archives

Buku

This tag is associated with 12 posts

I’m Married!

Deka & Lala

Ketika mendengar kata-kata ‘married’ atau ‘menikah’, apa yang segera terlintas dalam benakmu?

Komitmen dua manusia untuk saling mencintai, menerima segala buruk dan baik pasangannya, tak peduli ternyata infertile, rambut rontok, badan menggelambir, gigi tanggal, tidak sehat secara fisik, suka ngupil, suka meletakkan baju kotor di sembarang tempat, posesif, dan lain sebagainya itu sampai maut memisahkan mereka berdua?

Atau menikah artinya seseorang terperangkap di dalam sebuah ikatan sakral, sampai seumur hidup mereka, tak bisa melakukan apa-apa karena mereka terlanjur tercatat sebagai suami-istri?

A friend of mine once told me this, “Menikah itu ngerepotin. Bayangin, yang biasanya apa-apa cuman mikirin satu orang aja, sekarang musti mikirin orang lain. Kalau dulu, mau pergi kemana tinggal berangkat, eh, sekarang musti nanya apa yang satunya nggak keberatan kalau aku pergi. Ribet!”

Point taken. Setelah menikah, memang ada dua kepala. Yang jalan pemikirannya pasti tidak akan pernah sama, semirip apapun mereka. Pasangan kembar aja bisa berbeda, kok, apalagi dua orang yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang berbeda. Tidak akan sama. So, that’s true. Menikah, yang artinya penyatuan dua pemikiran manusia itu tidaklah mudah. Cenderung ribet.

Tapi, seorang teman yang lain segera menyahut, mengomentari kalimat temanku sebelumnya, “Iya, emang ribet. Yang dulu cuman mikirin satu orang, sekarang jadi dua orang. Tapi, pernah nggak, sih, kamu ngerasa, kalau dengan adanya dua kepala, artinya kamu bisa punya partner untuk mencari jalan keluar setiap masalah yang lagi kamu hadepin? Kamu punya teman bertukar pikiran, kamu punya temen untuk saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi apapun yang kamu rasakan itu?”

Ah, point taken. Jelas sudah seperti yang dibilang temanku. Dengan adanya dua kepala, kita tidak lagi sendiri dalam menghadapi masalah. Kita punya jemari yang digenggam untuk menguatkan. Kita punya seseorang yang bisa didengarkan nasehatnya dan merangkul kita saat tak bisa tidur setiap malamnya. Kita punya seseorang yang tidak akan pergi setelah minum dua cangkir kopi dan menghisap beberapa batang nikotin, misalnya, karena dia akan ikut pulang dan terus memikirkan apa yang terbaik buat kita. The husband. The wife. Separuh jiwa kita yang tak ingin kita kesakitan sendirian.

Hmm…

Marriage is a bit of this and that, memang. Tidak melulu menyenangkan, tidak melulu juga membuat hati ngenes. Just like life itself. There’s always ups and downs in our journeys. Seperti yang pernah aku tulis di buku-ku yang pertama, that life is like riding a roller coaster. Saat berani membeli tiket untuk menaiki wahana itu, kita harus siap dihentak, dibolak-balik, dibuat muntah, dibuat pusing, dan sebagainya. Kita musti menikmati saja, karena toh, kelak, permainan itu akan usai juga. Itulah kenapa, akhirnya aku memilih untuk menyudahi ‘masa lajang’ku. Dan memilih untuk ‘menikah’… Continue reading

Menulis Fiksi

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan menjadi seseorang yang suka menulis?

Hm, kalau menurutku, yang paling menyenangkan menjadi seorang yang suka menulis sepertiku adalah karena aku bebas membentangkan imajinasiku seluas-luasnya, bercerita tentang apapun tanpa batas yang pasti, dan menjadi siapapun yang aku mau.

Aku bisa menjadi seorang perempuan atau lelaki. Anak-anak kecil, perempuan pekerja, atau lelaki jompo. Pebisnis sampai pengangguran. Perempuan biasa sampai manusia yang memiliki indera keenam. Tinggal di sebuah desa atau di negeri moderen bikinanku sendiri. Continue reading

My Name is Lala

Aku pernah merasa iri dengan orang-orang yang bisa menuliskan kembali kisah hidupnya yang super dahsyat, kemudian tulisan-tulisannya itu terangkum dalam sebuah buku yang best seller.

Kisah Andrea Hirata, misalnya. Kurang best seller apa, coba?

Lalu untuk yang di luar negeri, kisah yang terangkum dalam buku Eat, Pray, Love, yang kemudian juga dijadikan film dengan judul yang sama, diperankan oleh seorang aktris hebat, Julia Roberts?

Dua contoh di atas adalah sekian banyak contoh kesuksesan yang diraih oleh seseorang yang memiliki kisah-kisah hebat dalam hidupnya, lalu berusaha dituliskan kembali dengan apik sampai akhirnya berhasil menyedot banyak perhatian karena perjalanan hidup mereka yang luar biasa menginsipirasi banyak orang. Continue reading

The Blings of My Life

Happy 2nd Birthday, Ms Blings!

Continue reading

Her Life, Her Secret

Aku dan My Life, My Secret

Sebuah buku kutimang dengan sayang, kemarin sore. Catatan hati seorang Diva, Krisdayanti, yang dibukukan dalam sebuah buku best seller berjudul My Life, My Secret itu adalah salah satu pemberian dari seorang kawan baikku yang kukenal lewat media blog. Namanya, Indah Wd. Dia sengaja memberikan buku ini sebagai hadiah ulangtahunku ke-30 yang baru akan jatuh tepat tanggal 12 Februari, besok. Continue reading

Panggilan dari Surga

Pernahkah kamu berada di sebuah toko buku, tanpa memiliki secuilpun bayangan jenis buku apa yang akan kamu beli, penulis mana yang bukunya bakal kamu nikmati lembar demi lembarnya, tapi kamu tak bisa menghentikan langkah kakimu untuk menyusuri lorong demi lorong rak-rak buku?

Kalau pertanyaan itu musti kujawab, aku bakal bilang, “Pernah.” Oh tidak, bukan pernah, tapi, “Sering.”

Toko buku adalah sebuah Surga dunia; bersebelahan dengan warung makanan cepat saji dengan menu andalan ayam goreng kriuknya, jadi kusebut saja toko buku sebagai Surga Dunia blok B. Ada kesenangan tersendiri untuk berlama-lama di dalam toko buku, membiarkan sepasang mataku berkelana dari satu rak ke rak yang lain, menikmati lembar demi lembar buku sambil berdiri atau mencari kursi beralaskan cushion empuk lalu diam di sana sampai berjam-jam.

Siapa yang ingin meninggalkan Surga cepat-cepat, kan? 🙂 Continue reading

Heart Prints Moments

Do you have a heart prints moment?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sekalipun waktu tergerus begitu cepat, menggelinding begitu liar?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang akan kamu ingat selamanya, sampai nafasmu menghabis dan oksigen seolah enggan terpompa masuk ke dalam paru-parumu?

Sebuah kejadian yang begitu istimewanya sehingga menyentuh hatimu teramat dalam. Ya, the heart prints moments, ketika kejadian-kejadian tersebut terpatri begitu kuat di dalam hatimu.

Saya meyakini, setiap orang memiliki heart prints moments yang mungkin ketika mereka membaca tulisan ini, isi pikiran mereka melayang-layang, mencari-cari peristiwa di dalam selipan isi otak mereka lalu tersenyum sendiri atau merasakan getaran hati yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ya, setiap orang itu termasuk kamu, yang sebentar lagi akan tahu kejadian apa saja yang saya anggap sebagai heart prints moments, peristiwa yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun di sepanjang hidup saya sampai hari ini.

Let’s start with 16 Oktober 2001, hari ketika seorang lelaki akhirnya cukup khilaf untuk menjadikan saya sebagai pacarnya. Namanya Jonathan, lelaki keturunan Italia-China-Bali, yang berusia tiga tahun lebih muda dari saya. Kenapa saya anggap sebagai heart prints moments? Tentu saja karena dia adalah pacar pertama saya! Yay!

Lalu ketika Mami saya berpulang ke asalnya, di Surga sana, tanggal 7 Juli 2002. Hari Minggu. Tak perlu dijelaskan lagi mengapa saya akan terus teringat dengan peristiwa itu, kan? Karena kamu pasti tahu, you will never ever forget the day your mother passed away, hari ketika kamu kehilangan seluruh daya untuk bernafas, dan hari ketika kamu baru benar-benar menyadari bahwa arti dari kata ‘meninggal’ adalah tidak akan pernah kembali lagi. Teknologi secanggih apapun tidak akan menjembatani dua dunia itu. Yeah, the day my Mom passed away is the day that I will never ever forget for the rest of my life.

Berikutnya, hari ketika keponakan pertama saya, Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif alias Kiki, terlahir dari perut kakak saya, Mbak Piet. It was January 21, 2003, hanya berjarak beberapa bulan saja dari hari saat langit Surabaya mendung karena Mami berpulang. The day she grabbed my finger, the very first day I held my niece and kissed her forehead, the day I jumped off joy because I finally had a niece… adalah hari yang sangat menyentuh. Sampai sekarang, perasaan hangat itu masih menghangati hati saya.

Hmm… what’s next?

The first kiss?
The first break up?
The day I graduated from university?
The day I received my paycheck?

Banyak sekali heart prints moments dalam hidup saya, termasuk bertemu pertama kali dengan Om NH18, sis Imelda, dan Abang Hery Azwan, mentor-mentor saya di dunia blog, tanggal 1 Agustus 2008.

Dan tentu saja, above all, yang paling terekam dalam ingatan saya, yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan saya, yang sumpah mati saya ingin merasakannya kembali adalah…

This special day. 14 November 2008, hari peluncuran buku saya, The Blings of My Life, di Indonesian Book Fair, JCC. Hari di mana saya bisa merasa bangga dengan diri saya sendiri, that I could prove to my self that I meant something for someone else.

And what makes it even special is…
Karena di hari yang sama…
Hati saya tersentuh luar biasa…
Oleh seorang sahabat…
…bernama Lin.

*** Continue reading

Lelaki Bernama Edi Purwono

Kalau ada yang bertanya, siapa yang menginspirasi saya untuk menulis, tidak lain dan tidak bukan adalah: EDI PURWONO, lelaki usia 59 tahun, yang penglihatannya sudah rabun, bertubuh ringkih, yang kupanggil Papi atau “Dad” ketika saya merajuk manja padanya.

Ya. Edi Purwono, Papi saya, adalah orang pertama yang meyakini bahwa saya bisa menulis. Beliau memang tidak pernah sangat serius menelateni untaian huruf-huruf  yang saya ketik. Beliau bukan penikmat tulisan saya seperti almarhumah Mami yang selalu membaca karya-karya cerpen yang saya tulis sejak SMP. Edi Purwono, Papi saya, hanya tahu kalau puteri bungsunya yang selalu sibuk berkutat di depan komputer itu sedang menulis cerita-cerita pendek yang kebanyakan isinya cecintaan saja. Dan entah kenapa, sekalipun demikian, Papi selalu meyakini, “Suatu saat kamu pasti punya buku. Ayo, kapan mulai ngirim karya-karyamu ke penerbit?”

Kata-kata penyemangat yang keluar dari mulut Papi memang seolah mantra yang menghantui pikiran saya. Bagaimana tidak, almost each and every day, di kala sempat, Papi selalu menuturi saya bahwa di dalam hidup yang hanya sebentar ini,  paling tidak, kita harus mengisinya dengan lebih bermakna. Dan, it may sound selfish and all, tapi kata-kata Papi tentang saya harus membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa, jelas telah menantang adrenalin saya untuk mencoba, terus dan terus.

Dan Papi ternyata benar Continue reading

(Bandung-Jakarta’s Stories Part.1) Selebritis Vs Penggemar

I am a writer wannabe.

Saya pernah pernah menulisnya di side bar blog saya dan dengan segera seorang teman bernama Donny Verdian bilang, “Hey, kamu itu penulis!” Maksud dia, saya bukannya ‘wannabe’ tapi ‘already’ atau berhenti saja di “I am a writer.” Selesai.

Saat itu saya belum lagi menulis buku, meskipun blog menjadikan saya sebagai penulis yang sangat aktif (ah, terbayang kini di dalam kepala saya betapa dulu saya bisa menulis sampai sembilan cerita dalam satu hari!). Semua kejadian-kejadian kecil di dalam kehidupan saya berhasil saya ceritakan ulang di blog saya yang saat itu masih baru beberapa bulan saja umurnya. Entah kenapa, ketika masih ‘perawan’ dan belum ‘melahirkan jabang bayi‘, seorang saya tidak pernah berani menyebut dirinya sendiri sebagai penulis. Iya, karena menurut pemikiran saya, profesi yang sungguh hebat dan selalu berhasil membuat saya ternganga bangga dan iri tidak boleh disamakan dengan penulis di blog yang standar-nya, for me, that time.

I was a blogger. A writer wannabe.
Not until I can publish my own book and find it in the book store; I’m not qualified enough to be called as a writer.
Sudahlah, blogger saja. Tak perlu bilang bahwa saya adalah penulis; meskipun kini saya mulai menganggap bahwa setiap blogger adalah penulis-penulis yang menunggu giliran agar naskahnya segera dibaca oleh seorang editor lalu mulai berjuang di berbagai sidang agar dianggap layak cetak. Continue reading

if a picture paints a thousand words…

Kamu pernah mengalami sesuatu, yang kamu benar-benar sulit mempercayainya, sampai-sampai kamu perlu merasa mencubit lengan atau pipimu sendiri, untuk membuktikan bahwa ini benar-benar terjadi?

Hmm…

Saya…

PERNAH.

Dan kejadian istimewa itu (bayangkan saja, ada perempuan secantik saya begitu hebohnya mencubiti diri sendiri.. apa nggak istimewa namanya? HAHA! Bukan istimewa, La, tapi ngelindur!) terjadi pada hari Jumat, tanggal 17 Oktober 2008 kemarin, sebelum pukul sepuluh pagi. Dan kamu tahu kenapa?

Karena pada pagi hari yang sudah seterang pukul dua belas siang itu… Saya membuka sebuah paket yang dialamatkan buat saya… dan isinya adalah…

INI.

I couldn’t say anything.

Terharu, bahagia… semuanya bercampur menjadi satu dan menerbitkan titik air mata di sudut mata saya. Ahh… it was a breath-taking moment!

Dan seorang Lala…

Jika tak bisa mengekspresikan perasaannya dalam jalinan kata-kata…

Atau menyenandungkan lirik lagu yang mewakili perasaannya…

Dia akan menggambar…

Seperti ini.

Picture that paints a thousand words

Picture that paints a thousand words

Ya.

Pictures do paint a thousand of words.

Seperti sebuah gambar sederhana di atas, yang bisa menceritakan apa yang belum bisa terceritakan, setidaknya, sampai siang ini…

ps. I would like to give away 2 (two) of my books. Ada yang berminat? 🙂

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono