archives

Fiksi

This tag is associated with 26 posts

…and this is all about

akhir dari kisah empat manusia:  saya, gua, gue, dan aku

a-girl-in-the-rain1Seorang gadis manis, bergincu pink lembut, beralaskan kaki flat shoes with strings, masih duduk di atas cushions sofa empuk berwarna merah marun sambil menikmati gerimis yang turun di balik kaca kafe yang mulai berembun. Sesekali, dia mengusap kaca tebal yang dingin ini. Merabanya dengan telapak tangannya, merasakan sensasi dingin yang entah kenapa begitu menggetarkan hatinya. Sesekali, dia menggerakkan ujung jemarinya dan membiarkan jemarinya itu menari-nari di atas kaca bagaikan seorang penari balet yang meliuk-liukkan tubuh lenturnya di atas panggung. Satu jemari itu menari, seolah penari kesurupan. Karena tanpa sadar, dia menulis nama itu.

Angga.

“Oh my God…” bisiknya perlahan sambil terburu-buru menghapus tulisan di kaca berembun itu. Tangannya bergetar saat menghapus nama seseorang yang tertulis tanpa disadarinya itu. Kenapa saya harus nulis nama Angga? Kenapa alam bawah sadar saya kini malah mengendalikan saraf motorik saya? Apa yang sudah terjadi? Dia menghela nafasnya, menyadari bahwa tingkahnya sudah mulai tidak waras. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (7 dan Terakhir)

1/2/3/4/5/6

Kulihat Rei sedang duduk di depan komputernya. Sebentar-sebentar menengok ke mesin print, sebentar-sebentar mengetik sesuatu di atas keyboardnya, lalu kemudian sibuk sendiri dengan teman-temannya.

Aku melihatnya dengan hati yang berdebar.
Jantungku seperti berlompatan keluar dari relnya.
Keringatku menjadi sebesar bulir jagung yang keluar tanpa kendali dari anak-anak rambutku.
Aku takut.
Aku tak sabar.
Aku takut.
Aku ingin segera bilang.

Semalam sudah kuputuskan, untuk bilang saja padanya, ungkapkan semuanya, tanpa membutuhkan jawaban, hanya satu kepastian kalau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bercanda saat aku mengatakan betapa inginnya aku dicintai olehnya.

Tak perlu dia mencintaiku juga.
Atau mendapatkan reaksi paling romantis ala Shakespears, yaitu dia berhambur memelukku dan bilang dia mencintaiku juga sejak bertahun-tahun yang lalu tapi menunggu saat-saat seperti ini. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (6)

1/2/3/4/5

Seorang teman yang lain pernah bercerita padaku soal istilah “I love you came too late”. Cerita yang diawali dengan kisah romansa malu-malu tentang kata-kata cinta yang lenyap di udara setiap pandangan mereka beradu, kemudian diakhiri dengan penyesalan lalu kata-kata yang mengusik ketegaran seperti ini.

“Luna, kita nggak pernah tahu cara membaca hati seseorang. Kecuali orang-orang yang punya gift, kita ini hanya orang-orang yang buta aksara dalam membaca huruf-huruf yang bertebaran di dalam hati. Tapi kita bisa mendengar, Luna. Dan suara yang tersiar di telinga itu bisa menyampaikan informasi dan memberikan sinyal-sinyal ke impuls syaraf lalu sisanya, hati yang memutuskan. Jangan menebak-nebak, jangan menerka apa yang ada di hati seseorang. Tanyalah. Jangan membiarkan orang bingung menilai. Jadi bicaralah. Jangan pernah membiarkan kamu tersesat dalam masquerade ciptaanmu sendiri. Ungkapkan saja. Katakan saja. Dan dengarkan dia.”

“Tapi… aku takut…”

“Kalau kamu takut, mulai sekarang, harus kamu ingat baik-baik.”

“Apa?”

“Seandainya suatu saat nanti, bertahun-tahun sesudah hari ini, kamu baru tahu kalau ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama tapi tersimpan kuat hanya karena dia sama nggak beraninya seperti kamu… ingat ini baik-baik. NEVER REGRET.”

“…”

“Nggak usah nangis… why bother? Nggak usah sedih dan meratapi nasib… well… I’ve told you so? Nggak usah menyesal… you did it, no pressure.”

“…”

“Tuhan punya maksud, Luna, kenapa peristiwa ini terjadi.”

“…”

“Mungkin… Dia bermaksud begini… supaya kamu segera jujur padanya dan mengungkapkan semua.”

“… kamu yakin, Ta?”

“Mm… sudah berapa lama sih dia ada di hati kamu?”

“… hampir seribu hari…”

“Luna…” Dia memandangku. Memberi jeda. Lalu meremas jemariku, sambil tersenyum. “I think it’s time…” Continue reading

Sebelum Dia Pergi (5)

1/2/3/4

Hari-hari seperti berlari cepat semenjak dia berpamitan padaku untuk segera terbang ke langit di sebelah sana yang katanya menjanjikan terang yang lebih terang. Tentang tempat yang katanya banyak tertabur ribuan bintang dan memudahkannya mencapai semua mimpi yang pernah terkubur bertahun-tahun lamanya karena harus terperangkap dalam sistem 9 to 5 selama belasan tahun.

“Aku ingin bebas.”
Katanya di suatu hari yang cerah dan berlangit vanila. Senyumnya terkembang manis dan matanya bercerita lebih banyak dari bibirnya.

“Aku ingin terbang saja… Melayang-layang… tanpa perlu takut terjatuh… lalu terbang lagi sampai aku menyentuh tempat yang paling indah…”
Masih matanya yang berkata lebih jujur.

“Kamu tahu, Luna? Aku lelah… Aku ingin menciptakan sebuah dunia yang kumau, bukan yang mengaturku untuk berbuat sesuatu. Aku bosan terperangkap dalam aturan yang mengikat kaki-kakiku. Aku ingin pergi, Luna… Aku ingin berlari…”

Hatiku berdebar saat itu.
Berlari dari sini, berarti lari dari hidupku juga. Terbang dari sini, artinya sama saja dengan terbang dari kehidupanku juga. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (4)

1/2/3

Sebaliknya, Rei sungguh berbeda dengan aku. Dalam sejarah napas yang kuhitung bersamanya, tak pernah kumelihat ada bunga-bunga yang sengaja mekar dan mewangi di sekelilingnya. Tak pernah terhembus berita tentang dia mencintai siapa, seperti apa yang bisa menarik hatinya, dan apa yang terjadi dengan dunianya sebelum dia masuk ke dalam hari-hariku.

Yang kutahu dia berbeda.
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.

Dia tak pernah menyadari tentang mukjizat Tuhan paling nyata yang pernah kulihat, ada pada dirinya. Kesempurnaan wajah, kesempurnaan tubuh, kesempurnaan hati, kesempurnaan yang nyaris sempurna.

Tak pernah dia menyadari tentang keindahan yang ada pada dirinya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar tentang dia melukai hati, memainkan hati, mencubit hati, mengolok-olok hati… tak pernah sama sekali. Atau cerita tentang masa lalu yang membentuk Rei masa kini dengan segala keunikannya yang mempesona, tak pernah sama sekali.

Rei yang kukenal hanya seorang Rei yang:
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.
Dan satu lagi:
Dia tak pernah sudi memberikan hati buat perempuan yang diam-diam menggilainya… Continue reading

Sebelum Dia Pergi (3)

1/2

 

Ribuan kali aku berkata,
“Aku cinta kamu, Rei.”

Tak terhitung berapa kali aku bilang padanya,
“Kamu adalah pencuri hatiku sejak pertama kita bertemu…”

Hampir selalu kubisikkan padanya,
“Aku ingin melahirkan anak-anak yang lucu buat kamu, Rei…”

Tapi di setiap ujung kalimat penuh romansa dan rayuan gombal itu, aku selalu menambahkan kalimat-kalimat tak penting, yang melenyapkan efek magis yang mungkin sempat tercipta karena betapa jujurnya aku mengungkap sisi terdalam sebuah hati padanya. Continue reading

Sebelum Dia Pergi (2)

sebelumnya…

Di dalam coffee house yang tenang meskipun bermusik lirih dari sudut sana, aku merasa terasing sendiri dalam duniaku.

Air mata meleleh dalam setiap adukan kopi latte yang entah kenapa tak bisa berhenti kuaduk. Setiap dentingnya menciptakan nyeri. Setiap riak airnya yang membentuk bulatan-bulatan melebar lalu hilang menepi, menciptakan letih. Aku letih. Merindunya. Aku tak sabar. Ingin sekali berteriak padanya kalau aku mulai kehilangan dia.
Tapi, bisakah aku? Continue reading

Sebelum Dia Pergi (1)

Because last nite, I remembered you…

“I’m leaving…”

Suaranya berbisik, lirih. Sangat perlahan, sampai yang kurasakan hanya nafas yang memburu dari bibirnya. Aku tak berdaya. Sungguh. Mencoba mencerna kalimat-kalimat sederhana itu seperti mengunyah teori ilmu Kimia yang baru bisa kumengerti setelah berkali-kali kupelajari.

Hanya dua kata.
Aku.
Pergi.
Itu saja.

Kedua matanya seperti mencoba menelanjangi tubuhku yang tiba-tiba mengilu. Ingin berteriak, ingin memukulnya, ingin bilang padanya supaya mengulang kata… tapi bukan kata yang sama.

Aku mendengar.
Tapi aku menuli.

Aku hanya tak ingin dia pergi. Meninggalkan aku. Juga kenangan-kenangan yang terbentuk tanpa ia sadari. Bersemi menjadi ikatan rantai utuh yang mengikat hari-hariku untuk selalu mencintainya. Hanya dia, yang kubiarkan merajaiku tanpa pernah kuberusaha menolaknya. Continue reading

Aku dan Perempuan Ini

She always stays at this side of the road.
Sits in the coffee shop’s chair and watches the sky turns from light to dark.
Drinks her glasses of lemonade and reads some headlines in the newspapers.

She always waits there, in this side of the road.
Sits in the same chair, every single day.
Watches the same sky, every stupid minute.
Keeps on drinking the same lemonade, from the same glass, over and over again.

She’s always there.
Stands still.
Waits for a beautiful moment; where he passes by and says, “Hi… Is this chair taken?”

…and she says, “Nope… never… it’s yours..” Continue reading

…and this is all about (by. Tyan)

1 dari 3 pemenang A Writing Contest
Baca dulu 4 episod awal: 1/2/3/4

Seperti biasa aku menghabiskan waktuku dengan pria yang kucintai. Bercanda, bercengkerama berdua sembari menanti senja. Ketika kami sedang asyik menikmati sore di pinggir teras, tiba-tiba dia menerima telepon dan buru-buru pamit. Ia kemudian mengecup keningku dan meninggalkanku sendiri.

“Siapa?” aku sempat bertanya.
“Tika…” jawabnya cepat lalu keluar dari pintu.

Hatiku berdesir.
Ah, Tika…

*** Continue reading

Catatan Harian

January 2022
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono