archives

Birthday

This tag is associated with 12 posts

Doa buat Tuhan

Tuhan.

Aku memang jarang sekali meminta padaMu, doa-doa untukku sendiri.

Setahun terakhir, atau… um, bertahun-tahun terakhir, aku tak pernah sekalipun memohon padaMu untuk mendekatkanku pada jodohku. Jujur, ada tidaknya jodoh tidak pernah menjadi masalah yang sangat penting sehingga mengharuskanku mengeluh padamu. Aku percaya, tanpa memintanya, Kau sudah memberikannya. Cuman masalah waktu; yang tepat untukku, yang tepat untuk lelaki itu. Kami hanya menunggu, untuk bertemu. Continue reading

Happy Birthday, Mbak!

Thursday, February 25, 2010.

Mbak Piet & Me

Dear Mbak Piet,

Maybe I’ve never told you how proud I am to be your (not so) little sister. But you should know, that I always prayed, back then when I was much younger than today, that someday, I wanted to grow up and be a woman like you; beautiful, smart, lovable, can cook (and can cook good!)…. exactly just like you.

I know, I will never be a woman like you. But I’m so proud, that I can call you as my Beautiful, Smart, Lovable Sister.

Happy 35th Birthday, Mbak!

Sudah berkeping-keping doa kurangkum sepanjang umurku, dan kutambahkan pagi ini dengan satu pengharapan khusus di hari ulang tahunmu. Semoga kebahagiaan selalu ada untukmu, di setiap langkahmu…

Love you, Mbak. Forever and ever….

Kiss, kiss.
Hug, hug.

From your (not so) little sister,

Wahyu Sihombhienk (dan memang hanya kamu dan aku aja yang tahu sejarah soal nama ini, ya, Mbak.. hehehe)

***

Kamar, Kamis, 25 Februari 2010, 11.19 Malam
Sejatinya ditulis pukul 6 pagi, tapi lupa dipublish.. hihi!

Untaian Doa

Tadinya kuuntai banyak permintaan untuk ulangtahunku yang ketigapuluh ini. Kalimat-kalimat permohonan yang terangkai bak semut beriring di dekat penyimpanan gula yang terbuka itu memenuhi isi kepalaku, sampai-sampai setiap mataku terpejam, aku tahu, aku menginginkan banyak sekali doa-doa yang ingin terwujud, terkabulkan.

Aku ingin menjadi perempuan yang lebih baik lagi, yang tidak egois lagi, yang menyadari bahwa dunia tidak hanya berkeliling di bawah kakiku saja, dan semua orang adalah pelakon utama untuk setiap drama di dalam kehidupan mereka. Bukan aku satu-satunya perempuan yang harus dimengerti, tapi aku juga musti memahami keinginan mereka, pola pikir mereka. Bukan keinginanku melulu yang harus dipenuhi, tapi aku juga memenuhi cawan keinginan mereka. Aku ingin berubah menjadi lebih bijaksana; seiring dengan makin bertambahnya lilin-lilin yang berdiri di atas kue tar ulang tahunku. Continue reading

Heart Prints Moments

Do you have a heart prints moment?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sekalipun waktu tergerus begitu cepat, menggelinding begitu liar?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang akan kamu ingat selamanya, sampai nafasmu menghabis dan oksigen seolah enggan terpompa masuk ke dalam paru-parumu?

Sebuah kejadian yang begitu istimewanya sehingga menyentuh hatimu teramat dalam. Ya, the heart prints moments, ketika kejadian-kejadian tersebut terpatri begitu kuat di dalam hatimu.

Saya meyakini, setiap orang memiliki heart prints moments yang mungkin ketika mereka membaca tulisan ini, isi pikiran mereka melayang-layang, mencari-cari peristiwa di dalam selipan isi otak mereka lalu tersenyum sendiri atau merasakan getaran hati yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ya, setiap orang itu termasuk kamu, yang sebentar lagi akan tahu kejadian apa saja yang saya anggap sebagai heart prints moments, peristiwa yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun di sepanjang hidup saya sampai hari ini.

Let’s start with 16 Oktober 2001, hari ketika seorang lelaki akhirnya cukup khilaf untuk menjadikan saya sebagai pacarnya. Namanya Jonathan, lelaki keturunan Italia-China-Bali, yang berusia tiga tahun lebih muda dari saya. Kenapa saya anggap sebagai heart prints moments? Tentu saja karena dia adalah pacar pertama saya! Yay!

Lalu ketika Mami saya berpulang ke asalnya, di Surga sana, tanggal 7 Juli 2002. Hari Minggu. Tak perlu dijelaskan lagi mengapa saya akan terus teringat dengan peristiwa itu, kan? Karena kamu pasti tahu, you will never ever forget the day your mother passed away, hari ketika kamu kehilangan seluruh daya untuk bernafas, dan hari ketika kamu baru benar-benar menyadari bahwa arti dari kata ‘meninggal’ adalah tidak akan pernah kembali lagi. Teknologi secanggih apapun tidak akan menjembatani dua dunia itu. Yeah, the day my Mom passed away is the day that I will never ever forget for the rest of my life.

Berikutnya, hari ketika keponakan pertama saya, Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif alias Kiki, terlahir dari perut kakak saya, Mbak Piet. It was January 21, 2003, hanya berjarak beberapa bulan saja dari hari saat langit Surabaya mendung karena Mami berpulang. The day she grabbed my finger, the very first day I held my niece and kissed her forehead, the day I jumped off joy because I finally had a niece… adalah hari yang sangat menyentuh. Sampai sekarang, perasaan hangat itu masih menghangati hati saya.

Hmm… what’s next?

The first kiss?
The first break up?
The day I graduated from university?
The day I received my paycheck?

Banyak sekali heart prints moments dalam hidup saya, termasuk bertemu pertama kali dengan Om NH18, sis Imelda, dan Abang Hery Azwan, mentor-mentor saya di dunia blog, tanggal 1 Agustus 2008.

Dan tentu saja, above all, yang paling terekam dalam ingatan saya, yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan saya, yang sumpah mati saya ingin merasakannya kembali adalah…

This special day. 14 November 2008, hari peluncuran buku saya, The Blings of My Life, di Indonesian Book Fair, JCC. Hari di mana saya bisa merasa bangga dengan diri saya sendiri, that I could prove to my self that I meant something for someone else.

And what makes it even special is…
Karena di hari yang sama…
Hati saya tersentuh luar biasa…
Oleh seorang sahabat…
…bernama Lin.

*** Continue reading

Mengenang Mami

It’s been seven years already, Mom, and I’m getting tired of being sad all the time on your birthday celebrations.

Bukan berarti I love you less, kan, Mi? Bukan berarti, aku nggak lagi sedih dengan kenyataan kalau aku tak bisa berbisik di telingamu, mengucapkan selamat ulang tahun, mengecup kening dan kedua pipimu, dan menghadiahimu dengan barang-barang yang sedang Mami inginkan. Jujur, Mi, I will never stop missing you, missing our moments together, when you were still here with us. With me, Dad, Mbak Pit, dan Bro.

Tapi kali ini, aku ingin mengingat Mami dengan senyum. Dengan tawa. Mengingat kembali sejumput kenangan yang tak pernah hilang pergi dari ingatan. Mengingat kembali masa-masa ketika tawa dan canda adalah menu makanan yang selalu tersaji di dalam tudung saji rumah kita.

Mami,

Ini adalah cerita-cerita kita berdua. Janji, jangan marah kalau ini aku bocorin ke temen-temenku, ya? Tos dulu dong, ah! ^_* Continue reading

Lelaki-Lelakiku…

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Dua lelaki yang tak pernah bisa tergantikan dengan siapapun, yang selalu saya cintai dengan sepenuh hati saya, yang selalu menghadirkan pelangi di setiap ujung hari-hari resah saya, yang akan selalu tinggal di hati saya sampai saya menutup mata, suatu saat kelak.

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Yang membuat saya bersemangat untuk menarik dan menghembuskan nafas. Yang selalu bisa menjadi penyemangat ketika saya terjatuh dan berlomba-lomba mengulurkan tangan mereka untuk menarik saya dari setiap kubangan masalah.

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Yang saya tahu, mereka tidak akan pernah menyakiti saya. Tidak seperti lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi, membuat luka, lalu menjadikan saya sebagai perempuan paling cengeng sedunia; lelaki-lelaki ini akan melakukan apapun caranya supaya saya selalu tersenyum, no matter how painful life is…

Ya.

Karena lelaki-lelaki ini,
Adalah lelaki-lelakiku. Continue reading

His Little Babies

Ketika siang tadi saya pergi ke mal City of Tomorrow bersama keluarga tercinta, one single message arrived in my cellphone, membuat ponsel saya bergetar dan tentu saja membikin saya rada-rada salting karena ponsel itu saya selipkan di saku celana jeans saya! Haha.

Buru-buru saya mengintip isinya. Continue reading

Being 29

Pagi ini saya terbangun di jadwal yang lebih molor dari biasanya. Saya sedang ingin bangun siang karena sedang tidak punya kewajiban untuk bangun Subuh-Subuh. Saya adalah perempuan lajang sehingga tidak perlu menyiapkan sarapan untuk seorang suami dan anak-anak saya, atau untuk saya sendiri karena memang tidak terbiasa sarapan; even a slice of jammed bread. Kopi? Secangkir kecil kopi justru saya nikmati ketika sudah sampai di kantor dan menyisipnya perlahan di depan laptop yang membuka beberapa jendela.

Pukul enam pagi, saya membuka mata karena Bro mengetuk pintu kamar tidur saya dengan betenya. Katanya, ini adik, apa kebo, sih, jam segini masih molor aja! Haha. Segera saya melesat ke kamar mandi, memakai baju yang sudah disiapkan dari semalam, mengeringkan rambut, dan bergabung dengan Bro dan Mbak Ira di dalam sedan hijaunya. Oh ya, saya terbiasa ‘melukis wajah’ di dalam mobil. To save timemm… and also energy, karena Bro selalu emosi jiwa kalau adiknya lelet! πŸ™‚ Continue reading

When Did It Stop Being Fun and Start Being Scary?

I always remember my birthday celebrations.

Selalu ada kue tar bikinan Mami; perpaduan antara pengetahuan soal perbandingan takaran bahan yang tepat agar cake mampu mengembang dengan sempurna juga daya imajinasi yang super dahysat sehingga menghasilkan satu kombinasi yang luar biasa: sebuah cake berlumur krim gula warna warni, dengan bentuk padang rumput beserta kelincinya, sebuah sungai dengan jembatan dan bebek-bebek yang berenang, atau gunung dan sungai yang mengalir.

She was a kind of mother that everyone could envy about.
Dari tangan ajaibnya itu selalu lahir kue-kue tar yang mengundang decak kagum setiap teman yang datang mulai pukul tiga sore, dengan baju berwarna warni, bibir bersaput gincu milik Ibu-Ibu mereka, dan membawa hadiah berbungkus kertas kado yang cantik. Continue reading

One of the Diamonds

(warning: there’ll be a lot of pictures)

Ketika saya bicara soal Diamonds, apa yang terpikir dalam benak kamu?

Batu permata yang cantik, namun mahal harganya?
Batu permata yang sering menjadi simbolisasi sebuah cincin kawin?
Batu permata yang mungkin nggak akan kamu beli karena harganya yang selangit?
Atau malah kamu segera berpikir:

“Eh, eh, Lala ngomongin berlian, apa dia mau nikah, ya?”

…ah, kamu ini. Saya memang mau nikah. He eh. MAU nikah, yang artinya saya INGIN menikah! Bukan saya HENDAK menikah..Β  hehehe…

Kalau yang sudah mengikuti blog ini sejak saya masih muda belia dulu *halah, sebelas bulan yang lalu aja lo bilang muda belia, La… Lo kan tambah cakep, bukannya tambah tua… hihihi*, pasti punya beberapa ide lain ketika saya bicara soal Diamonds, Permata, atau Berlian itu.

Ya, ya.

Buat yang sudah baca tulisan saya yang ini, nih, pasti akan segera terpikir untuk menjawab ini:

Diamonds itu…. permata yang mahal, yang jadi simbol cincin kawin, yang malah tidak mungkin bisa terbeli, dan ya… sebutan lain buat keponakan-keponakan Lala, yaitu Q dan Qe. Saya menganggap mereka Diamonds atau permata, tentunya bukan karena tanpa sebab. Buat saya, Diamonds are precious. Dan mereka berdua, keponakan-keponakan tercinta saya, adalah the most precious creatures in the world, meskipun sekarang mereka tumbuh semakin bandel saja setiap harinya… πŸ™‚ Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono