you're reading...
Fiktif

Bukan Perempuan Kedua

Aku bukan perempuan kedua.

 Aku hanya perempuan yang hadir terlambat dalam hari-harinya, hadir terlambat dalam kehidupannya, hadir terlambat beberapa tahun saja dalam waktunya, dibandingkan seorang perempuan yang kini sedang ada di sisinya, merajut mimpi-mimpi masa depan mereka yang dibilang oleh lelakiku, “Sedang menghabis dan aku tak tahu akan bergulir kemana.”

Aku bukan perempuan kedua.

Aku hanya perempuan yang ingin selalu menghadirkan bintang-bintang di kedua biji mata lelakiku, membuatnya bercahaya kembali, membuatnya merasa dibutuhkan oleh seorang perempuan, membuatnya tahu kalau dirinya didambakan oleh seorang perempuan. Perasaan-perasaan yang tak pernah hadir karena kekasihnya yang tak sudi memberi karena mereka makin terbiasa dengan ketiadaan, kini berusaha aku hadirkan kembali lewat setiap perhatian dan pelukan. Apakah aku salah?

Aku bukan perempuan kedua.

Aku hanya seorang perempuan yang bahagia ketika telepon berdering menghadirkan suaranya di ujung telepon. Yang meleleh hatinya saat lelaki itu merayu sambil berbisik di telinga kalau aku telah menghadirkan rasa yang sudah lama pergi dari hatinya. Yang menangis ketika dia mengatakan belum bisa meninggalkan kekasihnya.

Aku bukan perempuan kedua.

Aku hanya seorang perempuan yang ingin mencintainya dengan segenap hati yang selalu megap-megap kekurangan oksigen saat lelaki itu berada di sisi seorang perempuan yang tak bisa ditebak maunya itu; terkadang hangat dan menyenangkan, terkadang pula dingin dan menyebalkan.

Aku hanya seorang perempuan yang tak ingin melihatnya terluka dan mencoba untuk menawarkan pelukan ketika ia ingin merasa hangat dari dinginnya rasa sepi.

Aku bukan perempuan kedua.

Aku tak pernah ingin menjadi perempuan kedua.

Aku hanya terlalu mencintainya.

Meskipun aku tahu, begitu berat untuk selalu menunggu ia pulang dari pelukan kekasihnya itu…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “Bukan Perempuan Kedua

  1. sudut pandang yang beda.

    Posted by ais ariani | March 10, 2011, 9:52 am
  2. saya suka tulisan ini.. 😀
    saya tahu bagaimana rasanya…

    Posted by nadia pratiwi | March 10, 2011, 10:10 am
  3. Kau memang tidak merasa menjadi ‘perempuan kedua’
    dan aku pun tidak akan menghakimimu sebagai benalu dalam hubunganku dengan suamiku,
    maka enyahlah kau dari kehidupan kami,
    jika kau mau, tunggulah hingga masa kami berdua usai,
    dan kau boleh kembali sesuka hatimu!!!

    *hihihihi…..*

    Posted by niQue | March 11, 2011, 6:42 am
  4. gambaran wanita yang berhati seluas samudera 🙂

    Posted by Evi | March 17, 2011, 2:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: