archives

cinta

This tag is associated with 147 posts

Andre Winata

Andre,

Siang ini aku sedang berada di cafe depan hotel La Pergola, Roma, dengan senja yang membingkai lansekap kota. Di tempat itulah dulu aku mulai menebak-nebak seperti apa wajahmu. Memang, sebentuk wajahmu telah terekam kuat di dalam benakku jauh sebelum aku terbang ke Roma. Menghabiskan berjam-jam di angkasa untuk sampai di sebuah kota paling cantik setelah London. Kita memang harus bertemu, Ndre. Kamu yang akan menjadi pemanduku, saat itu. Continue reading

He’ll Never be You…

Namanya Andre.

Mari kuceritakan sedikit tentangnya.

Tubuhnya tinggi, menjulang seperti pemain basket. Mungkin lebih seratus delapan puluh senti, karena aku tak lebih tinggi dari pundaknya. Tidak sepertimu, yang lebih tinggi lima belas senti saja dari pucuk kepalaku.

Lengannya kokoh. Dia pernah memeluk tubuhku dari belakang sambil menonton konser, beberapa waktu yang lalu. Berusaha melindungiku, membuatku merasa aman. Aku merasakan debar jantungnya, persis di telingaku. Entah, apa dia juga mendengarkan debar jantungku saat itu, yang bergetar lebih cepat karena tidak menduga dia bakal melakukan itu.

Kulitnya putih bersih. Di dalam tubuhnya memang mengalir darah Belanda dari kakeknya, sehingga dia nampak putih kebulean.

Wajahnya tampan. Perpaduan Ryan Renolds dan Oka Antara. Okay, it’s hard to imagine, tapi seperti itulah aku memandangnya. Tampan yang tidak membosankan. Maskulin yang masih manis. Continue reading

Someday, We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving
 I don’t know why
So many questions
 I need an answer
 Two years later
You’re still on my mind…”

 

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali? Continue reading

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh. Continue reading

Pada Secangkir Kopi

Pada secangkir kopi, aku pernah bercerita tentang masa-masa ketika cinta itu pernah menggebu. Ketika sepenggal sapamu hadir menjelang pagi hariku lalu menutup hari yang sama dengan ucapan manis yang lainnya. Ketika segalanya serba merah muda. Continue reading

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Continue reading

Mungkin Kita Memang Tidak Ditakdirkan untuk Bersama

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berebut oksigen di tempat yang sama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk duduk di depan sofa, menikmati film-film Perancis kesukaanmu.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berbagi berondong jagung dan sesekali jemari kita bersentuhan dan menghadirkan getar listrik yang merontokkan nyaliku. Continue reading

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Saya Nggak Pernah Bilang

Saya nggak pernah bilang saya bakal mencintai kamu seumur hidup saya.

Yang saya selalu katakan sama kamu, bahwa saya akan berusaha untuk bisa melakukannya, di sepanjang umur saya, bukan umurmu.

Saya nggak pernah bilang saya bakal setia, sehidup semati sama kamu.

Yang saya selalu katakan sama kamu, bahwa saya akan berusaha untuk selalu menempatkanmu menjadi yang terbaik di hati saya. Dan berusaha selalu mengingatkan saya sendiri betapa beruntungnya saya bisa mendapatkanmu.

Saya nggak pernah bilang bakal menjadi kekasih yang sempurna, yang selalu meluangkan waktunya untukmu, denganmu.

Yang saya selalu saya katakan sama kamu, bahwa saya berusaha memberikan seluruh waktu yang tercerai-berai di antara waktu-waktu tersibuk saya untukmu. Saya bahkan akan berusaha memperbanyak waktu untuk bisa memelukmu selagi kamu ingin.

Dan satu hal lagi.

Saya nggak pernah berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu.

Tidak, tidak pernah.

Karena yang saya selalu bilang sama kamu, bahwa saya tidak memiliki umur ini. Tidak memiliki hidup ini. Tapi memiliki keinginan untuk bisa hidup ratusan tahun, jika perlu, untuk membuatmu bahagia.

Ya. Bahagia. Yang, saya nggak janji pula, bakal selamanya bisa membuatmu seperti itu.

Karena bisa jadi, dalam perjalanan hidup nanti, justru kamu malah bahagia kalau tidak bersama saya.

Jadi, simpan saja semua janji-janji muluk itu.

Biarkan saya dan kamu menikmati hari, mencintai apa yang bisa dicintai hari ini.

Semoga esok tiba, dan rasa itu masih sama.

Rasa cinta yang menggebu, buat kamu, utuh.

**

Kamar, 29 September 2011, 9.20 Malam

Buat kamu
Yang berada ratusan kilometer dari hati saya

Jodoh

Pernahkah bertanya, siapa jodohmu?
Siapa lelaki yang tengah melakukan kembaranya, mencarimu?

Pernahkah bertanya, seperti apa rupanya?
Lelaki sederhana dengan kaos berantakan, atau dia yang rapih dengan kemejanya?

Pernahkah bertanya, darimana ia berasal?
Sedang apakah dia sekarang, di malam-malam kamu menyelipkan doa untuk bertemu dengannya?

Pernahkah bertanya, bagaimana kalau dia tersesat dalam kembaranya, dan berharap bisa memberinya alamat menuju hatimu?

Pernahkah sempat marah karena dia tak kunjung datang padamu dan kamu mulai lelah menunggu?

Pernahkah menangis karena merasa sendirian dan bertanya, “Apakah dia juga sedih karena tak kunjung bersamaku?”

Pernahkah kemudian meragu kalau garis jodoh tak pernah terlukis di telapak tanganmu?

Pernahkah kamu ingin mengintip nama yang tertulis di tulang rusukmu, milik siapakah itu?

Pernahkah kamu memimpikan seseorang, yang tak pernah kamu kenal, tapi kamu tahu kalau kamu mencintainya dengan sungguh?

Hey,
Kamu tak sendiri.

Aku pernah membayangkan rupa lelaki yang bakal bersamaku, kelak.

Dia bukan lelaki rapi dan rupawan, tapi aku mencintai kaosnya yang berantakan dan harum tubuh tanpa parfumnya.

Dia bukan lelaki yang romantis, tapi selalu berhasil membuatku merangkai kata-kata romantis yang manis. Untuknya.

Dia bukan lelaki yang kuat, perkasa. Tapi dia akan memelukku hangat, erat. Dan aku merasa sangat aman di dalamnya.

Dia adalah lelaki sederhana, yang membuat setiap hal kecil menjadi istimewa.

Ya,
aku selalu bertanya-tanya, mungkin saja dia kini ada di tengah kembaranya. Kami akan bertemu, di titik yang sama. Nanti.

Jadi, aku tak akan berhenti melangkah. Biar ia tak lelah, lalu berhenti. Biar kami bertemu, tepat saatnya nanti.

Semoga kembara kami akan segera berhenti. Dan kami saling menyapa. Lalu jatuh cinta. Sisanya? Biar sejarah yang akan menulisnya.

Siapapun kamu, Jodohku. Kuselipkan selalu doa untukmu. Jangan lelah mencariku, seperti aku yang tak lelah mencarimu.

Aku percaya, kembara kita akan segera usai.
Segera.
Percayalah.

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono