archives

Relationship

This tag is associated with 133 posts

Bukan Sekadar Cinta

Ini bukan sekadar cinta.

Ini adiksi.

Pada senyum dan tertawanya.

Pada lelucon-leluconnya yang membuatku tertawa terbahak-bahak.

Pada gaya bicaranya yang serius saat bercerita soal dunianya.

Pada elusan tangannya di punggungku.

Pada ingin dan mimpinya yang selalu ia bagi bersamaku.

Pada genggaman tangannya yang menguatkanku.

Pada penghiburannya yang menghapus gelisahku.

Pada rayuannya yang selalu kutertawakan meski aku butuh.

Pada setiap tarikan nafasnya.

Pada bunyi degup jantung yang kucuri dengar saat bersandar di dadanya.

Pada setiap senti wajahnya dan kedua matanya yang setiap memandangku, aku lantas merasa menjadi perempuan cantik yang layak dicinta.

Ya,

Ini bukan sekadar cinta.

Ini adalah adiksi,

Yang tak ingin kuobati.

Sampai seumur nafas diberi.

Pada seorang kekasih.

Yang akan segera kembali ke kotanya, sebentar lagi.

Meninggalkanku, mencanduinya tanpa ingin berhenti…

 

**

 

Kamar, Kamis 30 Agustus 2012

11.14 Malam

Buat yang kelak semoga menjadi selamanya

 

32 Hours

Hour 32.

You’re home now. In my arms. Senyummu masih terbingkai indah di wajahmu yang putih bersih. Rindu telah menemukan muaranya. Di wajahmu, di tubuhmu, di dalam dirimu.

Hour 31.

Satu jam lagi, Sayang. Satu jam lagi aku bisa menyentuhmu kembali. Menuntaskan semua rindu itu.

Hour 30.

Langit pekat. Di batas langit sana, sebuah pesawat membawamu pulang. Ke pelukku. Akhirnya.

Hour 29.

Akhirnya tiba di airport. Kita akan bertemu.

Hour 28.

It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now. Lady Antebellum mengalun di dalam mobilku. Lagu kesukaanmu.

Hour 27.

Dunia bersatupadu telah mengatur pertemuan semua manusia. Kupikir, kemacetan lalu lintas yang menggila ini sebetulnya juga konspirasinya.

Hour 26.

Memacu pedal gas mobil yang seperti tak ingin melaju. Ah, harusnya dia tahu kalau aku ingin segera bertemu denganmu..

Hour 25.

I didn’t expect life to be kind. I just expected life not to be cruel to me.

Hour 24.

I should have been chasing you. I should have been trying to prove that you were all that mattered to me…

Hour 23.

Pukul 2 siang, di depan meja kerjaku, sebuah ikon YM berkedip. Pesan dari sahabatku. Dia bertanya, “What are you doing? Pulang.”

Hour 22.

Rinduku memekat di dalam darah, sepertinya. Aku, sesak nafas.

Hour 21.

Bisakah rindu itu usai meski kamu sebentar lagi ada di pelukku?

Hour 20.

Kamu menempati setiap jengkal otakku. Kamu memenuhi semua ruang yang ada di hatiku. Aku, merindu.

Hour 19.

Aku memikirkanmu di setiap hela nafasku.

Hour 18.

Aku ingin memelukmu. Rapat-rapat. Membisikkan kalau aku mencintaimu, tepat di telingamu.

Hour 17.

Hari ini, kabarnya suhu udara di sana mencapai 12 derajat celcius. Apakah kamu tidak kedinginan di sana?

Hour 16.

Surabaya. Taiwan. Kita menempuh ribuan kilometer dan kedalaman laut, beberapa jam penerbangan udara, dan musim yang berbeda. Demi kamu, demi cinta.

Hour 15.

“Kenapa harus sedih? Toh kita akan bertemu juga…” Kamu mengucapkannya seminggu yang lalu, di pintu bandara. Aku, melepasmu di sana.

Hour 14.

Ingat pada aroma parfummu. Yang melambai terbawa angin saat kamu berdekatan denganku. Ah!

Hour 13.

Aku tercabik rindu. Menggebu.

Hour 12.

Membaca ulang semua pesan-pesanmu di ponselku. Merasa seperti masokis sejati, melukai diri sendiri.

Hour 11.

Sudah habis bercangkir-cangkir kopi, tapi kafein tetap tak bisa mengalahkan kecanduanku padamu.

Hour 10.

Seperti slide show presentation, ada kamu, senyummu, dan semua hal-hal kecil yang ada di wajah bulatmu. Aku, peserta meeting yang tak ingin rapat segera usai.

Hour 9.

Mendadak rindu pada pipi gembilmu. Ingin mencubitnya pelan lalu menghujaninya dengan kecupan.

Hour 8.

Bibir tipis merah muda. Tempat dua bongkah bibirku menyisipkan cinta.

Hour 7.

Sepasang mata indahmu. Di sepasang mata itu aku telah jatuh cinta.

Hour 6.

Mendadak hati diserbu kupu-kupu, setiap mengingat kenangan akan cinta yang muncul tiba-tiba.

Hour 5.

Kenapa bahagia harus memiliki masa kadaluarsa?

Hour 4.

Aku, tanpamu, adalah rumah tanpa pintu dan jendela. Gelap. Hampa.

Hour 3.

Aku tidak ingin kita menjadi sejarah. Meski tak mungkin lagi menjadi satu masa depan yang sempurna.

Hour 2.

Harusnya aku di situ, bersamamu. Memegang tanganmu.

Hour 1.

She couldn’t make it. She’s gone now. She won’t be here.. She never will be here again…

Hour 0.

Sebuah pesan pendek, “Operasi Bianca nggak sukses, Ngga. I’m deeply sorry. Kami akan pulang ke Surabaya, segera.” Dari Yunita, adik perempuan Bianca, calon istriku.

**

Sempurnakan Aku

Aku bukan perempuan yang sempurna.

Bukan seperti kebanyakan perempuan yang ada di dekatmu, memanjakanmu, tertawa bersamamu, menghabiskan waktu denganmu, lalu terkadang kau kecup pipinya di saat kalian berpisah.

Aku bukan perempuan yang sempurna.

Bukan seperti kebanyakan perempuan yang begitu cantik, yang bisa membuatmu merasa beruntung menjadi seorang lelaki karena berhasil mendapatkan seorang perempuan yang membuat lelaki-lelaki memandangmu iri.

Aku bukan perempuan yang sempurna.

Yang masih belepotan kalau makan es krim, yang sering menumpahkan isi cangkir kopi susuku, yang ponselnya sering terjatuh tanpa sengaja sampai ponselku tak lagi mulus padahal baru dibeli sebulan yang lalu, yang isi lemarinya berantakan karena aku sering tak peduli dengan kerapian. Continue reading

Test Pack; menjadi awal, atau akhir?

Test Pack; awalmu atau akhirmu?

Sebuah test pack. Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang dicelupkan di sebuah wadah kecil berisi urine seorang perempuan, ditunggui beberapa saat, dan muncul pertanda di sana.

Garis satu: you’re not pregnant.

Garis dua: you’re going to be a Mom.

Ya. Sebatang kecil, alat penguji kehamilan, yang bisa dibeli di apotek dalam berbagai macam merk dan harga, tapi fungsinya tetap saja sama; mengetahui apakah seorang janin tengah bergeliat dalam rahim seorang perempuan, atau tidak.

Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang hasilnya bisa membuatmu berdebar cemas menanti jawabannya.

Negatif. Positif.

Hasil manakah yang akan membuatmu lega?

Ya.

Test pack; menjadi awal dari segalanya? Atau mengakhiri segala yang sudah ada? Continue reading

#NovelDuet

 (sebelum baca tulisan ini, disarankan untuk mengunduh trailernya di sini: http://www.4shared.com/audio/PMrpnpRR/If__OST_A_Million_Dollar_Quest.html )

Braga

“Do you still have the butterflies?” 

“Butterflies?”

Aku mengangguk. Semoga dia mengerti konsep tentang ‘perasaan tidak enak di dalam perut yang katanya sering dirasakan setiap kali seseorang dalam keadaan jatuh cinta.

“Oohh. THE butterflies? Mmm. Ya. Masih, lah.”

“Oya?? After all these years? What, umm.. 4 years? You still have it?”

“Yup. Kenapa? Aneh? Buat loe –mister high quality jomblo, aneh pasti…” kata Adis lagi.

At first. Ya, mungkin aneh. Memang bisa ya, loe ngerasain perasaan yang sama yang sama setelah sekian lama bersama gitu? Kalau di awal , pasti iya. Tapi lama kelamaan, logikanya kan pasti akan semakin berkurang rasa ‘sakit perut’ itu. Ibarat loe lagi kehausan, nih, ya. Minum dari gelas pertama pasti akan kerasa banget nikmatnya. Tapi begitu lo minum di gelas yang kedua, ketiga dan seterusnya, pasti udah berkurang kan nikmatnya. Karena rasanya jadi ‘biasa’ lagi. Gitu, kan?” Continue reading

Bukan Perempuan Kedua

Aku bukan perempuan kedua.

 Aku hanya perempuan yang hadir terlambat dalam hari-harinya, hadir terlambat dalam kehidupannya, hadir terlambat beberapa tahun saja dalam waktunya, dibandingkan seorang perempuan yang kini sedang ada di sisinya, merajut mimpi-mimpi masa depan mereka yang dibilang oleh lelakiku, “Sedang menghabis dan aku tak tahu akan bergulir kemana.”

Aku bukan perempuan kedua. Continue reading

Sunyi. Di Suatu Pagi.

Ada sunyi yang menyergap di sebuah pagi.

Usai Subuh, usai bersimpuh, usai meluruh di depan Dia yang mencipta, sunyi itu menyergap serta-merta. Seperti sebuah pelukan mendadak dari belakang; rapat mengurung tubuh sampai seluruh nafas tak bisa dilakukan dengan sempurna, sunyi itu membuatku kehabisan nafas.

Satu tarikan nafas seperti membutuhkan energi yang luar biasa. Diiringi nyeri, sakit, ngilu. Bukan, bukan di dadaku. Tapi, jauh di dalam sana. Bukan organ, tapi sebuah rasa. Kesunyian yang mendadak itu membuat rasaku mengilu, membuatku sesak nafas karena tak pernah menyangka bakal dipeluk rapat olehnya di pagi yang masih buta. Continue reading

Love Investment

Masih ingat apa yang dibilang orang-orang (bisa keluarga, teman, sahabat) ketika kita sedang jatuh cinta dengan seseorang?

“Jangan kasih seratus persen, deh… Sisain buat kamu sendiri supaya nggak terlalu sakit kalau ternyata musti udahan…”

“Beri lima puluh persen saja, sisanya buat kamu…”

“Gimana kalau kamu beri dia dua puluh persen? Perlahan-lahan tambahkan beberapa persen, tapi jangan sampai seratus!”

So, are you familiar with these sayings? Tentang berhati-hati saat ‘menginvestasikan’ hati kamu pada seseorang? Sekadar jaga-jaga saja agar kamu tidak perlu kalah dan mendadak bangkrut karena kehilangan semuanya? Don’t put every thing in the table for you might end up losing every thing? Continue reading

The Morning After

Do you know the kind of feeling; ketika kamu sedang mendapatkan masalah, urat lehermu tegang, kepalamu pusing, dan kamu tak tahu apa yang musti kamu lakukan lalu akhirnya kamu memilih untuk sleep on it dan menganggap bahwa you’ll have all the answers at the morning after?

Do you know the kind of feeling; ketika kamu bertengkar dengan Kekasihmu, kakak kandungmu, rekan kerjamu, atau orang-orang yang dekat denganmu, kamu menganggap bahwa kamu akan berbaikan dengan mereka setelah malam ini berlalu? That you’ll have the opportunity to make everything up at the morning after?

The Morning After.

Aku selalu menganggap bahwa Pagi Hari akan menyelesaikan setiap masalah. Setelah tertidur, gelisah dalam mimpi, meluangkan waktu panjang untuk berpikir semalam suntuk, dan berdoa sebelum tidur, “Tuhan, semoga permasalahan ini menemui titik terang esok pagi”, Pagi Hari akan menyelesaikan semua masalah.

Titik terang; seperti matahari yang muncul di ujung timur dan memudarkan langit yang gelap.
Titik terang; cahaya yang menyerobot di balik awan-awan yang tadinya gelap, iluminasi yang tertangkap bak lukisan indah oleh mata telanjang.
Titik terang; sebuah pertanda bahwa selalu ada jawaban untuk gelisahku semalaman.

Kuanggap, di pagi hari, semuanya akan jauh lebih baik dari tadi malam.
Dan di pagi hari, semua permasalahan semalam akan menemukan jalan keluarnya.

Itu dia kenapa kubilang, “I want to sleep on it,” ketika sedang bermasalah. “And hope for everything will be better in the morning after,” ketika suasana hatiku sedang kacau.

Sampai kemudian aku berpikir, “What if there’s no morning after? What if what I have is today, and today is all I have?”

Bagaimana kalau matahari tidak akan terbit dan yang kumiliki hanyalah hari ini? Untuk setiap jumput masalah, untuk setiap percikan kemarahan dengan Saudara tercinta.

Bagaimana kalau matahari tidak mau terbit dan yang tersisa hanyalah hari ini? Untuk setiap genggam gelisah, untuk setiap coretan luka pada hati Sahabat.

Masihkah aku harus menunggu keajaiban Pagi Hari?
Masihkah aku harus sleep on it first and wait for miracle in the morning after?

Atau,
Sudah waktunya aku berhenti untuk berharap pada The Morning After dan mulai menyelesaikannya sekarang juga, whenever I have the chance to do it?

Dan aku berpikir, pagi ini. Right about this moment.

Untuk apa berputus asa mencari jalan keluar kalau energiku masih penuh? Jika kantuk belum meraja dan tubuh belum lelah? Masalah memang tidak selesai dengan segera kalau waktu yang tepat itu belum datang, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan cara memikirannya sampai semalam suntuk; tapi, jika bisa dipikirkan hari ini, kenapa musti menjejali esok hari dengan permasalahan yang kemarin? Setiap hari, bisa jadi timbul masalah yang baru lagi. Bayangkan kalau masalah yang kemarin masih kita pikirkan hari ini. I’m gonna be exhausted!

Lantas; why do I have to wait to say, “Please, forgive me.”?
Kenapa tak dibiarkan kata-kata maaf itu meluncur keluar tepat ketika rasa sesal datang menghampiri? Mengapa harus menunggu esok dan menghukum hatiku semalaman sampai tak bisa tidur untuk sesuatu yang bisa kulakukan sore tadi, misalnya? Dan terbayang betapa jahatnya aku membuatnya marah sampai semalaman dan orang itu terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman saat memandangku di esok paginya, kan?

Aku selalu berkata, “I’ll sleep on it first. I always have the answers at the morning after, dengan isi kepala lebih jernih lagi.”

Tapi kini aku ingin mulai untuk berkata, “I’ll try to do my best today. But if today isn’t enough, I hope that I still have my chance tomorrow…”

Ya.
Kesempatan untuk menikmati pagi hariku.
Hari baruku.
Dan, mmm…
Permasalahan baruku.

Sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan sebuah suara kecil yang terus menuturiku untuk terus melakukan yang terbaik yang aku bisa hari ini…

**

Kantor, 27 Mei 2010, 10.50 Pagi

Secangkir Teh Manis Hangat dan Sepiring Pisang Goreng

Ini yang selalu kulakukan setiap hari.

Kunanti dirimu di muka teras, mencoba duduk tenang di atas sebuah kursi rotan yang lama-lama membuat pantatku sakit karena terlalu lama duduk di sana, sambil berkali-kali melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku. Melihat putaran waktu yang terus berputar dan berputar sekalipun kuingin jeda sebentar saja.

Kutajamkan pandanganku, seperti meneliti sebutir beras. Kupicingkan mataku, seperti mengintip lubang kunci. Kuakomodasikan penglihatanku dengan maksimum, supaya aku tak terlewat memandangi sosokmu yang mungkin saja berkelebat di depan rumahku.

Tapi kamu tak ada.

Sudah kusiapkan secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng untukmu, untuk menyambutmu pulang.

Tapi ya. Kamu tetap tak pulang. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono