you're reading...
Surat Cinta

Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

Aku tidak pernah meragukan kelelakianmu.

Rasa bibirmu yang tertinggal saat kita usai berciuman, lenganmu yang memeluk tubuhku hangat dan erat, suaramu yang berat dan menenangkan ketika aku sedang gelisah, adalah sekian dari begitu banyak bukti bahwa kamu memanglah seorang lelaki yang kuinginkan.

Ya, aku semakin tidak meragukan kelelakianmu saat kamu menarik diri dari janji yang pernah kau ucap tergesa di perjamuan makan malam kita, beberapa saat sebelumnya. Waktu itu, di tengah temaramnya lilin yang menyala, kamu memegang tanganku dan mengucap kata-kata itu, “Why wouldn’t we get engaged?” Pertanyaan itu terlontar, seperti bom yang muntah dari bibir meriam yang kupikir sumbunya tak menyala. Kita memang menjalani hari-hari yang penuh cinta, tapi untuk segera menyudahi petualangan gila ini, um.. sanggupkah kita?

Dan benar saja. Kamu membuktikan dirimu, sekali lagi, bahwa kamu memang benar-benar lelaki. Sesaat kata-kata terloncat keluar, sesaat kemudian kamu malah meralatnya. Sesaat kamu membiarkan perasaanku tergetar hebat oleh bahagia, sesaat kemudian kamu membuat getar itu menjadi gigil yang tak berkesudahan di atas tempat tidurku, saat aku menangisi janji yang tak pernah kamu penuhi itu.

Kupikir kamu berbeda, karena nyatanya toh kamu sama saja. Sudah banyak lelaki yang mencoba memenangkan hatiku dengan segala macam daya upaya yang mereka bisa lalu meremukkannya di saat mereka menginginkannya. Persis di saat aku mulai mengendurkan ketakutanku pada cinta yang biasanya berakhir luka, persis di saat itulah lelaki-lelaki itu membuktikannya bahwa mereka memang hibrida yang diciptakan untuk mencarut-marut hatiku saja.

Sekarang kamu melakukannya. Persis seperti mereka. Membuat janji, seolah-olah hanya aku dan kamu saja yang menghuni setiap jengkal dunia. Membuat janji kalau kebahagiaan adalah milikku dan milikmu saja. Yang tidak sama adalah, kamu lelaki pertama yang menggetarkan hatiku hanya dengan janji yang terucap sambil lalu di tengah-tengah makan malam kita. Meski akhirnya sama saja: kamu melukaiku dengan tidak memenuhi semua janjimu.

I was crushed and burned, that night.

Seperti lilin yang menyala terlampau terang sehingga cepat meleleh, seperti itulah aku ketika mendadak kamu menginginkan berpisah. I was speechless that night. Kehilangan seluruh kosa kata di kamus otakku. Kamu menciptakan perempuan yang bisu dalam sekejab waktu. Hebat, ya, kamu?

Kini, kamu ingin menganulir semuanya. Minta agar semuanya kembali menjadi baik-baik saja. Minta agar aku mengerti kalau kamu telah melakukan kesalahan hebat karena telah meninggalkanku. Minta agar aku memahami kalau di saat itu, saat kamu ingin menyudahi dan menciptakan jeda di antara kita, sebetulnya kamu sedang ingin mencari jawaban atas keraguan-keraguanmu sendiri.

Hey, aku tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bukan ahli nujum yang sanggup mencerna isi hatimu. I’m not a mind reader, yang bisa membaca satu persatu keraguanmu.

Harusnya kamu bilang saja, padaku.
Harusnya kamu mengaku saja, padaku.
Bukan malah meninggalkanku. Menciptakan jeda. Membangun ruang kosong tanpa pintu dan jendela lalu memerangkapku selamanya di situ.

Jika kini aku seolah membeku dalam kebencianku padamu, bukan berarti aku tidak lagi mencintaimu. Bukan berarti aku tidak lagi merindukanmu.

Sungguh, aku masih melakukan itu. Di pagi-pagi hening dan malam-malam senyap, ketika hanya ada aku di atas tempat tidur; memegang ponsel sambil menahan keinginan untuk bertanya apa kabarmu atau sekadar membalas email-email darimu.

Aku masih merindumu, mencintaimu.
Tapi melupakan luka itu?
Ah, tidak semudah itu.

Aku akan kembali padamu, kalau kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak main-main dengan ucapanmu. Bahwa kamu bakal menepati janjimu.

Meskipun kali ini aku pun bisa juga akan menjadi lelaki sepertimu;
Yang tidak menepati janjiku,
Untuk bisa memaafkanmu…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

  1. dari intro paragrap pertamanya sudah mantap…
    Jeng Lala ternyata sungguh menghayati sosok seorang lelaki, hehehee…

    Posted by adiarta | January 25, 2012, 1:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: