you're reading...
Fiktif

What’s so special about you?

Andre,

Bulan Oktober habis beberapa minggu kemudian, tapi tidak kenangan-kenangan kita berdua. Aku selalu ingat saat-saat kita berbagi cerita di sepanjang jalan-jalan kecil di Roma, cerita yang kita bagi di atas skutermu, di cafe-cafe pinggir jalan, di satu bar yang menyuguhkan banyak pilihan wine, dan lobby hotel tempat pertemuan kita biasa berakhir.

Orang bilang, waktu akan berlari secepat mungkin saat kita mencoba menghabiskannya dengan hati riang. Itu benar, Ndre. Time flew very fast. Seperti memiliki sayap yang bergerak cepat, meninggalkan hari ini menjadi kemarin. Menjadikan esok, menjadi hari ini. Berlalu terus begitu cepat, itulah waktu yang aku habiskan denganmu di Roma.

Pertemuan pertama kita di cafe dekat La Pergola, setahun yang lalu, selalu tertinggal di sudut ingatanku. Kita memang bercakap-cakap, hampir tujuh minggu. Hampir setiap pagi di kantor atau setiap malam menjelang tidur, wajah kita saling berpadu di layar laptop 14 belas inchi-ku. Kita bercakap-cakap tentang apa saja. Semuanya, kecuali cinta. Semuanya, kecuali mengakui kalau aku mulai gelisah karena dalam hitungan hari aku bakal bertemu dengan lelaki yang kubayangkan bakal beraroma maskulin karena jenggotmu yang rajin kau cukur setiap pagi. Aroma maskulin after shave yang kuyakin bakal merobek-robek indera penciumanku, memaksa untuk terus tinggal di situ.

 Tapi meski begitu, meski rapat kita saling bertukar kabar, tetap saja menjelang keberangkatanku ke Roma, ada jantung yang berdetak lebih cepat dari biasa. Membuatku berkeringat dingin meski pesawat yang kutumpangi bertemperatur dingin. Tidak seharusnya aku berkeringat seperti ini, tapi keringat itu jatuh juga tanpa bisa kuhindar.

Dan melayang sudah pesawat itu menuju Roma, Ndre. Menujumu. Menuju bandara dan seorang supir kantor yang menjemputku di sana lalu membawaku ke hotel La Pergola. Beberapa saat setelah itu, barulah Blackberryku bergetar. It was a message, from you. Kamu bilang, “Let’s grab lunch. Sebentar lagi aku sampai di cafe dekat hotelmu.”

So there I was. Menunggumu. Di sebuah cafe dekat hotel, sambil memesan secangkir kopi susu yang masih panas saat kamu akhirnya datang mengendarai skuter kesayanganmu.

“Renata!” Kamu sumringah, Ndre. Gigi-geligimu nampak putih mengilat, rapi. Kamu berjalan mendekatiku, aku spontan berdiri menyambut uluran tanganmu yang terbuka seolah siap menadah tubuhku. Kita berpelukan hangat, Ndre. Sekilas, kamu mencium kedua pipiku. “Akhirnya ketemu juga, ya, Ren…”

Ada hati yang bergetar lebih hebat, saat itu. Ketika kamu berkali-kali mengusap punggungku, mengelus punggung tanganku, membelai rambutku, membenahi anak-anak poni yang jatuh menutupi rambutku saat kamu mendadak menjadi fotografer yang kusuruh untuk mengabadikan perjalanan singkatku ke Roma.

Hari pertama berjumpa denganmu, hatiku seperti menagih untuk segera bertemu denganmu. Meskipun jetlag, aku tetap menunggu esok segera tiba dan bertemu denganmu di kantor kita, tempat kita akan menghabiskan beberapa hari di sana.

Annual meeting was suck, tapi kamu membuatnya menyenangkan.

Aku selalu menunggu saat-saat kita break dari meeting yang panjang dan membosankan. I hate numbers and graphics. Pertemuan-pertemuan singkat kita di pantry saat mengisi cangkir kopi dan mengunyah donat sungguh menjadi penghibur saat lelah.

Aku menyukai setiap detik yang berlalu saat itu.

Aku juga menyukai senyuman di wajahmu, yang kamu lemparkan diam-diam di tengah meeting. Meski terpisah cukup jauh di dalam ruang meeting yang luas, tapi aku masih bisa menangkap senyum dan ketampanan wajahmu. Dan ya, aku masih bisa pula merasakan getaran-getaran aneh itu.

Ndre,

Beberapa hari denganmu seolah menyuntikkan energi dalam hidupku. Caramu tertawa, caramu menjelaskan sesuatu, caramu bercerita, caramu memegang tanganku saat kita menyeberang jalan yang ramai, telah berhasil menciptakan kenangan yang tak pernah terhapus meski setahun telah berlalu.

Kamu adalah lelaki sederhana, yang membuat semua hal kecil menjadi istimewa.

Itulah yang membuatmu istimewa, Andre.

Dan itu pula yang membuatku menyesal tak pernah bilang apa-apa padamu sampai saat ini… (to be continued)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “What’s so special about you?

  1. Waaaa, romantis bangget, Jeng! Aku ikut deg degan bacanya 😳 😛

    Posted by chocoVanilla | February 23, 2012, 11:05 am
  2. *menunggu lanjutannya*

    Posted by latree | March 7, 2012, 1:45 pm
  3. lebih baik katakan sekarang sebelum terlambat…penyesalan datang belakangan…

    Posted by dokter anak | March 8, 2012, 10:03 am
  4. salam sukses 🙂

    Posted by no limit adventure | March 9, 2012, 8:49 am
  5. salam sukses 🙂

    Posted by outbond malang | March 9, 2012, 1:51 pm
  6. jadi teringat kata ketika para peserta training motivasi ditanya kelebihan apa yang kalian punya,

    Posted by Hanggar PS | March 20, 2012, 2:54 am
  7. romance nya dapet….

    Posted by acemaxs | March 28, 2012, 9:13 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: