archives

precious persons

This category contains 48 posts

40 Hari

Edi Purwono. Lelaki yang serupa cahaya, yang memberi terang dalam kehidupanku, bahkan ketika hangat nafasnya tak lagi bisa meremangkan rambut-rambut kulitku. Lelaki yang tak pernah menyerah terhadap ancaman kebutaan, terhadap penyakit gula yang perlahan merenggut fungsi-fungsi organ tubuhnya, lelaki yang tidak pernah menyerah pada nasib buruk yang melanda di sepanjang usianya, lelaki yang selalu bertahan, menancapkan kuku-kukunya dengan semangat, lalu berkata, “Ayo. Siapa yang duluan, ketidakberdayaan secara permanen atau hasil karyaku.” Continue reading

The Perfect Decision

Every decision is a life changer.

Kuanggap demikian karena menurutku setiap keputusan yang diambil akan melahirkan sebuah kejadian yang akan memengaruhi kehidupanku selanjutnya. Sekecil apapun keputusan yang lahir, tidak menutup kemungkinan kalau kejadian yang besar akan menanti dan mengubah segalanya.

And every decision is a perfect one.

Kuanggap sempurna, karena menurutku, tidak ada keputusan yang salah atau keputusan yang benar. Definisi benar atau salah akan tergantung dari pasang mata mana yang memandang, isi kepala mana yang menganggap. Benar menurutku, tidak berarti benar untukmu. Salah untukmu, mungkin kuanggap sebagai pelajaran berharga buatku.

Jadi, kukatakan sekali lagi, bahwa semua keputusan adalah sempurna. Untuk hidupku, untuk penguatan tapakan kakiku di masa-masa selanjutnya, untuk pembelajaran, untuk pengalaman agar aku lebih berhati-hati.

Every decision is a perfect decision, dan sepertinya, ada sepasang manusia yang akan menganggukkan kepala kalau aku bercerita tentang keputusan terhebat mereka dalam sejarah kehidupan mereka, sampai tiga puluh tahun terakhir ini. Continue reading

Happy Birthday, Mbak!

Thursday, February 25, 2010.

Mbak Piet & Me

Dear Mbak Piet,

Maybe I’ve never told you how proud I am to be your (not so) little sister. But you should know, that I always prayed, back then when I was much younger than today, that someday, I wanted to grow up and be a woman like you; beautiful, smart, lovable, can cook (and can cook good!)…. exactly just like you.

I know, I will never be a woman like you. But I’m so proud, that I can call you as my Beautiful, Smart, Lovable Sister.

Happy 35th Birthday, Mbak!

Sudah berkeping-keping doa kurangkum sepanjang umurku, dan kutambahkan pagi ini dengan satu pengharapan khusus di hari ulang tahunmu. Semoga kebahagiaan selalu ada untukmu, di setiap langkahmu…

Love you, Mbak. Forever and ever….

Kiss, kiss.
Hug, hug.

From your (not so) little sister,

Wahyu Sihombhienk (dan memang hanya kamu dan aku aja yang tahu sejarah soal nama ini, ya, Mbak.. hehehe)

***

Kamar, Kamis, 25 Februari 2010, 11.19 Malam
Sejatinya ditulis pukul 6 pagi, tapi lupa dipublish.. hihi!

Sebuah Catatan : 27-28 Januari 2010

Rabu.
27 Januari 2010.
Pukul enam sore lewat sedikit.

Sedan hijau Bro melaju perlahan menuju kamar VIP yang memiliki pelataran parkir di depannya sehingga kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus melewati lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ponselku berdering pendek. Ada sebuah SMS yang masuk. Dari sahabatku.

Dia menyampaikan kabar baik kalau Papi sudah bisa buang air besar. Pas aku tanya, “Seberapa banyak?”

Dia langsung bilang, “Meneketehe. Tanya ndiri gih, nanti kalau udah nyampe.”

Dan tidak lama kemudian, sedan hijau Bro sudah terparkir rapi di pelataran parkir, persis di depan beranda kamar tempat Papi menginap sejak hari Minggu malam. Aku melihat wajah-wajah orang yang kukenal; Om, Bulik-Bulik, Sepupu-Sepupu, sahabat-sahabat, seorang kakak perempuan, dan seorang Ayah yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa banyak bicara. Continue reading

Heart Prints Moments

Do you have a heart prints moment?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sekalipun waktu tergerus begitu cepat, menggelinding begitu liar?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang akan kamu ingat selamanya, sampai nafasmu menghabis dan oksigen seolah enggan terpompa masuk ke dalam paru-parumu?

Sebuah kejadian yang begitu istimewanya sehingga menyentuh hatimu teramat dalam. Ya, the heart prints moments, ketika kejadian-kejadian tersebut terpatri begitu kuat di dalam hatimu.

Saya meyakini, setiap orang memiliki heart prints moments yang mungkin ketika mereka membaca tulisan ini, isi pikiran mereka melayang-layang, mencari-cari peristiwa di dalam selipan isi otak mereka lalu tersenyum sendiri atau merasakan getaran hati yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ya, setiap orang itu termasuk kamu, yang sebentar lagi akan tahu kejadian apa saja yang saya anggap sebagai heart prints moments, peristiwa yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun di sepanjang hidup saya sampai hari ini.

Let’s start with 16 Oktober 2001, hari ketika seorang lelaki akhirnya cukup khilaf untuk menjadikan saya sebagai pacarnya. Namanya Jonathan, lelaki keturunan Italia-China-Bali, yang berusia tiga tahun lebih muda dari saya. Kenapa saya anggap sebagai heart prints moments? Tentu saja karena dia adalah pacar pertama saya! Yay!

Lalu ketika Mami saya berpulang ke asalnya, di Surga sana, tanggal 7 Juli 2002. Hari Minggu. Tak perlu dijelaskan lagi mengapa saya akan terus teringat dengan peristiwa itu, kan? Karena kamu pasti tahu, you will never ever forget the day your mother passed away, hari ketika kamu kehilangan seluruh daya untuk bernafas, dan hari ketika kamu baru benar-benar menyadari bahwa arti dari kata ‘meninggal’ adalah tidak akan pernah kembali lagi. Teknologi secanggih apapun tidak akan menjembatani dua dunia itu. Yeah, the day my Mom passed away is the day that I will never ever forget for the rest of my life.

Berikutnya, hari ketika keponakan pertama saya, Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif alias Kiki, terlahir dari perut kakak saya, Mbak Piet. It was January 21, 2003, hanya berjarak beberapa bulan saja dari hari saat langit Surabaya mendung karena Mami berpulang. The day she grabbed my finger, the very first day I held my niece and kissed her forehead, the day I jumped off joy because I finally had a niece… adalah hari yang sangat menyentuh. Sampai sekarang, perasaan hangat itu masih menghangati hati saya.

Hmm… what’s next?

The first kiss?
The first break up?
The day I graduated from university?
The day I received my paycheck?

Banyak sekali heart prints moments dalam hidup saya, termasuk bertemu pertama kali dengan Om NH18, sis Imelda, dan Abang Hery Azwan, mentor-mentor saya di dunia blog, tanggal 1 Agustus 2008.

Dan tentu saja, above all, yang paling terekam dalam ingatan saya, yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan saya, yang sumpah mati saya ingin merasakannya kembali adalah…

This special day. 14 November 2008, hari peluncuran buku saya, The Blings of My Life, di Indonesian Book Fair, JCC. Hari di mana saya bisa merasa bangga dengan diri saya sendiri, that I could prove to my self that I meant something for someone else.

And what makes it even special is…
Karena di hari yang sama…
Hati saya tersentuh luar biasa…
Oleh seorang sahabat…
…bernama Lin.

*** Continue reading

Mister H; Angel & Demon

Pernahkah kamu duduk di atas sebuah kursi, di sebuah ruangan yang hening, dan di depanmu tidak ada siapapun kecuali seorang lelaki tua, dengan rambut yang hampir memutih di seluruh bagiannya, dengan wajah yang mulai keriput termakan usia, dengan tubuh yang tinggi besar juga gagah, dan senyum yang begitu kamu kenal?

Oh, maaf. Saya bicara soal Boss saya. Kecuali kamu adalah teman kerja di kantor saya atau orang-orang yang pernah mengenal Mister H – saya samarkan namanya – tentunya kamu tidak akan pernah merasakan betapa hebatnya sensasi setiap kamu duduk di atas sebuah kursi, di sebuah ruangan yang hening, dan di depanmu tidak ada siapapun kecuali lelaki tua tadi.

Lima tahun bekerja di sebuah perusahaan pelayaran ini membuat saya berkali-kali duduk di depannya, berbincang tentang banyak hal; pekerjaan, hidup, literatur-literatur menarik, atau berbincang santai soal keluarganya. Tapi di antara lima tahun saya bekerja menjadi salah satu karyawannya, baru setahun belakangan ini saya melihat Mister H sebagai seorang Bapak, seseorang yang menyayangi saya dan kawan-kawan sebagai anak-anaknya, bukan karyawan-karyawan yang pasti tunduk atas titahnya. Awal tahun 2009 ini, saya mengenal Mister H sebagai seorang lelaki yang hebat, seorang ‘Ayah’ yang luar biasa, seorang mentor yang telah mengajari saya untuk terus melangkah mesti hidup mulai terasa getir. Continue reading

Lima Setengah Jomblo!

Kemarin, saya meng-update status di FB. Isinya sih kurang lebih seperti ini:

“Sejak ada FB, kayaknya semua orang jadi lebih sering kumpul-kumpul sama temen-temen lama, deh!”

Dan status itu saya tulis ketika menuju ke acara Buka Puasa Bersama teman-teman alumni SMPN 3 Praban, Surabaya, lulusan tahun 1995, yang diadakan di Kebon Pring, sebuah resto yang menyajikan masakan Indonesia yang mendapatkan full recomendation dari saya. Iya, karena enak dan murah! Continue reading

Lelaki Bernama Edi Purwono

Kalau ada yang bertanya, siapa yang menginspirasi saya untuk menulis, tidak lain dan tidak bukan adalah: EDI PURWONO, lelaki usia 59 tahun, yang penglihatannya sudah rabun, bertubuh ringkih, yang kupanggil Papi atau “Dad” ketika saya merajuk manja padanya.

Ya. Edi Purwono, Papi saya, adalah orang pertama yang meyakini bahwa saya bisa menulis. Beliau memang tidak pernah sangat serius menelateni untaian huruf-huruf  yang saya ketik. Beliau bukan penikmat tulisan saya seperti almarhumah Mami yang selalu membaca karya-karya cerpen yang saya tulis sejak SMP. Edi Purwono, Papi saya, hanya tahu kalau puteri bungsunya yang selalu sibuk berkutat di depan komputer itu sedang menulis cerita-cerita pendek yang kebanyakan isinya cecintaan saja. Dan entah kenapa, sekalipun demikian, Papi selalu meyakini, “Suatu saat kamu pasti punya buku. Ayo, kapan mulai ngirim karya-karyamu ke penerbit?”

Kata-kata penyemangat yang keluar dari mulut Papi memang seolah mantra yang menghantui pikiran saya. Bagaimana tidak, almost each and every day, di kala sempat, Papi selalu menuturi saya bahwa di dalam hidup yang hanya sebentar ini,  paling tidak, kita harus mengisinya dengan lebih bermakna. Dan, it may sound selfish and all, tapi kata-kata Papi tentang saya harus membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa, jelas telah menantang adrenalin saya untuk mencoba, terus dan terus.

Dan Papi ternyata benar Continue reading

The Wind Beneath My Wings

Seekor burung Gereja nampak kuyup dari balik jendela. Rupanya, hujan yang turun terlalu lebat dan langit yang menangis mendadak membuatnya tak sempat berteduh di tempat yang lebih layak; tidak lebih layak daripada di tempat ini, sebuah tempat kecil, persis di sisi luar sebuah jendela yang membuat pantry kantor nampak terang sekalipun tanpa cahaya.

Dingin menimbulkan gigil di tubuh mungilnya. Berkali-kali dia menggerakkan kedua sayapnya; mungkin untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat. Mungkin pula, untuk menghilangkan air yang terlanjur meresap ke dalam pori-pori kulit dan bulunya. Entahlah apa yang sedang bermain-main dalam isi kepalanya, tapi yang terlihat adalah, burung Gereja itu nampak sibuk seiring dengan tetesan hujan yang mulai berhenti. Continue reading

Lelaki-Lelakiku…

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Dua lelaki yang tak pernah bisa tergantikan dengan siapapun, yang selalu saya cintai dengan sepenuh hati saya, yang selalu menghadirkan pelangi di setiap ujung hari-hari resah saya, yang akan selalu tinggal di hati saya sampai saya menutup mata, suatu saat kelak.

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Yang membuat saya bersemangat untuk menarik dan menghembuskan nafas. Yang selalu bisa menjadi penyemangat ketika saya terjatuh dan berlomba-lomba mengulurkan tangan mereka untuk menarik saya dari setiap kubangan masalah.

Ada dua lelaki dalam kehidupan saya.

Yang saya tahu, mereka tidak akan pernah menyakiti saya. Tidak seperti lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi, membuat luka, lalu menjadikan saya sebagai perempuan paling cengeng sedunia; lelaki-lelaki ini akan melakukan apapun caranya supaya saya selalu tersenyum, no matter how painful life is…

Ya.

Karena lelaki-lelaki ini,
Adalah lelaki-lelakiku. Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono