you're reading...
Surat Cinta

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh.

I was totally crushed, didn’t you know?

I was totally damaged, didn’t you know?

Kalau saja kamu tahu, di malam ketika kamu memohon untuk meletakkan jeda di antara kita, aku merasa langit-langit merah muda itu akhirnya meruntuh dan jatuh di atas kepalaku. Sakit. Sakit sekali. Kesakitan yang menerbitkan air mata yang jatuh tak berkesudahan di setiap malam-malam panjangku.

Kamu membolak-balikkan duniaku. Kamu seperti raksasa yang menggenggam duniaku, lalu meremuknya hebat. Menjadikannya kepingan-kepingan kecil dalam satu remukan saja. Kamu seperti badai yang bergemuruh hebat, menggilas hidupku, melumatnya dalam satu putaran.

Hidupku mendadak berantakan, karenamu.

Hidupku mendadak seperti pengelana yang kehilangan kompasnya, tanpamu.

Aku tersesat dan remuk redam, sejak itu.

Didn’t you know?

Atau, mungkin malah kamu pura-pura tak tahu?

Pagi ini, ketika aku mengunyah roti tawar bersemir selai srikaya itu lagi, aku masih memikirkanmu. Memikirkan senyummu, memikirkan masa lalu yang pernah manis, memikirkan cinta yang kemudian berubah rasa seiring perjalanan hari yang telah kita tempuh. Memikirkanmu, yang kamu bilang sedang memikirkanku setiap waktu.

Ya.

Kini kamu bilang kamu berantakan. Di email-email yang tak pernah kubalas itu, kamu menulis soal hatimu yang merapuh dan mulai menginginiku.

Sekarang aku tanya padamu, “Mengapa saat itu kamu memilih meninggalkanku dan menempatkan jeda di antara kita? Dimana semestinya, kalau benar cinta tak pernah pergi dari hatimu, kita tidak seharusnya berpisah…”

Jawab pertanyaanku itu.

Bisakah kamu?

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “Jeda

  1. Membacanya membuat ihiks

    Posted by ria | January 22, 2012, 6:41 pm
  2. *cryingggg

    Posted by mey | February 1, 2012, 1:26 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: