archives

Marriage

This tag is associated with 13 posts

Going to the Doctor

Suatu sore saya terlibat percakapan dengan seorang rekan kerja. Just call her Yuna.

“Mbak, mbak sudah hamil belum?” tanyanya.

Sore itu menjelang jam pulang kantor. Dengan energi yang sudah kesedot habis berganti dengan keinginan menggebu untuk pulang. Kalau bukan Yuna yang bertanya, mungkin saya bakal nyolot, marah, lalu bilang, “Belom. Ngapain lo nanya?” Tapi karena ini Yuna, yang nasibnya sama seperti saya — alias nikahnya udah lama, jauh lebih lama malah, dan belum hamil juga — saya dengan santainya menjawab, “Belum, Dek. Kenapa?”

Rupanya dia cuman mau cerita soal kunjungannya ke dokter kandungan, beberapa waktu yang lalu. Ke dokter yang terkenal punya semacam magic untuk menghamili — eh, sounds wrong, ya? — maksud saya, membuat perempuan yang susah punya anak jadi tokcer hamil kayak kelinci. Continue reading

Advertisements

I’m Married!

Deka & Lala

Ketika mendengar kata-kata ‘married’ atau ‘menikah’, apa yang segera terlintas dalam benakmu?

Komitmen dua manusia untuk saling mencintai, menerima segala buruk dan baik pasangannya, tak peduli ternyata infertile, rambut rontok, badan menggelambir, gigi tanggal, tidak sehat secara fisik, suka ngupil, suka meletakkan baju kotor di sembarang tempat, posesif, dan lain sebagainya itu sampai maut memisahkan mereka berdua?

Atau menikah artinya seseorang terperangkap di dalam sebuah ikatan sakral, sampai seumur hidup mereka, tak bisa melakukan apa-apa karena mereka terlanjur tercatat sebagai suami-istri?

A friend of mine once told me this, “Menikah itu ngerepotin. Bayangin, yang biasanya apa-apa cuman mikirin satu orang aja, sekarang musti mikirin orang lain. Kalau dulu, mau pergi kemana tinggal berangkat, eh, sekarang musti nanya apa yang satunya nggak keberatan kalau aku pergi. Ribet!”

Point taken. Setelah menikah, memang ada dua kepala. Yang jalan pemikirannya pasti tidak akan pernah sama, semirip apapun mereka. Pasangan kembar aja bisa berbeda, kok, apalagi dua orang yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang berbeda. Tidak akan sama. So, that’s true. Menikah, yang artinya penyatuan dua pemikiran manusia itu tidaklah mudah. Cenderung ribet.

Tapi, seorang teman yang lain segera menyahut, mengomentari kalimat temanku sebelumnya, “Iya, emang ribet. Yang dulu cuman mikirin satu orang, sekarang jadi dua orang. Tapi, pernah nggak, sih, kamu ngerasa, kalau dengan adanya dua kepala, artinya kamu bisa punya partner untuk mencari jalan keluar setiap masalah yang lagi kamu hadepin? Kamu punya teman bertukar pikiran, kamu punya temen untuk saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi apapun yang kamu rasakan itu?”

Ah, point taken. Jelas sudah seperti yang dibilang temanku. Dengan adanya dua kepala, kita tidak lagi sendiri dalam menghadapi masalah. Kita punya jemari yang digenggam untuk menguatkan. Kita punya seseorang yang bisa didengarkan nasehatnya dan merangkul kita saat tak bisa tidur setiap malamnya. Kita punya seseorang yang tidak akan pergi setelah minum dua cangkir kopi dan menghisap beberapa batang nikotin, misalnya, karena dia akan ikut pulang dan terus memikirkan apa yang terbaik buat kita. The husband. The wife. Separuh jiwa kita yang tak ingin kita kesakitan sendirian.

Hmm…

Marriage is a bit of this and that, memang. Tidak melulu menyenangkan, tidak melulu juga membuat hati ngenes. Just like life itself. There’s always ups and downs in our journeys. Seperti yang pernah aku tulis di buku-ku yang pertama, that life is like riding a roller coaster. Saat berani membeli tiket untuk menaiki wahana itu, kita harus siap dihentak, dibolak-balik, dibuat muntah, dibuat pusing, dan sebagainya. Kita musti menikmati saja, karena toh, kelak, permainan itu akan usai juga. Itulah kenapa, akhirnya aku memilih untuk menyudahi ‘masa lajang’ku. Dan memilih untuk ‘menikah’… Continue reading

What do I want?

Ketika seorang sahabat menyatakan tidak ingin menikah, not ever, sepanjang umurnya, seorang sahabat yang lain memberikan kabar kalau dia sudah menemukan lelaki pilihannya dan lelaki itu telah menyematkan cincin pertunangan di jari manis sahabat saya.

Bayangkan saja; dua kondisi yang sangat kontras.

Yang satu menganggap pernikahan bukan satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, di mana ultimate happiness for each person can be different, tidak melulu bisa dicapai dengan cara menikahi seorang lelaki, beranak, dan tua bersama-sama, sedangkan yang satu lagi menganggap kalau pernikahan ini akan menyelamatkan kesendiriaannya, membawanya menuju ke kebahagiaan yang sudah lama dicarinya tapi tak juga ketemu sampai akhirnya ia menemukan calon suaminya. Continue reading

Learn From Your Own Mistakes

Seorang sahabat membuat saya terperanjat kaget dengan keputusannya. Okay, tidak hanya saya, tapi siapapun yang mendengar kalimat-kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya.

Coba, seandainya kamu mendengar kalimat berikut ini, apa reaksi kamu, hm?

“Gue udah manteb untuk nggak nikah, La.”

Kurang dramatis? Okay. Bagaimana kalau kemudian dia melanjutkan kalimatnya dengan kalimat-kalimat ini:

“Gue sudah cukup bahagia dengan keadaan hidup gue. Gue nggak mau ruin itu dengan kawin dengan laki-laki yang bisa jadi nggak malah bikin gue lebih bahagia, tapi justru bikin gue lebih menderita.”

Masih kurang dramatis juga? Okay. Bagaimana kalau dia melanjutkan lagi dengan kalimat ini:

“Gue tahu, hidup ini nggak tertebak. Dan bener banget, it’s all about choices. Dan, ya, ya. Gue tahu banget kalo perkawinan tuh seperti gamble, berjudi. Kita nggak bakal pernah tahu ntar bakal seperti apa. Menderita atau malah super duper happy, cuman rahasia Tuhan. Orang bilang, hidup memang penuh spekulasi, taruhan. Tapi, lo tau, kan? Gue bukan orang yang mau-maunya spekulasi untuk hal-hal yang gue anggap nggak terlalu penting? Emang salah, kalo gue pingin main aman aja?” Continue reading

Necessary or Too Much?

Saya nggak tahu. 

Musti ketawa, musti merasa miris, atau manggut-manggut setuju.

Saya nggak tahu.

Musti mengakui kalau ini penting, kalau ini berlebihan, kalau ini, in some level, adalah satu hal yang harus dilakukan.

Saya nggak tahu musti bereaksi seperti apa. Sama sekali nggak tahu musti berkomentar apa. Sama sekali kehilangan ide untuk berkata apa, saat seorang teman bercerita soal Perjanjian Pra-Nikah sepupunya, yang terasa getir sekaligus geli ketika terkunyah oleh rangkuman saraf di otak saya.

Yang bisa saya lakukan cuman bertanya:

Perjanjian Pra-Nikah. Is it necessary? Or is it too much?

*** Continue reading

Children and Snakes

Do you like kids?

Anak-anak kecil dengan celoteh riang mereka. Anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari sambil tertawa seolah hidup adalah taman bermain yang sangatlah luas. Anak-anak kecil yang bisanya tertawa, menangis, ngomel, merajuk….

Do you like them?

Apakah kamu menikmati guliran waktumu bercengkerama dengan mereka. Ikut bermain boneka, masak-masakan, play dough,  menonton televisi, atau menceritakan dongeng sebelum tidur buat mereka?

Apakah kamu menganggap kalau wajah-wajah mereka ketika terlelap setelah seharian bermain adalah wajah-wajah terdamai yang pernah kamu lihat dan kamu tak sabar mengetahui seberapa indah surga, karena kamu merasa duniapun sudah terasa sebegini indah dengan melihat wajah-wajah cute anak-anak?

So, do you like kids?
Do you enjoy spending your time with them?

Ketika pertanyaan ini saya lontarkan pada sahabat saya, she said, “Are you kidding? Sejak kapan anak-anak menyenangkan? They’re snakes!”

ULAR?

Yaiks! Continue reading

will he turn into a monster one day?

specially dedicated to all women I really care about…


Seorang lelaki.

Dengan rambut ikal pendek. Dengan wajah yang bercahaya. Dengan kedua matanya yang berwarna hitam kecokelatan yang berbinar-binar  seolah menyembunyikan ribuan bintang dari langit yang mendadak gelap and he is all very shiny. Dengan hidung yang menjulang tinggi, very perfect. Dengan bibir yang penuh, menyembunyikan gigi-geligi yang sehat, putih, dan cemerlang. Semua keindahan wajahnya ditunjang dengan tubuh setinggi seratus delapan puluh senti, berkulit kecoklatan yang seksi, dan perut ala roti sobek. Iya. I’m talking about six packs, Baby…!

Pekerjaannya yang sempurna…. how about a great businessman with his billion dollars company?

Perilakunya yang sempurna…. always treat you like a lady and put your needs first before his?

Sifatnya yang membumi…. always a pleasure to give you a company on a casual lunch…. di warteg pinggir jalan?

He’s a perfect gentleman, isn’t he?
He’s a perfect boyfriend, isn’t he?
He’s like a prince charming with a white horse who says sweetest things to make you happy, isn’t he?

Tapi bagaimana kalau saya lanjutkan cerita tentang lelaki yang saya dan kamu telah menasbihkannya menjadi The Most Delicious Man of The Year itu tadi dengan sebuah fakta ini:

A guy with the perfect attitudes, perfect hair, perfect job… and perfect jab.

Iya. Jab.

Salah satu pukulan mematikan di sebuah pertandingan tinju profesional… Continue reading

Mas Kawin!

Semakin mengingatkan saya kalau tanda baca itu penting (coba saya kasih koma, pasti artinya jadi beda –> Mas, Kawin! Apalagi kalau nadanya rada-rada ganjen dan ngelelet-leletin lidah… hihi… kucing kawin mode: on)

Saya lagi seneng banget ngobrolin soal pernikahan. Dari sejarah kenapa saya nggak nikah-nikah sampai sekarang (karena ada urutannya segala… d’oh!) sampai cerita soal ‘piala bergilir buluk’ kemarin itu. Barusan saya terpikir, gimana kalau sekalian saya bikin serial “Lala Pingin Kawin” alias LPK, supaya saingan sama serial yang ditulis teman saya, Daniel Mahendra, The Waiting is Almost Over. That would be cool, eh? 😀

Continue reading

Love Will Keep Us Alive

 

“Don’t marry someone for ridiculous reason.”

Itu adalah kata-kata yang selalu dengan bawelnya meluncur keluar dari mulut saya. I know, I know. Banyak yang mengatakan bahwa pernikahan memang butuh logika; tidak melulu urusan cinta. Kata orang; cinta tidak bisa membeli beras, lauk pauk, dan membayar sekolah. Kata orang; menggunakan cinta saja sebagai modal pernikahan adalah sesuatu yang kini musti ditinjau ulang.

Hmm.

But let me ask you something:

Can you imagine yourself, wake up in the morning, and the first person you see is a total stranger who can provide you the whole world but love?

Can you imagine yourself, make love with someone without any loving feeling?

One more thing.

Can you imagine yourself, stay at home with a guy that you never fell in love with?

Cinta mungkin tidak bisa membeli beras. Jarang sekali ditemukan ada seorang Kepala sekolah yang mau menerima cinta sebagai bukti pembayaran. Tapi tanpa cinta, sebuah pernikahan adalah seperti kontrak perjanjian yang dingin; di mana ketika segalanya sudah terpenuhi atau malah tidak pernah terpenuhi, entah suami, entah istri, akan memiliki berjuta-juta alasan untuk saling menjauh dan berlari pergi… Continue reading

One Way Ticket, Please!

I’ve told you that life’s moving forward and not the other way around.
Iya kan?

Saya juga pernah bilang sama kamu, kan,  kalau setiap hari, kita harus pintar-pintar mengambil kesempatan sebelum terlambat dan suatu saat kelak kamu akan merasa sangat menyesal karena tak pernah berani mengambil langkah yang seharusnya kamu lakukan itu? Yang kemudian saat itu saya bertanya padamu kamu, “Is that the kind of life that you really wanted to live? Spending the rest of your life, thinking of things that should’ve been said and done?”

Itulah kenapa saya seringkali bilang, hidup adalah soal perjalanan yang maju terus ke depan. Entah itu bukan keputusan yang bijak, tapi tetap saja, mesin waktu yang bisa membawa saya kembali ke pelukan masa lalu saya tidak akan pernah bisa terbeli karena Lang Ling Lung masih sibuk mendapat order-an dari Paman Gober! Jadi, sudahlah! Lelah menantinya! 😀 Continue reading

Catatan Harian

November 2017
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono