you're reading...
Life After Marriage

Going to the Doctor

Suatu sore saya terlibat percakapan dengan seorang rekan kerja. Just call her Yuna.

“Mbak, mbak sudah hamil belum?” tanyanya.

Sore itu menjelang jam pulang kantor. Dengan energi yang sudah kesedot habis berganti dengan keinginan menggebu untuk pulang. Kalau bukan Yuna yang bertanya, mungkin saya bakal nyolot, marah, lalu bilang, “Belom. Ngapain lo nanya?” Tapi karena ini Yuna, yang nasibnya sama seperti saya — alias nikahnya udah lama, jauh lebih lama malah, dan belum hamil juga — saya dengan santainya menjawab, “Belum, Dek. Kenapa?”

Rupanya dia cuman mau cerita soal kunjungannya ke dokter kandungan, beberapa waktu yang lalu. Ke dokter yang terkenal punya semacam magic untuk menghamili — eh, sounds wrong, ya? — maksud saya, membuat perempuan yang susah punya anak jadi tokcer hamil kayak kelinci.

Dia cerita, kalau kunjungannya ke dokter itu atas referensi teman-temannya. Dia dengan semangat pula cerita kalau si Dokter Kelinci — i don’t remember his name, actually — itu menyuruh Yuna untuk datang ke tempat prakteknya tepat beberapa hari setelah dia mens. Dan di saat itulah, treatment dimulai.

Yang terpenting sebelum seluruh treatment itu dimulai adalah dengan mengetahui apakah Yuna memiliki sel telur yang bagus atau tidak, mencukupi atau tidak. Intinya sih supaya treatmentnya nggak sia-sia. Jangan-jangan udah dikasih anu-itu, vitamin magic A-B-C, taunya sel telornya nggak ada. Males, kan?

“Kemarin aku sudah di-tes, mbak. Hasilnya masih nunggu. Nanti aku ke sana lagi untuk dikasih tau dan dimulai treatmentnya.”

I didn’t have enough energy untuk sekadar berkomentar, “Wah, semoga hasilnya bagus, ya?” Saya cuman bilang, “Good luck, Yuna. Anak adalah pemberian Tuhan, sih. Jadi aku sama suamiku belum terlalu ngoyo untuk punya anak.”

At 5.30 PM, saya mengakhiri percakapan saya.

Tapi apakah berakhir dalam pikiran saya?

Oh, tentu enggak.

Dalam perjalanan pulang, di atas mobil antar jemput yang menggelinding hampir dua jam untuk mengantarkan saya sampai ke rumah, saya seperti punya keliwat banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat hati saya nyeri sendiri.

I’m married for almost seven months now. And not once, I got knocked up with my husband. I was late for eight days, but then my stupid period came. Again, in another few months, I thought I was pregnant when I didn’t have period for five days. But then again… that stupid and moron period came. Idiot.

Saya perempuan berumur tiga puluh empat. Nikah di umur tiga puluh tiga, yang kata orang, saya sudah ketinggalan start — well, I never knew that marriage is like a competition. Dengan umur segitu, dengan rasa cinta menggebu pada anak-anak kecil, ditambah pula saya ingin memiliki buah hati dengan suami, wajar kalau saya dihinggapi rasa ketakutan karena masih belum hamil juga.

“Kamu udah coba posisi kaki ditaruh di atas? Diangkat gitu, La, supaya lancar masuknya.”

“Eh, La, coba deh nungging. Waktu itu aku ke dokter, abis setahun nggak hamil juga, padahal kaki udah aku angkat. Eh ternyata kata dokter, posisi rahimku beda. Jadi aku harus nungging setelah ML.

Honey, trust me. Saya udah nyoba ngangkat kaki sampe pegel, sampe ketiduran. Saya udah nyoba nungging sampai capek.

“Udah dipijit belom? Coba deh, dipijit. Waktu hamil yang kemarin, aku dipijit sama tukang pijit langgananku. Terus langsung hamil, deh!”

Saya yang excited langsung nanya, “Mau dong dipijit juga. Dimana?”

Teman saya bilang, “Lah, itu dia masalahnya. Orangnya udah meninggal.”

Siyal banget, kan, hidup saya? 🙂

Pernah saya mengeluh pada suami, kenapa saya belum hamil juga. Suami saya bilang, “Ya emang belum waktunya.”

“Ya kapan?”

“Ya nggak tahu. Dikasih enggaknya anak itu haknya Tuhan. Manusia cuman bisa berusaha dan berdoa.”

…and Lord knows how hard we try.

“Lagipula, kita kan baru nikah. Santai aja dulu.”

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, saya mencoba santai. Tapi ketika sudah menjelang hari ulang tahun pernikahan kami, saya menjadi seorang istri yang insecure. Mulai bingung sendiri. Mulai panik. Terlebih, di saat yang sama, teman-teman yang menikahnya setelah saya, sudah siap-siap melahirkan. Ah, kapan giliran sayaaaa?

What if we go to the doctor?” Saya nanya.

Suami bilang, “Nanti saja setelah setahun. Buat apa, sih?”

“Ya supaya kita bisa tahu kondisinya gimana. Kalau ada yang salah, bisa diterapi, dikasih vitamin. Temanku malah rahimnya ditiup, lho, soalnya selama ini sperma suaminya nggak berhasil masuk dan membuahi.”

“Oke, deh. Tapi, kamu yakin?”

“Maksudnya apa?”

“Kalau ketahuan nggak bisa punya anak, kamu yakin bisa menghadapi?”

I was silent. Diem. Bisakah?

Percakapan-percakapan itu terngiang terus dalam isi kepala saya. Sepanjang perjalanan, yang ada di kepala adalah cerita Yuna dan pertanyaan menohok dari suami saya.

Should I go to the doctor, seperti yang Yuna lakukan? Memang, saya bisa tahu bagaimana persis kondisi kandungan dan kualitas sperma suami.

But what if I can’t handle it?

Bagaimana setelah saya tahu, saya malah makin frustrasi? Menyalahkan diri sendiri yang ternyata — amit-amit jabang bayi — nggak bisa punya anak karena kandungan bermasalah? Bagaimana kalau kemudian saya tahu kalau ternyata — amit-amit jabang bayi — suami saya yang infertil? Saya bisa gila, sepertinya.

Nggak terbayang harus membuka lembar hasil lab yang menyatakan kalau sel telur saya sangat sedikit.

Nggak terbayang suami harus membuka lembar hasil uji lab yang dengan lugasnya bilang, “Sorry, Man. Your sperms are not champions.” Ngeri.

Saya tahu saya menginginkan anak, tapi saya tahu saya lebih menginginkan bersama dengan suami saya sampai maut menjemput. Saya ingin berbahagia dengan dia, tanpa harus saling tuding dan menyalahkan siapa yang menggagalkan rencana memiliki keturunan.

It started with two.

Kalau Tuhan mengaruniai anak-anak, artinya itu adalah bonus dalam perkawinan saya dan suami.

Kalau tidak, ya sudah. It will end with two. Saya, suami.

Tepat ketika saya sampai di rumah, mengganti baju, dan menemui suami yang sedang duduk di kursi kerjanya, saya memeluknya dari belakang.

Saya mencintai dia.

Dan semoga, itu selalu lebih dari cukup sampai usia saya menghabis dan hidup saya berakhir dalam pelukannya…

 

**

Surabaya, Mar 15, 2014

You’re always be the one, Sayang!

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2014
M T W T F S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: