archives

masa lalu

This tag is associated with 5 posts

The Blast from the Past

When love is lost, it’s not the letting go of your loved one that will hurt the most.
It’s the holding on to them that will be killing you…

~ Unknown

 

“Billy pulang kampung, lho, Bel.”

“…”

This time is for good.

“…”

“Sejak ayahnya meninggal, dia tau, dia harus pulang. Ibunya sendirian di sini, dia kasian.”

“…”

“Aku dikasih tau sama Dicky tadi pagi pas aku nyiapin sarapan. Kaget dengernya. Billy yang nggak pernah pulang dan milih untuk kabur ke luar negeri itu akhirnya pulang. Surprise banget!”

“…”

“Dicky bilang, semalem mereka ketemuan sama beberapa temen yang lain. Ada Iwan, Januar, Ratih, Siska.. reuni kecil-kecilan gitu, deh, Bel. Sampe malem, kayaknya. Soalnya pas jam sepuluh gue pamit mau tidur duluan, Dicky bilang dia masih sama Billy.”

“…”

“Billy sekarang berubah banget, Bel. Lebih tenang. Nggak kayak dulu yang grusa grusu banget jadi orang. Gemukan, katanya. Tapi tetep kayak dulu. Masih kayak bule.”

“…”

“Dia udah pindah ke Surabaya sejak semingguan yang lalu, tapi baru kemarin ngumpul sama temen-temen. Katanya masih ngurus pindahan. Dia beli rumah di daerah Citraland sana. Ngajak ibunya tinggal bareng sama dia.”

“…”

“Dia masih belum nikah, lho, Bel. Can you believe that?”

“….”

“Dicky sama aku  mikirnya bisa sama, lho, Bel. Kirain Billy bakal kawin sama cewek bule gitu gara-gara kelamaan di Aussie. Eh, taunya masih jomblo sampai hari ini. Tau deh, kenapa.”

“…”

“Pas Dicky nanya, Billy cuman ketawa aja. Dia nggak tertarik cewek bule. Dia sukanya cewek-cewek Asia gitu.. Kayak, um… kamu.”

“…”

“Kayaknya dia belum bisa ngelupain kamu, Bel. Dia nanya kabarmu ke Dicky. Nanya apa kamu udah nikah, kamu tinggal dimana, kerja dimana.”

“…”

He’s longing to meet you again, katanya. Dan pisah dari kamu waktu itu adalah kesalahan yang paling dia sesali.”

“…”

“Dia nyesel karena udah bikin kamu marah. Dia nyesel karena maksa pergi. Dia nyesel karena nggak pulang untuk maksa kamu ikut. He’s living his regret, Bel. Dia masih cinta banget sama kamu…”

“…”

“Dicky sampai sedih dengernya. Dia nggak sampai hati untuk bilang sama Billy kalau kamu…”

“…that I’m getting married in two days?”

“…”

“Kalau dalam dua hari ke depan aku bakal jadi istri orang dan penyesalannya sudah nggak ada artinya lagi?”

“…”

“Kalau secinta apapun dia sama aku, nggak akan memberikan pengaruh apa-apa?”

“Bel… Dicky nggak bilang apa-apa. Dicky nggak sampai hati.”

Well, bilang Dicky, dia nggak perlu bilang apa-apa…”

“…”

“Karena Billy sudah tau, sejak seminggu lalu.”

Saya ingat wajah Billy. Bercahaya, ketika bertemu dengan saya, seminggu yang lalu. Saya ingat kalimat-kalimat penuh cintanya di surat elektronik yang datang rutin sebulan belakangan ini. Di telinga saya masih mendengungkan rayuan penuh cinta, kerinduannya, rasa penyesalannya karena telah meninggalkan saya demi mimpi-mimpinya saat itu. Di dada saya, masih mendenyutkan kenangan-kenangan kami berdua selama bertahun-tahun pacaran yang tidak akan pernah terlupa sekalipun saya amnesia.

He was the love of my life. Perebut semua logika, pembunuh semua rasa, pemantik rasa sakit yang tak berkesudahan sampai akhirnya Radja, calon suami saya, merangkul saya dengan cinta yang tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Yes, Billy was the love of my life.

But now, he’s just a blast from the past.

Just like the kisses we shared, a week ago…

Will stay in the past.

 

**

Surabaya, Mar 15, 2014

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Continue reading

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Artificial Me

Hari Minggu adalah hari bersih-bersih, yang artinya, hampir dari pagi sampai sore aku menghabiskan waktuku di rumah. Bersih-bersih, tentu saja. Fokus hari ini adalah kamarku tersayang, membersihkan lemari yang isinya barang-barang dari jaman baheula dan tidak pernah terpakai lagi sejak jaman baheula juga.

Aku memang sentimentil untuk urusan barang-barang. Sekalipun sering barang itu sudah tak terpakai lagi, tapi tetap saja, sisi sentimentil yang menyertai sebuah barang cukup menjadi alasan buat aku untuk tetap menyimpannya. Dan itu sama saja dengan menumpuk banyak barang-barang tidak berguna di dalam lemari.

Kamu tahu definisi barang yang tidak berguna? Continue reading

Senangnya Menjadi Bocah!

Memang sangat menyenangkan menjadi seorang bocah!

Pikiran ini terbersit karena seorang sahabat blogger, Uda Vizon, menempelkan video klip lagu Indra Lesmana yang bercerita tentang masa kecilnya yang menyenangkan di halaman Facebook-nya. Indra dewasa kangen dengan Indra kecil yang setiap hari selalu bermain, berlari, berputar, menari… Tsah! Seneng banget nggak, sih?

Sekonyong-konyong, saya teringat kembali dengan masa kecil saya. Seperti deskripsi Indra di lagunya, saat masih kanak-kanak dulu, tiada hari yang terlewatkan tanpa bermain… Ya. Bermain.

Kemudian, hm.. berlari-lari di jalanan, entah untuk bermain gobak sodor atau benteng-bentengan. Kompak dengan anak-anak tetangga yang ramainya menyurut ketika Maghrib tiba.

Lalu berputar-putar sambil menari… Ugh yeah! Dengan tubuh yang montog dan menggemaskan ini, saya dulu adalah seorang penari yang selalu mengisi acara tujuhbelasan sampai Porseni, dari tingkat lokal sampai internasional! Haha, bukan, saya bukan dikirim ke luar negeri, tapi saya selalu mewakili sekolah dengan menari di sekolah internasional Jepang dan menari dengan kawan-kawan saya.

It was fun!

Bermain..
Berlari..
Berputar..
Menari…
Hampir setiap hari!
Betapa menyenangkannya menjadi bocah, kan?

** Continue reading

Catatan Harian

July 2021
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono