you're reading...
Surat Cinta

He’ll Never be You…

Namanya Andre.

Mari kuceritakan sedikit tentangnya.

Tubuhnya tinggi, menjulang seperti pemain basket. Mungkin lebih seratus delapan puluh senti, karena aku tak lebih tinggi dari pundaknya. Tidak sepertimu, yang lebih tinggi lima belas senti saja dari pucuk kepalaku.

Lengannya kokoh. Dia pernah memeluk tubuhku dari belakang sambil menonton konser, beberapa waktu yang lalu. Berusaha melindungiku, membuatku merasa aman. Aku merasakan debar jantungnya, persis di telingaku. Entah, apa dia juga mendengarkan debar jantungku saat itu, yang bergetar lebih cepat karena tidak menduga dia bakal melakukan itu.

Kulitnya putih bersih. Di dalam tubuhnya memang mengalir darah Belanda dari kakeknya, sehingga dia nampak putih kebulean.

Wajahnya tampan. Perpaduan Ryan Renolds dan Oka Antara. Okay, it’s hard to imagine, tapi seperti itulah aku memandangnya. Tampan yang tidak membosankan. Maskulin yang masih manis.

Aku suka hidung tingginya. Bentuknya yang proporsional dengan sepasang matanya yang teduh, alisnya yang tebal, dan bentuk mulutnya yang tipis merah muda. Aku suka memandanginya berlama-lama, lalu dia bakal tertawa dan melambai-lambaikan tangannya di depanku. “Stop looking at me like I’m an alien…” katanya sambil tertawa dan menyentuh punggung tanganku. Dan aku selalu bilang, “Oh yes you are…” ya, alien, penghuni asing di dalam hatiku, saat ini.

Ah, baiklah. Mari beranjak ke hobinya yang suka makan itu.

He loves to eat. Kamu tahu, dia hobi melahap makanan apapun. Mulai dari makanan Indonesia sampai Eropa. Mulai dari gado gado sampai salad ala Jepang yang berisi gurita. Dia selalu memilih milkshake atau strawberry smoothies dan meneguknya tanpa merasa bersalah. Not like you, pecinta air mineral yang selalu membuatku merasa bersalah setiap meneguk kopi susu atau Java Chip frapuccino dengan topping whipped cream yang menjadi kesukaanku. Andre membuat berat badanku bertambah sekilo sejak pertama bertemu, tapi entah kenapa, aku merasa baik-baik saja. Dia masih bilang kalau aku cantik dan satu kilo yang bertambah itu hanya halusinasiku kemudian dia pura-pura ngomel di depan timbangan yang katanya sudah berbohong padaku.

Hey, he makes me laugh! Iya, dia selalu punya cara untuk membuatku tertawa.

Aku selalu suka masa-masa ketika duduk berdua di balkon apartemen, lalu bicara tentang apa saja. Ketika dia menjadi stand up comedian in my private gig. Hanya aku, dia, dan koleksi leluconnya yang seolah tak pernah kehabisan stok.

Yeah, he knows how to put a smile in my face. Setiap harinya. Lewat kalimat-kalimat lucunya, atau hanya sekadar email yang mampir ke inbox, sekadar untuk bilang kalau dia tidak sabar menanti hari Jumat sore; saat dia bisa menjemputku di muka kantor, lalu kami menghabiskan malam di kafe miliknya.

Andre adalah lelaki yang sempurna.

Tubuhnya tinggi, berkulit putih bersih.

Wajahnya tampan kebulean, berhidung tinggi dan memiliki senyum seperti cahaya pagi.

Selera humornya yang tinggi sungguh menambah kesempurnaannya.

He knows where to push my ‘happiness button’. He knows exactly where it is. Dia menemukannya di belantara gundah gulana yang sempat membuatku tersesat, sejak berpisah darimu. Segera setelah dia menemukan tombol itu, sesegera itu pula dia menekannya, dan hingga ini, aku merasa bahagia berada di sampingnya.

It’s been six months, already. Sudah separuh tahun sejak hari itu. Memang sudah waktunya aku merasakan kembali apa itu bahagia; sebuah kata yang sempat terlupa sejak kamu menyuruhku menempatkan jeda. Sudah waktunya aku membuka pintu hati, juga semua jendela, untuk Andre saja. Dan menguncimu di satu sudut ruang tanpa pintu dan jendela, tempat kamu pernah menyekapku di sana.

Andre memang lelaki yang istimewa, yang sudah berhasil membuatku tertawa, lalu bahagia.

Tapi entah kenapa, di setiap ujung malam, saat tubuh dan kasurku mulai saling bercumbu, aku malah mengingatmu.

Kamu, yang mungkin tak setinggi Andre, tapi letak pundakmu sungguh pas untuk tempat singgah kepalaku yang lelah.

Kamu, yang kulit tubuhmu mungkin tak seputih Andre, tapi kulit kecoklatanmu yang seperti terbakar matahari itu nampak kontras saat bersisihan denganku. Seperti perpaduan kopi dan susu, nampak manis di ratusan foto-foto digital kita.

Kamu, yang selera makanmu mungkin tak segila Andre dan selalu melarangku untuk makan ini itu, tapi aku tahu, itu semua demi kebaikanku.

Dan kamu, yang rekening tabunganmu mungkin tak sebanyak Andre, tapi kamu selalu membuatku yakin bahwa kita bisa memulai segalanya dari nol, bersama-sama. Membangun semuanya, mulai dari kepingan-kepingan kecil sampai terbangun sempurna, bersama-sama.

Ya,

Di malam ini, bulan keenam lebih dua minggu, di atas ranjang tidurku, di bawah hembusan angin pendingin ruangan yang kusetel dua puluh, aku mengingatmu.

Andre mungkin adalah lelaki istimewa.

Andre mungkin adalah lelaki yang sempurna.

But he’ll never be you.

Never.

And you know what?

It sucks.

It really does.

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “He’ll Never be You…

  1. nobody can replace anybody 🙂 *hiks*

    Posted by Ria | February 3, 2012, 10:01 am
  2. so sweet sekaligus menyakitkan di endingnya :3

    Posted by ~Amela~ | February 3, 2012, 1:30 pm
  3. new memories will erase old memories, sooner or later …

    Posted by adiarta | February 3, 2012, 9:39 pm
  4. great story…

    Posted by demam anak | March 9, 2012, 10:50 am
  5. Awesome! Sukaaa sekali :D.

    Posted by Shin | May 22, 2012, 6:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: