archives

Memorable Meetings

This category contains 3 posts

Hidden Angels…

I’ve never touched my own skin; betapa beruntungnya seorang saya, yang pagi ini sedang menyisip kopi susu pelan-pelan sambil menghidupkan laptop saya dan mulai mencoba merangkai kata-kata.

 

I’ve never touched my own skin; betapa hebatnya koleksi boneka barbie saya yang nasibnya mengenaskan karena rambutnya acak-acakan akibat ulah tidak bertanggung jawab si kecil Lala yang memotong rambut Barbie-Barbie itu dengan gunting sembari berharap suatu saat kelak akan tumbuh juga. Continue reading

(Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls

I was in the bathroom.
Mengeringkan rambut pendek saya dengan hairdryer.

I was in the bathroom.
Memutihkan kulit wajah saya dengan dempulan moisturizer, alas bedak, mineral powder, dan bedak padat sebelum mulai melukis wajah saya; dari alis, mata, pipi, sampai bibir. Maskara? Tentu saja! Memangnya seajaib itu tiba-tiba bulu mata saya menjadi tebal dan lentik?

I was in the bathroom.
Mematut-matutkan tubuh bongsor saya di depan cermin; memakai pakaian terusan batik di atas lutut dan mesam-mesem sendiri mengagumi wajah cantik saya. Uhui! Pasti kacanya bohong! 😀 Berputar-putar dengan grogi di depan cermin, mencari-cari apa yang salah karena tiba-tiba perasaan saya berkata, “Idih, kok bukan gue banget, ya?” Dan membayangkan saya bakal seharian beraktivitas, saya khawatir rok selutut itu bakal robek atau tersingkap! Haha… I’m not a ‘real’ girl, btw. Saya terlalu urakan untuk disebut perempuan sejati! Continue reading

(Bandung-Jakarta’s Stories Part.1) Selebritis Vs Penggemar

I am a writer wannabe.

Saya pernah pernah menulisnya di side bar blog saya dan dengan segera seorang teman bernama Donny Verdian bilang, “Hey, kamu itu penulis!” Maksud dia, saya bukannya ‘wannabe’ tapi ‘already’ atau berhenti saja di “I am a writer.” Selesai.

Saat itu saya belum lagi menulis buku, meskipun blog menjadikan saya sebagai penulis yang sangat aktif (ah, terbayang kini di dalam kepala saya betapa dulu saya bisa menulis sampai sembilan cerita dalam satu hari!). Semua kejadian-kejadian kecil di dalam kehidupan saya berhasil saya ceritakan ulang di blog saya yang saat itu masih baru beberapa bulan saja umurnya. Entah kenapa, ketika masih ‘perawan’ dan belum ‘melahirkan jabang bayi‘, seorang saya tidak pernah berani menyebut dirinya sendiri sebagai penulis. Iya, karena menurut pemikiran saya, profesi yang sungguh hebat dan selalu berhasil membuat saya ternganga bangga dan iri tidak boleh disamakan dengan penulis di blog yang standar-nya, for me, that time.

I was a blogger. A writer wannabe.
Not until I can publish my own book and find it in the book store; I’m not qualified enough to be called as a writer.
Sudahlah, blogger saja. Tak perlu bilang bahwa saya adalah penulis; meskipun kini saya mulai menganggap bahwa setiap blogger adalah penulis-penulis yang menunggu giliran agar naskahnya segera dibaca oleh seorang editor lalu mulai berjuang di berbagai sidang agar dianggap layak cetak. Continue reading

Catatan Harian

July 2022
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono