archives

Cantik

This tag is associated with 4 posts

Cantik!

Lin

Lin

Kalau kamu melihat foto di samping kiri ini, apakah kamu sependapat dengan saya kalau perempuan di dalam foto ini adalah seorang perempuan yang berwajah cantik? Maybe she isn’t as pretty as Julia Roberts or Angelina Jolie, but… look at her. Dia cantik, kan?

Hari Sabtu kemarin, saya berjuang untuk mengatakan fakta ini padanya, pada seorang perempuan yang juga sahabat saya ini.

You’re beautiful, Lin. I know, idung lo emang ilang entah kemana, tapi elo tetep cantik!” kata saya saat makan siang, dua hari yang lalu.

Dia hanya tertawa, tapi saya tahu, pandangannya kosong. Entah, apa yang sedang bergumul di dalam pikirannya. Dia seolah sedang memikirkan sesuatu. Continue reading

Kamu Menganggap Dirimu Cantik?

Setiap pagi, saya meluangkan waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk sibuk sendiri di depan cermin, bermain-main dengan peralatan tempur saya berupa bedak, blush on, lipstick, pelembab wajah, dan kawan-kawannya yang lain. Melakukan ritual yang sama dari waktu ke waktu; mengoleskan pelembab wajah, menyapu wajah dengan bedak, merapikan alis dengan pensil berwarna coklat, memulas kedua pipi dengan blush on, lalu melentikkan bulu-bulu mata dengan mascara yang tahan air, dan diakhiri dengan olesan lipstick warna nude. Begitu terus setiap pagi, setelah mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Usai berdandan, saya mencari pakaian yang bisa bikin saya cantik, juga sedikit melangsingkan. Warna gelap, motif yang tidak terlalu ramai, sampai model yang tidak terlalu ribet akan membuat si pemakai terlihat lebih langsung juga elegan. Setelah ketemu baju yang seperti itu… srreettt! Ambil dari lemari, mulai dipakai!

Setelah itu, tentu saja berdiri di depan cermin. Mematut-matutkan tubuh. Melihat ke samping kiri dan kanan, memeriksa dandanan yang mungkin keliwat menor, merapikan rambut, merapikan baju. Check sana, check sini, sampai akhirnya, “Yak! Siap berangkat dan menantang dunia!” 🙂

The minute I walk out from my house, saya merasa sebagai perempuan yang sangat cantik. Narsis? Ah, bukankah kamu tahu kalau narsis adalah nama tengah saya? So, saya memang narsis!

Jadi, kalau ingin lebih sotoy lagi, saya akan bilang sama kamu kalau sepanjang saya berjalan keluar, saya merasa seperti Julia Roberts di film Pretty Woman dengan iringan lagu-nya yang fenomenal, “Pretty woman walking down the street… Pretty woman, the kind I’d like to meet…

Masih kurang sotoy? Tambahkan saja! Be creative, be my guest! 🙂 Continue reading

Fashion Kills!

a3909black-stiletto-postersSuatu kali, saya berjalan-jalan dengan seorang sahabat ke suatu mal. Dengan pakaian yang (menurut saya) super trendy, kami berdua berjalan seolah-olah pemilik Mal yang  sedang menginspeksi seluruh isi Tunjungan Plaza!

Ya. Begitulah yang terasa di dalam pikiran saya ketika saya sedang merasa cantik. What can I say, perempuan selalu ingin terlihat cantik, kan? Memangnya kenapa diciptakan make up, alat pengeriting atau pelurus rambut, stiletto yang menjulang tinggi seperti menara Eiffel *okay, lebay, nih! hehe*, dan baju-baju dengan model yang selalu berganti setiap bulannya? Karena perempuan ingin terlihat menarik, that’s what it’s all about.

Jadi, saat itu, saya dan seorang sahabat melenggang dengan percaya dirinya menyusuri isi mal. Mengintip koleksi-koleksi sepatu, mengaduk-aduk koleksi buku di Gramedia, mencoba beberapa baju, lalu duduk di sebuah coffee shop untuk menyesap kopi favorit, semuanya kami berdua lakukan dengan sangat percaya dirinya. 

Well, saya memang sedang merasa cantik dengan rambut pendek saya, dengan celana jeans yang berpotongan pensil, tank top berwarna abu-abu di balik cardigan warna hitam, serta tentu saja… my perfect stiletto sembilan senti yang telah setia menemani saya kemana-mana. Continue reading

kalau saya cemburu…

Seorang Sahabat selalu iri dengan perempuan-perempuan bertubuh langsing, berkulit putih, berambut panjang hitam tebal dan bergelombang ala salon, wajahnya cantik… Penampilannya ala peragawati. Dan setiap lantai di mal adalah runway tempat mereka berlenggak lenggok dengan cantiknya.

Seorang Sahabat yang lain selalu iri dengan tas yang ditenteng di tangan Si Cantik-Cantik itu. Atau ponsel canggihnya. Atau merk pakaiannya. Atau kaca mata yang bertengger di wajah mereka.

Sahabat-sahabat saya iri dengan penampilan fisiknya. Dengan apa yang mereka tenteng ke sana kemari. Ya. Termasuk lelaki-lelaki ganteng berduit yang biasanya ada di samping mereka seperti layaknya bodyguard yang dadanya membusung karena merasa bangga *hey, ada seorang bidadari di sebelah mereka, bergayut manja di sebelah mereka, masa tidak bangga sih?*.

Pertanyaannya.

Apakah seorang Lala juga mencemburui semua itu? Menderita lahir batin melihat pemandangan-pemandangan itu?

Hm.

Wanna know my honest answer?

OF COURSE I’M JEALOUS!  🙂

Saya masih perempuan normal yang mencemburui perempuan-perempuan yang jauh lebih beruntung dibandingkan saya. Kalau saya tidak iri dengan perempuan bertubuh langsing, cantik, dan memiliki segala yang tidak saya punya.. well… saya pasti sudah sekelas biksu yang tidak mementingkan duniawi sama sekali. Saya tetaplah perempuan biasa-biasa saja yang merasakan kecemburuan ketika melihat perempuan lain dikaruniai kelebihan yang tidak saya punya. Hm, buat saya ini wajar. It happens a lot. Jadi, saya tidak merasa sendirian.

Tapi, untuk jawaban yang jauh lebih jujur lagi… Sebenarnya, saya jauh lebih cemburu dengan perempuan-perempuan yang PANDAI. Ahli dalam pendidikan, hebat dalam pekerjaannya, jago dalam dunia yang dia geluti, dan.. ya.. knows what she’s doing.

Saya paling mencemburui perempuan-perempuan yang isi kepalanya sungguh luar biasa. Dibandingkan perempuan super cantik, saya lebih cemburu dengan perempuan yang berpenampilan fisik biasa-biasa saja tapi dia seorang Ahli Fisika, misalnya. Penulis hebat, misalnya. Seorang Sutradara luar biasa, misalnya. Atau… seorang Ibu Rumah Tangga jagoan dari Tokyo, Emi-Chan, yang bisa melakukan apa saja, yang tahu apa yang harus dia lakukan, dan tahu persis bagaimana cara mewujudkannya.

Saya akan menjadi sangat sangat cemburu kalau harus berhadapan dengan orang yang jauh lebih pintar, jauh lebih hebat, jauh lebih kenyang pengalaman hidup, dibandingkan ketika berhadapan dengan orang yang cantik.

Terkesan munafik-kah saya, dengan menganggap bahwa isi kepala jauh lebih penting ketimbang mulusnya kulit seseorang?

Terkesan berlebihan-kah saya, dengan menganggap bahwa yang terpenting adalah prestasi kerja seseorang di bidang yang ia geluti, ketimbang rambut yang tergerai indah dan tubuh langsing berbalut pakaian ala designer?

Hah.

Munafik…

Atau berlebihan…

Biarlah. Biarlah saja.

Saya rela dibilang munafik atau menganggap segala sesuatunya dengan sangat berlebihan, karena buat saya, kecantikan adalah sebuah anugerah yang diberikan pada orang-orang tertentu saja. Tapi kalau kepandaian dan kesuksesan seseorang adalah sesuatu yang hanya bisa diperoleh jika didukung dengan usaha yang keras dan waktu yang tidak instan.

Kesuksesan bukan hadiah. Kesuksesan adalah hasil dari kerja keras. Dan saya jauh lebih menghargai orang yang melakukan sesuatu untuk mencapai mimpinya, ketimbang duduk mesam mesem dan mendapatkan semuanya di atas pangkuannya…

*tapi hey! Meskipun tetap saja, akan lebih menyenangkan kalau menjadi orang yang cantik, sekaligus sukses.. hahahaha*

 

Dan.. SISTAH! Ini pujian terbuka Asunaro Bungsu buat Kakak Kedua!! 🙂

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono