you're reading...
Surat Cinta

Do You Remember?

Ruang kerjaku, suatu pagi. Masih pukul tujuh saat itu dan aku datang terlampau awal karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Menyambar sepotong roti tawar bersemir selai srikaya di meja, memasukkan dua potong lagi di kotak makanku, lalu memacu kendaraan menuju kantor di saat orang lain mungkin masih sibuk bercakap-cakap di depan televisi sambil memegang koran paginya.

Ada deadline yang bakal menciptakan perang dunia ketiga, skala kecil-kecilan saja di kantor yang berpenghuni tak lebih dari dua puluh orang ini, kalau tak segera kupenuhi. Pagi itu, aku musti datang pagi-pagi.

Kupikir pagi itu bakal jadi pagi yang biasa saja. Pagi sibuk, seperti biasa menjelang deadline, seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi, pagi itu berbeda. Saat masuk ke ruang kerja, mengaduk laci, mencari sebungkus latte instan untuk peneman sarapan pagi, aku tak menyangka kalau aku masuk ke dalam time capsule yang sontak bergerak mengajakku kembali ke masa lalu.

Ya, karena kutemukan sebungkus amplop coklat, bertuliskan namaku, tulisan tanganmu, yang saat kurobek untuk melihat isinya, hatiku langsung bergetar nelangsa.

Kamu mengirimkan sebuah CD lagi. Berisi satu lagu saja dan dua potong kalimat yang tumpah di atas kertas berwarna merah muda.

“Aku sudah memilih kamu.  Dan aku akan bertanggung-jawab penuh untuk itu..”

Segera, hatiku merasa remuk. Ingat pada senyum di wajahmu, binar harapan di kedua matamu, lalu pelukan hangatmu saat usai mengucapkan kalimat itu di akhir sebuah kencan kita. Pelukan itu seolah merapatkan dua jiwa; milikmu, milikku. Pelukan itu seolah berkata, “Kita akan menjadi selamanya, bukan sementara.”

Tapi nyatanya? Toh, kita berpisah juga.

Dan nyatanya, kamu yang menginginkannya.

Pagi itu, batal kucium aroma seduhan kopi instan dan air panas yang biasanya menguar di setiap pagiku, karena aku lebih memilih untuk membuka kotak CD-nya, memutar satu lagu yang kamu pilihkan untukku, lalu menangis hebat di dalam ruang kerja.

There seemed no way to make up
‘cos it seemed your mind was set
And the way you looked it told me
It’s a look I know I’ll never forget
You could’ve come over to my side
You could’ve let me know
You could’ve tried to see the distance between us
But it seemed too far for you to go.
Do you remember?

That morning, I felt like I was in a time capsule. Diajaknya berkembara menuju masa lalu, tempat kita meninggalkan berpotong-potong harapan di situ. Diajaknya pada awal kita bertemu, lalu hari dimana kamu menginginkan untuk jeda sebentar dariku. Diajaknya aku pada hari-hari ketika ponselku menderingkan panggilan darimu dan inbox emailku yang penuh surat-surat permintaan maaf dan cinta yang kamu tulis untukku.

Kamu bertanya, apakah aku masih mengingatnya? Oh, tentu saja. Ingatan fotografisku masih bisa mengingat setiap detil masa lalu kita. Senyummu, bentuk gigimu, anak-anak rambut yang bertingkah nakal di atas dahimu, aroma tubuhmu, jerawat kecil yang pernah tumbuh di pipimu.

Do I remember? Of course I do!

Itu juga mengapa aku tak ingin membuka hatiku untukmu. Karena ingatanku yang terlampau kuat itu sehingga membenturkan hatiku pada satu pertanyaan lagi, “You fell, you crushed, you burned. Don’t you remember?”

Luka itu, mau tak mau, memberikan sebuah kesimpulan tentangmu.

Kamu, sama seperti lelaki lainnya.

Yang bakal mengiba maaf setelah menciptakan luka.

Yang lalu menyesal, justru setelah berkemas-kemas meninggalkan.

Kini kamu kehilangan cara untuk merebut hatiku kembali, sementara dulu kamu punya banyak cara untuk mencampakkannya tergesa.

Ah, sampai kapan kamu melakukan ini?

Mencoba merebut hati sementara aku tak mengingini?

Meski cinta masih menguasai nadi, aku tak butuh kamu untuk mengoyak hati sekali lagi. Biarkan aku pergi. Lepaskan aku pergi.

You had your chance but then you blew it.

Siapa yang jahat di sini; kamu? Atau aku?

There was always something more important to do
More important to say
But I love you wasn’t one of those things
And now its too late
Do you remember?

Lagu itu berakhir di pagi itu saja, tepat di titik air mata paling akhir, tepat pukul tujuh lewat enam belas menit.

The morning when I realized that I have to move on.

Without you.

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: How Are You? | 30loveletters - January 27, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: