archives

sahabat

This tag is associated with 57 posts

Dia, Sahabatku.

Dia sahabatku.

Kukenal dia ketika usia kami sudah beranjak dewasa atau mungkin remaja tanggung. Ada yang menarik pada dirinya. Sosoknya seperti memiliki sulur-sulur tak kentara yang menarikku untuk terus mendekat. Mungkin senyumnya, mungkin caranya tertawa, mungkin tingkah polahnya yang mengundang tawa banyak orang, mungkin juga karena dia selalu ramah menyapa siapa saja.

Banyak sekali alasan untuk jatuh hati pada perempuan berambut tak panjang ini. Hatinya yang sensitif dan mudah tersentuh untuk hal-hal sepele, pribadinya yang tangguh dan tahu bagaimana caranya menenangkan perasaanku untuk terus menapak hari ketika paruhan hatiku sedang terluka. Juga caranya berkata-kata, caranya menyentuh hati, caranya mengambil seluruh perhatian siapapun yang ada di dalam ruangan.

Dia seperti cahaya ketika hari gelap.
Bahkan ketika hatinya sedang redup, tapi ia tak mau terlihat rapuh dan gelap, karena baginya, dunia lebih membutuhkan cahaya daripada rengekan hatinya. Dunia sudah terlalu sedih, ia tak perlu membagi aura kesedihan di setiap sudut ruangan.

Pernah kubilang padanya, “Jangan berpura-pura kalau hatimu sedih, Sahabat.”

Lalu ia memandang wajahku. Pelan, sambil tersenyum, ia menjawab, “Kalau aku sedih, itu artinya aku membuatmu sedih, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. “Tentu, karena aku sahabatmu…”

“Dan aku tidak mau membuatmu bersedih…”

Senyumannya meneduhkanku. Genggaman tangannya menguatkanku. Sampai-sampai aku heran, bukankah sekarang bukan aku yang bersedih, tapi kenapa justru aku yang merasa dikuatkan oleh senyum dan ketegarannya?

“You’re such a great actress…” komentarku pada akhirnya.

“Bukankah aku memang mirip Drew Barrymore?”

Lelucon itu membuatku mengakui, kalau tidak ada yang sanggup mengalahkan kepandaiannya dalam menyembunyikan sakit hatinya.

Ia perempuan yang sangat hebat.
Dia adalah sahabatku.

**

Ya,
Dia adalah sahabatku.

Seorang pecinta sejati.

Seorang yang kuat memegang satu cinta sampai ia dipaksa untuk mengendurkan genggamannya. Kesetiaannya, rasa percayanya pada cinta, membuatku iri setiap ia bercerita tentang Kekasihnya.

“Kau bertanya kenapa aku setia?” tanyanya.

“Iya.”

“Karena aku percaya pada Karma; kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Ketidaksetiaan akan dibalas dengan ketidaksetiaan pula.”

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak setia?”

“Mudah.”

“Bagaimana?”

“Aku percaya Karma. Kalau ia tidak setia, artinya dia akan menuai ketidaksetiaan itu pada suatu masa kelak.”

“Itu yang membuatmu begitu sederhana menyikapi jarak dan waktu?”

“Itu caraku agar aku tidak mudah terluka…”

**

Tapi, kemudian ia terluka.

Sahabatku, seorang aktris hebat itu, akhirnya terluka.

Aku datang padanya ketika kedua biji matanya sembab dan ia begitu ragu mengangkat wajahnya untuk membalas pandanganku.

“Don’t look at me, now. I’m terrible…” katanya sambil berusaha terus menunduk.

“Kamu berhak menangis, Sahabat.”

“Tidak, tidak,” katanya. “Aku tidak boleh menangis.”

“Hey, you’re an actress. Not a robot.”

Dia tersenyum. “Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berkubang dalam rasa sedih. Ayahku mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh…”

“But sometimes, crying is good…”

“No… no way…”

Dia terus mengaduk teh manis panasnya. Kalau pada akhirnya teh itu berasa sedikit asin, aku tahu, darimana rasa itu berasal.

Dari air matanya yang terus berjatuhan dalam setiap adukan…

**

Dia sahabatku.

Ingin kupeluk dia malam ini, ingin kuelus lembut rambutnya malam ini, ingin kusentuh punggung tangannya dan mengalirkan kekuatan di setiap ruas-ruas jarinya.

Tapi dia menolakku.

Tapi dia berkata, “Sudahlah. If I could handle then, I can handle now.”

Dia sahabatku.

Sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh cinta, lalu patah hati, lalu jatuh lagi, dan terluka lagi. Entah berapa lelaki yang sudah kuancam agar tidak menyakitinya dan mundur saja kalau mereka memang berniat untuk melukainya. Sungguh, melihatnya terluka adalah satu hal yang tak ingin kulakukan.

Dia sahabatku.

Separuh jiwaku.

Nafasku.

Aku tak bisa bernafas jika sekali lagi aku melihat luka di wajahnya, di kedua biji matanya, di debar jantungnya. Aku tak rela!

“Kamu tahu, kamu perempuan yang hebat.”

“Makasih…”

“You’re such a great friend, good listener, wonderful comedian, faithful girlfriend… Suatu saat kelak, hanya lelaki yang paling beruntunglah yang bakal menjadi Ayah untuk Gabriel dan Talisha…”

“Kamu masih ingat nama anak-anak impianku itu, ya?”

“I remember your dreams, termasuk mimpi-mimpimu dengan lelaki itu…”

“Mimpi yang musti usai…”

“Then start dreaming something new…”

**

Di suatu malam, ketika hening membuat jengkerik terdengar begitu berisik di lapangan rumput sebelah rumah, sebuah dering telepon membangunkanku.

“Kenapa? Malam sekali?”

“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak berani tidur.”

“Lho? Kenapa?”

“Kamu pernah bilang kalau aku mustinya start dreaming something new, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

“I don’t wanna dream something new… Nope. Not yet…”

Lalu akhirnya ia terisak.
Sama seperti aku, di ujung telepon satunya.

**

Dia adalah sahabatku.

Perempuan manis, berambut pendek, dengan senyum serupa cahaya itu memang sahabatku. Matanya berbinar-binar, wajahnya tetap cerah ceria seperti mentari pagi hari, sekalipun semalaman aku hanya mendengar suara tangisnya di ujung telepon.

“Kamu baik-baik aja?”

Dia tersenyum sambil terus mengaduk teh manis panasnya.

“You sounded so terrible, last night.”

Dia masih tetap tersenyum.

“Don’t hide something, Darling…”

Tak berhenti ia tersenyum sambil terus menyiapkan minuman hangatnya untuk kami habiskan berdua di teras depan.

“Hei… kamu…”

Tiba-tiba dia menoleh.

“Kamu ingin gula berapa sendok? Satu, kan?”

Aku terheran-heran menatap wajahnya.

“You look….”

“… gorgeous. Thank you,” potongnya sambil memasukkan sesendok gula pasir ke dalam cangkirku. “Yuk, bantu aku bawa pisang gorengnya keluar. Kita ngobrol di teras aja, yuk… Eh, by the way, besok jadi nggak, sih, kita janjian ke Bengawan Solo? Aku rindu minum kopi.. Been a very long time…”

Dan dia memang tetaplah sahabatku.

Segala luka hati tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.

Aku tahu dia tengah berjuang menutupi wajahnya sendiri dengan topeng dan aku membiarkannya melakukannya…

“If a mask can make it everything easier to deal with, then put a mask on, Dear Best Friend,” bisikku dalam hati sambil membantunya membawa sepiring pisang goreng itu ke teras.

Dari kursi teras, aku sempat menengoknya sebentar.
Dia mengaduk teh manis panasnya, dengan beruraian air mata…
Argh!

***
Kamar, Minggu, 4 Juli 2010, 00.08

Lelaki itu, Suamiku

I just did my nails. Lihat,” kata seorang perempuan sembari menyodorkan sepuluh jemarinya di depanku. Memamerkan kuku-kukunya yang kini nampak sudah tercat rapi, berwarna coklat muda yang berkilau.

Aku manggut-manggut, tak banyak komentar. Kupilih untuk menyendoki lasagna yang tinggal beberapa sendok lagi sudah berpindah seluruhnya ke dalam perutku.

“Aku juga beli new underwear. The sexy ones.” Dengan semangat dia mengeluarkan beberapa koleksi lingerie-nya yang memang seksi. Rada gila juga dia mengeluarkan barang-barang itu di coffee shop seramai ini. Terbukti, beberapa pasang mata lelaki melirik ke arah kami berdua, menikmati selembar lingerie yang super seksi.

“Iye, iye, seksi. Tapi, cepet, udahan. Masukin tas lagi, gih!” Aku melolot dan dia pun tertawa sambil memasukkan lingerienya ke dalam tas berbahan kertas keluaran merek mahal.

“Ih, kamu jangan nyamain lingerie sama narkoba, ya. Sampai musti cepet-cepet dimasukin ke dalam tas segala supaya nggak ketangkep polisi aja…” Continue reading

Malaikat

Sahabatku menemukan seorang Malaikat, beberapa saat yang lalu.

Di tengah hujan deras yang turun membanjiri Surabaya, dia melihat Malaikat itu sedang mengamatinya, dalam diam, di sebuah ujung jalan yang gelap. Sahabatku  setengah tak percaya saat mengamatinya, apalagi ketika Malaikat itu memilih untuk menyapanya. Continue reading

could I hold their hands?

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu?
Sekilas galau mata ingin berbagi cerit
a…

Seorang perempuan terduduk lesu di sudut kamar. Badannya kurus; hanya tulang dengan selimut kulit yang mengerut. Wajahnya pucat dengan lingkar-lingkar hitam di sekitar matanya. Rambutnya kusut masai. Kaos oblongnya yang nampak terlalu besar untuk melindungi tubuh cekingnya jelas membuatnya semakin tidak ‘indah’. Belum lagi ia diam, tanpa suara, dan memandang garis-garis samar di lantai sambil melukis dengan ujung jarinya. Melukis, yang entah apa.

Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
Satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh..

Lelaki itu memandangnya. Menghela nafas berkali-kali dari balik pintu. Ia meragu; ingin melangkah, tapi ia tahu sahabatnya itu akan mengusirnya pergi sekali lagi. Tapi, bisakah ia diam saja? Menanti waktu itu datang, merenggut nyawa, dan membiarkan sahabatnya sendiri sampai kereta-nya datang menjemput?

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Ia terlalu menyayangi sahabatnya. Melihat binar-binar di kedua mata sahabatnya menghilang begitu saja jelas membuatnya ingin berbuat sesuatu. Lelaki itu bukan Ilmuwan yang bisa meracik obat-obat ajaib untuk mengusir pergi laranya, tapi.. ia memiliki sesuatu. Satu hal kecil yang harusnya diketahui oleh sahabatnya.

Lelaki itu..
..memiliki bahu.

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya…

**

Hari ini, tanggal 1 Desember 2009, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Sebuah hari yang didedikasikan khusus untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabahAIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Entah, ketika saya mendengar kata AIDS dan peringatan hari AIDS sedunia, mendadak saya teringat dengan sebuah lagu lama, yang dibawakan oleh Katon dan Uthe, Usah Kau Lara Sendiri, yang video klip-nya sangat dahsyat dan um, memorable buat saya. Bianca, si model, jelas telah dengan apik melakoni perannya di sana, sebagai seorang pengidap HIV AIDS yang murung dan menghitung hari.

Ah, sayang sekali saya nggak berhasil menemukan videoklip (orisinil)nya di belantara youtube.com, tapi buat kamu-kamu yang setidaknya sepantaran dengan saya (atau lebih tua), pasti pernah mengetahui video klip lagu itu, yang saat saya menulis cerita ini, angan-angan saya berkelana; mengembara, lalu bertanya, “Apakah saya bisa melakukan hal yang sama? Dengan tegar merangkul seorang sahabat yang menanti ajalnya? Dengan tabah menemani dia menghitung harinya? Memberikan cahaya di kegelapan harinya? Atau saya malah tak bisa berpura-pura sedih dan menambah beban dalam hatinya dengan ikut menangis bersama?”

Could I hold their hands?

Or  would I only cry for them…?

Ah, semoga saya tak perlu menjawab pertanyaan ini seumur hidup saya. Not ever…

***

Kamar, Selasa, 1 Desember 2009, 10.23 Malam

You are My Sunshine!

...sunshine...

Tadinya dia adalah lelaki yang saya anggap sebagai cahaya mentari.

Betapa tidak? Kehadirannya selalu memberikan cerah di setiap mendung. Senyumnya begitu ceria, melenyapkan galau. Gelak tawanya ketika kami bercanda, jelas membuat hati saya tak lagi galau. Ya. He was like a sunshine.. Bright sunshine… sampai kemudian, dia meredupkan cahayanya dan bersembunyi di balik gumpalan awan-awan pekat. Tidak keluar dari situ. Hanya mengintip saja.

Dia berubah. Tak lagi bersinar, tak lagi menerangi. Aura tubuhnya menjadi gelap dan hampir-hampir saya tak mengenalinya. Sama sekali. Tidak ada senyum yang mengembang begitu ceria, tak ada lagi hadirnya yang menghilangkan mendung, dan suara tawanya? Entah pencuri mana yang nekat mencurinya, tapi ia tak lagi tertawa! Continue reading

Heart Prints Moments

Do you have a heart prints moment?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sekalipun waktu tergerus begitu cepat, menggelinding begitu liar?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang akan kamu ingat selamanya, sampai nafasmu menghabis dan oksigen seolah enggan terpompa masuk ke dalam paru-parumu?

Sebuah kejadian yang begitu istimewanya sehingga menyentuh hatimu teramat dalam. Ya, the heart prints moments, ketika kejadian-kejadian tersebut terpatri begitu kuat di dalam hatimu.

Saya meyakini, setiap orang memiliki heart prints moments yang mungkin ketika mereka membaca tulisan ini, isi pikiran mereka melayang-layang, mencari-cari peristiwa di dalam selipan isi otak mereka lalu tersenyum sendiri atau merasakan getaran hati yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ya, setiap orang itu termasuk kamu, yang sebentar lagi akan tahu kejadian apa saja yang saya anggap sebagai heart prints moments, peristiwa yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun di sepanjang hidup saya sampai hari ini.

Let’s start with 16 Oktober 2001, hari ketika seorang lelaki akhirnya cukup khilaf untuk menjadikan saya sebagai pacarnya. Namanya Jonathan, lelaki keturunan Italia-China-Bali, yang berusia tiga tahun lebih muda dari saya. Kenapa saya anggap sebagai heart prints moments? Tentu saja karena dia adalah pacar pertama saya! Yay!

Lalu ketika Mami saya berpulang ke asalnya, di Surga sana, tanggal 7 Juli 2002. Hari Minggu. Tak perlu dijelaskan lagi mengapa saya akan terus teringat dengan peristiwa itu, kan? Karena kamu pasti tahu, you will never ever forget the day your mother passed away, hari ketika kamu kehilangan seluruh daya untuk bernafas, dan hari ketika kamu baru benar-benar menyadari bahwa arti dari kata ‘meninggal’ adalah tidak akan pernah kembali lagi. Teknologi secanggih apapun tidak akan menjembatani dua dunia itu. Yeah, the day my Mom passed away is the day that I will never ever forget for the rest of my life.

Berikutnya, hari ketika keponakan pertama saya, Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif alias Kiki, terlahir dari perut kakak saya, Mbak Piet. It was January 21, 2003, hanya berjarak beberapa bulan saja dari hari saat langit Surabaya mendung karena Mami berpulang. The day she grabbed my finger, the very first day I held my niece and kissed her forehead, the day I jumped off joy because I finally had a niece… adalah hari yang sangat menyentuh. Sampai sekarang, perasaan hangat itu masih menghangati hati saya.

Hmm… what’s next?

The first kiss?
The first break up?
The day I graduated from university?
The day I received my paycheck?

Banyak sekali heart prints moments dalam hidup saya, termasuk bertemu pertama kali dengan Om NH18, sis Imelda, dan Abang Hery Azwan, mentor-mentor saya di dunia blog, tanggal 1 Agustus 2008.

Dan tentu saja, above all, yang paling terekam dalam ingatan saya, yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan saya, yang sumpah mati saya ingin merasakannya kembali adalah…

This special day. 14 November 2008, hari peluncuran buku saya, The Blings of My Life, di Indonesian Book Fair, JCC. Hari di mana saya bisa merasa bangga dengan diri saya sendiri, that I could prove to my self that I meant something for someone else.

And what makes it even special is…
Karena di hari yang sama…
Hati saya tersentuh luar biasa…
Oleh seorang sahabat…
…bernama Lin.

*** Continue reading

Cantik!

Lin

Lin

Kalau kamu melihat foto di samping kiri ini, apakah kamu sependapat dengan saya kalau perempuan di dalam foto ini adalah seorang perempuan yang berwajah cantik? Maybe she isn’t as pretty as Julia Roberts or Angelina Jolie, but… look at her. Dia cantik, kan?

Hari Sabtu kemarin, saya berjuang untuk mengatakan fakta ini padanya, pada seorang perempuan yang juga sahabat saya ini.

You’re beautiful, Lin. I know, idung lo emang ilang entah kemana, tapi elo tetep cantik!” kata saya saat makan siang, dua hari yang lalu.

Dia hanya tertawa, tapi saya tahu, pandangannya kosong. Entah, apa yang sedang bergumul di dalam pikirannya. Dia seolah sedang memikirkan sesuatu. Continue reading

Lima Setengah Jomblo!

Kemarin, saya meng-update status di FB. Isinya sih kurang lebih seperti ini:

“Sejak ada FB, kayaknya semua orang jadi lebih sering kumpul-kumpul sama temen-temen lama, deh!”

Dan status itu saya tulis ketika menuju ke acara Buka Puasa Bersama teman-teman alumni SMPN 3 Praban, Surabaya, lulusan tahun 1995, yang diadakan di Kebon Pring, sebuah resto yang menyajikan masakan Indonesia yang mendapatkan full recomendation dari saya. Iya, karena enak dan murah! Continue reading

just when you thought that everything was right…

The last thing she ever wanted to hear was a phone call from her daughter.

The last thing she ever wanted to listen was her daughter’s voice.

The last thing she ever wanted to know was the latest news from her daughter.

Tapi telepon itu tetap berdering.

Sekalipun ia ingin menutup telinganya dan pura-pura tuli, tetap saja ia mendengar suara anak perempuannya terisak-isak di ujung telepon satunya, tetap saja ia mendengar sebuah kabar yang membuat lututnya lemas seketika dan kepalanya mendadak seolah ditusuk oleh ribuan jarum yang menusuknya kuat-kuat.

Sebuah kabar dari mulut anaknya, yang membuat teleponnya berdering beberapa saat yang lalu.

Kabar ini.

“Ma… Evan, Ma… Evan…” Continue reading

What do I want?

Ketika seorang sahabat menyatakan tidak ingin menikah, not ever, sepanjang umurnya, seorang sahabat yang lain memberikan kabar kalau dia sudah menemukan lelaki pilihannya dan lelaki itu telah menyematkan cincin pertunangan di jari manis sahabat saya.

Bayangkan saja; dua kondisi yang sangat kontras.

Yang satu menganggap pernikahan bukan satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, di mana ultimate happiness for each person can be different, tidak melulu bisa dicapai dengan cara menikahi seorang lelaki, beranak, dan tua bersama-sama, sedangkan yang satu lagi menganggap kalau pernikahan ini akan menyelamatkan kesendiriaannya, membawanya menuju ke kebahagiaan yang sudah lama dicarinya tapi tak juga ketemu sampai akhirnya ia menemukan calon suaminya. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono