah. Dia tidak akan menjadi cemberut setelah kulihat belasan kali. Dia akan selalu tersenyum, dia akan selalu terlihat sangat bahagia.

Sampai kapanpun juga. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono