you're reading...
Cinta, Fiktif

Kekasih yang Jauh

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu kecup bibirnya setiap kali kamu mau?”

Aku diam saja.

“Apa artinya kekasih yang tak melihat warna lipstick terbarumu dan mengomentari flat shoes warna kesukaannya saat pertama kali kamu memakainya?”

Masih, aku diam.

“Apa artinya kemana-mana sendiri, dengan jari-jemarimu yang tak terangkum mesra oleh jari-jemari kekasih?”

Aku tak bisa bicara apapun juga.

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu peluk sewaktu-waktu kamu butuh, karena hanya pelukannya yang mampu menumbuhkan keberanianmu?”

Perlahan, hatiku mulai ngilu.

“Apa artinya kekasih yang baru akan memelukmu setelah repot mengatur jadwal untuk bertemu, membeli tiket pesawat, menempuh ratusan kilometer dan berjam-jam perjalanan untuk bisa menenangkanmu?”

Hatiku makin ngilu.

“Apa artinya punya kekasih kalau kamu selalu sendiri, hampir setiap waktu?”

“…”

“Kalau ada lelaki lain yang bisa memberikan semua yang bisa diberikan oleh lelakimu itu?”

Aku menghela nafas.

Kilometer yang membentang di antara kamu dan aku memang tak semudah menempuh lima belas menit perjalanan lelaki itu untuk sampai ke kantorku, menjemputku pulang, untuk makan lalu menghabiskan malam.

Berjam-jam jauhnya jarak tempuh antara kamu dan aku memang tak sedekat jarak tempuh rumahnya dengan rumahku, sehingga ia bebas datang menjemputku, bertemu denganku, tanpa perlu memesan tiket pesawat atau mengemas kopernya demi bertemu aku.

Memang, kamu tak semudah lelaki itu, yang bisa bebas pulang ke kotaku, dan tinggal lebih dari dua minggu.

Memang, kamu tak semudah lelaki itu, yang bisa meneleponku sekarang, lalu ada di hadapanku kurang dari satu jam.

Memang, jarak yang terentang jauh membuatmu tak bisa mengecup bibirku, memeluk pundakku, memuji penampilanku, atau bahkan memilihkan sepatu apa yang cocok aku pakai dengan rok yang baru kubeli itu.

Kamu, yang jauh, memang seperti tak mampu melakukan apa yang seharusnya seorang kekasih lakukan pada kekasihnya.

Tapi…

Mereka perlu tahu.

Masa depan yang sedang kita pintal berdua adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap perpisahan kita di pagi buta. Masa depan yang sedang kita rancang adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap tangisan dan rasa sedih yang menghujam hati setiap kamu berpamitan pergi.

Aku tidak perlu lelaki lain untuk membuatku menjadi kekasih yang dicintai kekasihnya.

Aku sudah memilihmu.

Dan tak peduli setampan dan sebaik apapun lelaki yang ingin menggantikanmu, aku hanya akan mencintaimu.

Menunggumu dengan setia.

Sampai salah satu dari kita menyerah.

Yang pasti bukan aku.

Dan semoga pula bukan kamu.

**

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “Kekasih yang Jauh

  1. kalimat2 nyinyir di awal itu ever make me down n i give up at last 😥

    Posted by littleucrit | September 12, 2012, 2:20 pm
  2. keep the faith Lala… 😉

    Posted by ovan | September 14, 2012, 4:39 am
  3. optimis, semoga keyakinan ini berujung bahagia dan mampu membayar kesendirian hari ini 🙂

    Posted by orange float | November 21, 2012, 12:18 am
  4. i feel you, mbak Lala, secara saya dan suami pun LDR-an. 🙂

    Posted by Ruri | January 13, 2013, 9:00 am
  5. Ahhh mbak…bikin mbribesmilli aja….
    😐

    Posted by ratihnajihsaid | January 16, 2013, 3:16 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2012
M T W T F S S
« Aug   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: