archives

Pacar

This tag is associated with 14 posts

Bitter Truth

Suatu kali, saya pernah memakai sebuah celana berbahan denim ketika (mantan) pacar mengajak saya keluar makan di dekat rumah. Celana jeans yang bentuknya pernah happening banget beberapa tahun yang lalu, yaitu sepanjang 7/8 dengan ujung yang melebar itu memang menjadi salah satu favorit saya. Longgar dan bahan denimnya tidak terlalu kaku.

Ketika hendak keluar rumah, mendadak dia bilang, “Ndut, ganti celananya, gih.”

Saya yang tengah bersiap memakai sandal pun menoleh. “Hah? Kenapa?”

“Jelek,” tukasnya.

“Ih, apanya yang jelek?” Saya masih ngeyel.

“Dibilangin jelek, ya, jelek. Udah, sana ganti.”

“Tapi celana ini enak banget, lho…”

“Terserah kamu, deh. Aku nggak mau pergi sebelum kamu ganti celananya.”

Berhubung saya malas bersitegang padahal sudah siap-siap berangkat, akhirnya saya pun nggak banyak cing-cong. Saya memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar, menukar dengan celana jeans favorit saya yang lain yang berpotongan lurus. Ketika keluar, dia tersenyum.

“Nah, now you look much better,” kata (mantan) pacar saya itu, sambil menggamit lengan saya dan kami pun berjalan keluar.

Dalam hati saya masih nggerundel.
Segitu banget, sih, sampai saya musti ganti pakaian segala? Emangnya saya tadi keliatan jelek banget, apa?

* Continue reading

Chubby!

What is it with Chubby lovers?

Pertanyaan itu sempat terbayang-bayang di dalam isi kepala saya ketika mengetahui kalau beberapa teman lelaki saya sangat ‘kecanduan’ dengan perempuan-perempuan bertubuh extra large alias chubby!

Ini jelas mencengangkan, karena setahu saya, di dalam pikiran lelaki, women are supposed to be sexy, with big boobs, pinggang yang ramping, kaki yang jenjang, dan wajah yang cantik. Malah, beberapa kesan yang saya dapat adalah, biarpun cakepnya kayak apa, tapi kalau sudah ‘montog’, ‘padat karya’, and too much ‘love handle’, mereka jadi mundur teratur.

Dan… saya KELIRU! Continue reading

Hantu di Dalam Ruangan

Ruangan itu berhantu.

Aku mendengarnya dari mulut sahabatku saat kami bercengkerama di sebuah coffee shop sambil menyesap kopi dan mengunyah kentang goreng ala Perancis. Malam itu, Surabaya sedang basah. Hujan tumpah dari langit seolah seluruh isi sungai Brantas dituangkan perlahan-lahan; banyak, tiada berhenti. Coffee shop itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang menyenangkan daripada harus terburu-buru pulang ke rumah saat banjir belum lagi surut dan macet di mana-mana. Continue reading

Care to Try?

dewa-prasetya2

Baca yang ini dulu

Tepat seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, Yasmin segera berteriak histeris seperti orang gila ketika besoknya aku membocorkan acara kencanku dengan Dewa Prasetya, lelaki yang ternyata tidak hanya ganteng, berhidung tinggi, dan berperilaku gentle, tapi juga teman bicara yang menyenangkan. Okay. Tidak menyenangkan, sih, tapi…. SANGAT menyenangkan!

“Jadi sekarang Dewa ada sama elo, Jan?” tanyanya girang.

“Lebih tepatnya, gue lagi ijin ke toilet dan Dewa lagi nungguin di Sushi Tei…”

“Sushi Tei mana, Jan? Gue boleh gabung, nggak?”

“Edan, lu. Tugas makcomblang cuman ngenalin doang, nggak pake ikutan ngerecokin kencan!”

“Aih, aih! Jadi ini kencan, nih?”

“Ah, bawel lo,” kataku. “Doain aja bakal ada kencan-kencan berikutnya, ya, Yas?”

“Duh, duh, my darleneeee… Gue bakal selametan, tumpengan, bikin bubur merah-putih, sekaligus bakar kemenyan deh, asal elo bisa jadian sama Dewa!” Continue reading

Lelaki bernama Dewa

dewa-prasetya

Sebuah Cerita Bersambung, dipersembahkan khusus buat Yessy Muchtar 🙂

Kamu kenal dengan lelakiku?

Si pemilik wajah bulat berdagu belah dengan kedua lesung pipit yang nampak jelas setiap bibirnya tersenyum. Dengan jenggot yang seringkali tak tercukur rapi karena deadline kerjaan yang hampir-hampir membuatnya sering lupa makan. Dengan rambut pendek yang harus seringkali dipotong karena membuat model rambutnya menjadi tak jelas, seiring kemana angin berhembus. Iya. Lelaki dengan hidung tinggi dan kedua biji mata yang bercahaya sekalipun seharian memandangi layar monitor di kantornya. Continue reading

Gantengnya Pacarku!

Suatu siang, saya berkencan dengan Lin di sebuah mal. Sembari menunggu Ly yang katanya bakal nyusul sorean, Lin mengajak saya keliling-keliling mal. Siapa tahu ada yang lucu-lucu gitu… Ya, termasuk cowok-cowok single, available, ganteng, dan mau membalas signal keganjenan kami berdua (Kata Lin, “KAMI??? ELO kali!” Hehe)

Saat kami keliling-keliling itulah, tiba-tiba saya menemukan sosok yang super duper yummy! Langsung saya menarik tangan Lin, menyeretnya ke counter underwear.

“Idih, La! Plis deh… Lo mau godain suami orang?”

Saya mesam-mesem. Memang, sih, cowok yang bikin saya ‘kelaperan’ tadi sepertinya (SEPERTINYA???? EMANG UDAH DEH, LA!) sudah menikah. Si Yummy tadi terlihat asyik bermain dengan seorang bocah lelaki umur tiga tahunan (a man with a child… what a delicious combination! Yay!). Oh ya, cowok ganteng itu juga sedang di counter pakaian dalam perempuan… Ya, bego dan tolol amat saya kalau masih menyangka si Yummy tadi masih sendiri! Emang perempuan yang asyik milih underwear itu nyokapnya?? Plis, deh, La…. Continue reading

perfect way to say…

Sudah beberapa pagi ini telinga saya dimanjakan dengan the amazing voices of Air Supply. Gara-gara Bro men-download belasan lagu Air Supply dari internet lalu memutarnya di MP3 player mobil sedannya tanpa henti alias non stop, dari buka pagar rumah sampai saya turun di depan kantor hey Bro, tadinya aku mau bilang kalau kamu nurunin aku di pinggir jalan gara-gara takut mobilmu musti masuk bengkel kalau melewati jalan yang acak-acakan begitu… tapi ntar besok-besok kamu ogah nganterin aku lagi kan bahaya… hehe… jadi sudah berhari-hari pula saya makin kecanduan dengan lagu-lagu Air Supply yang sangat cantik.

And a few days ago, they tempted me with their ever lasting song: Good Bye.

I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have so much more
I can feel your heart and I sympathize
And I’ll never criticize all you’ve ever meant to my life
I don’t want to let you down
I don’t want to lead you on
I don’t want to hold you back
From where you might belong…

Mungkin karena masih terlalu banyak space di dalam otak saya sumpah deh, segala macem teori yang dulu diajarin Bapak Ibu Dosen di kampus, udah nggak inget semua! Itu yang bikin spacenya tersisa banyak.. hihihi… sehingga saya malah membayangkan tentang my own and private goodbyesContinue reading

tentang Pacar yang tidak romantis

Saya adalah Hollywood Dreamer.

Yang disebut dengan Hollywood Dreamer menurut kamus saya adalah: perempuan yang terlalu haus romantisme, suka berkhayal yang hiperbolis, dan seringkali berharap akan mengalami kejadian-kejadian seperti yang ada di dalam film-film drama romantis Hollywood di dalam kehidupan nyata. Contohnya: ketika memutuskan untuk menyudahi hubungan dan pergi meninggalkan sang Lelaki tercinta… ternyata Lelaki itu berlari menyusul saya ke Bandara membawa seikat mawar kuning dan berkata, “Jangan pergi, Laaaa…!! I can’t live my life without you…..uu….uu…uuuu….” Yep. Suaranya bergema dan mulut Pacar langsung monyong dengan seksinya ketika mengucapkan itu! Hihi…

Lantas?

Apa yang salah dengan menjadi a true Hollywood Dreamer? Apakah saya melanggar peraturan di negeri saya? Apa ada aturan yang menyebutkan bahwa kadar keromantisan seseorang adalah harus di bawah 75%, karena kalau terlalu berlebihan akan membahayakan kesehatan? Atau, atau… apakah kalau saya terlalu bermimpi mengalami kisah hiperbolis seperti di film Hollywood maka saya dikategorikan orang sinting dan pantas diobservasi oleh lembaga Psikologi?

Ah… being romantic is not a crime, rite?

Yap.

Not a crime. No. No way.

Yang membuat ini terasa sebagai ketololan paling dahsyat adalah…

Ketika saya menuntut Pacar saya untuk bersikap super duper romantic! 😀 Continue reading

A song, last nite

I'm so blue without you...
I am blue.. without you…

It’s a song, last nite…

Darling, I’m so blue without you
I think about you the live-long day
When you ask me if I’m lonely
Then I only have this to say

“You’ll never know just how much I miss you
You’ll never know just how much I care
And if I tried, I still couldn’t hide my love for you
You ought to know, for haven’t I told you so
A million or more times?

You went away and my heart went with you
I speak your name in my evry prayer
If there is some other way to prove that I love you
I swear I dont know how
You’ll never know if you don’t know no

You’ll never know just how much I miss you
You’ll never know just how much I care
You said good-bye, no stars in the sky refuse to shine
Take it from me, it’s no fun to be alone
With moonlight and memories …”

(YOU’LL NEVER KNOW, Frank Sinatra)

… when I thought about you, about us, about our fights, our tears, our jealousy… And I couldn’t sleep and couldn’t wait to make up and say sorry…

Ah, I just love you.. that’s all.

With my weird and annoying ways… 😀

Past? Present? Or Future?

Karena cerita saya di posting berjudul JakartaPhobic, teman-teman langsung ‘menuduh’ saya masih belum bisa melupakan masa lalu saya. Mereka beranggapan, kalau segala ketakutan saya menjelang liburan 10 hari di Jakarta di akhir bulan Juli kemarin, adalah semata-mata karena saya belum bisa berdamai dengan masa lalu saya… yang bernama Orang Jelek; a supposed to be great guy that turned out as a bad one. Dan segala ketakutan saya terhadap Jakarta adalah bentuk manifestasi rasa cinta yang masih saya rasakan.

Bahkan, orang hebat satu ini bilang, “Tidak bisa tidak, kamu masih terpaut padanya!”

Dengan alasan apapun, dia masih keukeuh bilang hal yang sama. Itu artinya: Saya belum bisa melupakan masa lalu… In a nutshell, seorang Lala masih hidup di masa lalunya… tidak berpijak di masa kini…

Seperti yang dibilang Pacar ketika kemarin kami asyik ngobrol kangen-kangenan, tiba-tiba dia menyinggung soal bisakah saya menghadapi masa lalu saya kalau suatu saat kelak saya bekerja di kota Jakarta, kota yang dulu sempat jadi kota Terganas dan Terjahat… khususnya buat seorang perempuan dua puluh delapan tahun bernama Lala alias saya ini.

Segalanya tentang ketidakmampuan saya menyelesaikan urusan masa lalu saya.

Can you deal with the fact that today is today and yesterday is past?”

Sepertinya itu yang terpikir di benak Pacar yang mungkin sampai hari ini masih meragukan bahwa apapun itu, tidak akan sedikitpun mencuri rasa cinta saya buat dia.

Karena memang…

Seperti yang dibilang salah satu sahabat saya… Saya ini, adalah manusia yang hidup di masa lalu.. Tidak berani menghadapi masa depan… atau orang yang ingin stand still… menikmati apa yang ada sekarang sambil membiarkan imajinasi melayang ke masa lalu… tanpa menikmati apa itu mimpi masa depan…

Benarkah?

Apakah saya hidup di masa lalu?

Tak bisa melepaskan diri dari kukungan masa lalu?

Terjebak dengan kisah-kisah bertahun-tahun kemarin yang masih menyisakan luka, pedih, atau bahagia?

(seperti posting saya belakangan ini yang tak jauh-jauh dari Mami, Mami, dan photo-photo jadul yang membuat saya tersenyum sendiri saat melihatnya)

Tapi apakah itu dengan semerta-merta menjadikan saya sebagai orang yang takut untuk bermimpi tentang masa depan?

Senaif itukah segala faktor itu membuat saya ditahbiskan sebagai perempuan yang tak ingin kemana-mana selain di sini saja?

Hmm…

Mari kita lihat, di bagian masa yang mana saya tinggal.

Kemarin?

Hari ini?

Atau Esok Hari?

Let’s take a look…


You Live in the Present


You take things one day at a time.And it turns out, that’s a pretty great way to live.You aren’t consumed by the past, and you’re aren’t obsessed with the future.

You live in the now, and you enjoy each moment.

While most people don’t live in the present enough, make sure you don’t live in it too much.

It would be a mistake to forget your past or neglect to plan for the future.

 

Do You Live in the Past, Present, or Future?
Jadi saya adalah orang yang hidup dan menikmati hari ini saja? Dan saya menikmati segalanya yang bisa saya nikmati hari ini? Katanya pikiran saya tidak banyak tersita untuk memirkan masa lalu dan masa depan bukanlah hal yang membuat saya terobsesi?
…. Am I that kind of person?
… ataukah situs penguji itu sudah kadaluarsa dan butuh untuk segera diperbaiki? 🙂
Hmmm…
Saya rasa… Mungkin situs ini tidak sepenuhnya benar, meskipun ya, saya ini orang yang sangat sangat berusaha untuk mensyukuri apa yang sudah saya punya… (walaupun kadang kalau lagi isengnya kumat, saya suka godain Bunda dan bilang begini, “Bun, Bun.. Kok aku pingin operasi mancungin idung yaa… Terus pingin ini lho…. gedhein s**u biar seksi kayak Pamela Anderson… Terus, yaa… sedot lemak…!” Lalu hal ini sukses bikin Bunda Tercinta menceramahi saya panjang lebar! Hahaha)
Lepas dari saya hidup di masa manapun…
Kemarin, kah…
Hari ini, kah…
Atau esok hari…
Saya tetaplah seorang Lala yang bawel, moody, cerewet, bandel, dan secantik Luna Maya *yang merasa fans-nya Luna Maya, silahkan angguk-angguk setuju dan bilang kalau saya memang mirip idola kalian! hihi*
Meskipun selalu dengan catatan…
Stay allert.
Dan lalu saya rajin-rajinlah latihan lompat tali supaya bisa dengan mudahnya berpindah-pindah dari kemarin, hari ini, lalu ke esok hari… 🙂

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono