you're reading...
daily's blings

Doa buat Tuhan

Tuhan.

Aku memang jarang sekali meminta padaMu, doa-doa untukku sendiri.

Setahun terakhir, atau… um, bertahun-tahun terakhir, aku tak pernah sekalipun memohon padaMu untuk mendekatkanku pada jodohku. Jujur, ada tidaknya jodoh tidak pernah menjadi masalah yang sangat penting sehingga mengharuskanku mengeluh padamu. Aku percaya, tanpa memintanya, Kau sudah memberikannya. Cuman masalah waktu; yang tepat untukku, yang tepat untuk lelaki itu. Kami hanya menunggu, untuk bertemu.

Dan ya, aku pun tak mengeluh soal rejekiku. Bukan karena semuanya sudah tercukupi, tapi karena aku tahu, Kau akan memberikan celengan dengan ukuran yang sesuai untukku. Berapa keping receh yang pantas untukku, itulah yang akan tersimpan di sana. Ini karena aku percaya, bahwa memang Engkau yang paling tahu, apa yang pantas kudapatkan, dari semua usaha.

Aku tak pernah berdoa agar karirku melesat tinggi, buku-bukuku laku di pasaran, atau doa-doa egois lainnya. Ah, ya. Kubilang ‘egois’, kan? Aku tahu, Dirimu tahu, kenapa aku bilang kalau itu adalah doa-doa egois. Doa untuk kepentinganku sendiri, bukankah itu egois namanya?

Dan, Tuhan.

Aku sudah jarang sekali menangis, bersimpuh dalam sujudku. Memohon semua permintaan untukku sendiri. Doa terakhirku hanya untuk kesembuhan Papi dan ternyata Kau memilih untuk memanggilnya pulang. Dengan one way ticket, yang mendadak Kau berikan di satu hari Kamis, setahun yang lalu. Sejak saat itu, aku jarang bertutur padamu, tentang apa yang mengganjal di hatiku.

Tak pernah kuminta jodoh.
Tak pernah kumohon rejeki.
Tak pernah sama sekali kuminta karir yang cemerlang, melesat tinggi.
Dan tak pernah pula kuminta, agar tulisan-tulisanku bisa dicinta.

Sudah bertahun-tahun, Tuhan. Sudah bertahun-tahun aku seperti ini. Jauh dari doa-doa untukku sendri, dan segera beranjak usai duduk bersimpuh di raka’at yang terakhir. Usai duduk, membaca doa untuk Mami, Papi, dan orang-orang yang aku cintai. Tak pernah buatku sendiri, semua doa adalah untuk mereka yang aku cintai.

Aku tak mau meminta, karena aku takut merepotiMu dengan kegelisahan tak pentingku. Biarlah, soal Jodoh itu tetaplah menjadi misteriMu. Soal rejeki, adalah urusanMu. Layak-tidaknya tulisan-tulisanku untuk dicinta, adalah hasil dari usahaku untuk terus memperbaiki diri. Biar sajalah. Engkau sudah punya urusan yang lebih penting; manusia-manusia teraniaya, pengungsi yang butuh rumah tinggal, bencana alam yang membuat banyak manusia bersedih karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai… I always thought that You were busy enough dan aku tidak ingin menggangguMu.

Tapi malam ini, Tuhan.
Ijinkan aku mengganggu jam-jam sibukMu. Tengah malam begini, aku yakin, banyak yang sedang berbicara denganMu. Semoga aku tidak mengganggu.

Pertama.
Terimakasih, Tuhan. Kini aku sudah 31 tahun. Usia yang ketika aku masih remaja, aku menganggapnya sudah sangat tua, dan sekarang? Oh tidak. Aku masih merasa sangat muda. Sangat, sangat, muda J

Terimakasih pula, untuk semua kesempatan bernafasku sampai hari ini. Untuk kesehatanku selama ini. Untuk badan yang tak gampang lelah meski kerap menulis sampai Subuh lalu bangun beberapa jam kemudian untuk berangkat ke kantor.

Oh, ya. Terimakasih untuk segala kebahagiaan yang selalu aku rasakan setiap berdekatan dengan orang-orang yang aku cintai; keluarga, sahabat, rekan kerja, teman-teman yang kukenal di dunia nyata, atau maya. Terimakasih pula telah mengenalkanku pada seorang lelaki istimewa, yang kini telah berpindahrumah ke Surga. Engkau tahu bagaimana menekan tombol kebahagiaan yang entah terletak di sebelah mana, sehingga aku selalu berhasil merasakan kebahagiaan, meskipun sempat terpuruk dan ingin lenyap saja dari permukaan bumi.

Dan, ya. Untuk kebisaanku menulis ini. Kebisaanku, menarikan jari-jemari di atas keyboard komputer dan membiarkannya menari seperti penari kesurupan yang tak mau berhenti sampai ia lelah sendiri. Aku beruntung terlahir dengan kebisaanku ini, Tuhan. Karena kelak, ketika jasad tak lagi mampu melakukan apa-apa, setidaknya tulisan-tulisanku yang pernah kubuat bisa memberikan makna untuk siapapun yang membaca. Itu, menurutku Tuhan, adalah peninggalan yang sangat berharga.

Tuhan, itu terimakasihku, padaMu.

Dan kini, setelah sekian lama tidak pernah menginginkan sesuatu, ijinkanlah malam ini aku membagikan kegelisahan ini padaMu. Boleh, kan?

Namun sekali lagi, aku tidak akan memohon apapun padaMu, untuk jodoh, rejeki, dan kemudahan karirku.

Aku hanya berdoa, agar keponakanku, yang kini masih bermanja dalam rahim Ibunya, bisa lahir dengan selamat, dua minggu ke depan. Aku berdoa, agar Ibunya juga baik-baik saja. Dan kakakku, calon Ayah yang sedang berbahagia, juga dilimpahi kesehatan dan kemudahan rejeki dalam mencukupi kebutuhan mereka.

Itu saja Tuhan. Doaku yang ingin sekali Engkau kabulkan, segera. Secepatnya.

Lantas soal kesehatan, rejeki, jodoh, dan segala macam doa-doa lainnya, aku yakin, seseorang di luar sana tengah menyampaikan padaMu, mulai esok pagi.
Di hari ulangtahunku. Yang ketigapuluhsatu.
Ya, semoga saja begitu. Biar aku tak perlu merasa egois, untuk mendoakan diriku sendiri.

Segini aja, Tuhan.
InsyaAllah masih Kau bangunkan aku, esok hari.
Untuk berdoa lagi.
Yang lagi-lagi, bukan untukku sendiri.

Dari aku,
Lala Purwono, yang sangat mencintaimu.
Dan aku tahu, Engkau tahu, seberapa banyak rasa cinta itu.

**

Kamar, Jumat, 11 Februari 2011, 11.23 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “Doa buat Tuhan

  1. Nice! Happy birthday mbak..

    Posted by irene | February 11, 2011, 11:44 pm
  2. moga2 dikabulkan ya la….

    Posted by arman | February 12, 2011, 12:35 am
  3. happy birthday mb.. 🙂

    Posted by yustha tt | February 12, 2011, 9:10 am
  4. selamat ulang tahun lala dan semoga doanya terkabul, trenyuh aku bacanya

    Posted by pututik | February 14, 2011, 1:21 pm
  5. Amiiinnnn…
    Selamat bertambah usia ya bak. Semoga bertambah pula kebahagiaan mengiringi langkah mbaknya 🙂

    Posted by Takodok! | February 16, 2011, 4:35 am
  6. *tercekatbacanya*

    jd inget slama ini lbh sering doa yg egois, self-centered

    btw br baca hr ini, dan baca twit2 lo
    kayaknya udah lahir
    kondisinya bagus kan la?
    moga jd anak yg diberkati dan memberkati ya

    Posted by depz @id3pp | February 23, 2011, 11:03 am
  7. luar biasa…. *jd g bs ngomong apa2 mode on*

    sering kali aQ g tau dan kehbsn banyak kata2 untuk menungkpkan rasa cintaku padaNya, jika ada satu kata yg lebih tinggi dr apapun, itu pasti untukNya, btw, aQ aja yg msh umur 23gini udah ngrasa tua bnget… hahahaha

    Posted by sarahtidaksendiri | March 4, 2011, 9:43 am
  8. terharu mb La..spechless

    Posted by uly | March 9, 2011, 6:41 pm
  9. yup,,,u’re right miss lala..
    q suka doa’mu,,krn hmpir mirip dgn doa2q..
    q yakin jodoh dan rejeki sdh ad yg atur….
    semoga qt segera mndapatkan apa yg terbaik bagi qt menurut Allah
    ammin

    Posted by vomoca | March 11, 2011, 2:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2011
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: