you're reading...
Surat Cinta

Pada Secangkir Kopi

Pada secangkir kopi, aku pernah bercerita tentang masa-masa ketika cinta itu pernah menggebu. Ketika sepenggal sapamu hadir menjelang pagi hariku lalu menutup hari yang sama dengan ucapan manis yang lainnya. Ketika segalanya serba merah muda.

Duduk di dalam cafe yang mulai sepi, dengan pengunjung yang perlahan-lahan beranjak meninggalkan karena malam mulai terlalu tua, aku pernah bercerita tentangmu pada secangkir kopi yang dindingnya masih hangat. Barista itu baru saja menuangkan larutan kafein itu di dalamnya. Untuk kali ketiga.

Aku bercerita tentang bagaimana pertama bertemu denganmu. Bagaimana kita akhirnya saling bertegursapa karena merasa dunia terlalu hebat dalam berkonspirasi mempertemukan kita di satu ruang yang sama. Lift kantormu, resto sederhana tempat kamu sering makan siang dengan sahabatmu, dan di dalam cafe itu; tempat akhirnya kita memutuskan untuk mengakui kalau kita memang ditakdirkan untuk saling membagi rasa.

Kamu mungkin lupa semua detil kecil saat kencan pertama kita; yang tidak kita sengaja itu. Waktu itu, kamu yang menemukanku di sudut matamu. Duduk sendiri di depan bar, seperti orang asing yang tak ingin bergabung dengan koloninya. Kamu mendekatiku. Bilang padaku, “Boleh aku duduk di sini?”

Tahukah kamu kalau saat itu aku benar-benar terkaget-kaget saat melihatmu? Ya, lelaki yang sering wajahnya kucuri diam-diam saat berpapasan di dalam lift, lelaki yang harum tubuhnya seolah tertinggal di dalam hidungku dan bisa kucium sewaktu-waktu aku merindu, lelaki yang senyumnya pernah kucuri dan kutaruh di dalam saku ingatanku, lelaki itu, kamu, menyapaku.

Lalu kita bercerita sampai lupa waktu.

Lalu kita tertawa sampai lupa waktu.

Lalu kamu bilang kalau kita memang harus bertemu kembali, lain waktu.

Tidak butuh konspirasi siapapun; hanya perlu aku, kamu, dan janji untuk saling membagi waktu.

Dan kita bertemu. Dan kita mengulangi semua hal-hal kecil yang memancing tawa dan letupan rasa di hatiku. Aku suka caramu bercerita, tentang apa saja. Aku suka caramu memandangku, seolah aku adalah perempuan paling menarik yang pernah terlihat oleh indera penglihatanmu. Aku suka caramu memperlakukanku, seolah keramik cantik yang rapuh dan perlu kau jaga sungguh-sungguh.

Pada kencan ketujuh kita, kamu akhirnya mengajakku untuk saling membuat janji. Mengajakku melebur aku dan kamu menjadi kita. Dan di kencan yang ketujuh itu, seratus dua puluh hari penuh cerita itu akhirnya bermula.

Kamu bilang, kamu mencintaiku.

Kamu bilang, tak ada perempuan lain yang bisa membuatmu segila itu.

Kamu bilang, hanya aku yang tahu bagaimana membuatmu merasa bahwa akulah poros dari segala putaran waktumu.

Your morning.

Your noon.

Your night.

 Itu pernah kamu ucapkan, dulu.

Semua kuceritakan dengan ceria di dalam secangkir kopi itu. Di cafe yang sudah mulai sepi dan hanya aku yang duduk seorang diri di depan barista yang sudah siap-siap mengakhiri hari.

Aku cerita tentang cinta yang selalu kamu dengungkan di telingaku.

Aku cerita tentang betapa bahagianya aku karena telah menjadi poros hidupmu.

Aku cerita tentang betapa menyenangkannya mengetahui isi hati lelaki yang sangat dicintainya, kamu, yang ternyata menganggapku begitu istimewa.

Di secangkir kopi itu, pernah kuceritakan harapan untuk menjadi perempuan terakhir yang memungkasi petualangan cintamu. Di secangkir kopi itu, sambil meniup pelan-pelan permukaannya, pernah kubisikkan keinginan supaya aku bisa menjadi perempuan yang menyiapkan sarapan untuk anak-anak kita kelak.

Sayangnya, seperti isi cangkir kopi yang harus tandas dalam waktu, kita pun berakhir saat sesapan paling akhir. Kamu menyudahinya dengan tergesa. Dan kini cangkir itu kosong melompong, menunggu untuk dicumbu.

Ah, biar sajalah.

Aku tak ingin cangkir itu terisi penuh kembali lalu mulai memantik keinginanku untuk mencumbu dindingnya, menyesap isinya, sambil bercerita tentang harapan dan cinta.

 Biar sajalah.

Biar saja kosong melompong, aku tak mau mengisinya. Sekalipun kamu kini memaksa untuk menuangkan isi ke dalamnya, sungguh, lupakan saja. Karena luka paling hebat dan sakit adalah luka yang tak kentara. Letaknya sungguh jauh di dasar hati.

Aku butuh waktu untuk melupakan sakit itu, melupakanmu.

Meski ya.

Aku memang masih mencintaimu.  Masih merindukan semua peluk, kecup, dan perhatianmu. Masih menikmati sisa-sisa kenangan yang teronggok di sudut hatiku. Masih mencintaimu, sungguh-sungguh.

Sangat cinta padamu,

tapi sudah berhenti mengharapkanmu…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Pada Secangkir Kopi

  1. Astaga ini bikin galau:D

    Salam

    Posted by Rosa | January 21, 2012, 8:19 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Kepada Pagi, Siang dan Malam « 30loveletters - January 20, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: