archives

Kangen

This tag is associated with 3 posts

I miss him

Kamu tahu bagaimana rasanya kangen pada seseorang sampai sakiiiitttt banget karena kamu nggak tahu gimana caranya untuk menebus semua rasa kangen itu? Meanwhile the telephone could never take the place of his smile and emails could never replace his warm hugs?

Seandainya menelungkupkan kepala di balik bantal dan bersembunyi dalam pelukan selimut sambil memejamkan kedua mata saya bisa membuat saya melupakan rasa kangen itu… I would gladly do it. Tapi, tidak. Justru ketika kedua mata saya terpejam, imajinasi itu semakin liar berubah bentuk menjadi mimpi-mimpi rindu yang membuat hati saya berdebar ketika bangun berjam-jam berikutnya.

Merindukan seseorang sampai kamu tidak tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk mengusir pergi rindu itu karena sudah terlau menyiksamu; itulah yang kini saya rasakan pada seseorang. Lelaki yang pernah datang mengetuk pintu lalu pergi. Lelaki yang pernah berjanji tapi saya sangsi apakah janji itu masih tertinggal di hati. Lelaki yang entah kenapa, membuat saya berpikir sangat culun seperti ini, “I will never get married, tidak kalau bukan dengan dia…”

Sebut saja saya tolol. Bodoh. Goblok. Atau hina saya dengan kalimat-kalimat terbaik yang kamu punya.

Tapi rasa rindu saya buat dia mengalahkan segalanya. Ya, termasuk perasaan malu karena kini kamu semakin menganggap saya sebagai perempuan paling aneh sedunia.

Saya tidak peduli.

Saya hanya terlalu kangen dengan lelaki itu.

Lelaki bernama Jonathan, yang kini entah sedang melakukan apa di belahan bumi yang nun jauh di sana…

Lala sayang kamu, Joe.

There. Now the whole world knows that I do…

***

…and eventhough I know how very far apart we are
it helps to think we might be wishing on the same bright star
and when the night wind starts to sing a lonesome lullaby
it helps to think we’re sleeping underneath the same big sky…

***

Kamar, Kamis, 13 Agustus 2009, 8.20 Malam
Pengaruh ngantuk, kangen, dan PMS, sehingga jadi lebay begini 🙂

are you lonesome tonight?

Pacar…

Malam ini saya kangen kamu. Padahal distraksi apapun sudah saya lakukan untuk menepiskan segala rasa kangen yang pelan-pelan membuat saya lelah sendiri.

Saya sudah melintasi puluhan kilometer dari sini, untuk membuat segala pikiran saya tidak hanya tertuju kepadamu. Tapi apa yang terjadi? Kamu malah selalu ada dalam setiap kedipan mata saya…

Saya sudah menghabiskan waktu dengan berjalan ke sana ke mari, untuk membuat saya berhenti fokus kepadamu. Tapi apa yang terjadi? Kamu sama sekali tak pernah jauh dari benak saya…

Saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, untuk tidak terlalu merindumu. Tapi apa yang terjadi? Kamu justru dengan asyiknya bermain-main di dalam isi kepala saya…

Dan segala kerinduan yang menggila setiap detiknya ini membuat saya ingin bernyanyi lagu ini… Lagu yang sempat saya nyanyikan perlahan persis di telinga kamu, beberapa hari terakhir sebelum kamu pergi malam itu… Ingat kan, Pacar?

Are you lonesome tonight?
Do you miss me tonight?
Are you sorry we’re drifted apart?

Does your memory stray to a bright summer day?
When I kissed you and called you Sweetheart
Do the chairs in your parlour seen empty and bare?
Do you gaze at your door step and picture me there?

Is your heart filled with pain?
Shall I come back again?
Tell me Dear, are you lonesome tonight?

(Are You Lonesome Tonight, Elvis)

Ya, Pacar…

Are you?

(karena saya sungguh kangen kamu!)

…how’s heaven?

– Sejatinya, tulisan ini saya posting di blog, hari Senin kemarin, tapi karena faktor GPRS yang nggak kompakan sama sekali, akhirnya tertunda sampai sore ini… –

Ini bukan hari Senin biasa. Bukan hanya sekedar hari di mana saya musti mengerjakan laporan allowance untuk disubmit ke Jakarta sebagai data penunjang gaji bulanan yang jatuhnya minggu depan itu. Juga bukan hanya sekedar hari Senin yang super hectic karena biasanya telepon berdering-dering nggak kenal kompromi *eh, saya dan Bunda kan butuh ngegosip juga? hehe*. Juga bukan sekedar hari Senin yang selalu bikin saya malas bangun pagi dan siap-siap ke kantor, padahal weekend kemarin hidup saya lumayan nano-nano dan bikin badan pegel-pegel.

Ya. Hari ini memang bukan hari Senin yang itu. Karena hari Senin kemarin…. tanggal 21 Juli 2008 kemarin…. adalah hari ulang tahun Mami. Ya. Mami tercinta saya, bintang paling terang dalam hidup saya, yang selama ini menjadi reminder setiap langkah saya, dan menjadi wajah pertama yang teringat ketika hati tak kuasa menahan emosi, telah berulangtahun yang ke-59.

Hhhh….

Dada saya sesak seketika saat membayangkan bagaimana wajah Mami ketika usianya menyentuh 59. Seperti apakah wajahnya? Masihkah kecantikan itu tersisa di wajahnya? Sehatkah tubuhnya? Apa komentarnya dengan sebuket mawar segar dan ucapan penuh sayang dari si Bungsu-nya yang belakangan makin bandel aja sok diet sampai maagnya kumat ini? Si Bandel yang hobi pacaran tapi nggak segera pesen katering buat acara resepsi nikahnya ini?

Wajah terakhir yang terbayang hari ini adalah wajah seorang fifty three years old Mami. Kala itu, wajahnya penuh dengan cahaya, meski guratan lelah ikut menggarisi wajah cantiknya. Matanya tetap berpendar, sekalipun once or twice saya melihat keputus-asaan itu. Suaranya masih lembut, meskipun sesekali Mami masih mencereweti saya yang nggak segera pulang ke rumah dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan Gang Gila di kampus. Dan kini sudah enam tahun… Gosh… Six whole years… dan saya yakin, dalam waktu enam tahun, telah banyak yang berubah….

Saya telah bermetamorfosa menjadi perempuan aneh dan narsis…

Telah lahir dua orang keponakan dari perut Mbak Pit, kakak tercinta saya…

Bro sudah berhasil dengan pekerjaannya….

dan Papi… in his present condition, masih berjuang untuk mengalahkan sakit yang menderanya selama ini… Six years. And everybody has changed.

….mungkin Mami pun juga telah berubah. *again, saya selalu punya mimpi nggak penting tentang provider telepon seluler yang bisa menghubungkan saya dan Mami di Surga sana… damn! Wake up, Sista!*

Hmmm… Kalau terlalu memanjakan sisi emosi saya, bisa-bisa saya malah nangis sesenggukkan dan bikin repot office boy yang masih nangkring jam segini 🙂 So, saya nggak ingin menjadi sentimentil di hari yang mulai menginjak malam ini. Lagipula, mengetik sendiri di lantai tiga yang sepi, cuman ditemani suara hembusan air conditioner yang letaknya persis di depan jidat saya, tentu membuat bulu kuduk lumayan meremang kalau dibarengi dengan sentimentil-sentimentil segala ^_^

Then I decided to keep my head up. Hell, I don’t wanna cry. It’s a celebration for my Mother’s birthday… Seharusnya saya senang… Seharusnya bukan air mata yang saya persembahkan di hari ulang tahunnya… Seharusnya saya malah mengambil air wudhu dan memanjatkan doa untuk Mami yang kini mungkin sedang geleng-geleng kepala melihat kebandelan puteri bungsunya ini…

Ah. Sudahlah.

*inget La.. no more tears… no more f**king tears, OK?*

Ya, eventhough I know that technology cannot brigde my distance with Mami, but I’d still believe, that my love for her, will brigde any distance between me and my mother, no matter how far it is…

She’d know…

She’d understand…

and I believe…

she loves me…

Mami… Happy birthday, ya..

Segala cinta di dunia ini Lala persembahkan buat Mami, supaya Mami tenang di sana… Supaya Mami lebih ikhlas melihat Lala di dunia yang masih belum jadi apa-apa ini… Lala janji, Lala akan selalu berusaha untuk menjadi seorang anak perempuan yang tidak akan mengecewakan Mami. Itu hadiah Lala buat Mami, ya? Tentunya, selain doa yang tak pernah putus setiap malam, untuk Mami yang paling Lala sayang…..

ps. How’s heaven, Mom? Is it beautiful? Or it’s just a rumour? 🙂

Catatan Harian

August 2022
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono