archives

Family

This tag is associated with 22 posts

Actions do a lot better than Words?

Pernahkah kamu mendengar kalau “Actions do a lot better than Words”? Atau menyetujui kalau tindakan adalah jauh lebih penting daripada sekadar berkata-kata? Karena menurutmu, kata-kata akan mudah terhambur keluar dari mulut, bisa tanpa makna, sedangkan sekecil apapunΒ gesture tubuh dan perhatian telah menunjukkan segalanya? Rasa cinta lewat usapan di punggung tangan, kecupan sayang di kening, elusan sayang di punggung yang menenangkan, atau genggaman tangan erat-erat ketika seseorang sedang sangat ketakutan atau bersedih, telah menunjukkan sejuta kata-kata yang tak sempat terucapkan?

All those little gestures speak louder than words.

Dan hatimu lebih menghargai semua itu ketimbang jutaan kata-kata cinta, sayang, rindu, yang berhamburan keluar dari mulut orang-orang yang kamu sayangi..

Apakah pernah kamu merasa seperti itu?

Kamu selalu menganggap bahwa actions do a lot better than words? Continue reading

7 point 4

Sore pukul enam, aku membuka sebuah pintu kamar sebuah rumah sakit.

Aku melihat Papi terbaring di atas ranjang. Sepasang matanya terpejam, tangannya dilipat di atas dada, tubuhnya berbungkus selimut sampai ke pinggang, lalu terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Papi terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.

Mbak Piet, kakak sulungku, bilang, “Tadi Papi sempat bangun sebentar, aku ajak omong sedikit, terus tidur lagi…”

Sepertinya, obat yang diberikan Dokter untuk menghilangkan rasa mual di perut Papi mengandung obat penenang, sehingga usai mengkonsumsinya, Papi langsung mudah mengantuk dan tidur dengan tenang.

Papi memang mual-mual terus belakangan ini. Nafsu makannya turun drastis — bahkan tidak makan sama sekali, selain dua butir anggur! Minuman apapun tidak bisa melewati kerongkongannya karena langsung mual. Walhasil, kondisi Papi semakin drop.

Tidak seperti orang-orang yang bobot tubuhnya cenderung turun serta terlihat kurus bila berhari-hari tidak makan, Papi malah terlihat lebih gemuk. Rupanya karena tidak bisa membuang urine dengan lancar hampir seminggu lamanya, membuat tubuhnya membengkak. Belum lagi Papi tidak bisa pup dengan lancar. Duh, aku jadi semakin merasa ngilu setiap harus berkali-kali ke kamar mandi seharian ini hanya karena minumku yang terlalu banyak.

Papiku berjuang sekuat tenaga untuk bisa pipis, sementara di kantor, aku beser sampai bosen! Betapa ironis. Continue reading

Why Wait?

Aku terbiasa menunggu. Menunda. Menggampangkan segala sesuatu. Seringkali jika ada sesuatu, aku selalu bilang, “Kan bisa nanti? Nanti saja, deh!” Dan sering pula, sekalipun keinginan itu sudah mendominasi isi ruang di kepala, aku malah mengabaikannya dengan melakukan hal yang sama; menanti, menunda, menggampangkannya, dan akhirnya malah tidak melakukannya sama sekali.

Lalu, apa yang terjadi ketika aku tidak melakukannya sama sekali? Ketika aku mengabaikannya? Ketika aku menundanya? Continue reading

Sebuah Rekaman Suara

Di suatu sore, saya menunggu kakak ipar saya, Mbak Ira, yang masih belum turun dari lantai tiga sebuah gedung Bank, tempatnya mengais rejeki dari Senin sampai Sabtu. Berdua dengan kakak saya, Bro, seperti biasa, kami menunggu di dalam sedan hijaunya, menyetel musik dari stereo setnya, lalu bernyanyi-nyanyi bersama. Sudah bukan rahasia kalau anak-anak Mami dan Papi adalah ‘penyanyi kamar mandi’ semua, sehingga sering sekali kami melewatkan waktu dengan nyanyi-nyanyi gila barengan.

Namun ada yang berbeda dengan sore itu, ketika saya memutuskan untuk merekam suara saya dan Bro dengan ponsel saya. Saat itu, kebetulan lagu-nya Maliq & D’Essential, Untitled, yang terputar dari MP3 playernya. Aksi pertama memang diam-diam, karena Bro sebetulnya nggak suka hal-hal yang narsis seperti ini. Tapi entah, saat itu dia kesambit setan apaan, karena begitu tahu kalau suaranya direkam, dia malah makin asyik bernyanyi dengan suara sok dimerdu-merduin! πŸ˜€ Continue reading

Payung-Payungku

Payung.

Tak perlu saya definisikan bagaimana bentuk rupanya, tapi saya yakin, kamu semua pasti tahu bagaimana bentuk serta fungsionalnya. Payung; mungkin dalam warna-warni yang cantik, bergambar-gambar yang lucu, berukuran kecil sampai besar, bergagang plastik bening atau kayu berpelitur, yang fungsinya tetap sama: melindungi saya dan kamu dari hujan atau sinar matahari yang terlampau terik.

Payung; sebuah perlindungan termudah yang bisa saya cemplungkan di dalam tas dan membuat saya merasa terlindungi dalam aneka macam cuaca. Hari yang sangat terik sampai hari yang sangat basah. Sederhana, tapi sangat bermakna hadirnya buat seorang seperti saya, yang seringkali menumpang angkot kemanapun saya pergi. Yang sewaktu-waktu bakal kebasahan kalau gerimis tiba atau rela kulitnya menggelap karena sinar matahari.

Hm, kenapa saya tiba-tiba bicara soal payung? Continue reading

Manusia-Manusia Istimewa

Dua malam yang lalu saya belanja keperluan bulanan di Indomart dekat rumah. Pulang kantor, saya minta Bro untuk menepi sebentar di toko tersebut lalu melenggang ke dalam dengan high heels dan menenteng keranjang belanja berwarna merah. Dari lorong ke lorong, saya meneliti barang-barang yang akan saya beli. Mulai dari body cologne sampai pembalut. Beberapa barang mulai berpindah masuk ke dalam keranjang saya, ketika pintu Indomart terbuka dan saya melihat dua bocah lelaki dan perempuan berlarian masuk ke dalam dengan berisik.

I couldn’t help to watch them.

Bagaimana tidak? Suasana Indomart yang tadinya sepi, mendadak menjadi gaduh sejak dua bocah yang usianya kurang dari delapan tahun itu berlarian masuk ke dalam, seperti keran air yang dibuka dengan sangat kencang; airnya melesak, berhamburan.

Saya menoleh. Melihat kedua anak itu berlarian dengan riang gembira, seolah Indomart adalah lahan bermain mereka berdua. Mereka berlarian dari lorong satu ke lorong yang lainnya, diikuti dengan seorang asisten rumah tangga yang kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menyuruh mereka tenang.

Ketika salah satu bocah itu mendekati saya, jantung saya seolah mendadak berhenti berdenyut. Astaga, apa itu yang saya lihat? Apakah saya salah melihat? Ataukah minus kacamata saya sudah benar-benar melewati angka seperempat, sehingga saya perlu mengucek mata saya dulu untuk memastikan kalau yang saya lihat adalah… um… sebelah kaki yang palsu? Continue reading

Ketika Keponakan Berpuisi

Saya memang sudah menulis sejak usia sebelas tahun, sehingga dengan GR-nya, sampai hari ini, saya selalu menganggap kalau “writing is always the passion of my life” atau “writing is running in my blood“. Ya, tiada hari yang terlewati tanpa menulis. Dari sekedar catatan kecil-kecilan, coretan-coretan di kertas, atau menulis serius di laptop. Mulai essay sampai puisi. Mulai quote sampai curahan hati. Kecuali menulis skripsi dan tesis, saya menulis apa saja! πŸ™‚ Continue reading

Adik Yang Baik

Apa sih definisi seorang Adik yang baik?

Penurut? Nggak bawel? Hormat sama Kakak? Atau, kamu punya definisi yang lainnya?

Hm, terserah sih, apa definisi kamu soal “Adik yang Baik”, karena jujur saja, baru kemarin, hari Selasa, tanggal 20 Oktober 2009, saya merasa menjadi adik yang sangat baik! πŸ™‚ Continue reading

The Questions

I hate being single in this time around... er, yang saya maksud ‘around‘ adalah ketika sedang berkunjung ke rumah saudara-saudara saat lebaran kemarin. Yeah, yeah. Typical, same old questions.

“Kapan, nih?”

Kapan apanya? Ulang tahun? Oh, masih lama, lima bulan lagi.
Kapan apa? Masuk kantor? Oh, nanti, tanggal 24 September, hari Kamis.
Kapan apaaaa? Lebaran? Lho, kan hari ini! Continue reading

Can You Really Forgive Someone Who Cheated on You?

Lelaki itu pulang, ketika senja sudah lama menghilang.

Lampu ruang tamu rumahnya sudah nampak padam dan sunyi menyelimuti seluruh isi rumah sehingga bunyi setiap langkahnya terdengar dengan jelas di kedua daun telinganya. Dia sudah turun dari dalam mobil yang membawanya pulang dari kantor, setengah jam yang lalu, dan berjalan menuju pintu rumahnya, memasukkan kunci ke dalam lubangnya, dan membuka pintu itu dengan perlahan.

Dia hanya membayangkan tidur yang nyenyak, didahului dengan meneguk secangkir teh manis hangat lalu mengobrol sebentar dengan istrinya kalau saja perempuan tercintanya itu masih mampu menahan kantuknya.

Sudah pukul setengah satu pagi.
Dia tidak berharap terlalu banyak Istrinya masih terjaga, sekalipun setiap kali lelaki itu pulang, perempuan itu segera bangun dan mulai menyiapkan teh manis, menghangatkan lauk, memasakkan air untuk mandi, dan menemaninya ngobrol sekalipun dengan mata yang berat.

Dia mencintai Istrinya, itulah alasan mengapa dia tidak tega membangunkan perempuan yang sudah dinikahinya selama lima tahun dan memberinya seorang puteri cantik itu.

Dia melangkahkan kakinya, memasuki ruang tamu, melangkah menuju ruang keluarga, dan mengintip sebentar ke dalam kamar tidurnya. Istrinya tergolek di atas ranjang, di balik selimut tebal yang melindunginya dari hembusan pendingin ruangan, memeluk buah hati mereka yang mendengkur dengan lembut.

Senyum segera mengembang di wajahnya. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan melihat orang-orang yang dicintainya tengah tertidur tenang seperti itu? Wajah mereka yang nampak tenang dan damai adalah penghibur segala lelahnya setiap hari. Hilang sudah segala penat dan kesal yang mengukir hari-harinya di kantor. Hilang, tidak berbekas.

Dia menghela nafas.
What could he ask for more, kalau keindahan dunia itu sudah nampak di kedua biji matanya? Kalau keindahan dunia sudah terpampang jelas di kedua wajah yang sedang tersenyum dalam tidurnya itu?

He could never ask for more.
His family, his wife and kid, adalah nyawanya.
Iya.
Nyawanya. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono