you're reading...
daily's blings

Separuh Tahun Ini

Terasa seperti deja vu, setiap kendaraan yang kupacu melaju di depan kafe tempat kita berpisah dulu. Seolah ada kekuatan tak kentara yang mengajak ingatanku menuju setiap detil kejadian itu.

When you said, “We’re not finished yet.”

When I said, “Oh yes, we are.”

Dan semua jalinan cinta dalam seratus dua puluh hari itu seperti kertas yang terbakar oleh pijar membara; cepat berubah menjadi abu. Yang tertiup terbawa angin, menyelinap masuk ke dalam kelopak mataku, dan membuat air mataku mengalir tanpa henti, mulai setahun yang lalu.

Sudah separuh tahun, rupanya. Berjalan perlahan di permulaan, lalu bergerak semakin cepat, meski aku ternyata tidak juga beranjak. Seperti dua kaki yang terbuka; satu berpijak di masa lalu, satu di masa depan. Capek.

Painful. This has to stop. Sudah separuh tahun, sudah waktunya memantapkan langkah, meninggalkanmu. Sudah separuh tahun, sudah waktunya kutinggalkanmu di masa lalu.

“Pacaran cuman sebentar, tapi traumanya kayak orang cerai setelah kawin belasan tahun itu pathetic, Sayang…” kata sahabatku. “Wasting your time and energy banget. Ayo, deh.. Move on already…”

Tidak sekali. Tidak dua kali. Tapi berkali-kali kalimat serupa aku dengar dari mulut sahabat dan kakak perempuanku.

They asked me to move on, meninggalkan cinta yang masih menggetarkan hati, lalu mulai melanjutkan hidupku kembali.

Okay, pertanyaan berikutnya adalah: how? Bagaimana caranya?

“Buang semua barang-barang pemberiannya. Foto-fotonya. Simpan dalam kardus. Letakkan di gudang. Kunci.”

Done. All those memories are packed in a box. Kept in my garage

….but a piece of your photograph, in my wallet. Ow, shit.Kedua, “Hapus playlist lagu galau di iPod. Bikin list baru. Cari lagu-lagu yang lift up your mood, bukan kebalikannya.”

Done. Semua lagu-lagu yang memiliki potensi untuk mencengkeram langkah-langkahku dari melangkah menuju masa depan itu sudah hilang dari playlistku.

“Stop reading his emails, for God sake. Itu namanya self torture. Masokis, tuh.”

Dan tahukah kamu, menghapus semua emails dan SMSmu tidak hanya sekadar meng-klik atau menekan tombol delete semata? Menghapus itu semua berarti memberangus semua jejak kakimu di dalam ruang hatiku. Mampukah aku?

Dan terakhir, “Find a new guy. You need another object of affection! Butuh laki-laki lain yang bisa bilang kalau mantan lo itu goblok banget karena udah ninggalin lo dan bikin trauma kayak gini.”

Siapa bilang aku trauma? Tidak. Aku bisa saja menemukan lelaki lain yang dengan senang hati menemaniku minum kopi susu di kafe itu, menggantikanmu duduk di depanku sambil bercerita tentang langit yang biru. Aku bisa saja menemukan lelaki yang bisa menjemputku di muka kantor lalu mengajakku makan malam yang jauh dari romantis, di warung-warung pinggir jalan itu. Ya, aku bisa saja menemukan lelaki yang bernyanyi lirih persis di telingaku, menyanyikan lagu-lagu yang aku sukai, lalu setelah itu mengecup ujung hidungku lembut saat menuntaskan kencan kami di malam itu.

Tapi, siapapun lelaki yang bakal menggantikanmu kelak, bukanlah kamu.

You’re still you. Seburuk apapun perlakuanmu dulu, you’re still you. Lelaki yang sudah mencuri hatiku.

Satu bulan pertama, aku mengatakan pada sahabatku, “No, I need more time.”

Bulan berikutnya, “All his gifts are packed in a box. Sudah. Tenang aja.”

Lalu bulan ketiga, “Lo tahu berapa kali gue denger lagu I Will Survive? Sampai mampus gue dengerinnya..”

Dan bulan keempat aku mengaku, “Semua email-emailnya gue simpen di folder khusus.
I don’t have the heart to erase them all, bu I promise I won’t read those emails. Trust me.”

Lalu sampai di bulan kelima, aku bilang, “Biar semuanya wajar-wajar aja, deh. Emang jaman Siti Nurbaya, pake dicomblangin segala?”

Sekarang, persis di separuh tahun sejak kamu mengajakku untuk saling menempatkan jeda itu, akhirnya aku bilang pada sahabatku. Persis setelah satu keping CD itu mendarat di atas meja kerjaku, entah bagaimana caranya, dan mengingatkanku kalau aku tak boleh lagi menunda melupakanmu.

You’re still you.

The guy who stole my heart away and broke it into pieces.

Aku tak punya alasan untuk membolehkanmu merangsek masuk ke dalam hatiku, dan mengoyaknya sekali lagi, di suatu masa nanti.

So, dear you.

Yes, you.

Don’t wait for me.

Karena persis di bulan keenam, aku sudah bilang pada sahabatku, “

You know what? I think I already find a guy…”

Dan lelaki itu bukan kamu,

Dan semoga tidak menjadi lelaki sepertimu..

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Separuh Tahun Ini

  1. semakin dilupakan maka akan seakin teringat. butuh kerja keras dan juga kemauan yang keras buat melupakan si mantan

    Posted by orange float | January 31, 2012, 11:21 pm
  2. Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused ~ Paulo Coelho

    Posted by Ranan Samanya | February 1, 2012, 8:42 pm
  3. lama2 seiring berjalannya waktu juga akan lupa sendiri kok…tidak usah dipaksakan…

    Posted by 1 park avenue | April 26, 2012, 12:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: