you're reading...
Fiktif

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit.

Memang bukan maksudku untuk menyakiti diri sendiri. Memancing kembali semua kenangan-kenangan dengan sengaja, lalu membuat kedua mataku sembab menahan isak tangis yang mengalir tak juga berhenti sampai sedemikian lamanya. Sudah kuputuskan sejak tiga tahun yang lalu, sejak terakhir kali kami bersama lalu aku memilih untuk meninggalkannya tanpa menoleh kembali, kalau aku tidak akan pernah menggali-gali semua kenangan itu. Manuel adalah bagian dari sejarah. Biarlah ia menjadi masa lalu saja, tak perlu kuingat lagi di masa kini.

Aku memang tidak bermaksud melakukannya.
Tapi, anehnya, pagi tadi, foto itu yang melayang sendiri. Terjatuh persis di ujung jari-jari kakiku saat aku membereskan lemari pakaian. Aku lupa, dulu pernah menyelipkannya di situ. Di antara tumpukan pakaian-pakaian yang kupikir tidak akan pernah kupakai lagi. Foto itu terjatuh dalam posisi terbuka, membuat seolah-olah Manuel berteriak memanggilku, menyuruhku untuk memandanginya, mengenangnya, mengingatnya.

Bibir Manuel.
Sepasang matanya yang menyipit.
Lesung di dagunya.
Wajah yang bulat.
Alis yang tebal.
Hidung yang tinggi.
Kulit yang bersih, tak terlalu gelap.

Aku melihatnya kembali. Merasakan sakit hati yang teramat sangat itu lagi. Merasakan kerinduan yang bergemuruh itu lagi lagi. Semuanya seperti terpanggil kembali, diputar dengan semena-mena di dalam pita ingatanku. Sekalipun berusaha menepis semua rasa yang mendadak berbondong-bondong datang, tapi aku tak sanggup.

Sejak satu jam yang lalu, aku masih menangisi masa lalu, sambil menimang-nimang foto Manuel. Mengelus-elus permukaannya. Mengajaknya berbincang-bincang seperti orang gila.

Bertanya, sedang apa dia.
Bertanya, apakah dia bahagia.
Bertanya, apakah dia masih menyalahkanku atas keputusanku tiga tahun yang lalu.
Bertanya, mungkin rindu juga bersembunyi di bilik-bilik hatinya.

Aku, seperti orang gila. Bicara dengan selembar foto yang jatuh di ujung jari-jari kakiku lalu menangis tak berhenti. Menangis hebat, meraung-raung seperti seorang perempuan yang cintanya direnggut paksa. Tiba-tiba. Untuk selamanya.

Saat aku sedang menangis itu, seorang lelaki masuk ke dalam kamar, menghampiriku. Langsung duduk di sampingku, memelukku, mengusap-usap rambutku. Aku meluruh di pelukannya. Air mataku meluruh di bahunya.

“Kamu kenapa?” tanyanya. Heran.

Tak banyak bicara, jari-jariku bergerak cepat menyembunyikan foto Manuel di selipan halaman-halaman majalah perempuan yang ada di dekatku.

“Nggak apa-apa… Aku baca cerpen di majalah ini, Sayang. Sedih banget,” kataku.

Lelaki itu mengecup keningku. “Ah, kamu. Dasar cengeng,” katanya sambil tersenyum. “Ayo. Katanya mau pergi, kok masih belum ganti pakaian, sih?” Dia menyentil hidungku. “Yuk… bosen di rumah hari Minggu-Minggu begini…” Dikecupnya pipiku dengan sayang. Dihapusnya air mata yang berjatuhan di sekitar pipiku.

Ah, suamiku. Dia memang mencintaiku, dengan segenap cinta yang dia punya.
Yang mencintaiku apa adanya.
Yang memilihku untuk menjadi pasangan sehidup sematinya, setahun yang lalu.

Aku tahu dia memang mencintaiku.
Seperti aku yang sangat mencintainya, yang sudah memilihnya untuk menjadi tempat aku melabuhkan hati, sehidup semati. Yang aku tahu, aku bakal lebih gila kalau ditinggalkan olehnya.

Itu kenapa, biar Manuel menjadi sejarah saja.
Biar hanya aku yang merasakan sakitnya ditumbuhi rindu yang tak akan pernah bisa terobati, sampai selamanya.
Biar hanya aku yang tahu soal lelaki lain yang akan selalu menempati ruang di hatiku.
Suamiku tak perlu tahu soal Manuel; bayi lelaki, anak dari lelaki yang berlari meninggalkanku, yang sempat kususui dua bulan lamanya, yang kemudian kutinggalkan di sebuah panti asuhan, tiga tahun yang lalu.

Yang sampai hari ini selalu berhasil menciptakan rasa sesal yang tak berkesudahan, meski hanya memandangnya lewat selembar foto yang bisu…

“I should’ve been chasing you,
I should’ve been trying to prove
That you were all that mattered to me…”

**

Kantor, Rabu, 26 Oktober 2011, 10.46 Pagi

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “Selembar Foto

  1. What a sad, deep, deep regret… *berkaca-kaca*

    Posted by RuriOnline | October 29, 2011, 8:20 am
  2. aku nangiiiss dehhh.. hik! beneraaann sediihhhh..

    Posted by ratutebu | November 3, 2011, 10:11 am
  3. see? kayak liat blog sendiri dan seperti baca tulisan sendiri. Dan kenapa ini template nya samakkkkk??? *amazed*

    Posted by inginbercerita | January 10, 2012, 5:53 pm
  4. Ahh.. kereeenn…😀

    Posted by rinibee | January 11, 2012, 7:30 am
  5. mba bikin lanjutannya ya…endingnya manuel diambil lagi sama ibunya, diperjuangkan gitu , khan suaminya juga baik pasti bisa ngerti….ya mana ada ibu yg tega ninggalin anaknya , saya aja nggak tega bacanya…hiks…

    Posted by salikha satiena | January 19, 2012, 12:19 am
  6. Kereeeen!!! >,<

    Posted by cizu chan | February 24, 2012, 9:18 am
  7. hm… aku liat komennya pada komen ‘baca smbil terisak’. kenapa aku enggak? <<– hatinya tak tersentuh
    apa gara2 banyak tugas? *hubungannya apa yak??*
    keren tapi :3 saya suka X3

    Posted by storyofviolin | March 13, 2012, 12:26 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: