archives

Penting Ga Penting…

This category contains 82 posts

Menulis Fiksi

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan menjadi seseorang yang suka menulis?

Hm, kalau menurutku, yang paling menyenangkan menjadi seorang yang suka menulis sepertiku adalah karena aku bebas membentangkan imajinasiku seluas-luasnya, bercerita tentang apapun tanpa batas yang pasti, dan menjadi siapapun yang aku mau.

Aku bisa menjadi seorang perempuan atau lelaki. Anak-anak kecil, perempuan pekerja, atau lelaki jompo. Pebisnis sampai pengangguran. Perempuan biasa sampai manusia yang memiliki indera keenam. Tinggal di sebuah desa atau di negeri moderen bikinanku sendiri. Continue reading

Tanya Saja Sama Paranormal!

Lucu aja kalau ingat tadi siang, saat membaca sebuah tabloid milik teman kantor. Headline-nya adalah cerita tentang Kris Dayanti pasca perceraiannya dengan Anang Hermansyah, dan dikabarkan kalau KD bakal menikah lagi, tapi bukan dengan lelaki pengusaha yang disebut-sebut menjadi penyebab perceraian diva penyanyi dengan musisi itu.

Tapi bukan karena itu aku menjadi tertawa geli sendiri. Bukan karena aku membaca mengenai sepak terjang KD yang kepingin untuk terus eksis pasca perceraiannya dengan membuat album duet bersama Siti Nurhaliza, yang disebut-sebut sebagai aksi tandingan untuk duet maut Anang dengan Syahrini yang kini makin laris manis berkat diimbuhi gosip-gosip kalau mereka merajut kasih. Continue reading

Kemane Aje?

Bukan maksudnya sok penting, sok happening, sok gimana gitu, tapi setelah beberapa minggu ini aku off the radar, mungkin ada di antara kamu yang nanya:

“Lala, elo kemane aje? Kok lama nggak update blog? Kok lama nggak mampir blog gue? Emang elo lagi ngapain, kemane aje?”

Ya, ya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kalian-kalian yang khilaf karena kangen sama aku (jiah! GR nggak ilang-ilang! ^_^), aku cuman mau bilang kalau selama ini aku lagi repoooottsss banget ngurusin banyak hal dan nggak kemana-mana. Kalau ada yang nuduh aku lagi liburan ke luar negeri, artinya kamu fitnah banget. Wong mau beli BlackBerry aja nggak mampu apalagi mau main-main ke luar negeri ! Hehe.

Jadi… ente sebenarnya kemane aje, Jeung? Continue reading

My Mood Boosters

Awas, Galak! ­čśÇ

Sudah banyak yang tahu kalau aku adalah seorang perempuan yang moody. Gampang senang, gampang sedih. Semuanya bisa terjadi dalam satu jentikan jari. Ya, kawan. Secepat itu perubahan moodku!

Seringkali, untuk masalah yang sama, reaksiku bisa jauh berbeda. Kalau biasanya aku bersikap tenang dan cool, tapi bisa jadi, ketika masalah yang sama menimpa lagi, aku bisa ngamuk luar biasa! Aku bisa menyalak hebat dan mencoba menggigit siapapun yang mendekat! Haha.. anjing, kali, ah… Continue reading

The Questions

I hate being single in this time around... er, yang saya maksud ‘around‘ adalah ketika sedang berkunjung ke rumah saudara-saudara saat lebaran kemarin. Yeah, yeah. Typical, same old questions.

“Kapan, nih?”

Kapan apanya? Ulang tahun? Oh, masih lama, lima bulan lagi.
Kapan apa? Masuk kantor? Oh, nanti, tanggal 24 September, hari Kamis.
Kapan apaaaa? Lebaran? Lho, kan hari ini! Continue reading

Numpang Curhat

Tahu lagunya Dewi Sandra yang judulnya “Kapan Lagi Bilang I Love You”? Itu tuh, lagu yang disebut-sebut sebagai curahan hati seorang Dewi Sandra buat suaminya, Glenn Freddly ituh… Yang liriknya seperti ini nih:

Kau pernah bilang aku
Setengah matimu mengejar cintaku
Tapi sekarang kamu bukanlah kekasih yang ku kenal dulu
Kau berubah semakin jauh
Sudah tak mencintaiku lagi

Kapan lagi kau puji diriku
Seperti saat engkau mengejarku
Kapan lagi kau bilang I love you
I love you yang seperti dulu
Yang dari hatimu

(Kapan Lagi Bilang I Love You, Dewi Sandra)

Huedan! Liriknya daleeemmm banget. Apalagi saat lagu itu pertama kali dirilis, memang berita soal pengajuan talak satu oleh Glenn buat istrinya yang baru dikawin beberapa tahun itu sedang ramai-ramainya diberitakan di infotainment. Semua orang juga tahu (okay, nggak semua deng… tapi orang-orang yang lumayan rajin ngikutin infotainment seperti saya) kalau Dewi bercerai dari Surya Saputra (sekarang udah nikah sama saya.. eh, Cintya Lamusu) gara-gara inlop dengan Glen yang katanya memujanya setinggi langit dan bintang gitu, deh. Continue reading

Sleep Like a Baby…

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari...

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari...

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari…

Entah bagaimana awalnya, tapi pagi tadi, saya terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang rekan kerja satu ruangan yang membahas tentang kebiasaan tidur anak sulungnya yang kini sedang hendak masuk sekolah dasar.

“Niel itu, La, kalau tidur selalu harus dikelilingi dengan bantal dan guling, samping kiri dan kanannya. Dan kalau ada orang yang ada di sebelahnya, entah aku atau Papanya, dia selalu minta dipeluk.”

“Oh, ya?”
“Iya. Dia malah sering ngeluh nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk.”
“Setelah dipeluk?”
“Tidurnya langsung nyenyak!”

Saya pun ikut nyerocos dengan posisi saya saat menjelang tidur (okay, saya bilang menjelang, karena biasanya dalam beberapa menit berikutnya, posisinya udah kacau balau lagi! haha). Kebiasaan Lala Purwono sebelum tidur adalah memastikan bahwa bagian, sisi kanan kiri, dan kaki harus di’ganjal’ dengan bantal dan guling. Yup, mirip seorang bayi mungil yang dikelilingi bantal guling untuk menghindari bayi itu terantuk sesuatu.

Oh, ya. Tentu bukan karena alasan saya takut terantuk atau apa sehingga saya memilih untuk tidur ala bayi begitu, tapi entahlah, saya selalu merasa lebih nyaman jika tidur dikelilingi bantal guling seperti itu. Feel so safe and warm; perasaan yang selalu diinginkan setiap orang kala memilih untuk memejamkan mata dan berpasrah pada maut yang mungkin menjemput.

Mungkin saya terlihat sangat konyol dan kekanak-kanakan. Bayangkan saja. Untuk satu orang gembul di atas tempat tidur king size seperti ini, saya musti menyediakan bantal sekurangnya tiga pasang dan guling tiga biji! Kebayang betapa ramainya tempat tidur saya, kan? Very crowded!

Tapi, hell.. bodo amat.

Selama saya bisa merasa sangat nyaman dan bisa tidur dengan tenang, saya tidak peduli kalau banyak yang bilang, “Idih, La… emang lu takut apaan, sih? Lagian, umur udah mo kepala tiga tapi tidurnya masih kayak bayi!”

Hayah. Terserah saya, kan? Daripada saya meminta temen saya itu untuk meminjamkan suaminya buat nemenin saya tidur, masih jauh lebih baik kalau saya memfungsikan bantal dan guling milik saya sendiri dengan sebaik-baiknya, kan? ^_*

Jadi, ya, ya, ya. Saya tidak akan berbohong sama kamu soal betapa ‘culun’nya gaya saya menjelang tidur. I sleep like a baby, dengan bantal guling di sekeliling saya. Just to feel safe. Just to feel warm. Just to have the same kind of feelings that I used to have… years and years ago..

***

Saya ingat, dulu sekali ketika masih sering tidur berdua dengan Alm. Mami, saya selalu menyisipkan kedua kaki saya di kaki Mami. Ada perasaan hangat yang membuat tidur saya nyenyak seketika.

Saya juga ingat, dulu sekali, ketika Mami masih belum berpulang ke pangkuan Tuhan, saya selalu meminta Mami untuk memeluk saya saat tidur. Hanya sebelah tangan yang menumpang di atas bahu saya, tapi sungguh sensasi yang saya rasakan adalah sangat luar biasa! I slept like a baby!

Saya tidak tahu, apakah karena kenangan-kenangan di masa kecil itu yang membuat saya selalu ingin tertidur dalam ‘sentuhan’ bantal dan guling, membuat saya selalu ingin merasa dilindungi oleh semacam barikade empuk berbahan bulu angsa itu. Sungguh, saya tidak tahu apa yang membuat saya selalu tak bisa berhenti untuk tidur dalam kondisi yang sama setiap harinya (okay, kecuali saya menginap di rumah teman di mana saya tak mungkin meminta dia menyediakan guling tiga biji dan bantal tiga set, kan?).

Tapi yang saya tahu, sebuah pemandangan yang saya lihat sore tadi, dalam perjalanan pulang dari kantor, di dalam sebuah angkot yang mengantarkan saya ke pemberhetian paling dekat dari rumah, telah menjawab rasa penasaran saya kenapa sampai hari ini masih tidur seperti Baby Huey yang menggembol botol susunya kemana-mana… ^_^

***

Seorang ibu. Seorang anak. Mereka berdua duduk persis di depan saya. Wajah gadis kecil itu nampak kuyu sekali. Saya tidak tahu apa yang membuatnya lelah, tapi dari kantong belanja yang terisi penuh, saya menduga, Ibu dan gadis kecilnya itu telah belanja seharian di sebuah mal paling hip di Surabaya.

Saking lelahnya, tidak sampai lima menit duduk di dalam angkot, si kecil mengeluh, “Maaa… ngantuk…”

Lalu dengan sayangnya, si Ibu segera menyuruh buah hatinya yang berusia kira-kira tujuh tahun itu untuk tidur dengan membaringkan kepalanya di atas pangkuan Ibunya. Gadis kecil itu menurut, lalu ia mulai tidur di pangkuan ibunya lalu tertidur pulas sampai setengah jam kemudian.

Kamu tahu apa yang membuat saya terkesan?

The mother’s hand.

Iya. Tangan Ibunya yang tak berhenti mengelus sayang rambut anaknya sambil terus menjaga agar si Anak tidak terjatuh dari duduknya. Tidak berhenti sama sekali! Dan percayalah, I saw it! Pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan, sehingga sambil mencuri-curi pandang, saya mencoba untuk menikmati pemandangan yang indah itu persis di depan kepala saya.

Hm.

And then I began to think.

Apakah saya merindukan sentuhan itu di kala saya tidur? Perasaan aman bahwa ada seorang Ibu yang menjaga saya? Atau perasaan nyaman karena saya tahu ada seseorang yang ada di samping saya? Yang akan membangunkan saya ketika saya sedang bermimpi buruk?

Apakah dengan adanya tumpukan bantal, guling, dan selimut tebal yang membungkus tubuh saya adalah substitusi dari sentuhan Mami yang dulu selalu berhasil meninabobokkan saya?

Oh my.

Saya merasa sangat kekanak-kanakan saat ini. Benar-benar merasa seperti seorang Baby Huey dengan peniti segedhe gambrengnya!

Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya memang merindukan sentuhan-sentuhan Mami. Saya merindukan sentuhan yang dulu selalu menjaga saya, setiap saat saya ingin memejamkan mata saya. Oh, ya. Asal kamu tahu saja, saya baru benar-benar tidur sendiri setelah Mami pergi. Biasanya, saya tidur dengan Mbak Pit dan setelah Mbak menikah, saya memilih untuk tidur bersama Mami di kamarnya… Gangguin orang tua pacaran? BIARIN! ­čÖé

Ketika saya bicara soal kebiasaan ini, seorang teman, lagi-lagi tertawa. Dia malah bilang, “Kenapa nggak kawin aja, La? Cari temen tidur, gih…”

Hm. Kalau suami cuman berfungsi sebagai bantal dan guling, kenapa saya musti menikah, dong? Saya bisa beli bantal guling di carrefour! Kadang pake acara diskon pulak! ­čÖé

Lalu coba tebak, apa kata teman saya?

Dia, dengan bawelnya, hanya bilang, “Ya, paling nggak, pas elu susah tidur, elu bisa memanfaatkan waktu elu buat ngelakuin hal yang lain!”

HAHA! Kurang ajar bener dia..

Apapun itu, saya menyadari kalau saya memang mirip dengan seorang bayi yang tidurnya harus selalu dijaga bagian bawah, atas, kiri dan kanannya. Dan ya. Saya tidak akan marah disebut bayi gedhe atau semacamnya.

Karena tentu saja, it really doesn’t matter for me.

As long as I can sleep like a baby every nite, saya akan memanfaatkan segala macam ‘alat tempur’ yang saya punya di atas ranjang saya.

Kalau akhirnya saya menikah juga… oh, tentu saja… suami tercinta saya itu akan menggantikan semua fungsi alat tempur yang saya miliki tadi…. Yang ini sih, wajib sifatnya… hehe…

***

Depan televisi, ruang keluarga
30 Juni 2009. 11.56 Malam
Tulisan ngasal karena tangan gatel udah lama ga nulis..

Fashion Kills!

a3909black-stiletto-postersSuatu kali, saya berjalan-jalan dengan seorang sahabat ke suatu mal. Dengan pakaian yang (menurut saya) super trendy, kami berdua berjalan seolah-olah pemilik Mal yang  sedang menginspeksi seluruh isi Tunjungan Plaza!

Ya. Begitulah yang terasa di dalam pikiran saya ketika saya sedang merasa cantik. What can I say, perempuan selalu ingin terlihat cantik, kan? Memangnya kenapa diciptakan make up, alat pengeriting atau pelurus rambut, stiletto┬áyang menjulang tinggi seperti menara Eiffel *okay, lebay, nih! hehe*, dan baju-baju dengan model yang selalu berganti setiap bulannya? Karena perempuan ingin terlihat menarik, that’s what it’s all about.

Jadi, saat itu, saya dan seorang sahabat melenggang dengan percaya dirinya menyusuri isi mal. Mengintip koleksi-koleksi sepatu, mengaduk-aduk koleksi buku di Gramedia, mencoba beberapa baju, lalu duduk di sebuah coffee shop untuk menyesap kopi favorit, semuanya kami berdua lakukan dengan sangat percaya dirinya. 

Well, saya memang sedang merasa cantik dengan rambut pendek saya, dengan celana jeans yang berpotongan pensil, tank top┬áberwarna abu-abu di balik cardigan┬áwarna hitam, serta tentu saja… my perfect stiletto┬ásembilan senti yang telah setia menemani saya kemana-mana. Continue reading

Menjadi Detektif

Berita soal pembunuhan Nasrudin yang (katanya) didalangi oleh Antasari, mantan ketua KPK, menjadi topik yang sangat hangat dibicarakan di mana-mana. Siaran berita televisi selalu menayangkan up date atau perkembangan terbaru dari berita yang sepertinya kini sudah mulai membentuk sebuah opini publik. Bukan hanya siaran berita yang formal semacam Liputan Enam atau Breaking News-nya Metro TV, tapi kini, infotainment yang tadinya ngurusin artis pacaran saja sudah mulai ikutan bergosip. WOW!

Ramai dibicarakan kalau kasus pembunuhan ini dipicu oleh perempuan muda bernama Rani Juliani yang kini (dikabarkan) tengah disimpan dan diamankan oleh pihak berwajib. Dengar-dengar, seperti yang dibilang oleh paranormal kondang di infotainment yang saya tonton kemarin*ketauan deh, liburan kemarin cuman mantengin tipi! hihi*, kalau Rani sedang disekolahkan supaya ngomongnya bener kalau sudah waktunya keluar.

Penerawangan yang hebat! Continue reading

Akhirnya, kutemukan dirimu…

Dua minggu yang lalu, pencarian saya usai sudah.

Dua minggu yang lalu, setelah lama mencari dengan hati berdebar-debar, jantung berdetak hebat, rasa cemas yang berlebihan, dan keinginan yang menggebu-gebu tapi tak kunjung menemukan, akhirnya selesai sudah.

Ya.

Dua minggu yang lalu, saya telah menemukan apa yang telah cari selama ini. Yang saya pikir tak akan pernah saya peroleh dan membuat saya menghabiskan sisa umur saya dengan kesedihan karena tak bisa bertemu dengannya lagi… akhirnya saya menemukannya, di sebuah tempat yang tak pernah saya kunjungi sebelumnya, sebuah titik yang tak pernah saya tempati sebelumnya…┬á

Ah, betapa senangnya. Betapa leganya. Betapa bahagianya.

Karena mulai kini, saya tak perlu lagi mencari..
Karena mulai kini, dia menjadi milik saya… semoga untuk selamanya… Continue reading

Catatan Harian

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono