archives

inspirasi

This tag is associated with 8 posts

My Name is Lala

Aku pernah merasa iri dengan orang-orang yang bisa menuliskan kembali kisah hidupnya yang super dahsyat, kemudian tulisan-tulisannya itu terangkum dalam sebuah buku yang best seller.

Kisah Andrea Hirata, misalnya. Kurang best seller apa, coba?

Lalu untuk yang di luar negeri, kisah yang terangkum dalam buku Eat, Pray, Love, yang kemudian juga dijadikan film dengan judul yang sama, diperankan oleh seorang aktris hebat, Julia Roberts?

Dua contoh di atas adalah sekian banyak contoh kesuksesan yang diraih oleh seseorang yang memiliki kisah-kisah hebat dalam hidupnya, lalu berusaha dituliskan kembali dengan apik sampai akhirnya berhasil menyedot banyak perhatian karena perjalanan hidup mereka yang luar biasa menginsipirasi banyak orang. Continue reading

Panggilan dari Surga

Pernahkah kamu berada di sebuah toko buku, tanpa memiliki secuilpun bayangan jenis buku apa yang akan kamu beli, penulis mana yang bukunya bakal kamu nikmati lembar demi lembarnya, tapi kamu tak bisa menghentikan langkah kakimu untuk menyusuri lorong demi lorong rak-rak buku?

Kalau pertanyaan itu musti kujawab, aku bakal bilang, “Pernah.” Oh tidak, bukan pernah, tapi, “Sering.”

Toko buku adalah sebuah Surga dunia; bersebelahan dengan warung makanan cepat saji dengan menu andalan ayam goreng kriuknya, jadi kusebut saja toko buku sebagai Surga Dunia blok B. Ada kesenangan tersendiri untuk berlama-lama di dalam toko buku, membiarkan sepasang mataku berkelana dari satu rak ke rak yang lain, menikmati lembar demi lembar buku sambil berdiri atau mencari kursi beralaskan cushion empuk lalu diam di sana sampai berjam-jam.

Siapa yang ingin meninggalkan Surga cepat-cepat, kan? 🙂 Continue reading

Seperti Jelangkung!

Pernah nonton film Jelangkung, nggak? Atau setidaknya familiar dengan jargon-nya yang mengatakan: “Datang tak diundang, pulang tak diantar”? Oh well, saya sih nggak akan cerita soal hantu-hantuan macam Jelangkung di blog saya, karena eh karena, saya adalah orang yang sangat penakut, sehingga menulis cerita tentang setan adalah nyari penyakit!

Lantas kenapa judulnya “Seperti Jelangkung”? Continue reading

Life Patterns

How do you live your life, so far?

Struggling with the same old routines every day? Atau menurut kamu, every day is a new adventure yang akan memacu adrenalin kamu, sehingga kamu merasa sungguh bersemangat dalam menjalani guliran menit yang ada?

 Well…

My daily life is kind of boring, actually. OK, terkecuali weekend, pastinya. You have no idea how weekends could be my vi*gra! Haha… pardon my French, Sodara-Sodara. Tapi memang seperti itu keadaannya, dengan rutinitas harian yang minus tantangan (kecuali beberapa waktu belakangan sejak saya mulai bekerja sebagaimana mestinya –> menjadi Staf Personalia yang tegas dan galak, tapi cantik dan menggemaskan! hihi), weekends adalah dua hari dalam seminggu yang bisa membuat mood saya meningkat drastis …sekaligus rekening di tabungan yang terkuras cukup signifikan! (ya, ya, termasuk kartu  ajaib keluaran Bank itu juga.. huhuhu). Continue reading

simple sweet nothings

Pernah nggak, sih, kamu merasa sangat nyaman dengan seseorang sampai akhirnya kamu sering melakukan simple sweet nothings?

Contohnya:

Meneleponnya hanya untuk bilang, “Nggak ada apa-apa… Iseng ajah. “ Ketika dia bertanya apa alasan kamu menelepon dia.

Atau:

Tiba-tiba mengirim pesan pendek di telepon selularnya, yang isinya hanya satu kata yaitu namanya. Setelah dia membalas pesan pendek dengan menanyakan apa maksudnya, we simply just wrote, “Just wondering apa kamu lagi mikirin aku, soalnya kok mataku kedutan mulu dari tadi…”

Benar-benar nggak penting, kan? Continue reading

Perempuan yang Narsis

Suatu hari saya dituduh sebagai perempuan yang narsis oleh kakak ipar saya. Dia bilang, “Dek, Dek… kamu ini narsis banget ya…”

Marah? nnggg…. kalau saya dituduh bencong, mungkin saya akan lebih marah lagi…. (marahnya karena kenapa dia baru sadar sekarang kalau adik iparnya ini memang bencong! hihihi…)

Sedih? ngggg… kalau saya dituduh seperti Riyanti Cartwright, ini jelas-jelas penghinaan… bukan tuduhan!… (kan saya mirip Luna Maya… enak aja dibilang seperti Riyanti… huh!)

Saat itu, saya malah mesam-mesem. Ini bukan karena saya memang kena syndrome penyakit gila akut atau sedang berhalusinasi yang jorok-jorok …maen di comberan, misalnyatapi karena saya menyadari, bahwa saya memang benar-benar narsis, seperti yang dibilang kakak ipar saya itu.

Mbak Ira punya alasan kenapa saya dibilang sebagai perempuan yang narsis.. iya, pake banget… Kenapa? Soalnya saat itu, dia melihat saya sedang asyik ber-photo-photo-ria memakai senjata andalan yaitu kamera di henpon saya.  Dari berbagai sudut, mulai posisi bibir dimonyong-monyongin tadinya sih pingin sok seksi, tapi malah menimbulkan hasrat si Bro untuk mencari karet lalu mengikat bibir tebel saya itu.. hihihi… sampai sok imut dengan pandangan mata berpendar-pendar ganjen! Haha…

Dan kenapa dia menyebut saya narsis banget?

Ya, pastinya karena kelakuan saya itu sudah menjadi hobby yang saya lakukan setiap saat. Setiap ada kesempatan, mulailah saya ber-narsis-narsis-ria di depan kamera. Dengan gaya yang nggak jauh berbeda alias bibir monyong dan sok imut dan oh ya, biasanya cuman muka saya aja, karena kalau photo-photo sendiri, yang keliatan cuman muka aja kan…

Seberapa parah hobby saya itu?
Lihat sendiri deh di bawah ini…

Bahkan di eskalator pun masih bisa bergaya…

narsis di eskalator mal

di eskalator Royal Plaza... no make up! 🙂

Apalagi di dalam mobil??? Ck-ck-ck… gayanya bisa hiperbolis banget dah! hahaha…

Kata temen, ini Pembokat Style! wakakakak...

Kata temen, ini Pembokat Style! wakakakak...

Dan banyak lagi photo-photo nggak penting lainnya yang kemudian saya simpan saya dalam folder komputer saja daripada ada orang iseng yang mengirimkan photo saya itu ke perusahaan sabun kecantikan sehingga saya terpaksa menjadi model iklannya… maksud saya, sebagai contoh buat masyarakat luas, kalau nggak pakai sabun itu, nantinya mereka bakal jadi seperti saya.. hihihi…

Dengan bukti-bukti kelakuan tidak penting saya itu, saya sangat rela serela-relanya untuk disebut Narsis atau Sok Cantik. Toh, saya memang melakukannya… Toh, saya memang suka banget mengabadikan pipi cempluk dan bibir sok seksi saya ini di handphone berkamera saya itu… I am happy for being myself, dengan segala plus-minus saya…

Dan sebetulnya, ada satu alasan lagi kenapa saya merasa narsis dengan diri saya sendiri atau jadi GR bukan main kalau ada yang bilang saya ini manis, cantik, lucu, menggemaskan, imut, baik… eh, eh, bentar.. bentar… sebetulnya ada nggak sih yang bilang begitu? Atau saya berhalusinasi lagi? Aih… berhalusinasi kok dijadiin hobby sih, Neng… hehe…

Kira-kira kamu tahu nggak apa alasan saya itu?
Hmm…
Karena saya tuh…
Pernah seperti ini… Continue reading

just let it go…

Then I heard some voices. Noisy ones. From next door.

“Memangnya dia bisa nulis?”
“Tulisannya sebagus apa, sih, sampai ada Penerbit yang nekat?”
“Ah, tulisannya nggak seperti orangnya!”
“Makin besar aja kepalanya setelah pulang dari Jakarta!”

And they don’t even read my writings… at all.
And they don’t even want to have my books… for free.

Mereka hanya bergunjing. Dengan bibir yang mencerocos seperti api yang semakin terbakar hebat karena diguyur bensin. Bibir yang tadinya nampak tersenyum manis saat saya bercakap-cakap dengan mereka, bibir yang tidak saya sangka akan mengeluarkan banyak kata-kata pedas yang diam-diam melukai saya.

Saya mendengarnya.
Saya merasakannya.
Getir sekali mendengar mereka mengucapkan kalimat-kalimat yang mengintimidasi, sementara tadinya kami saling asyik melempar canda. Masih hangat. Senyum saya masih tertinggal karena tertawa yang hebat, baru saja.

Tapi saya mendengarnya.
Dan senyum saya hilang…

*** Continue reading

stolen stories

Saya adalah seorang yang paling bisa membuat orang ‘membocorkan rahasianya’.

Ah.

Siapa bilang?

Sahabat blogger saya, si Kakak Kedua di the ‘famous’ (uhui!) Asunaros, EmiChan yang mengatakannya pada saya via chatting tengah malam, beberapa jam yang lalu.

Dan bukan Lala, si Tukang Ngeyel itu 😀 , kalau tidak mengelaknya dengan beralasan, “Buat bahan cerita, Sis… Kan lumayan jadi bahan untuk menulis…”

Dan si Kakak itu pun langsung bilang, “Dasar!” Dengan emoticon ketawa lebar.

Haha…

Saya lantas ingat dengan sahabat-sahabat Gila saya, Si GangGila. Tidak sekali dua kali mereka bilang sama saya, “Lu musti kasih royalti ke kita, La… Kita kan udah berbaik hati mau-maunya jadi bahan elu nulis…”

Dan saya selalu bilang, “Lah, salah sendiri jadi orang kok banyak banget masalahnya… Ya gimana gua nggak ngiler buat cerita?”

Lalu biasanya, mereka nggak akan segan-segan untuk menjitak saya (ya, kecuali percakapan itu dilakukan di telepon! Teknologi belum secanggih itu, lah! UNTUNG! hihi).

Tapi, tapi, bukankah seperti yang dibilang teman saya, si Daniel Mahendra, bahwa ide untuk menulis bisa didapatkan dari mana saja dan semua hal bisa menjadi bahan tulisan? Jadi sah-sah saja kan, kalau saya terinspirasi dari hal-hal ringan (atau malah berat) yang terjadi di dalam kehidupan orang-orang terdekat saya, lalu mencoba untuk menuangkannya dalam bentuk kata-kata dengan harapan ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sana? (aih, aih…)

Dan siapa yang menyangka juga, bahwa ternyata, setelah saya mengulik-ulik isi blog saya ini, ada banyak tulisan yang terinspirasi dari cerita-cerita kehidupan sahabat-sahabat saya ini?

Hmm.. coba perhatikan deh…

Dari seorang LIN, saya bisa menuliskan cerita-cerita ini…

Lin yang lucu!

Lin yang lucu!

running away

when you just can’t picture him in your fantasy

it’s just a freaking name

partner in culinary *yeah, Lin, it’s you ^_^*

oh Gosh!

Dari seorang LY, saya terinspirasi untuk menulis…

Ly, yang ngakunya ga bisa jatuh cinta.. alah!

Ly, yang ngakunya ga bisa jatuh cinta.. alah!

teman yang takut sendirian

yang tak pernah bermimpi

Dari YUN yang dibilang EmiChan sebagai perempuan yang paling keliatan ‘sadis’ dan ‘jangan macem-macem sama saya yah!’ 😀 , lahirlah cerita-cerita ini…

Yun, si Pemburu Hantu

Yun, si Pemburu Hantu

just believe. period.

kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?

Seorang TAT yang hebat, telah membuat saya berhasil menuliskan ini…

Tat, our own Miranda Hobbs

Tat, our own Miranda Hobbs

partner in crime

can you really forgive someone?

Si ELS, si mungil yang kecil mirip upil itu (haha), telah membuat saya bisa sekali menuliskan satu cerita tentang hari bahagianya yang berjudul my bestfriend’s wedding.

Els, si mungil kayak upil

Els, si mungil kayak upil

Dan kelima orang hebat tapi gila dan super najiz itu (ah, but I love you, Guys!) juga paling bisa membuat saya bercerita panjang lebar, rada ngomel, tapi penuh kebanggaan saat menceritakan ini semua…

till midnite, at starbucks

sex and the city… WANNABE! ^^

untuk GangGila tersayang

kalau GangGila ngumpul

are you willing to let go or not?

See? Betapa banyak yang bisa saya tulis hanya dengan mendengarkan cerita mereka, mengulik kenangan-kenangan saya dengan mereka-mereka yang sableng tapi pinter dan menggemaskan itu (aduh, fitnah nggak sih kalau saya bilang mereka dalah makhluk yang menggemaskan? hihi). Bermodalkan telepon sampai tengah malam dengan Lin, bergosip dengan Tat saat dia sedang malas menciptakan makanan baru di pabrik tempatnya bekerja, ngobrol sampai larut di Starbucks dengan GangGila (minus Ly), lalu guyonan bak orang sinting via yahoo!messenger dengan Ly di Hongkong… saya bisa mempunyai banyak ide dalam menulis!

Dan benar..

Masih seperti yang dibilang Daniel Mahendra, bahwa segala irama dalam hidup saya adalah materi untuk menulis. Di saat saya sedang menghadapi masalahpun, sebetulnya adalah materi yang bisa ditulis. Katanya, penulis harus bisa mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya.

Aha!

Jadi nggak salah kan, kalau saya mencoba untuk mencari berita, dengan cara saya? Yang terkadang, saking kepengennya punya bahan menulis, saya menelepon Lin dan mengajaknya bertemu… Dan selalu saja, first thing that crosses in her mind is… “Lu mau jadiin ini sebagai bahan postingan blog elu ya, La?”

HAHA…

I am sorry Guys…

Saya musti memanfaatkan stolen stories ini…

Terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja…

Dan terlalu najiz untuk tidak dibagi-bagi dengan teman-teman blogger saya… 😀

Ah..

I could  never thank you enough, Guys!

(“Bisa kok, La.. pake royalti tiap bulan kalau buku elu sukses!” kata si Lin dengan cengengesan.. hihi)

Hihi.. luv ya all… Kalian akan terkaget-kaget kalau tahu betapa saya merasa sangat beruntung telah menemukan kalian di dunia ini!

PS. Ya.. dan kalian-kalian yang telah menginspirasi tulisan-tulisan saya… (dan memang cuma kamu yang tahu bahwa itu kamu — seringkali anonymous soalnya nggak tega euy! Haha…)

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono