archives

Fiksi

This tag is associated with 26 posts

The Blast from the Past

When love is lost, it’s not the letting go of your loved one that will hurt the most.
It’s the holding on to them that will be killing you…

~ Unknown

 

“Billy pulang kampung, lho, Bel.”

“…”

This time is for good.

“…”

“Sejak ayahnya meninggal, dia tau, dia harus pulang. Ibunya sendirian di sini, dia kasian.”

“…”

“Aku dikasih tau sama Dicky tadi pagi pas aku nyiapin sarapan. Kaget dengernya. Billy yang nggak pernah pulang dan milih untuk kabur ke luar negeri itu akhirnya pulang. Surprise banget!”

“…”

“Dicky bilang, semalem mereka ketemuan sama beberapa temen yang lain. Ada Iwan, Januar, Ratih, Siska.. reuni kecil-kecilan gitu, deh, Bel. Sampe malem, kayaknya. Soalnya pas jam sepuluh gue pamit mau tidur duluan, Dicky bilang dia masih sama Billy.”

“…”

“Billy sekarang berubah banget, Bel. Lebih tenang. Nggak kayak dulu yang grusa grusu banget jadi orang. Gemukan, katanya. Tapi tetep kayak dulu. Masih kayak bule.”

“…”

“Dia udah pindah ke Surabaya sejak semingguan yang lalu, tapi baru kemarin ngumpul sama temen-temen. Katanya masih ngurus pindahan. Dia beli rumah di daerah Citraland sana. Ngajak ibunya tinggal bareng sama dia.”

“…”

“Dia masih belum nikah, lho, Bel. Can you believe that?”

“….”

“Dicky sama aku  mikirnya bisa sama, lho, Bel. Kirain Billy bakal kawin sama cewek bule gitu gara-gara kelamaan di Aussie. Eh, taunya masih jomblo sampai hari ini. Tau deh, kenapa.”

“…”

“Pas Dicky nanya, Billy cuman ketawa aja. Dia nggak tertarik cewek bule. Dia sukanya cewek-cewek Asia gitu.. Kayak, um… kamu.”

“…”

“Kayaknya dia belum bisa ngelupain kamu, Bel. Dia nanya kabarmu ke Dicky. Nanya apa kamu udah nikah, kamu tinggal dimana, kerja dimana.”

“…”

He’s longing to meet you again, katanya. Dan pisah dari kamu waktu itu adalah kesalahan yang paling dia sesali.”

“…”

“Dia nyesel karena udah bikin kamu marah. Dia nyesel karena maksa pergi. Dia nyesel karena nggak pulang untuk maksa kamu ikut. He’s living his regret, Bel. Dia masih cinta banget sama kamu…”

“…”

“Dicky sampai sedih dengernya. Dia nggak sampai hati untuk bilang sama Billy kalau kamu…”

“…that I’m getting married in two days?”

“…”

“Kalau dalam dua hari ke depan aku bakal jadi istri orang dan penyesalannya sudah nggak ada artinya lagi?”

“…”

“Kalau secinta apapun dia sama aku, nggak akan memberikan pengaruh apa-apa?”

“Bel… Dicky nggak bilang apa-apa. Dicky nggak sampai hati.”

Well, bilang Dicky, dia nggak perlu bilang apa-apa…”

“…”

“Karena Billy sudah tau, sejak seminggu lalu.”

Saya ingat wajah Billy. Bercahaya, ketika bertemu dengan saya, seminggu yang lalu. Saya ingat kalimat-kalimat penuh cintanya di surat elektronik yang datang rutin sebulan belakangan ini. Di telinga saya masih mendengungkan rayuan penuh cinta, kerinduannya, rasa penyesalannya karena telah meninggalkan saya demi mimpi-mimpinya saat itu. Di dada saya, masih mendenyutkan kenangan-kenangan kami berdua selama bertahun-tahun pacaran yang tidak akan pernah terlupa sekalipun saya amnesia.

He was the love of my life. Perebut semua logika, pembunuh semua rasa, pemantik rasa sakit yang tak berkesudahan sampai akhirnya Radja, calon suami saya, merangkul saya dengan cinta yang tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Yes, Billy was the love of my life.

But now, he’s just a blast from the past.

Just like the kisses we shared, a week ago…

Will stay in the past.

 

**

Surabaya, Mar 15, 2014

Kekasih yang Jauh

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu kecup bibirnya setiap kali kamu mau?”

Aku diam saja.

“Apa artinya kekasih yang tak melihat warna lipstick terbarumu dan mengomentari flat shoes warna kesukaannya saat pertama kali kamu memakainya?”

Masih, aku diam.

“Apa artinya kemana-mana sendiri, dengan jari-jemarimu yang tak terangkum mesra oleh jari-jemari kekasih?”

Aku tak bisa bicara apapun juga.

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu peluk sewaktu-waktu kamu butuh, karena hanya pelukannya yang mampu menumbuhkan keberanianmu?”

Perlahan, hatiku mulai ngilu. Continue reading

Pulang

Taksi, di pagi buta.
Ponsel saya berdering, taksi sudah menunggu di lantai bawah. Siap membawa saya pergi.

Seonggok tas ransel sudah siap di pintu depan; ransel yang sudah terisi penuh oleh pakaian, laptop, dan tumpukan kenangan yang baru saja kita ciptakan dua minggu penuh, sebelum pagi ini. Siap saya bawa pergi lagi, siap saya bawa terbang lagi, menuju kota yang sebenarnya tak ingin saya tinggali. Saya hanya ingin tinggal di kota ini, bersamamu. Tahu? Continue reading

bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” tanyamu di suatu malam, saat kamu bebas memeluk dan menciumku di atas sofa empuk, persis di depan televisi, di ruang tengah apartemenku.

Aku makin menyusupkan tubuhku di pelukanmu. Membuatnya semakin hangat dan seolah punya keinginan untuk meleburnya menjadi satu. Lalu menoleh, memandangmu, dan menjawab, “Kamu membeli tiket pulang. Aku mengambil cuti panjang. That’s how we get here.” Continue reading

32 Hours

Hour 32.

You’re home now. In my arms. Senyummu masih terbingkai indah di wajahmu yang putih bersih. Rindu telah menemukan muaranya. Di wajahmu, di tubuhmu, di dalam dirimu.

Hour 31.

Satu jam lagi, Sayang. Satu jam lagi aku bisa menyentuhmu kembali. Menuntaskan semua rindu itu.

Hour 30.

Langit pekat. Di batas langit sana, sebuah pesawat membawamu pulang. Ke pelukku. Akhirnya.

Hour 29.

Akhirnya tiba di airport. Kita akan bertemu.

Hour 28.

It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now. Lady Antebellum mengalun di dalam mobilku. Lagu kesukaanmu.

Hour 27.

Dunia bersatupadu telah mengatur pertemuan semua manusia. Kupikir, kemacetan lalu lintas yang menggila ini sebetulnya juga konspirasinya.

Hour 26.

Memacu pedal gas mobil yang seperti tak ingin melaju. Ah, harusnya dia tahu kalau aku ingin segera bertemu denganmu..

Hour 25.

I didn’t expect life to be kind. I just expected life not to be cruel to me.

Hour 24.

I should have been chasing you. I should have been trying to prove that you were all that mattered to me…

Hour 23.

Pukul 2 siang, di depan meja kerjaku, sebuah ikon YM berkedip. Pesan dari sahabatku. Dia bertanya, “What are you doing? Pulang.”

Hour 22.

Rinduku memekat di dalam darah, sepertinya. Aku, sesak nafas.

Hour 21.

Bisakah rindu itu usai meski kamu sebentar lagi ada di pelukku?

Hour 20.

Kamu menempati setiap jengkal otakku. Kamu memenuhi semua ruang yang ada di hatiku. Aku, merindu.

Hour 19.

Aku memikirkanmu di setiap hela nafasku.

Hour 18.

Aku ingin memelukmu. Rapat-rapat. Membisikkan kalau aku mencintaimu, tepat di telingamu.

Hour 17.

Hari ini, kabarnya suhu udara di sana mencapai 12 derajat celcius. Apakah kamu tidak kedinginan di sana?

Hour 16.

Surabaya. Taiwan. Kita menempuh ribuan kilometer dan kedalaman laut, beberapa jam penerbangan udara, dan musim yang berbeda. Demi kamu, demi cinta.

Hour 15.

“Kenapa harus sedih? Toh kita akan bertemu juga…” Kamu mengucapkannya seminggu yang lalu, di pintu bandara. Aku, melepasmu di sana.

Hour 14.

Ingat pada aroma parfummu. Yang melambai terbawa angin saat kamu berdekatan denganku. Ah!

Hour 13.

Aku tercabik rindu. Menggebu.

Hour 12.

Membaca ulang semua pesan-pesanmu di ponselku. Merasa seperti masokis sejati, melukai diri sendiri.

Hour 11.

Sudah habis bercangkir-cangkir kopi, tapi kafein tetap tak bisa mengalahkan kecanduanku padamu.

Hour 10.

Seperti slide show presentation, ada kamu, senyummu, dan semua hal-hal kecil yang ada di wajah bulatmu. Aku, peserta meeting yang tak ingin rapat segera usai.

Hour 9.

Mendadak rindu pada pipi gembilmu. Ingin mencubitnya pelan lalu menghujaninya dengan kecupan.

Hour 8.

Bibir tipis merah muda. Tempat dua bongkah bibirku menyisipkan cinta.

Hour 7.

Sepasang mata indahmu. Di sepasang mata itu aku telah jatuh cinta.

Hour 6.

Mendadak hati diserbu kupu-kupu, setiap mengingat kenangan akan cinta yang muncul tiba-tiba.

Hour 5.

Kenapa bahagia harus memiliki masa kadaluarsa?

Hour 4.

Aku, tanpamu, adalah rumah tanpa pintu dan jendela. Gelap. Hampa.

Hour 3.

Aku tidak ingin kita menjadi sejarah. Meski tak mungkin lagi menjadi satu masa depan yang sempurna.

Hour 2.

Harusnya aku di situ, bersamamu. Memegang tanganmu.

Hour 1.

She couldn’t make it. She’s gone now. She won’t be here.. She never will be here again…

Hour 0.

Sebuah pesan pendek, “Operasi Bianca nggak sukses, Ngga. I’m deeply sorry. Kami akan pulang ke Surabaya, segera.” Dari Yunita, adik perempuan Bianca, calon istriku.

**

Andre Winata

Andre,

Siang ini aku sedang berada di cafe depan hotel La Pergola, Roma, dengan senja yang membingkai lansekap kota. Di tempat itulah dulu aku mulai menebak-nebak seperti apa wajahmu. Memang, sebentuk wajahmu telah terekam kuat di dalam benakku jauh sebelum aku terbang ke Roma. Menghabiskan berjam-jam di angkasa untuk sampai di sebuah kota paling cantik setelah London. Kita memang harus bertemu, Ndre. Kamu yang akan menjadi pemanduku, saat itu. Continue reading

Bukan Perempuan Kedua

Aku bukan perempuan kedua.

 Aku hanya perempuan yang hadir terlambat dalam hari-harinya, hadir terlambat dalam kehidupannya, hadir terlambat beberapa tahun saja dalam waktunya, dibandingkan seorang perempuan yang kini sedang ada di sisinya, merajut mimpi-mimpi masa depan mereka yang dibilang oleh lelakiku, “Sedang menghabis dan aku tak tahu akan bergulir kemana.”

Aku bukan perempuan kedua. Continue reading

Rindu 7 Purnama

Pernahkah kau merindukan seseorang, sampai-sampai seluruh sel dalam tubuhmu menjerit sakit karena menginginkan ia ada?

Saking merindunya, sampai sekujur tubuhmu ngilu dan hanya kehadiran seseorang itu yang mampu menjadi penawarnya?

Rindu yang sampai menerbitkan air mata, rindu yang membuatmu berhalusinasi akan wajah dan suaranya di setiap pejaman matamu?

Sedang kurasakan rindu itu. Rindu yang membelenggu. Rindu yang tak habis digigit geligi waktu. Rindu, pada lelaki itu. Continue reading

Menjadi Kelana

Susah memang, menjadi perempuan yang narsis semacam saya. Perempuan yang sangat ekspresif dalam memuntahkan isi pikirannya di dalam tulisan-tulisan yang terkadang terlalu personal untuk dibagi ke semua orang, ke dalam sebuah blog yang mudah diakses dalam satu klik mouse komputer.

Salah seorang blogger, namanya NH18, pernah menyebut kalau gaya tulisan saya adalah LUGAS. Bahkan, beliau juga pernah bilang kalau saya tuh meledak-ledak bagai dynamite. Okay, mungkin maksudnya adalah saya tuh perempuan yang bawel dan cerewet. Ya, ya, ya. Point taken, Om. Saya ngerti 🙂 Continue reading

Womanizer

Hari masih belum terlalu larut ketika aku sampai di pelataran parkir sebuah mal.  Alih-alih segera keluar dari dalam mobil Jazz hitam yang sudah lama nggak tersentuh sabun itu, aku malah mengaduk-aduk tasku, mencari sebiji henpon yang biar kata segede gaban itu, tetep aja suka nyelip-nyelip nggak jelas di belantara isi tas.

Semua perempuan pasti punya masalah yang sama seperti aku. Beli tas yang super besar, dengan alasan bisa muat banyak barang, tapi sering memaki-maki sendiri ketika mencari-cari sesuatu di dalam sana. Entah itu kunci mobil, sisir, henpon, lipstick, dompet, atau apalah. Continue reading

Catatan Harian

December 2021
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono