archives

Novelet Bersambung: Behind The Door

This category contains 23 posts

behind the door (13) : mellow yellow

an actor, is a regular human
hiding behind mask
and good scenarios
And keep saying that “the show must go on”
even when he feels so much in pain

Sounds familiar?
Gue memang bukan aktor, tapi sebagai entertainer, gue harus bisa menyembunyikan semua perasaan gue, mengesampingkan apa yang sebenarnya gue rasakan, dan pura-pura bahagia demi orang lain.
Makanya sepanjang show, gue makin stres.
How could I be focus if my mind was someplace else?
Gimana bisa berkonsentrasi penuh kalau suara Jo masih memenuhi pikiran gue dan hang in there like forever?

“Jangan begini lagi, ya, Sas? Kamu nggak fokus malam ini. Apapun yang ada di dalam pikiran kamu, lupakan saja, okay?” Oom Hasan memegang bahu gue sebelum berlalu menuju pintu keluar. Setelah itu, Erick, Mas Ben, Miko, lalu Daanish bergantian melewati gue dan memandangi gue dengan mata hope-everything-will-be-alright yang membuat gue makin merasa bersalah.

Yes. I admit, tadi gue sempat lupa beberapa bagian lirik lagu, sempat bengong sebentar padahal sebetulnya gue sudah harus masuk ke lagunya, atau tiba-tiba blank apa judul lagu berikutnya.
Gue memang nggak bisa berkonsentrasi.
Sama sekali.

But, hey! What do you expect from a girl with her broken heart? Continue reading

behind the door (12) : here comes the truth

Malam itu, gue sulit memejamkan mata.
Selain karena beberapa gelas kopi yang selalu berhasil membuat mata gue melek, juga karena pikiran gue yang mengembara kemana-mana.
Ya.
Kemana-mana. Melintasi ratusan kilometer dari sini, lalu sampai ke satu orang gila yang membuat gue jadi orang aneh belakangan ini.
The shit that I adore so much.
Damn. Continue reading

behind the door (11) : … and surely, a last one

“Jadi bener ya, Sas? Lo bilang kalau lo udah punya pacar??? Amppyyuuuunnn!!”
Setelah itu Daanish cuman mondar-mandir mirip setrika panas. Maju mundur kayak orang belajar parkir mobil. Gue tahu, Daanish pasti lagi kesel, sebel, dan kecewa sama gue.

Well doesn’t she think that I feel sorry too for myself? Continue reading

behind the door (10) : first blind date

Tadinya gue pikir blind date itu pekerjaan sinting yang dilakukan orang-orang yang sudah putus asa lalu memohon-mohon orang lain untuk menjodohkan mereka, atau mencari-cari lelaki di cyber world yang nggak jelas wujudnya.

Ya, itu yang ada di dalam pikiran gue sebelum Dean menjemput gue sama Daanish di hari Minggu pagi, tepat jam tujuh.

Karena…
Ya.
There you go.
Gue melihat seorang cowok ikut keluar dari mobil bersama Dean, lalu menghampiri kami berdua. Gue hampir saja jatuh pingsan begitu bisa menyentuh tangan dia karena dia mirip seperti bayang-bayang imajinasi yang terlalu indah untuk terwujud! Continue reading

behind the door (9) : the distraction

Hari kedelapan.
Dan masih belum ada telepon, bahkan sms, dari Robbie. Berkali-kali mengintip hp, yang ada cuman layar bertuliskan provider, beserta tanggal, dan penunjuk waktu.
Gue berharap, paling nggak, ada sms atau missed call dari Robbie supaya gue bisa menelepon balik untuk nanya, “Tadi nelpon, ya, Rob?”
Karena satu kalimat itu, pasti akan membawa ke percakapan yang lainnya…

How I miss this guy…

Meskipun tingkahnya sering menyebalkan dan nggak masuk di akal, dia tetap seorang lelaki yang manis buat gue. Dia memang nggak seganteng Farid, atau setajir Andhika, atau sepintar Rommy. Bagi gue, dia adalah ordinary guy with extraordinary qualities.
Dia tahu gimana cara bikin gue tertawa, dia tahu gimana cara bikin gue nggak terlalu larut dalam masalah gue… Bahkan dia tahu setiap jalan tikus di Jakarta yang bisa menghindarkan gue dari kemacetan…

He’s an angel.
And still, I can hardly believe that he’s cheating behind my back… Continue reading

behind the door (8) : theory of healing

Gue tahu, gue pasti akan healing sendiri, seperti kata Kang Tommy Page, yang bilang:

You told me time will always heal the pain
Bring the sun and dry the rain
We need time to solve and think our problems through
You told me time will always on my side
Change the season, change the tide
Things work out with time
If you want them to

Gue memang selalu percaya semua ini akan berakhir. Masa-masa sakit hati gue, masa-masa wondering gue, masa-masa gue merasa being left out from the game when I play only to win, merasa kalau gue sangat nggak ada artinya…

I believe, I’ll get through this somehow. Continue reading

behind the door (7) : let yourself healed

Pukul empat pagi, lewat beberapa menit.
Gue masih duduk di depan teras rumah kontrakan, menghisap rokok, dan membiarkan imajinasi gue berkeliaran kemana-mana seperti asap rokok yang hilang terbawa angin.
Saat merokok, asap rokok gue malah membentuk bayang-bayang Robbie. Sedang tersenyum. Sedang tertawa. Sedang memandang gue. Seperti yang dulu-dulu, saat cinta dan perhatian dari Robbie adalah makanan sehari-hari gue…

Shit. Shit.

Gue nggak tahu kenapa gue bisa se-mellow ini. Padahal gue tadi sudah all out, gue sudah berusaha untuk melupakan dia dengan bersenang-senang dan mengajak beberapa clubber untuk menemani gue di panggung, tapi…
Tetap saja.

He’s just everywhere…
Even in the smallest particle of air that I breathe… Continue reading

behind the door (6) a feeling called emptiness


I still breathe, I still eat
And the sun it shines the same as it did yesterday
But there’s no warmth, no light
I feel empty inside…

Hh.
Rasanya seperti sudah bertahun-tahun gue di Surabaya, padahal sebetulnya baru kemarin sore gue menginjakkan kaki gue di sini. Memang betul kata orang. Saat kita lagi jatuh cinta, yang ada cuman perasaan senang dan gembira. Tapi begitu kita putus dan sakit hati, kita nggak akan pernah jauh-jauh dari sedih dan merana.
Yang terasa cuman pahitnya doang.
Dan mulai merasa sebagai makhluk paling menderita sedunia.

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi…

Akhirnya gue memilih lagu Dewa sebagai theme of the day, karena memang gue merasa ‘sendiri dan sepi’ padahal gue sekarang berdiri di tengah-tengah kerumunan clubbers yang berjubel sampai ke pinggir panggung.

It’s our first night, here.

Dengan bantuan promosi yang bagus, akhirnya penampilan perdana kami cukup ditunggu di kafe paling ramai di Surabaya ini.
Dengan euforia seperti ini, seharusnya gue merasa damn good.
But…in fact,
I don’t feel anything but…
emptiness.

Gue jadi inget lagi sama lagu lawasnya Lisa Stanfield.

Been around the world and I, I, I
I can’t find my baby
I don’t know when, I don’t know why
Why he’s gone away

Gue tahu kenapa dia pergi, Ms. Stanfield.
Dia pergi,
karena dia nggak cinta lagi sama gue…

to be continued

behind the door (7) : let yourself healed

behind the door (5) :

“Cowok tuh emang binatang, Sas.”
Itu komentar Erick setelah melihat gue menitikkan air mata. Dia segera memacu mobilnya menjauhi Kemang dan mengantarkan gue pulang ke kost.
Gue melirik dia. “Binatang? Lo ngatain cowok binatang, tapi lo sendiri?”
“Sasya, cowok itu binatang… Bajingan… Tukang bohong… playboy… Suka mainin perasaan perempuan… Setiap ada yang baru, yang lama dibuang… Syukur-syukur kalau masih bisa diafkir…” kata Erick tanpa menghiraukan gue.
“Terus?”
“Makanya… gue lebih suka sama cewek, Sas!” Continue reading

behind the door (4) : does he know I’m hurt?

You seem very well,
Things look peaceful
I’m not quite as well,
I thought you should know
Continue reading

Catatan Harian

July 2022
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono